Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Malam Pengantin


__ADS_3

Hana dan Dewa duduk berdampingan dengan cemas di depan sebuah meja yang di seberangnya ada seorang polisi yang siap untuk membuat laporan. Dua orang polisi tampak berjaga di samping kiri dan kanan mereka.


" Jadi Anda bernama Dewa Arya Rahadian?" tanya polisi yang tengah duduk sembari menulis di kertas laporannya.


" Iya Pak." jawab Dewa singkat.


" Apakah Anda mengakui bahwa Anda telah melakukan tindak pencurian sepeda motor milik Wahyudi yang terparkir di depan rumah Bapak Hasanudin?"


" Tidak Pak, itu semua hanya salah paham."


" Salah paham? Bukankah tadi sudah terbukti bahwa Anda telah mengambil sepeda motor milik Wahyudi tanpa ijin?!" hardik polisi itu dengan sorot mata tajam.


" Benar Pak, tapi saya tidak mencuri. Saya hanya berniat untuk meminjam saja." tutur Dewa kekeh dengan pendiriannya.


" Meminjam? Apakah Anda sudah minta ijin kepada pemiliknya? Itu bisa saja hanya alasan Anda . Semua pencuri jika tertangkap pasti akan berkata salah paham dan hanya berniat untuk meminjam saja."


" Saya benar benar bukan pencuri Pak, tanya saja istri saya."


" Istri? Maksud Anda wanita yang duduk di sebelah Anda adalah istri Anda? Apakah dia komplotan Anda?"


" Heh apa maksud Bapak? Bapak juga menuduh saya adalah pencuri sepeda motor? Saya adalah seorang guru bagaimana mungkin saya menjadi pencuri?!" ketus Hana tanpa rasa takut.


" Seorang guru? Anda terbukti telah berboncengan tengah malam mengendarai sepeda motor curian dan juga Anda tidak membawa kartu identitas. Bagaimana mungkin saya bisa mempercayai Anda?"


" Maksud Bapak apa ngomong seperti itu? Saya benar benar seorang guru. Biarkan saya menelpon orang tua saya!" jawab Hana dengan lantang.


" Oh benar, biarkan kami menelpon rumah dan pengacara kami." imbuh Dewa.


" Menelpon? Anda kira ini hotel? Anda bebas menelpon siapa saja di jam segini. Ini sudah malam, jika ingin menelpon tunggu besok pagi ada waktu untuk menelpon."

__ADS_1


" Aturan macam apa ini? Bapak jangan sembarangan ya, Bapak ingin kami semalaman menunggu di sini. Cepat biarkan kami menelpon." bentak Hana dengan emosi.


" Tolong jaga sikap Anda, atau Anda akan kami kenakan pasal berlapis, pasal 362 KUHP tentang pencurian dan pasal 315 tentang perkataan kasar." ancam polisi itu yang membuat Hana diam seketika.


" Memangnya bisa ya seperti itu?" bisik Hana ke telinga Dewa.


" Sepertinya memang bisa." balas Dewa.


" Ada yang masih ingin kalian sampaikan lagi?" imbuh polisi itu.


" Pak, tolong biarkan istri saya pulang. Saya bersedia ditahan disini tapi bebaskan dia." pinta Dewa memelas.


" Sayang apa yang kamu lakukan? Aku enggak mau ninggal kamu sendirian di sini." bisik Hana.


" Tenang saja, kalau kamu pulang kamu kan bisa beritahu orang rumah untuk segera membebaskan aku." Dewa tersenyum memberi pengertian.


" Bebaskan dia? Mana mungkin...! Kalian adalah satu komplotan jadi keduanya dinyatakan bersalah." ketus pria berseragam di depannya.


" Tentu saja saya bisa. Anda tadi tertangkap bersama dengan barang bukti motor hasil curian yang Anda kendarai. Cepat bawa mereka ke dalam sel..!" perintah polisi itu kepada polisi di samping Hana dan Dewa.


" Siap Komandan...!" ucap kedua polisi itu serempak. Mereka menggeret tubuh Hana dan Dewa menuju ke sel tahanan.


" Bapak jangan seenaknya seperti ini ya, saya bisa menuntut Anda dengan pasal 311 ayat 1 KUHP tentang menuduh orang melakukan tindak pidana tanpa ada bukti." Dewa meninggikan suaranya.


