Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Dawet Legit


__ADS_3

Motor hitam milik Dewa setia melaju di tengah teriknya jalanan siang hari. Sama seperti yang sudah sudah, Hana dan Dewa duduk tenang di atasnya menyusuri jalan aspal yang sudah sangat akrab dengan mereka.


" Sayang kamu masih ngambek?" tanya Dewa yang memperhatikan raut wajah istrinya masih terlihat manyun dari kaca spion.


" Menurutmu?" Hana enggan untuk menjawab pertanyaan suami mesumnya itu. Bagaimana tidak, setelah melakukan beberapa panggilan dan pekerjaan bukannya langsung istirahat tapi Dewa malah menerkam tubuh istrinya yang masih terlelap untuk melakukan ritual panas mereka. Dan alhasil mereka tertidur pulas setelah melakukan adegan en* e*a yang menguras banyak tenaga itu. Rencana awal yang hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya satu jam saja gagal total. Bukannya satu jam tapi malah empat jam lebih mereka terlelap karena kelelahan. Mereka terbangun saat Mbok Mira memberanikan diri memanggil mereka untuk makan siang, itu pun jam makan siang sudah terlewat sangat jauh dari semestinya.


" Hey bukankah tadi kamu juga menikmatinya." dengus Dewa yang sontak mendapat sebuah hadiah gigitan di pundaknya karena tangan Hana tengah sibuk membawa beberapa paper bag. Bahkan stang motor Dewa pun tak luput menjadi tempat bergantung paper bag berisi oleh oleh dan belanjaan Hana untuk kedua orang tuanya. Sebenarnya Dewa mengajak Hana untuk berkendara naik mobil karena membawa banyak barang tapi seperti biasa wanita yang menyandang predikat istri Dewa itu lebih suka memilih motor untuk bepergian.


" Aouw, sakit Yank. Na*su banget. Tadi masih kurang? He he." goda Dewa.


" Enggak lucu."


" Eh, berhenti di sana." pinta Hana saat melihat lapak es dawet favoritnya. Tanpa banyak berdebat Dewa menuruti permintaan istrinya itu karena ternyata es dawet itu juga minuman favorit saat dirinya masih sekolah dulu. Dewa mengambil alih paper bag yang ada di tangan istrinya. Ia menyusunnya di atas jok motor sedemikian rupa.


" Bang, biasa ya." seru Hana mendekati penjual es dawet langganannya semenjak masih mengenakan seragam putih abu abu.


" Siap Mbak Hana. Tumben kok sudah lama enggak kelihatan Mbak?" tanya penjual es yang bernama Agus itu sembari mengelap gelas dan mangkok.


" He he he, baru semedi Bang. Cari wangsit biar tambah sakti." canda Hana.


" Mbak Hana ini ada ada saja, wangsit buat apa lha wong sudah cantik dan sempurna seperti itu kok. Ngomong ngomong enggak ngajar Mbak? Kok enggak pakai seragam guru?"


" Lagi cuti ngajar Bang Agus, sibuk cari wangsit bareng aku." jawab Dewa sembari memeluk tubuh istrinya dari belakang.


" Sayang apa yang kamu lakukan? Lepaskan, ini di tempat umum." bisik Hana sambil melepas pelukan suaminya.


" Eh? Ini Mas Dewa kan kalau enggak salah ingat." ucap Agus sembari menatap lekat wajah Dewa.


" Owalah Mas..... Kemana saja selama ini? Sudah lama banget enggak pernah terlihat. Ngilang kemana sampeyan?"


" Abang kenal dengan dia?" tanya Hana sambil menunjuk ke wajah Dewa.


" Tentu saja Mbak Hana, lha wong dulu Mas Dewa ini kan pelanggan setia es dawet yang paling guanteng. Dan sekarang malah tambah guanteng lagi. Rizki Nazar mah lewat Mbak Hana." tutur Agus mengingat bahwa Hana adalah salah satu penggemar aktor berdarah blasteran itu semasa sekolah.


