
Siang itu Hana, Dewa dan Yusuf berjalan menyusuri jalan sempit di antara pusara yang berjejer rapi. Langkah mereka berhenti di dekat batu nisan yang bertuliskan ASIH IRAWATI. Makam itu terlihat bersih nampak terurus dengan baik.
Selama delapan tahun ini Hana rutin mengunjungi makam itu. Ia selalu menyempatkan diri untuk berziarah, mendoakan mendiang nenek Ira dan menabur bunga di atasnya, sehingga makam selalu terlihat terawat dan bersih. Ditambah lagi ibu Dewa membayar seorang penjaga makam agar secara khusus merawat dan membersihkan makam nenek Ira.
Ibu Dewa juga membangun sebuah musholla atas nama nenek Ira, dengan nama Ar Rahman yang mempunyai arti Maha Pengasih sesuai dengan nama dan sifat nenek Ira. Itu sebagai salah satu wujud terima kasihnya kepada nenek Ira yang dulu sudah mau menolong dan menganggap dirinya sebagai keluarga. Bahkan nenek Ira lah yang merawat dan mendidik Dewa dari kecil hingga besar.
" Nek, Dewa datang. Dewa harap nenek bahagia di alam sana. Jangan khawatir dengan Dewa, semua baik baik saja. Hubungan Dewa dengan Ibu juga sudah baik. Sebentar lagi Dewa akan menikah dengan Hana. Andaikan Nenek masih hidup pasti nenek akan sangat bahagia." lirih Dewa sembari memeluk erat batu nisan itu.
Suaranya terdengar parau. Ia berusaha keras menahan genangan air di matanya agar tidak lolos dari pelupuk. Namun itu tidak berhasil, buliran buliran air terus meluncur membasahi pipinya.
Dewa teringat bagaimana nenek Ira dulu membesarkankannya dengan penuh kasih sayang. Selalu setia mendampingi dan menemaninya dari kecil. Dewa merasa sangat sedih jika teringat akan sikapnya yang pernah mengecewakan neneknya. Dia belum sempat membalas semua kebaikan nenak Ira.
" Nenek maafin Dewa, maafin Dewa Nek..." isak Dewa tanpa melepas dekapan tangannya. Seakan nenek Ira lah yang ia peluk.
Hana dan Yusuf ikut larut melihat isakan Dewa. Tanpa sadar keduanya ikut menitikkan air mata.
" Sudahlah, nenek Ira sudah bahagia di alamnya. Beliau pasti sangat bangga melihat kamu hidup dengan baik dan tumbuh menjadi orang yang sukses. Berhentilah menangis, lebih baik sekarang kita doakan beliau agar ditempatkan di tempat yang terindah." bujuk Yusuf sambil menyeka matanya.
"Dewa, ayo kita doakan nenek Ira. Nenek pasti sangat sedih kalau kamu menangis seperti ini." Hana memegang pundak Dewa berusaha untuk menenangkan.
" Tapi aku belum sempat membalas semua kebaikan nenek."
" Hei, ayolah jangan menangis. Kamu sudah janji untuk tidak membuat Hana sedih kan? Kamu mau melanggar janji itu? Kamu mau agar aku merebut Hana dari sisimu?" bisik Yusuf di telinga Dewa.
Tangis Dewa reda seketika. Ia menatap wajah calon istrinya, dan ya dia melihat mata gadis itu berair.
Aku berjanji untuk membahagiakan Hana, tapi kenapa sekarang malah membuatnya sedih hingga menangis seperti ini? Aku enggak boleh membuat Hana meneteskan air mata, kecuali air mata bahagia. Terima kasih Yusuf karena telah mengingatkan janjiku.
__ADS_1
Dewa bangkit melepas pelukannya. Ia menyeka air mata di pipi Hana.
" Maaf karena sudah membuat kamu sedih sampai menangis." lirih Dewa.
Mereka bertiga pun berdoa dan menabur bunga di atas pusara nenek Ira dengan khusyuk.
" Sayang kamu tunggu di mobil dulu ya, aku dan Yusuf mau berziarah ke makam Agung." ucap Hana lembut.
Agung meninggal saat dirinya masih duduk di kelas 3, tepatnya satu minggu sebelum ujian akhir sekolah. Dan itu menjadi duka yang mendalam bagi Hana dan sahabat sahabatnya. Mereka tidak menyangka bahwa Agung akan meninggalkan mereka secepat itu karena kanker darah. Selama hidup Agung menyembunyikan penyakitnya dengan rapat, hingga tidak ada satu pun dari sahabatnya yang tahu bahwa dirinya tengah sakit. Bahkan saat penyakitnya kambuh ia terpaksa tidak berangkat sekolah dengan alasan ada urusan keluarga. Hingga suatu hari Hana dan sahabatnya mendapat kabar duka bahwa Agung telah menghembuskan nafas terakhirnya. Dan itu adalah hari yang paling menyedihkan untuk mereka. Hidup Agung memang telah berakhir, tapi namanya akan terus dikenang oleh para sahabatnya. Dan persahabatan mereka akan tetap terjalin, meskipun hanya lewat untaian doa.
