
Mata Hana berbinar saat mobil Alphard yang ia tumpangi memasuki sebuah pekarangan rumah yang tidak asing lagi bagi dirinya. Pak Sholeh membukakan pintu pagar rumahnya dengan sedikit heran karena ia tidak mengira bahwa majikannya akan pulang dengan cara dikawal seperti itu.
Rumah mewah itu kini terlihat semakin indah dengan banyaknya tambahan koleksi bunga di taman dan depan rumah. Bahkan di dekatnya ada sebuah kolam ikan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menambah keindahan panorama sekitarnya.
Setelah memastikan keselamatan sekaligus mengantar mobil mewah pesanan khusus itu, Andre beserta anak buahnya bergegas undur diri. Meskipun Hana dan Dewa sempat menawari mereka untuk singgah sejenak sekedar melepas haus sebagai ucapan terima kasih karena sudah melaksanakan tugas dengan baik namun mereka menolak dengan sopan.
" Ya Allah Mas Dewa dan Mbak Hana mau pulang kok nggak ngabari tho?" Mbok Mira tergopoh dari dalam rumah menghampiri kedua majikannya.
" Mbok Mira, bagaimana kabarnya? Baik baik saja kan?" ucap Hana sambil menyalami wanita paruh baya yang bertubuh agak gembul itu.
" Alhamdulillah baik Mbak Hana. Kalau Mbak Hana dan Mas Dewa ngabarin dulu kalau mau pulang Mbok kan bisa masak yang spesial buat nyambut kedatangan kalian. Lah ini Mbok belum masak apa apa soalnya Tuan dan Nyonya kemarin kembali ke Jakarta."
" Enggak apa apa Mbok, lagi pula habis ini kami juga langsung mau ke rumah Ayah dan Ibu, sudah kangen. He he. Nanti mungkin kami akan pulang sore." jelas Hana.
" Owh, kalau begitu Mbok buatin minum dulu ya biar seger."
" Enggak perlu repot repot Mbok, nanti kami bisa ambil minum sendiri. Kami ke kamar dulu ya Mbok. Dan ini ada oleh oleh buat Mbok Mira dan Pak Sholeh." Hana menyerahkan sebuah paper bag berukuran besar.
" Ini buat kami? Terima kasih ya Mbak Hana. Di tengah tengah hon- honi apa tuh Pak? Aku kok lupa apa ya sebutannya." Mbok Mira menerima papper bag itu sambil mengerutkan kening tampak berpikir leras mencoba mengingat istilah untuk bulan madu.
" Ya mboh, kamu mbok enggak usah kebanyakan gaya sok sokan mau pakai bahasa asing." dengus Pak Sholeh.
" Ya enggak apa apa tho Pak biar kelihatan sedikit gaul gitu loh." sanggah Mbok Mira.
"Ha ha ha. Honeymoon?" Hana terkekeh dengan sikap wanita yang sudah beberapa tahun merawat dan menjaga rumah mewah ini.
" Iya itu maksud Mbok."
" Ya sudah kami ke kamar dulu ya Mbok. Kopernya diberesi nanti saja. Saat ini ada hal penting yang harus kami lakukan tanpa ada gangguan." ucap Dewa penuh maksud. Dan dalam sekejap ia membawa tubuh Hana ke dalam gendongannya ala ala bridal style yang sering ada di adegan film romantis.
" Ah, Sayang apa yang kamu lakukan? Ini sangat memalukan. Ada Mbok Mira dan Pak Sholeh, lepaskan aku." bisik Hana yang terkejut dengan aksi suaminya yang tiba tiba membopongnya tanpa meminta persetujuan.
__ADS_1
" Diamlah. Apanya yang memalukan? Kamu adalah istriku yang sah di mata hukum dan agama. Jadi mau apa saja kita sudah mengantongi label halal. Lagi pula Mbok Mira dan Pak Sholeh juga pasti tidak akan keberatan, toh mereka juga pernah muda. Bukanlah begitu Mbok Mira? Pak Sholeh?"
" He he he, iya Mas, Mbak. Kami sama sekali tidak keberatan kok. Malah kami senang melihat kalian rukun dan romantis seperti itu. Betul kan Buk?" Pak Sholeh memaksakan senyum di bibirnya.
Aduh Mas Dewa ini gimana tho? Aku memang enggak keberatan tapi pagi pagi nonton kayak gini bikin ngiri.
" Iya betul. Simbok juga senang lihatnya kayak adegan di drama korea. He he." imbuh Mbok Mira yang tenyata pipinya telah merona.
Mas Dewa dan Mbak Hana memang cocok banget. Pasangan yang guanteng dan cuantik.
Mbok Mira dan Pak Sholeh setia menatap kepergian kedua majikannya.
" Pak lah mbok sekali kali aku juga digendong seperti itu." dengus Mbok Mira saat majikannya sudah berlalu dari hadapannya.