" Lepaskan kami, biarkan kami menelpon pengacara dan orang tua kami." teriak Dewa namun tidak dihiraukan oleh kedua polisi itu.


" Brakkkk.....!! Ceklek...!" polisi itu menutup pintu sel dengan kasar.


" Pak polisi kami tidak bersalah, bebaskan kami." kedua polisi itu berlalu tanpa menengok ke arah Hana dan Dewa yang terus berteriak.

__ADS_1


" Sudahlah, percuma saja kita berteriak. Polisi itu tidak akan membebaskan kita meskipun kita berteriak sampai tenggorokan kering." dengus Dewa.


" Kamu benar sayang, lebih baik kita istirahat saja." keluh Hana yang sudah merasa capek dan lelah karena beberapa hari ini dia kurang tidur, ditambah seharian tadi melakukan upacara pernikahan yang tentu saja menguras tenaga.


" Duduk sini." Dewa meminta Hana untuk duduk di sampingnya.


Hana duduk dalam dekapan Dewa. Tangan Dewa mendekap erat tubuh Hana seakan tak membiarkan dingin menyerang istrinya.


" Maaf ya, ini semua salahku. Andai saja aku tidak memberimu kejutan ulang tahun pasti sekarang kita tidak akan berakhir di sini." lirih Dewa.


" Heh, apa maksudmu sayang? Tidak perlu meminta maaf. Tadi adalah kejutan ulang tahun terindah, aku sangat bahagia."


" Tapi gara gara aku sekarang kita harus menghabiskan malam pertama kita di balik jeruji besi. Ini sangat menyedihkan. Kamu pasti sangat kecewa karena harus bermalam di tempat seperti ini. Lagi pula aku heran dengan polisi tadi, kenapa kita tidak diijinkan menelpon untuk mengabari orang tua kita, itu sangat aneh." ucap Dewa tanpa melepas dekapan tangan di tubuh istrinya.


" Ha ha ha, kau tahu ini adalah hari pernikahan yang paling seru dan mendebarkan. Mungkin kita adalah satu satunya pasangan suami istri yang melalui hari pernikahan seperti ini. Dalam satu hari ini ada banyak cerita dan kenangan. Ini akan menjadi hari paling bersejarah dalam hidup kita. Pagi ini kita telah melalui acara ijab kobul yang menegangkan dilanjutkan dengan upacara adat dan menerima ucapan selamat dari para tamu. Sore hari kita beralih ke adegan penculikan dengan kejutan ulang tahun yang romantis. Dan malam hari kita harus mendekam di balik jeruji besi karena dituduh mencuri. Bukankah ini sangat seru. Ha ha ha." ucap Hana tanpa beban sedikit pun.


" Kamu serius tidak marah dengan aku sayang? Pasangan Pengantin lain pasti melewati malam pertama mereka dengan sangat romantis di kamar pengantin yang telah dihias dengan indah, sedangkan kita? Jangankan hiasan yang indah, kasur dan bantal saja tidak ada." Dewa mendengus kesal memikirkan malam pertamanya yang gagal.


" Kenapa harus marah? Ini adalah malam pengantin yang romantis versi kita. Lihatlah kita saat ini. Wanita lain akan tidur di kasur dan bantal di malam pengantinnya, sedangkan aku akan tidur beralaskan bahu dan dekapan suamiku. Bukankah itu jauh lebih romantis?" tutur Hana lembut.


" Terima kasih ya sayang, kamu memang baik banget. Belum genap sehari menikah aku sudah membawamu dalam masalah seperti ini." Dewa menghela nafas dalam.


"Jangan khawatir aku akan menebus malam pengantin kita ini dengan menjadikan setiap malam yang kelak akan kita lalui sebagai malam pengantin kita. Bagaimana?" Dewa tersenyum puas mendapat solusi dari masalahnya.


" Terserah kamu sayang. Sudahlah, ayo kita tidur aku sudah sangat mengantuk."


" Baiklah, atau kita bisa melakukan malam pertama kita di sini?" mata Dewa berbinar.


" Sudahlah tutup mata dan mulutmu jangan berpikir yang aneh aneh."

__ADS_1


Hana dan Dewa menutup matanya dengan posisi duduk bersender di dinding dengan tubuh yang yang saling berpelukan.


" Mereka sudah tidur Pak." diam diam seorang polisi mengawasi dan memberi laporan kepada seseorang lewat ponselnya.


__ADS_2