" Baiklah aku tunggu di mobil, hati hati ya."
" Suf tolong jagain Hana." Dewa berlalu menuju ke arah parkiran mobil.
Hana dan Yusuf melangkahkan kaki ke arah makam sahabat mereka. Di dekat makam itu ada seorang lelaki memakai baju koko dan sarung dilengkapi dengan peci di kepalanya. Lelaki itu tampak khusyuk melantunkan doa doa di dekat batu nisan yang bertuliskan BACHTIAR AGUNG. Sebenarnya Hana penasaran dengan identitas lelaki itu, namun karena takut mengganggu ia memilih untuk diam dan berdiri di dekatnya bersama Yusuf.
Hana dan Yusuf ikut mengaminkan doa lelaki itu. Setelah doa yang dibaca selesai barulah lelaki itu menoleh menatap ke arah Hana dan Yusuf secara bergantian. Tatapan matanya menajam berusaha untuk menelisik, dan tiba tiba bibirnya tersenyum lebar.
Hana dan Yusuf saling pandang dan menatap lelaki itu dengan lekat. Namun baik Hana maupun Yusuf tetap tidak berhasil mengenali sosok itu.
Lelaki itu berkulit cokelat, rambutnya ikal sebahu. Wajahnya ditumbuhi kumis dan jenggot, terlihat sekali bahwa dia adalah seorang ahli agama.
" Maaf, Pak Kyai siapa ya kok tahu nama kami?" tanya Hana dengan sopan.
" Subhanallah...... Ini aku, Rizal. Sahabat kalian."
" Rizal...?!" pekik Hana dan Yusuf serempak. Bahkan Hana sampai memandangi tubuh Rizal dari atas sampai bawah berulang kali untuk memastikan. Hana masih belum percaya bahwa sosok yang ia anggap sebagai kyai itu adalah Rizal sahabat semasa di bangku SMA.
__ADS_1
" Kamu beneran Rizal sahabat aku? Beda banget, dapat wangsit dari mana kamu sampai bisa berubah seperti ini?"
"Oh maaf, maksudku bagaimana kabarmu dan gimana ceritanya kamu bisa menjadi kyai seperti ini?" Yusuf menjadi sedikit bingung harus bicara seperti apa.
" Alhamdulillah kabarku baik seperti yang kalian lihat. Bagaimana dengan kalian? Semua baik baik saja kan?"
" Hah, iya. Semua baik. Ngomong ngomong kemana saja kamu selama ini? Setelah lulus SMA kamu menghilang seperti ditelan bumi enggak ada kabar sama sekali. Aku enggak nyangka kamu bisa berubah menjadi seperti ini." Hana terlihat bahagia berjumpa dengan Rizal.
Mereka bertiga larut dalam perbincangan. Saling bertukar cerita mengenai perjalanan hidup mereka selama tidak berjumpa.
Yusuf bercerita tentang pengalamannya belajar di luar negeri. Hana menceritakan suka duka menjadi guru matematika. Dan Rizal menuturkan kisah hidupnya yang bisa berakhir menjadi seorang kyai seperti saat ini.
Setelah lulus SMA, Rizal memutuskan pergi ke salah satu pondok pesantren di Jawa Timur untuk memperdalam ilmu agama. Kematian Agung sedikit banyak telah mempengaruhi pola pikirnya bahwa kematian bisa datang kepada siapa saja tanpa memandang usia.
Singkat cerita, pemilik pondok pesantren itu kagum dengan semangat dan kesungguhan Rizal dalam mempelajari ajaran agama. Kyai itu meminta Rizal untuk menikahi anaknya dan ikut mengurus pondok pesantren. Bahkan bukan hanya satu melainkan dua anaknya sekaligus.
" Whatttt..???? Kamu sudah menikah dengan dua wanita sekaligus? Gila kamu Zal." Hana dibuat terkejut dengan penuturan Rizal.
" Aku tidak gila Han. Dalam ajaran agama kita lelaki boleh mempunyai istri lebih dari satu, bahkan sampai empat istri sah sah saja. Dan Allah menjanjikan surga untuk wanita yang rela dipoligamy." tutur Rizal.
" Hah...?" Hana menatap wajah Rizal dengan tatapan nanar. Bukan karena ia belum pernah mendengar ajaran tentang poligamy, tapi mengetahui bahwa sahabatnya telah melakukan praktek poligamy di usianya yang baru ke 24 dan parahnya lagi ia menikah langsung dengan dua wanita sekaligus membuat Hana merasa syok.
" Wah kamu hebat Zal, kamu telah mendahului kita semua bahkan langsung dengan dua wanita." Yusuf memberi dua jempol ke arah Rizal.
" Aku pacar saja belum punya Zal, kamu sudah punya dua istri." dengus Yusuf yang masih bisa didengar Rizal dan Hana.
" Maaf aku ralat Suf, istriku saat ini bukan dua tapi tiga. Dua bulan yang lalu aku baru saja menikah lagi."
__ADS_1
" TIGAAAA....??!!!" mata Hana dan Yusuf melotot bersamaan.
Rizal hebat banget, aku satu saja belum dapat, dia sudah punya istri tiga. Nasibnya sungguh mujur.