
Laura duduk termenung di dekat sahabatnya yang tengah bersenandung sambil memetik gitar di tangannya. Suara Hana terdengar merdu mengalun di tengah kesunyian malam. Seakan mengerti dengan kegundahan hati Hana, langit malam ini pun terlihat suram tak seperti biasanya. Sebuah lagu milik Melly Goeslouw mampu mewakili perasaan hati Hana yang tengah merindukan sosok kekasihnya.
"denting yang berbunyi dari dinding kamarku
sadarkan diriku dari lamunan panjang
tak terasa malam kini semakin larut
ku masih terjaga"
"sayang kau di mana aku ingin bersama
aku butuh semua untuk tepiskan rindu
mungkinkah kau disana merasa yang sama
seperti dinginku di malam ini"
"rintik grimis mengundang kekasih di malam ini
kita menari dalam rindu yang indah
sepi kurasa hatiku saat ini oh sayangku
jika kau disini aku tenang"
"sayang kau di mana aku ingin bersama
aku butuh semua untuk tepiskan rindu
mungkinkah kau disana merasa yang sama
seperti diriku di malam ini"
"rintik gerimis mengundang kekasih di malam ini
kita menari dalam rindu yang indah
sepi kurasa hatiku saat ini oh sayangku
jika kau disini aku tenang
jika kau disini aku tenang..."
Hana mengakhiri nyanyiannya dengan menghela nafas panjang.
" AAHHH....!" teriak Hana terlihat kesal.
" Kenapa sih Han? Kangen ya..kangen lah... he he he." ledek Laura merasa geli melihat sahabatnya uring uringan gara gara dilarang bertemu dengan Sang pujaan hati.
Hana yang selama ini selalu cuek dan anti bucin nyatanya bisa terlihat kelepek kelepek seperti ikan yang kepanasan karena kekurangan air, menggelepar ke sana kemari hanya karena tidak bertemu dengan Dewa beberapa hari saja.
" Apaan sih ngejek melulu. Ntar lihat aja kalau giliran kamu tiba. Baru tahu gimana rasanya dipingit." ketus Hana.
__ADS_1
" Aku dipingit? Ha ha ha nggak mungkinlah orang kedua orang tuaku hidup di Singapura mana kenal dengan yang namanya adat pingitan." Laura merasa menang.
" Huh dasar enggak setia kawan." gerutu Hana karena omongan Laura memang benar adanya.
" Apa hubungan itu semua dengan setia kawan? Dasar aneh, jangan jangan volume otak kamu menyusut gara gara kelamaan dipingit. Ha ha ha." Laura tertawa terbahak bahak.
" Wait....kamu enggak curi start kan Han?" tanya Laura menyelidik.
" Maksud kamu?" Hana memicingkan matanya.
" Kamu kan tahu sendiri kalau dulu kamu orangnya cuek banget. Terus kemarin kemarin pas LDR an sama Dewa kamu juga enggak terlalu uring uringan seperti ini. Lah ini baru beberapa hari dilarang ketemu kamu sudah menggelepar seperti ikan kekurangan air, kalian sudah....." Laura menghentikan ucapannya sejenak dan beralih ke bahasa isyarat dengan menekan nekan kedua telapak tangannya.
" WHAAATTT...?!" mulut Hana menganga lebar paham maksud gerakan Laura.
" Kamu anggap aku apa? Enggak bakalan lah aku ngelakuin itu." jawab Hana tersungut sungut.
" Siapa tahu khilaf....."
" Khilaf khilaf, yang ada aku beneran dikutuk jadi panci gosong beneran oleh ibu Dina tercinta. Baru ketahuan ******* doang saja ceramahnya panjang kali lebar enggak kelar kelar apalagi kalau sampai gituan, bisa bisa dikubur hidup hidup." cerocos Hana.
Laura hanya terkekeh geli mengingat ibu Hana berubah ke mode killer.
