Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Karaoke


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar dengan dekorasi yang menarik, Yusuf, Laura dan Hana bersenandung bersama. Bernyanyi dan bercengkrama bersama ternyata mampu mengurangi rasa sedih di hati Yusuf.


Happy Family Karaoke menjadi tempat pilihan mereka. Tempat karaoke ini berkonsep family friendly cocok untuk menghabiskan waktu berkaraoke bersama keluarga maupun teman. Fasilitasnya juga cukup lengkap, toilet pribadi dalam ruangan, menu makanan dan minuman yang sangat bervariasi, sound system yang canggih dan sistem self-service serta layar sentuh untuk memilih lagu dengan koleksi lagu ratusan ribu.


Tak terasa hampir 3 jam mereka berada dalam ruangan itu. Di meja tersaji berbagai macam makanan dan minuman, serta cemilan. Rencananya mereka akan makan malam di restotan setelah karaoke, tapi ternyata menu makanan yang ditawarkan di Happy Family Karaoke sangat lengkap dan sesuai dengan selera mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk berkaraoke sembari makan malam di sana.


" Makan dulu yuk nanti keburu dingin makanannya." ajak Hana.


" Kamu dari tadi belum makan kan Suf, ayo buruan makan dulu. Nyanyinya dilanjut nanti lagi."


" Siap Bu guru." Yusuf dan Laura mengiyakan ajakan Hana untuk segera mengisi perut mereka.


Hana dan Laura tampak berbinar mengabsen makanan yang ada di meja. Ada soup buntut bakar, sapi lada hitam, cumi saos padang, sirloin steak, beef teriyaki, dan ayam goreng mentega. Kacang mede dan almond menjadi pilihan cemilan mereka.


" Ayo makan, sudah lama enggak makan bareng. Terakhir makan bareng ya 8 tahun lalu di kantinnya Bu Retno." ucap Laura tampak bersemangat untuk segera menyantap hidangan di depannya.


Hana dan Yusuf membasahi tenggorokan mereka dengan air mineral dan jus jeruk yang sudah tersedia di meja.


" Jangan lupa berdoa dulu." ucap Hana yang sudah memejamkan matanya dengan khusuk.


" Selamat menikmati...." Hana memasukkan potongan beef teriyaki ke dalam mulutnya.


" Hemmm, beefnya enak. Empuk banget."


" Aku juga mau dong Han." pinta Yusuf menyodorkan piringnya ke depan Hana. Tapi malah sebuah suapan yang ia dapati di depan mulutnya.


" AAAAA.." Hana membuka mulutnya tanpa ada maksud lain.


Dengan sedikit tertegun Yusuf membuka mulutnya. Ia tampak menikmati suapan dari Hana yang kini ada dalam mulutnya.


" Enak kan?" tanya Hana.


" Iya enak banget."


Makan dari suapan kamu bagaimana mungkin tidak enak? Perlakuanmu yang seperti inilah yang membuat aku diam diam menyukaimu Hana. Kamu selalu apa adanya dan perhatian dengan orang orang di sekelilingmu. Lelaki seperti apa yang telah berhasil membuatmu jatuh cinta? Andaikan dari dulu aku punya keberanian untuk mengungkapkan perasaanku ke kamu.


Mereka menikmati makan malam bersama dengan penuh suka cita. Suara tawa dan candaan menghiasi kebersamaan mereka.


" Masih mau lanjut atau pulang sekarang?" tanya Hana setelah mereka menghabiskan makanan di meja.


" Pulang nanti saja lah Han, jarang jarang kan kita bisa kumpul bareng. Besok besok juga belum tentu bisa seperti ini." ucap Yusuf. Ia masih enggan untuk mengakhiri kebersamaan dengan Hana.


Yusuf mengambil mikrofon dan mulai memilih lagu. Tiba tiba saja ia ingin menyanyikan lagu " Cinta Tak Harus Memiliki" milik group band ST12.


" Lama hidup di luar negeri ternyata kamu masih suka dengan lagu lagu Indonesia, kirain sudah lupa." celetuk Laura.


" Music is the universal languange of mankind. Isn't it?" Yusuf menyeringai.


Cinta memang tak selamanya bisa indah

__ADS_1


Cinta juga bisa berubah menjadi sakit


Begitu yang kurasakan kini


Perih hatiku tinggal kehancuran


Tak pernah terbayangkan


Dan tak pernah terpikirkan


Cintamu dan cintaku akan berpisah


Awalnya Yusuf menyanyikan lagu itu dengan lancar dan baik, meskipun tidak semerdu penyanyi aslinya tapi tetap enak untuk didengar. Ia tampak menghayati tiap liriknya. Dulu saat SMA ia sering menyanyikan lagu itu, dan kini saat dewasa ia tak menyangka akan merasakan arti dari lagu itu. Saat sampai pada lirik " cintamu dan cintaku akan berpisah" ia tak sanggup melanjutkan nyanyiannya lagi. Bulir bulir air mata tak lagi mampu ia bendung. Kedua tangannya tampak sibuk menyeka air mata yang mengalir membasahi pipinya.


Laura dan Hana tertegun saling pandang, bingung dengan apa yang terjadi. Mengapa tiba tiba Yusuf menangis sesenggukkan. Mereka pun mendekati dan memeluknya bersama.


" Hai, what' s wrong? Are you okay?" tanya Laura masih sambil memeluk tubuh Yusuf.


Setelah Yusuf terlihat tenang, Laura dan Hana melepas pelukannya.


" Sorry, aku merusak moment kebersamaan kita." ucap Yusuf lirih.


