
Seusai makan malam Hana dan Dewa kembali berbincang bincang bersama Radit. Radit banyak bercerita tentang kontribusi Hana terhadap RAMEKAN cafe, dan itu membuat Dewa semakin kagum dengan sosok wanita yang selama ini bertahta di hatinya.
Dewa dan Hana pamit pulang saat jam menunjukkan pukul delapan malam. Selama perjalanan pulang bibir Dewa tak henti menyunggingkan senyum. Pikirannya seakan larut dalam lagu One Thousand Year yang mengalun merdu dari music player di mobilnya. Ia membayangkan dirinya bersanding di pelaminan bersama Hana.
" Kamu kenapa sih Yank dari tadi senyum senyum terus?" suara Hana membuyarkan lamunan indah Dewa.
" Kalau nyetir yang fokus dong....."
" Aku nyetir baik baik saja kok, aman terkendali." cibir Dewa.
" Denger lagu ini jadi ngebayangin kalau aku menjadi Edward Cullen dan kamu jadi Bella Swan berdiri di pelaminan seperti adegan di film Twilight,,,, Uh.. pasti bahagia banget."
" Kayaknya bukan gaya kita dech, kita lebih cocoknya jadi pasangan Mr. and Ms. Smith....."
" Iya kamu betul, ha ha ha."
" Tapi kamu hebat banget lho Yank, aku enggak ngira kamu juga jago bisnis. Kamu memang sempurna, cantik dan pintar, iya. Baik, enggak diragukan. Masak, oke. Berantem, jago. Bisnis juga hebat. You' re so perfect....."
" Makanya kamu harus banyak bersyukur karena aku bersedia menerimamu menjadi calon suamiku." Hana tersenyum lebar ke arah Dewa.
" Iya, aku selalu bersyukur karena hal itu. Terima kasih ya..." tangan kiri Dewa mengelus puncak kepala Hana.
" Aku juga berterima kasih karena kamu sudah mencintaiku dengan sepenuh hati." mereka saling tersenyum. Mata mereka tampak berbinar sangat terlihat bunga bunga cinta kian bermekaran di hati mereka.
Tidak perlu waktu lama kini mobil Dewa telah sampao di depan rumah Hana.
Tumben pintu gerbang enggak ditutup? Apa ayah sudah tahu kalau Dewa bakalan ke sini ya?
Kening Dewa berkerut saat melihat mobil yang tak asing baginya tengah terpakir di halaman rumah calon mertuanya.
" Ayo turun." suara Hana memecah lamunan Dewa.
" Mobil siapa ya? Enggak biasanya ada tamu malam malam begini." Hana mengamati mobil Honda CRV berwarna merah di dekatnya.
Dewa ikut mengamati mobil itu untuk memastikan sesuatu.
Ini seperti mobil lamaku. Apa Yusuf yang membawanya kesini?
" Ini_" Dewa sudah yakin bahwa mobil merah itu memang miliknya.
" Kamu tahu pemilik mobil ini?" tanya Hana memotong ucapan Dewa.
__ADS_1
" Ini mobil lamaku. Paling Yusuf yang membawanya ke sini."
" Oh...." Hana manggut manggut.
" Assalamualaikum..." Hana nyelonong masuk rumah tanpa mengetuk pintu karena memang pintu tidak dikunci.
" Waalaikum salam."
" Akhirnya yang ditunggu dari tadi pulang juga." Ibu Hana menyambut kedatangan anak dan calon mantunya.
" Ibu.....?!" Dewa kaget saat melihat ibunya tengah duduk manis di sofa bersama dengan Yusuf dan ayah Hana.
" Ayo duduk, ibu kamu sudah nunggu lama lho." Ibu Hana kembali duduk di dekat suaminya.
Ibu Dewa menghampiri Hana dan mencium kedua pipinya.
" Tante kangen banget sama kamu sayang. Kamu semakin cantik." puji ibu Dewa yang tampak sangat bahagia melihat sosok calon mantunya.
" Eh maaf saya ralat, bukan tante lagi tapi Ibu. Saking bahagianya sampai lupa kalau sebentar lagi bakalan jadi anak mantu." bibirnya tersenyum penuh dengan kebahagiaan.
" Ibu kapan datang, kenapa enggak kasih kabar ke Dewa? Kemarin katanya belum bisa pulang, tunggu akhir bulan?" tanya Dewa yang merasa terkejut dengan kedatangan ibunya yang lebih cepat dari rencana.
" Terima kasih Tan_ eh Bu. Ibu juga terlihat sangat cantik." puji Hana yang kagum dengan wajah calon mertuanya yang tampak awet muda dan anggun.
" Eh Nak Dewa kenapa masih berdiri, ayo silahkan duduk biar enak ngobrolnya." ucap ayah Hana sopan.
" Terima kasih Yah." Dewa duduk di dekat Yusuf. Sedangkan Hana telah dimonopoli oleh calon ibu mertuanya.
