
Mentari pagi telah bersinar terang dengan penuh kehangatan. Sinarnya membawa kehidupan di bumi tercinta ini. Beberapa awan putih terlihat menghiasi langit biru yang tampak indah. Kicauan burung-burung pun tak ketinggalan ikut meramaikan pagi yang cerah ini, seakan ikut menyambut hari bahagia Hana.
Hana membuka jendela kamarnya, ia membentangkan kedua tangannya menghirup udara pagi dalam-dalam hingga memenuhi rongga dadanya. Kemudian ia menghembuskannya secara perlahan-lahan," Hah... Segarnya.... Akhirnya tiba juga hari ini semoga nanti semuanya berjalan lancar." Hana mengaminkan perkataannya dalam hati.
Di depan rumah Hana terlihat banyak orang yang berlalu-lalang. Mereka adalah orang-orang dari Wedding Organizer yang dipercaya oleh Hana dan Dewa untuk memastikan kelancaran acara pernikahan mereka. Ada beberapa mobil box yang berjejer di depan rumah Hana. Mereka membawa berbagai macam makanan dan minuman yang akan disajikan di acara sakral mereka, lengkap dengan pelayan berseragam yang akan melayani setiap tamu selama acara berlangsung.
Meskipun acara pernikahan Hana akan dilangsungkan secara sederhana dan hanya mengundang orang-orang terdekat saja, namun makanan yang disajikan tidak bisa dipandang sebelah mata. Ibu Hana yang notabennya paling pandai memasak secara khusus memastikan bahwa masakan yang akan tersaji telah lolos dari standard kelayakan " keenakan" versinya. Dan untuk urusan kue tentu saja berasal dari toko roti milik sendiri yang sudah terbukti kualitasnya. Seperti dekorasi lain yang dipenuhi dengan bunga bunga, kue kue andalannya juga disajikan di atas meja yang telah dihiasi banyak bunga cantik.
Selain makanan yang disiapkan untuk tamu yang hadir, Hana dan Dewa juga memesan makanan dan souvenir yang sengaja dibungkus sebagai hantaran atau hampers untuk para tetangga, seperti kebiasaan di tempat itu.
Hampers makanan itu dikemas dengan kemasan yang unik dan cantik, yaitu dengan rantang yang terbuat dari anyaman bambu yang dihias dengan pita berwarna keemasan ditambah dengan hiasan mawar berwarna senada dengan warna rantangnya. Dan untuk souvenir nya terdiri dari alat minum yang terbuat dari kayu ditambah dengan setoples kue kering. Semua itu juga dikemas dengan cara yang tidak kalah unik yaitu menggunakan besek, sebuah kotak yang terbuat dari anyaman bambu.
Ini semua adalah ide Hana yang secara khusus meminta pihak WO untuk merangkul UMKM pengrajin bambu di daerah sekitarnya sebagai salah satu cara untuk membantu mendorong kegiatan UMKM yang selama ini masih sering terabaikan. Dan penggunaan anyaman bambu ini sebagai pengganti kemasan plastik. Saat ini plastik memang lebih sering digunakan karena dianggap lebih praktis, padahal limbahnya tidak dapat diuraikan. Sebagai salah satu wujud kepedulian Hana terhadap lingkungan adalah dengan cara mengurangi penggunaan plastik sesuai dengan program yang sering digembar gemborkan oleh pemerintah. Nyatanya hampers pilihan Hana justru terlihat lebih estetis dan mempunyai nilai seni tinggi.
Ditemani oleh sahabat terbaiknya Laura, Hana duduk di depan meja rias di salah satu kamar rumahnya yang kini telah disulap menjadi tempat kerja para MUA untuk merias pengantin dan keluarga. Ia cukup puas dengan hasil riasan MUA pilihannya. Make upnya terlihat natural dan flawless sangat cocok untuk wajah dan kepribadian Hana. Namun di balik wajah cantiknya tersirat ketegangan dan kegugupan yang luar biasa. Seumur hidupnya barulah sekarang ia merasakan sensasi seperti ini. Rasanya jauh lebih menegangkan dan mendebarkan dibanding dengan berkelahi dengan preman maupun naik bianglala atau bahkan roller coaster.
Bibir mungilnya sedari tadi komat kamit melafalkan doa. Berharap bahwa semua akan baik baik saja dan berjalan lancar.
" Aku gugup banget Ra." keluh Hana dengan wajah tegang.
" Sudah tenang saja, mukanya jangan tegang gitu dong. Yakinlah bahwa semua akan berjalan dengan lancar. " ucap Laura berusaha menenangkan sahabatnya itu.
__ADS_1
" Acaranya belum mulai kan? Dewa belum datang ya?" tanya Hana lagi.
" Sebentar lagi acaranya mulai, penghulunya masih di jalan. Dan Dewa, dia sudah siap dari setengah jam yang lalu." tutur Laura yang merasa iba sekaligus geli melihat kecemasan Hana.
" Huuff, syukurlah. Oh ya make-up aku udah bagus kan Ra? Aku terlihat cantik kan?" Hana mengamati riasan wajahnya lagi.
" Ya ampun Hana.... Harus berapa kali lagi aku bilang kalau kamu cantik banget pagi ini. Lagian sejak kapan seorang Hana jadi insecure seperti ini?" ucap Laura tulus memuji sahabatnya itu yang memang terlihat sangat cantik dengan make up dan kebaya putih ciri khas untuk melangsungkan prosesi ijab qobul. Dan kebaya itu adalah salah satu barang seserahan Dewa tadi malam. Dewa secara khusus memesannya untuk dipakai di acara ijab qobul mereka. Senada dengan kebaya pas acara lamaran, tapi modelnya terlihat lebih mewah dan dilengkapi dengan kerudung putih.