" Kenapa senyum senyum, jangan jangan kamu sudah pernah ngelakuin itu ya?" tanya Hana asal.
" Memang sudah." jawab Laura jujur tanpa rasa berdosa.
" WHATTT? Maksudmu kamu dan Kak Rayhan sudah per_" teriakan Hana terputus karena kini tangan Laura sudah membungkam mulutnya.
" SSSStttt, jangan keras keras. Kamu mau seisi rumah mendengar. Terus aku ikut ikutan dikutuk jadi panci gosong oleh ibumu?" ucap Laura sedikit berbisik.
" Apanya yang tidak mungkin Han, aku dan kak Rayhan sudah dewasa dan saling mencintai. Di luar negeri hal seperti ini sudah sangat wajar. Bahkan aku sudah melakukannya beberapa kali saat ada kesempatan. Dan kami melakukannya untuk memperkuat ikatan cinta kami. Jadi apa salahnya? Toh sebentar lagi kami juga akan menikah." tutur Laura dengan enteng.
Laura dan kak Rayhan sudah melakukan hubungan badan? Bukankah di mata agama itu salah? Atau apa memang aku yang terlalu berpikiran kuno dengan tetap berpegang pada prinsip no se*x sebelum nikah. Apa Dewa juga sebenarnya menginginkan itu?
" Heh....! Malah bengong...!" Laura menepuk pundak Hana.
" Kamu enggak lagi ngebayangin itu kan?"
" Enggak lah enak saja. Aku kan masih polos, he he he." kelakar Hana.
" Ih, sok imut." cibir Laura.
Dalam seperkian detik kini wajah Laura berubah sendu.
" Aku terkadang sering merasa iri denganmu Han. Hidupmu sungguh sangat sempurna. Kamu tumbuh di dalam keluarga yang penuh dengan kasih sayang. Kedua orang tuamu sangat menyayangimu, mereka selalu ada di sisi mu baik dalam suka maupun duka. Mereka mendidikmu dengan sangat baik, mengajarimu tentang norma dan agama. Dan Ibumu tak segan segan untuk mengomelimu saat kamu salah." Laura mulai menitikkan air mata dari pelupuknya. Ia sangat mendamba bagaimana rasanya omelan seorang ibu. Karena selama ini dia tidak pernah merasakan itu, ia hanya bisa mendengar dari cerita Hana tentang keganasan seorang ibu jika sedang marah dan ngomel.
" Meskipun aku terlihat baik baik saja dan tak pernah kekurangan materi tapi jauh di lubuk hatiku aku sangat merindukan kasih sayang dan belaian dari orang tua. Dari kecil aku hidup bersama pengasuh dan pembantu karena mama papaku terlalu sibuk bekerja mengurusi bisnis mereka masing masing. Jarang banget aku bisa sekedar untuk bertemu dengan mereka. Ah sudahlah, sekarang kan ada kamu sahabat terbaik yang bisa mengomeli maupun diomeli."
" Laura.....jangan kuatir aku akan selalu ada untukmu. Kalau kamu mau aku bisa kok memgomelimu sampai puas." ucap Hana sambil memeluk erat sahabatnya itu.
" Huuu.... uuuu hu...." isak Laura.
" Tidak perlu menangis, cup cup. Kamu akan aku anggap sebagai sahabat dan saudara aku selamanya." Hana menepuk nepuk punggung Laura.
__ADS_1
" Aouw aouw.... tanganku sakit Han kegencet gitar kamu." Laura meringis kesakitan.
" Owh... maaf aku kira kamu menangis karena terharu ternyata karena kesakitan, he he." Hana melepas pelukannya dan segera menyingkirkan gitar yang berada di pangkuannya.
" Dasar kamu kebiasaan merusak moment haru saja. Tapi memang lebih baik seperti ini dari pada kita larut dalam tangisan yang banyak mengandung bawang bombay." Laura menyeka air mata di wajahnya.
