Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Confident


__ADS_3

" Huffft..... Akhirnya aku bisa kembali mengajar." Hana menghembuskan nafas panjang. Setelah melewati banyak drama, rengekan dan ancaman mogok makan yang sebenarnya tidak mungkin dilakukan, akhirnya Dewa dan para orang tua menuruti keinginan Hana untuk kembali mengajar di sekolah.


Pagi ini wajah manisnya terlihat berbinar di pantulan cermin meja riasnya. Rambut dicepol dan seragam guru akhirnya bisa ia kenakan kembali setelah satu minggu sebelumnya tidak tersentuh sama sekali. Beberapa hari yang lalu setelah kepergian ayah dan ibu mertua serta papa dan mama mertua dari kediaman rumahnya Hana berharap bisa bernapas lega dari semua aturan dan larangan yang mereka buat tapi ternyata tidak. Meskipun tubuh mereka tidak berada di sisi Hana tapi kekuasaan mereka sangat terasa di sekitar Hana. Bagaimana tidak? Ada banyak pengawal dan pelayan yang selalu mengawasi kehidupan Hana. Pola makan dan semua kegiatan tidak terlepas dari pengawasan mereka. Kenyamanan rumah mewah itu sudah tak lagi Hana rasa, karena ia merasa seperti terpenjara di dalamnya terlebih ia dilarang untuk mengajar ke sekolah. Dan hari ini adalah hari pertama baginya untuk bisa kembali ke tempat dimana ia bisa berjumpa dengan anak didiknya.


" Pagi Sayang. Sudah siap ke sekolah?" Dewa memeluk tubuh istrinya dari belakang.


" Sure..." Hana mengendus endus udara di sekitarnya.


" Tenang saja, aku sudah jauhkan semua parfume yang ada. Demi kamu dan baby kesayangan kita." Dewa mengelus perut Hana yang masih terlihat rata dengan lembut. Akhir akhir ini Hana memang terlalu sensitif dengan aroma wewangian entah itu parfume, cologne, pengharum ruangan ataupun sabun mandi. Ia akan langsung menghindar bahkan marah saat hidungnya menangkap itu semua. Entah kenapa aroma aroma itu terasa sangat mengganggu indra penciumannya.


" Maaf ya, kamu sampai harus melakukan itu semua. Tapi kalau kamu merasa kurang percaya diri tanpa parfume kamu boleh kok memakainya."


Heh, boleh memakai parfume? Yang ada malah kena semprot dan terus menjaga jarak. Jangankan memeluk seperti ini, baru mau mendekat jarak tiga meter saja sudah langsung marah dan menghindar. Lebih baik cari aman saja.


" Tidak apa apa kok Sayang. Yang penting kamu dan baby merasa nyaman. Tanpa parfume aku masih terlihat ganteng kok." Dewa mengamati bayangan wajahnya di cermin sambil tersenyum penuh rasa bangga.


" Narsis." dengus Hana.


" Mau bagaimana lagi, memang kenyataanya aku ganteng, he he he. Sudahlah ayo kita sarapan. Kamu tidak mau kan hari pertama kembali ke sekolah malah terlambat datang?"


" Ayo." jawab Hana dengan semangat. Selama kehamilan Hana tidak pernah menolak makanan. Justru semua jenis makanan terasa lebih enak dari sebelumnya.


" Pagi Bumil....." sapa Yusuf yang sudah menunggu di meja makan. Semenjak mengetahui kehamilan menantunya, pikiran Anton berubah 180° tentang penempatan Yusuf. Dulu ia bersikeras agar anak lelakinya itu bekerja di Jakarta mengurus perusahaannya, tapi kini ia meminta agar anak kandungnya itu untuk bekerja bersama Dewa. Agar pikiran dan tenaga Dewa tidak terlalu terforsir dan bisa memberi perhatian lebih ke istrinya. Karena meskipun tidak sehebat Dewa tapi sedikit banyak kehadiran Yusuf memang meringankan pekerjaan Dewa.


" Pagi Suf...... Emhh.... Kamu bau banget sih Suf. Jauh jauh sana duduknya." aroma parfume Yusuf tertangkap oleh indra penciuman Hana. Wanita yang tengah hamil muda itu duduk di kursi yang paling jauh jaraknya dengan Yusuf. Dan Dewa dengan setia duduk mendampingi di kursi sebelah istrinya dengan senyum kemenangan.


Bau? Ini juga permintaan suamimu kali Han. Dia sengaja memintaku untuk tetap memakai parfume agar kamu tidak dekat dekat denganku. Lagian kamu juga aneh banget. Parfume mahal yang dulu aromanya sangat kamu sukai kini malah kamu benci.

__ADS_1


" Sebenarnya aku enggak mau pakai parfume tapi_" ucapan Yusuf terpotong.


