Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Rumus Cinta


__ADS_3

Mentari menyapa dengan senyum hangatnya. Mencerahkan pagi dengan sinar yang penuh semangat. Memberi energi baru kepada seluruh penghuni bumi. Hana duduk bersama keluarga menikmati sarapan.


" Han gimana persiapan buat lomba lukisnya?" tanya Ibu di sela sela makan.


" Ya gitu deh, aku masih belum yakin soalnya waktunya terlalu mepet." jawab Hana.


"Kamu ikut lomba lukis?" sahut Ayah.


"Hmmmm, tapi sebenarnya aku enggak yakin bisa menang deh Yah, ini kan pengalaman pertama aku ikut lomba lukis."


"Enggak usah mikir menang kalah, yang penting usaha dan semangat!" Ayah mengepalkan tangan menyemangati Hana.


" Kakak memang the best, sudah pinter pelajaran masih pinter gambar, lha aku?" celoteh Evi.


"Kok gitu sih dek, Adek juga pinter owk, buktinya bisa masuk 3 besar, ya kan Yah?" bujuk Ibu.


"Huum... Kalian memang anak anak kebanggaan Ayah dan Ibu."


Hana menyelesaikan sarapannya bersiap untuk berangkat ke sekolah. Setelah berpamitan dengan orang tuanya ia pun berangkat. Seperti biasa ia mengendarai motornya. Namun sampai di tengah jalan ban motornya kempes.


" Uh sialan, masak kempes lagi, kemarin sore kan udah kempes." dengus Hana. Ia menuntun motornya dengan kesal.


Setelah berjalan cukup lama dengan peluh yang mengalir membasahi tubuhnya akhirnya ia sampai di tempat tambal ban.


"Mbak ini bannya harus diganti, soalnya sudah banyak tambalannya." jelas tukang tambal ban.


"Oh kalau gitu ganti saja mas."


"Tapi maaf Mbak, stok ban untuk ukuran motor ini lagi kosong, ada ntar siangan."


"Ya sudah enggak apa spa Mas, motornya gue tinggal dulu ntar sore gue ambil, terim akasih ya mas." Hana pun bergegas.


Hana berdiri di pinggir jalan menunggu angkot. Tiba tiba sebuah motor sport hitam berhenti di depannya.


"Ayo naik!" suara ajakan pengendara itu.


Hana melongo menatap si pengendara.


Dia kan si mata indah.


Ia masih diam terpaku.


"Ayo cepet, kalau enggak mau ya sudah gue tinggal." Suaranya menyadarkan Hana.


"Ah ya...ya..." Hana bergegas naik ke motor. Ia masih tak menyangka akan berboncengan dengan si pemilik mata indah.


Motor digas dengan tiba tiba, sehingga tubuh Hana terjerembab ke depan menabrak punggung cowok di depannya.


"Ma_maaf." Hana merasa salah tingkah. Baru kali ini ia merasa salah tingkah berada di dekat lawan jenisnya.

__ADS_1


Tanpa ia duga tangannya ditarik ke depan dilingkarkan ke pinggang cowok itu.


"Pegangan yang erat kalau enggak mau jatuh..!"


Entah mengapa Hana hanya diam, seolah mengiyakan. Jantungnya berdetak cepat. Seakan waktu terhenti. Ia seperti melayang entah kemana. Ada perasaan aneh yang mendesir. Wajahnya terasa memanas karena malu.


Tak terasa motor telah sampai di parkiran sekolah.


" Mau turun sekarang, apa besok?"


"Hah?" Hana terkesiap tersadar dari lamunan. Ia melihat sekitar dan menyadari bahwa ia telah berada di sekolah.


Sungguh memalukan. Kenapa gue enggak sadar sih kalau sudah sampai.


" Terima kasih." Hana turun dari motor bergegas pergi ke ruang kelasnya. Wajahnya masih bersemu merah.


Bel pelajaran pertama berbunyi. Bu Rita masuk ke dalam kelas dan memulai menjelaskan beberapa rumus fisika.


Hana terlihat fokus memperhatikan, tapi pikirannya melayang membayangkan kejadian tadi.


" Han, yang no 3 caranya gimana." suara Agung mengagetkannya.


"Ha...apa?" Hana terlihat bingung.


Agung merasa heran melihat Hana yang tak seperti biasa. Setelah fokus Hana mulai menyadari kalau sedari tadi bu Rita sudah menulis soal di papan tulis.