" Owh ngomong ngomong kamu sudah yakin dengan Dewa? Kamu masih ingat kan bagaimana sikap dia dulu pas di SMA?" Laura mengganti topik pembicaraan.
" Aku sangat yakin Ra, bahwa Dewa adalah jodoh terbaik buat aku. Aku dan kedua orang tuaku sudah mengetahui semua keburukannya di masa lalu. Dia dengan gentle sudah mengakui semua tanpa ada yang ditutup tutupi." jawab Hana dengan penuh keyakinan.
" Sebenarnya awalnya aku enggak terlalu setuju kamu mau menikah dengan Dewa. Kamu terlalu baik buat dia Han. Dia dulu kan play boy sudah sering melakukan se*x dengan banyak gadis. Sedangkan kamu? Kamu terlalu suci untuk dia." Laura menumpahkan unek uneknya.
" Setiap orang kan berhak untuk mendapat kesempatan kedua Ra. Ibuku yang notabenya sangat membenci se*x bebas saja bisa dengan lapang dada menerima Dewa. Bukankah setiap orang mempunyai cerita dan alasan sendiri untuk setiap perbuatannya. Dan aku akan menerima Dewa apa adanya. Lebih baik mantan play boy dari pada calon play boy kan Ra?" Hana tersenyu ramah.
" Iya kamu benar Han. Inilah yang membuat aku selalu bangga, kamu baik dan manis banget." puji Laura tulus.
" Ah.... terima kasih..." Hana mengedip ngedipkan matanya.
" Tapi sayangnya kamu jorok, ceroboh, pecicilan, slengekan, pelupa, dan masih banyak sifat jelek kamu yang lain." cerocos Laura.
" Ckkkk tak bisakah kamu hanya memujiku tanpa harus mengolok olok?" ketus Hana.
" Tentu saja tidak bisa. Aku takut kamu tidak akan sanggup berdiri karena terlalu besar kepala." sanggah Laura cepat.
" Ishhhh menyebalkan."
" By the way kamu jadi nginep di sini kan? Temani aku saat lamaran maupun pernikahan."
" Untuk sahabat terbaikku apa sich yang tidak? Kalau perlu nanti aku temeni kamu sampai malam pernikahan, nanti sekalian kita main karambol rame rame."
" Benarkah?"
Sepertinya main karambol rame rame di malam pernikahan asyik juga. Bisa dicoba tuh.....
" Heh berhenti berpikir yang aneh aneh. Dewa akan sangat marah jika sampai kamu benaran mau main karambol di malam pernikahanmu." tutur Laura yang seakan tahu jalan pikiran sahabatnya yang sengklek.
" He he he. " Hana meringis karena ide di kepalanya sudah ketebak oleh sahabatnya.
Tiba tiba wajah Hana berubah tegang seperti teringat akan sesuatu.
" Ra, kata orang saat pertama akan terasa sakit. Apakah itu benar?" pertanyaan polos Hana meluncur begitu saja dari bibir mungilnya.
" Maksudmu...???? Ohhh tentu saja itu sangat menyakitkan. Kamu pasti akan dibuat menangis karenanya." jawab Laura yang menangkap arah pertanyaan Hana.
" Hah? Sesakit itukah?" Hana menelan saliva. Wajahnya dua kali lipat lebih tegang dari sebelumnya.
Laura menahan tawanya. Ia merasa geli melihat ekspresi ketakutan di wajah Hana.
Han, gadis pecicilan sepertimu ternyata bisa takut juga, he he. Sepertinya akan ada drama di malam pernikahan Hana dan Dewa.
" Ra, bisakah langsung saja kedua tanpa harus melewati pertama." pertanyaan konyol kembali terlontar dari mulut Hana yang sontak membuat Laura memutar bola mata karena jengah.
Sepertinya otak Hana memang beneran telah menyusut gara gara dipingit. Bagaimana mungkin ada kedua tanpa harus melewati pertama.
__ADS_1
" Sudah malam, ayo cepat tidur." Laura merebahkan tubuhnya dengan segera.