"Sayang......" sapa ibu Hana mendekati anaknya.
" Kamu cantik banget hari ini, Dewa pasti akan sangat bahagia punya istri seperti kamu." puji ibu Hana sembari tersenyum penuh haru dan rasa bangga.
"Aku keluar dulu ya Han, mau nyamperin Evi buat siap siap." Laura berlalu mencari keberadaan Evi.
" Tak terasa putri kecil Ibu kini telah menjadi seorang pengantin yang sangat cantik. Huh.... Ibu bahagia sekali hari ini karena bisa melihat kamu dan Dewa bersatu dalam ikatan pernikahan. Seorang wanita akan mengalami tiga fase kehidupan, menjadi seorang anak, menjadi istri dan kelak menjadi seorang ibu. Dan kini beberapa menit lagi kamu akan memasuki fase menjadi seorang istri. Statusmu sebagai anak ibu akan bergeser menjadi istri Dewa." mata ibu Hana mulai berkaca kaca.
" Kamu harus ingat ya sayang, bahwa kehidupan suami istri sangat wajar bila mengalami pasang surut masalah. Dan tugas kita sebagai pasangan adalah bagaimana cara kita mempertahankan ikatan pernikahan dalam kondisi apa pun. Jujur, percaya dan setia jangan pernah kau tinggalkan. Kelak dalam menghadapi masalah apapun kamu harus sabar ya sayang." Ibu Hana menghela napas panjang.
" Biarkan ibu memeluk kamu sekali lagi sebagai anak ibu, sebelum kamu menjadi istri Dewa. Saat kamu telah menjadi istri maka bakti utama kamu adalah kepada suami." tangis ibu pecah saat memeluk anak sulungnya yang merangkap sebagai sahabatnya.
" Ibu bicara apa, selamanya aku akan tetap menjadi anak ibu." ucap Hana dengan suara tercekat karena menahan air mata di pelupuk agar tidak meluncur keluar.
" Heh, ijab kabul sudah mau dimulai ibu malah masih di sini." ucap ayah Hana membuat istri dan anaknya mengurai pelukan mereka.
"Dan apa ini, air mata? Bukankah semalam ibu sudah bertekad untuk tidak menitikkan air mata di hari pernikahan anak kita." ucap ayah Hana menunjuk wajah istrinya yang sudah basah oleh air mata. Sebenarnya ayah Hana juga ingin ikut memberi petuah untuk anak sulungnya, namun ia urungkan karena melihat istri dan anaknya sudah mengharu biru seperti itu dan ia tidak ingin menambah keharuan di antara mereka.
__ADS_1
" Sudah, jangan menangis lagi. Nanti make upnya luntur loh. Sudah ya, cup cup cup...." ayah Hana mencoba meredakan tangis istrinya dengan cara memeluk dan mengelus lembut punggungnya.
" Hah....? Benarkah make up ibu luntur?" ibu Hana bergegas ke depan cermin dan segera menyeka air yang mengalir di pipinya dengan tisu.
" He he he.... Giliran dengar make up luntur saja langsung diam." kekeh ayah Hana.
" Enggak luntur kok, masih terlihat cantik." dengus ibu Hana sambil terus memeriksa keutuhan riasan wajahnya.
" Enggak bakal luntur Bu, tadi MUA nya bilang pakai foundation yang waterproof tahan dari segala hujan angin dan badai." tutur Hana lembut.
" Seandainya luntur pun, ibu selalu terlihat cantik kok di mata ayah."
" Ah so sweet, tumben ayah bisa romantis kayak gini." ibu Hana memeluk suaminya dengan mesra.
" Ah, ikuuuuuttt..." rengek Hana sambil berhambur ke pelukan orang tuanya.
Ya Allah semoga kelak aku dan Dewa bisa seperti ayah dan ibuku, yang selalu bersama dalam suka duka dan tetap saling mencintai selamanya. Dan tolong jaga ayah ibuku agar selalu sehat dan bahagia , singkirkanlah semua duka dan kesusahan mereka.
" Maaf Pak, Bu, acaranya sudah mau dimulai. Sudah ditunggu oleh penghulu dan pihak pengantin lelaki." suara seorang lelaki yang merupakan salah satu petugas WO membuyarkan pelukan ketiganya yang penuh dengan kehangatan.
" Haruskah sekarang?" sebuah pertanyaan konyol meluncur begitu saja dari mulut Hana.
" Heh panci gosong, kalau enggak sekarang terus mau kapan lagi, tahun depan?" ketus ibu, seolah keharuan yang tadi telah menguap entah kemana begitu saja.
" Sudahlah, ibu dan ayah ke sana dulu. Kamu siap siap saja di sini. Nanti ibu akan menyuruh Laura dan Hana untuk menemani. Nanti kamu keluar kalau sudah dipanggil." ibu dan ayah Hana bergegas melangkah keluar ruangan.
Wajah Hana kembali tegang.
__ADS_1
Ya Allah, ternyata seperti ini rasanya hari pernikahan, sangat menegangkan dan deg degan. Seharusnya bukan disebut hari berbahagia tapi hari bersitegang. Padahal bukan aku yang harus mengucapkan ijab kabul, tapi kenapa dada ini tidak bisa berhenti berdebar. Untung cuma sekali seumur hidup.