Ibu Dewa terlihat sangat menyukai sosok Hana. Baginya Hana adalah wanita yang paling tepat untuk anaknya. Bagaimanapun Hana mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan Dewa dan dirinya. Tanpa Hana mungkin Dewa masih akan terpuruk dan semakin tersesat dalam kegelapan.
Meskipun terdengar berlebihan, tapi memang Hana seperti malaikat yang dikirim Tuhan untuk membimbing Dewa kembali ke jalan yang benar. Semua keberhasilan yang dicapai Dewa saat ini secara tidak langsung adalah berkat Hana. Dia sumber semangat, impian dan tujuan hidup Dewa.
Setelah bercengkerama dan melepas rindu, mereka mulai membahas mengenai rencana pernikahan Hana dan Dewa. Wajah mereka tampak sumringah membicarakan tentang acara yang akan menyatukan kedua keluarga.
Yusuf tampak tidak bersemangat mendengar perbincangan antar keluarga yang membahas detail acara dan konsep pernikahan Hana dan Dewa. Meskipun ia telah meyakinkan hatinya untuk mengikhlaskan, tapi kenyatannya tetap saja masih terasa menyakitkan.
Ikhlas? Memang gampang diucapkan tapi sangat sulit dilakukan. Aku sudah tahu bahwa Hana akan menjadi pendamping hidup Dewa karena mereka saling mencintai. Tapi tetap saja hati ini tidak bisa berkompromi. Kapan rasa sakit ini akan hilang?
" Suf kamu kenapa? Kayaknya kamu lesu banget? Kecapekan atau mungkin tidak enak badan?" tanya Hana menyadari sikap sahabatnya yang tampak dingin tidak bersemangat.
" Eh, kamu kenapa sayang? Kamu lagi enggak enak badan?" tanya ibu Dewa khawatir.
__ADS_1
" Ah enggak, aku baik baik saja. Cuma sedikit capek soalnya dari kemarin keasyikan muter muter." Yusuf memaksakan bibirnya tersenyum untuk menutupi rasa sakit di hatinya.
" Ya ampun, kenapa tadi kamu enggak ngomong. Kalau tahu kamu capek Ibu tadi enggak akan minta diantar kamu. Maafin Ibu ya, kurang peka dengan keadaanmu." ibu Dewa merasa bersalah.
" Enggak apa apa Bu, jangan khawatir. Ibu enggak perlu cemas." jawab Yusuf yang malah jadi enggak enak hati karena merusak suasana.
" Saya tinggal duduk di luar dulu, cari angin segar biar ilang capeknya. Permisi semua, saya ke depan dulu. Kalian silahkan lanjutkan pembicaraan. Jangan khawatir saya baik baik saja." Yusuf beranjak keluar meninggalkan ruang tamu.
" Aku temanin Yusuf dulu ya? Kasihan kalau sendirian di luar." Dewa beringsut keluar untuk menemani Yusuf di teras rumah.
" Kamu enggak apa apa kan?" Dewa menyapa Yusuf yang duduk di teras rumah Hana.
" Hufffff...! Entahlah...." Yusuf menghela nafas panjang.
Dewa menatap nanar ke arah saudara tirinya itu. Dia tahu Yusuf pasti merasa tidak nyaman harus mendengar obrolan tentang pernikahannya dengan Hana.
" Aku perlu waktu untuk membiasakan semua ini."
" Aku tahu, bohong jika kamu bilang hatimu tidak sakit. Tapi maaf aku tidak mungkin mengalah dengan melepaskan Hana untuk bersamamu. Karena Hana segalanya bagiku."
" Aku tahu, aku tidak sekejam itu. Memisahkan dua orang yang saling mencintai." lirih Yusuf.
" Kamu tidak akan menangis meraung raung kan?"
" Maksudmu???? Kau kira aku selemah itu?" Yusuf melototkan matanya.
" Syukurlah kalau begitu." Dewa bernafas lega.
" Sepertinya aku harus menerima tawaran ayah. Aku akan bekerja di Jakarta untuk beberapa waktu sampai hatiku merasa baik baik saja." ucap Yusuf.
" Kamu yakin? Tapi itu mungkin memang pilihan terbaik. Jadi kamu sudah mantab ingin menetap di sana?"
" Aku hanya sementara waktu saja di sana. Aku akan kembali setelah membaik dan aku pastikan bahwa aku sudah akan baik baik saja sebelum hari pernikahanmu. Dan ingat kamu harus memegang janjimu untuk menjaga dan memperlakukan Hana dengan baik. Karena meskipun cintaku harus tandas tapi sebagai sahabat dan iparnya aku masih tetap harus melindungi dan menyayanginya.
" Baiklah kamu tidak perlu khawatir akan janjiku. Dan aku sangat yakin bahwa kamu adalah sahabat dan ipar terbaik yang Hana miliki."
" Ayo kita kembali ke dalam. Semua mencemaskanmu." mereka berdua saling melempar senyum.
" Siapa gadis itu?" tanya ibu Dewa saat Yusuf dan Dewa kembali duduk bersama di dalam.
"Hah...?" Yusuf dan Dewa saling melempar pandang.
__ADS_1