" Tapi Yusuf terpaksa tetap memakai parfume Sayang karena dia harus menggantikan aku bertemu dengan klien penting. Dan dia tidak merasa percaya diri jika tidak memakainya. Dia kan tidak seganteng aku, he he. Benarkan Bro?" celetuk Dewa dengan senyuman penuh arti.


" Benar, itu benar sekali." jawab Yusuf dengan terpaksa.


" Seperti itu ya? Ternyata demi baby di perutku kamu tidak mau mengalah. Padahal cuma parfume. Dan meskipun kamu tidak seganteng papa baby ku tapi menurutku kadar kegantengan kamu tetap di atas rata rata kok. Apalagi kalau dibandingkan dengan team RAME. Eh kenapa aku jadi body shaming orang lain ya." dengus Hana.


" Jadi menurutmu aku ganteng?" tanya Yusuf yang hatinya menghangat saat dipuji oleh wanita yang berhasil bertahta di hatinya. Meskipun Yusuf sudah meyakinkan perasaannya untuk membunuh dan mengakhiri rasa cinta untuk sahabatnya namun itu semua tidaklah mudah semua butuh proses yang panjang. Dan belum ada wanita yang berhasil menggantikan tahta Hana di hatinya. Bahkan Evi yang telah merenggut keperjakannya saja sedikit pun tidak mampu menggoyahkan singgasana hatinya.


" Ganteng lah masak cantik? Makanya buruan cari pendamping biar wajah gantengmu itu tidak sia sia." ketus Hana.


" Srekkk...!" Yusuf berdiri tiba tiba.


" Kamu kenapa?" tanya Hana dengan heran.


" Tapi Suf_" ucapan Hana terhenti karena si empunya nama yang dipanggil sudah nyelonong pergi secepat kilat.


" Sudahlah Sayang ayo kita sarapan. Kamu mau makan roti atau nasi? Biar aku ambilkan." tanya Dewa.


" Tentu saja nasi. Roti itu cemilan bukan makanan utama." jawab Hana dengan cepat.


" Iya baiklah. Nasi hangat yang lezat siap untuk disantap." Dewa mengisi nasi di piring milik Hana dengan porsi besar. Ada lauk dan sayur masakan ala rumahan menambah gunungan nasi di piring Hana. Meskipun Russell sudah mempekerjakan seorang koki handal yang menguasai masakan manca negara untuk anak dan menantunya, namun Hana lebih sering meminta agar dimasakan makanan rumahan Indonesia. Dan penyajiannya pun ia lebih suka yang ala ala ibu rumah tangga, tidak perlu ribet dibentuk dan diberi hiasan garnish di atas atau pun pinggirnya.


" Hemmm, it's so delicious....." puji Hana sesaat setelah memasukan makanan ke dalam mulutnya. Tidak tanggung tanggung ia mencomot makanan di piringnya langsung dengan tangan tanpa menggunakan sendok dan garpu.


" Pelan pelan makannya."

__ADS_1


" AAAA......" Hana menyuapi Dewa dengan tangannya.


" Hemmmm, makan dari tangan orang tercinta memang terasa lebih enak."


" Tentu saja."


" Sekarang aku sudah tidak bau lagi kan? Berarti aku boleh dong duduk dekat dengan keponakan aku." ucap Yusuf yang tampil dengan pakaian berbeda.


" Kamu tidak pakai parfume? Bukankah nanti kamu harus menemui klien penting?" protes Dewa karena ternyata Yusuf beneran menuruti perkataan istrinya.


" Tenang saja, nanti aku bisa memakai parfume di kantor. Lagi pula tadi Hana bilang tanpa parfume pun aku masih terlihat ganteng. Iya kan Han?" ucap Yusuf enteng sembari mengoleskan selai kacang di rotinya.


" Yup, thats right." jawab Hana tanpa menghentikan aktifitas makannya.


" Tapi kadar kegantenganmu masih berada di bawahku. Ingat itu. Benar kan Sayang?!" ketus Dewa.


Hana hanya menganggukkan kepala perlahan.


" Aku tidak masalah dengan itu. Dan aku tetap confident kok." Yusuf tidak merasa terganggu dengan ucapan lelaki yang sudah seperti saudara kandungnya itu.


" Dan satu hal lagi, kamu enggak lagi cemburu kan sama aku dan Hana? Secara tadi dia muji aku ganteng?" Yusuf sengaja memprovokasi.


" Enggak lah. Aku lebih ganteng dari kamu buat apa aku cemburu? Cemburu adalah sebuah bentuk dari ketidak percaya dirian_"


" Dan kamu sedang tidak percaya diri sekarang." imbuh Yusuf memotong ucapan Dewa.


" Benarkah itu Sayang?" tanya Hana dengan polos.

__ADS_1


__ADS_2