" Ck, mbok ya jangan aneh aneh tho Bu. Lihat dulu ukuran tubuh kamu sekarang seperti apa. Lagian kita juga sudah enggak muda. Sudah, aku mau bersihin taman dulu. Kamu lanjut bersih bersih rumahnya."
" Iya. Oh ya Pak ayo kita lihat dulu oleh olehnya. Dari Belanda ini loh Pak." Mbok Mira dan Pak Sholeh membuka paper bag itu dengan antusias.
" Capek?" tanya Dewa menatap manik istrinya.
" Huum." dengus Hana.
" Kalau begitu istirahat saja dulu sebentar. Habis itu nanti kita mandi terus ke tempat ayah dan ibu mertua."
" Baiklah, tapi jangan biarkan aku tidur terlalu lama. Aku sudah kangen banget dengan ayah dan ibu."
" Iya, sekarang tidurlah. Aku akan membangunkanmu satu jam lagi." Dewa mengecup lembut kening istrinya.
" Kamu tidak ikut tidur?" tanya Hana melihat suaminya yang justru beranjak dari sisinya.
" Tidak, aku harus melakukan beberapa panggilan terlebih dulu. Atau kamu menginginkan satu ronde lagi?" tanya Dewa dengan nada sensual.
__ADS_1
" Lupakan, aku ingin tidur." jawab Hana cepat sambil memejamkan matanya.
Dewa beranjak ke ruang kerjanya. Di sana ia mengotak atik laptop dan ponselnya. Ada banyak pekerjaan dan panggilan yang harus ia lakukan karena selama honeymoon ia sengaja menonaktifkan ponselnya. Di antara panggilan itu ia menyempatkan diri menghubungi ayah ibunya memberi tahu tentang kepulangannya. Dan tentu saja ia juga menghubungi papa kandungnya.
" Hai Son, kalian sudah sampai?" tanya Russell dari seberang sana.
" Ya kami sudah sampai di rumah dengan selamat. Dan aku rasa Papa juga sudah mengetahuinya tanpa aku memberitahu kan?"
" Hei, kenapa nada suaramu seperti orang kesal seperti itu?"
" Papa pasti juga sudah tahu kenapa." ketus Dewa.
" Ini mengenai hadiah kalian? Ada yang salah atau kurang?"
" Bukan kurang Pa, but it's too much. Apalagi sampai menyuruh orang untuk mengawal kami sampai rumah. Aku dan Hana tidak nyaman dengan perlakuan Papa seperti itu." tutur Dewa.
" Ayolah Son, Papa hanya ingin sedikit memanjakan kalian berdua. Dan apa salahnya jika Papa melakukan itu semua untuk memastikan keselamatan anak dan menantu Papa. Dan mengenai hadiah hadiah itu Papa rasa tidak ada yang berlebihan. Papa hanya berusaha memberi kalian yang terbaik dan itu bukanlah seberapa dibanding dengan yang sudah Papa lakukan padamu."
" Papa tidak salah, Papa tidak melalukan apa pun."
"That's what i mean. I never did anything for you. Papa tidak pernah melakukan tugas seorang Papa terhadap anaknya. Dan sekarang ini Papa hanya berusaha untuk menebus itu semua."
" Come on don't thing like that. Aku tidak pernah menuntut apa pun dari Papa. Aku harap ini yang pertama dan terakhir kali Papa melakukan kami secara berlebihan seperti tadi. Aku tahu Papa dan Mama Aleena menyayangi aku dan Hana tapi jangan memperlakukan kami seperti ini biarkan kami belajar dan berkembang sesuai kemampuan kami. Bukankah Papa ingin aku meneruskan perusahaan Van Nero? Kalau begitu biarkan aku berusaha sekuat tenaga agar aku layak untuk menerima tanggung jawab itu semua. Papa percaya dengan kemampuanku kan? So please dont do anything again." tutur Dewa dengan penuh penekanan.
" Ok, i will do as you wish. Are you happy?" Russell menekan egonya untuk mengalah.
" Yes. Thank you so much. Sampaikan salam cinta dari kami untuk Mama Aleena. Jaga dia baik baik Pa." Dewa mengakhiri panggilannya.
" Like father like son. Dia memang anakku. Pekerja keras dan tidak suka mengandalkan bantuan orang lain. Yach meskipun aku juga harus mengakui bahwa kami sama sama keras kepala." dengus Russell mengingat perjuangannya dulu tatkala membangun perusahaan Van Nero dari nol sampai bisa menjadi perusahaan besar yang cukup berpengaruh di dunia.
" Aku yakin kamu akan segera menggapai impianmu untuk mendirikan perusahaanmu sendiri karena ada darahku dalam dirimu. Dan baiklah kalau kamu tidak menginginkan aku melakukan apa pun untuk kalian. Tapi aku tidak menerima penolakan my son. Aku masih bisa mengawasi dan membantu kalian dengan diam diam." bibir Russell menyeringai.
__ADS_1