" Bang Agus jeli juga ternyata. Tahu saja kalau aku semakin ganteng. Dan sekarang aku adalah suami dari wanita cantik ini."


" Eladalah..... Kalian sudah menikah tho? Selamat ya, kalian memang pasangan yang sangat serasi. Mas Dewa guanteng dan Mbak Hana cuantik. Nanti anak anaknya pasti luar biasa cantik dan ganteng. Dan kenapa kebetulan sekali kalian punya kebiasaan minum es dawet yang sama yaitu es dawet tanpa dawet. He he he."


" Ini tak buatain es dawet yang spesial buat pasangan pengantin. Tanpa dawet, dengan tambahan toping alpukat dan durian yang tak banyakin. Monggo dinikmati. Dan itu gratis, sebagai ucapan selamat dari aku." Agus menyerahkan dua mangkok berisi es yang terlihat menggiyurkan.



" Terima kasih Bang, ini pasti sangat enak. Aku sudah kangen banget dengan es dawet buatan Abang." ucap Hana sudah tidak sabar untuk menyantap es di depannya.


" Selamat menikmati. Nanti kalau kurang tak tambahin lagi."

__ADS_1


" Terima kasih ya Bang." ucap Dewa dengan senyum mengembang.


" Hmmmmm, ini enak banget. Es dawet buatan Bang Agus memang juara." Hana tampak sangat menikmati sendokan durian dan alpukat yang dicampur dengan santan, gula dan susu yang masuk di dalam mulutnya.


" Kamu suka?" tanya Dewa sembari melakukan hal yang sama seperti istrinya.


" Banget. Tidak ada yang bisa mengalahkan kelegitan es ini."


Syukurlah, akhirnya ngambek Hana bisa dihilangkan dengan es dawet ini. Aku harus berterima kasih kepada Bang Agus.


" Mau dibungkusin untuk ayah dan ibu Sayang?" Dewa beranjak dari duduknya.


" Boleh, sekalian bungkus buat aku juga ya." jawab Hana tanpa menghentikan aktivitas makannya. Seporsi es dawet memang tidak akan pernah cukup untuk dirinya.


" Bang tolong nanti bungkuskan empat ya. Porsinya dibuat besar. Yang dua tanpa dawet." Dewa menyerahkan segepok uang ke Agus.


" Apa ini Mas? Banyak banget?" Agus terperangah dengan segepok uang di tangannya.


" Aku borong semua es dawet Abang untuk tiga hari ke depan. Nanti kalau ada yang beli tolong digratiskan. Anggap saja syukuran dari kami."


" Tapi ini uangnya masih tetap kebanyakan Mas."


" Itu rejeki buat anak istri Abang di rumah." Dewa tersenyum ramah.


" Amiiinn."


" Sayang cepat habiskan es dawet kamu sebelum es batunya mencair." seru Hana membuat lelaki bermanik hijau itu segera beranjak menuju ke istrinya.


" Cie, segitunya. Baru ditinggal sebentar saja langsung dipanggil. Kamu enggak bisa lama lama jauh dariku ya." goda Dewa.


Hana hanya menghembuskan nafasnya kasar dan menyuapi suaminya dengan sepotong durian yang membuat mulut Dewa penuh seketika.


" Cepat makan." ucap Hana sambil melototkan matanya.


"Pak es dawetnya satu." seru seorang pemuda yang masih memakai seragam putih abu abu.


" Bagas?!" Hana memanggil pemuda yang ternyata adalah salah satu murid di kelasnya.


" Bu Hana?!" Bagas menoleh ke arah Hana dan duduk di dekatnya.


Bu Hana kalau pas enggak pakai baju guru imut banget. Masih kayak murid SMA. Aku tambah ngefans abis sama Bu Hana. Andaikan Bu Hana bisa menjadi pacarku, pasti akan sangat membahagiakan.