"Ada apa? Semua baik baik saja kan?" Hana menatap dalam netra Yusuf.


Yusuf menghela nafasnya dalam.


" Sudah dong jangan cemen kayak ABG saja, patah hati ditangisi. Enggak banget.... Move on dong, cari cewek lain yang lebih segalanya dari dia. Kamu baik, tajir, sukses. Muka juga lumayan enggak jelek jelek amat. Bisa lah cari yang lain." bujuk Hana.


"Ck... awalnya enak manis. Ujung ujungnya cuma mau ngatain muka aku enggak jelek jelek amat, maksudnya pas passan gitu?" raut muka Yusuf yang tadinya sedih berubah riang seketika.


" Ha ha ha kamu sendiri loh ya yang ngomong pas passan."


" By the way, gini dong semangat, baru seperti Yusuf sahabat aku." ucap Hana sambil memukul bahu Yusuf.


" Auw, sakit Han. Lagian pukulan kamu keras banget kayak preman saja. Dari dulu enggak berubah." Yusuf mengelus pundaknya.


" Aduh sakit ya? Maaf enggak sengaja mukulnya terlalu keras. He he he."


" Maafin ya, sahabat aku yang baik hati, penyayang dan pemaaf." Hana menyatukan telapak tangannya di depan dada sambil tersenyum manis.


" Idih aku enggak butuh kata kata manismu. Basi banget, jurus lama." ketus Yusuf.


Ya, kamu memang sahabat aku yang paling baik Hana. Meskipun sebenarnya aku mengharapkan bisa lebih dari sahabat. Tapi asalkan kamu bahagia, aku akan berusaha untuk ikhlas.


" Ayo nyanyi lagi guys biar hati senang. Buang jauh jauh tuh kata kata melow dan sedih." ajak Laura dengan semangat


" Yuppp.....! Ayo nyanyi lagi, sekarang giliran kamu Ra." ucap Yusuf dengan riang berusaha untuk menepis semua rasa sakit karena patah hati.


" Beneran nih aku harus nyanyi? Okay....Sekarang dengarkan suara emas sang diva....!" teriak Laura sambil tangannya memilih lagu yang ingin ia nyanyikan.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama alunan musik pengiring mulai terdengar. Dengan semangat dan penuh percaya diri Laura mendekatkan mikrofon ke mulutnya.


" RACUUUUUNNNNNN...... RACUUUUUNNNNN......" teriakkan Laura memekakkan telinga.


" STOP.....STOP...!" Hana dan Yusuf berteriak sembari menutup telinga mereka. Namun Laura tidak menggubris, tetap melanjutkan bernyanyi lagu milik Changcuters itu dengan suara cemprengnya yang melengking.


Hana beranjak secepatnya mematikan speaker dan music yang ada.


" Loh kok mati?" tanya Laura polos tanpa rasa bersalah.


" Huffff..." Hana dan Yusuf bernafas lega.


" Aku yang matiin." ketus Hana.


" Kenapa?"


" Masih tanya kenapa? Kamu sengaja mau ngebunuh aku dan Yusuf?"


Laura masih bingung, matanya menatap Hana dan Yusuf bergantian.


" Ra setelah lama tidak bertemu aku lupa akan satu hal penting." ucap Yusuf terlihat serius.


" Apa?" tanya Laura serius.


" Suaramu terlalu merdu sampai bisa membunuh kami. Nyanyianmu benar benar seperti racun yang bisa meledakkan telinga. Ha ha ha.." ledek Yusuf.


" Sialan....! Kalian berdua tega banget ngatain nyanyian aku seperti racun." rengek Laura.


Dan entah karena apa, kini bertiganya malah larut dalam aksi kejar kejaran. Seperti anak anak yang berlarian sambil mengejek, memukul dan melempar barang yang ada. Tak hayal ruangan yang semula tertata rapi kini berubah menjadi super berantakan seperti baru diterpa angin ****** beliung.


Setelah lelah mereka merobohkan tubuhnya ke lantai. Mereka duduk saling membelakangi dengan posisi punggung bersandar dan menopang satu sama lain.


"Huh huh... capek banget. Dulu perasaan kalau main kejar kejaran enggak gini gini amat. Sekarang nafasnya kayak mau putus." keluh Laura sambil berusaha mengontrol nafasnya yang masih ngos ngosan.


" Faktor umur Ra......" Hana menimpali. Senada dengan Laura nafasnya juga masih menderu, penampilannya berantakan, rambut acak acakan dan peluh di mana mana.


" Huh huh.... kalian berdua memang enggak ada lawan. Dari dulu enggak berubah. Sumpah ngap banget." dada Yusuf tampak naik turun.


" Tapi seru.... Ha ha ha." mereka bertiga tertawa bersama.


" Ngomong ngomong guys, kayaknya kita harus ketemu sama manager tempat ini deh buat ganti rugi." Hana memperhatikan sekelilingnya tampak seperti kapal pecah.


Mata mereka bertiga menelisik kondisi ruangan. Barang barang berserakan di mana mana. Bahkan ada 2 mikrofon yang teronggok di lantai dengan kondisi rusak.


" Tuan Sultan siap siap buka dompet kamu, sepertinya ganti ruginya lumayan banyak." ucap Laura dengan masih sedikit ngos ngosan.


" Sepertinya ini akan menjadi karaoke yang sangat mahal. Secara banyak barang yang harus kita ganti." imbuh Yusuf.


" Ha ha ha..." tawa mereka pecah.

__ADS_1


__ADS_2