Kenapa gue jadi begini?


Andai cinta juga mempunyai rumus seperti Fisika, pasti akan mudah untuk gue pahami. He he.


Jam istirahat tiba, sebagian anak berhambur keluar kelas dan sisanya memilih berdiam di ruangan. Hana dan Laura duduk di dalam kelas sambil menikmati cemilan, oleh oleh dari Agung.


" Kemarin gimana latihannya Han?" tanya Laura.


"Menyenangkan." tiba tiba Hana tersenyum menyeringai, terlintas ide jahil untuk menggoda Laura.


"Kemarin gue latihan BERDUA sama Kak Rayhan lho."


"Serius loe Han, aaaah gue pengen." rengek Laura.


" Dan bener kata loe, Kak Rayhan itu memang ganteng, baik lagi, aduh senengnya bisa berduaan sama dia." Hana terus menggoda nya.


Dan Laura semakin geregetan.


" Kemarin saja dia ngajarin gue kayak gini_" ia berdiri di dekat Laura seraya menunjukan kedekatanya kemarin dengan Rayhan tentunya dengan sedikit dilebih kebihkan.


" Ah cukup cukup! Gue iri banget Han, mau dong tukeran sama loe." Laura merengek sambil menghentak hentakkan kakinya.


"Ha ha ha." Hana tertawa terbahak bahak, karena provokasinya berhasil.

__ADS_1


" Hah,,,, sudah sudah perut gue sakit." Hana menghentikan tawanya mengambil nafas dalam.


"Ih loe enggak asyik, jahat banget. Secara gue yang tergila gila sama Kak Rayhan, malah loe yang dapat kesempatan buat deket dekat sama dia."


"Emang segitu tergila gilanya loe sama dia ya Ra?"


" Iya lah, Kak Rayhan kan sosok yang sempurna, ganteng, baik, pinter, berbakat lagi, gimana gue enggak klepek klepek coba? Loe saja yang aneh enggak bisa lihat pesonanya. Kalau gue yang di posisi loe kayak kemarin, pasti gue sudah meleleh Han."


" Lilin kali meleleh." Hana menonyor dahi Laura.


Dalam hati Hana mengiyakan perkataan Laura, bahwa Rayhan memang ganteng, baik ,pinter dan berbakat. Tapi anehnya mengapa ia tak merasakan hal sama dengannya.


Apakah iya, orang yang kita suka harus sempurna dan memiliki kriteria tertentu. Bukankah hati tak bisa memilih kepada siapa ia akan menjatuhkan cinta.


Tiba tiba ia teringat dengan si mata indah. Ia heran bagaimana dengan mudahnya bayangnya memenuhi pikirannya. Padahal sampai sekarang ia belum mengenalnya bahkan namanya saja tidak tahu. Kini seakan akan pikiranya berpusat padanya.


Ponsel Hana bergetar tanda ada pesan masuk.


#Kak Rayhan#


Jangan lupa nanti kita latihan lagi. Pulang sekolah entar langsung masuk saja ke ruang seni.


#Hana#


Ok...


Pulang sekolah Hana berlatih melukis seperti kemarin. Ia mendapat banyak tambahan pengetahuan dari Pak Gun.


" Ayo Han kita pulang." Rayhan berjalan ke arah area parkir.


"Kakak duluan saja, gue naik angkot ".


" Loe enggak bawa motor? Pulang bareng sama gue saja, dari pada nunggu angkot ni udah sore lho." ajak Rayhan.


Akhirnya Hana menerima tawaran Rayhan. Tangannya memegang erat ujung jaket Rayhan.


Mereka melaju dengan kecepatan sedang. Hana minta turun di tempat motornya tadi pagi ditinggal.


" Mas mau ambil motor." ucap Hana.


" Ya Mbak. " Lelaki itu mengambil motor Hana dan menyerahkannya.


" Pacarnya ya Mbak? Ganteng lho. Serasi sama Mbak." godanya.


Rayhan sangat gembira mendengarnya. Ia mengaminkan ucapan itu dalam hati.


Hana hanya tersenyum dan menaiki motornya.


" Terima kasih ya Mas, Kak Rayhan, gue pulang dulu ya, terima kasih sudah dibonceng tadi." Hana melambaikan tangan sambil berlalu.

__ADS_1


Sekali lagi sepasang mata indah masih mengawasinya.


__ADS_2