Bagas terus menatap wajah Hana sambil tersenyum tidak jelas larut dalam angan konyol yang tidak masuk akal. Dia mengabaikan keberadaan lelaki tampan yang duduk di depan guru pujaannya itu.


" Ehem ehem. Sudah puas mandang wajah istri saya?!" ucap Dewa membuyarkan lamunan Bagas.

__ADS_1


" Heh, owh. Selamat siang Om." Bagas meringis tidak berkutik melihat wajah tampan Dewa telah memancarkan aura dingin yang mengintimidasi.


" What?! Om?! Kamu panggil saya Om?! Memangnya kapan saya menikah dengan Tantemu." ketus Dewa tidak bersahabat.


" Terus saya harus panggil apa? Bapak, Pak dhe, Pak lik, atau_"


" Brakk..!" Dewa menggebrak meja di depannya. Beruntung isi mangkok di mejanya sudah habis tidak tersisa.


" Maksud kamu apa?!" seru Dewa.


Busyet suami Bu Hana galak banget. Tenaganya besar lagi.


Bagas terlihat kesulitan menelan ludah.


" Sayang......" ucap Hana dengan penuh penekanan sambil memelototkan mata ke arah suaminya.


" Kamu murid Hana ya, perkenalkan saya Dewa suami Hana. Kamu masih ingat saya kan? Saya yang berdiri di pelaminan bersama Bu gurumu di hari pernikahannya." ucap Dewa sambil memaksakan senyum di bibirnya.


" He iya, saya Bagas Pak Dewa. Anda tidak keberatan dengan panggilan saya kali ini bukan? Soalnya saya kan manggil istri Anda dengan sebutan Bu jadi tidak salah kan kalau saya memanggil Anda Pak?" tutur Bagas yang terdengar menyebalkan namun memang benar adanya.


" Baiklah terserah kamu." ketus Dewa.


" Bu Hana apa kabar? Sudah dua minggu lebih Ibu enggak ngajar. Tanpa Ibu, sekolah terasa hampa." keluh Bagas yang sontak mendapat pelototan dari Dewa.


" Heh bocah, kami baru saja menikah tentu saja kami pergi berbulan madu. Dan kamu tidak perlu lebay dengan bilang sekolah hampa. Selain istriku masih ada banyak guru di sekolah itu. Kamu jangan pernah berkata hal memuakkan seperti itu lagi di depannya."


" Bu Hana, ternyata ucapan Anda sewaktu itu benar. Suami Ibu sangat galak." bisik Bagas di telinga Hana, membuat wanita cantik itu terkekeh.


" Heh..! Apa yang kamu lakukan?! Kenapa berbisik seperti itu dengan istriku...!" bentak Dewa.


" Sayang kita pulang sekarang." ajak Hana yang sudah tidak tahan dengan sikap suaminya yang kekanak kanakan.


" Bang, es dawet pesanan kami sudah siap?" seru Hana.


" Sudah Mbak Hana."


" Baiklah kami pulang dulu ya Bagas. Selamat menikmati es dawetnya. Habis ini langsung pulang ke rumah jangan ngeluyur kemana mana." ucap Hana sambil beranjak dari duduknya.


" Dengar baik baik tuh bocah. Langsung pulang jangan keluyuran, nanti dicari sama emak kamu. Dan minum es dawetnya sampai puas, panggil teman temanmu yang lain. Hari ini dan tiga hari ke depan es dawetnya gratis."


" Siap....! Terima kasih Om Dewa. Bu Hana aku padamu, aku sudah tidak sabar menunggu kehadiran Ibu di sekolah." seru Bagas dengan sengaja memprovokasi lelaki yang tengah menggandeng mesra lengan guru tercintanya.


" Bocah sialan...!" dengus Dewa hendak berbalik namun segera ditahan oleh Hana.


" Ayo cepat kita pulang."

__ADS_1


__ADS_2