Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Jatuh di Lubang yang Sama?


__ADS_3

Suara dentuman musik mengalun di seluruh ruangan. Aroma rokok dan alkohol menyatu dengan udara. Kerlap kerlip sinar lampu menghiasi temaramnya suasana malam. Ada banyak pasangan muda mudi yang tengah bergerak meliukkan tubuhnya seirama dengan tempo lagu yang dimainkan oleh seorang DJ.


Yusuf duduk termangu menatap dokter Raisa yang tengah menenggak minuman beralkohol untuk yang kesekian kalinya sembari sesekali menggerakkan tubuh bagian atasnya. Meskipun sambil duduk dan tidak turun ke lantai dansa membaur dengan pengunjung lain yang tengah larut dalam musik dan tarian namun dokter Raisa tampak hanyut dalam dentuman musik yang kian cepat temponya. Dari gerak geriknya dapat dilihat bahwa dokter Raisa sudah mulai mabuk dan hampir kehilangan kesadarannya.


" Dokter Raisa kita pulang sekarang yuk." ajak Yusuf yang mulai terlihat agak gelisah dengan kondisi dokter pribadi sekaligus teman baru Hana itu.


" No....! Aku masih ingin di sini....!" tolak Raisa dengan cepat.


" Tapi ini sudah hampir tengah malam. Tadi kamu sendiri yang bilang kalau kita harus pulang sebelum tengah malam. Kita pulang sekarang ya......" bujuk Yusuf dengan lembut.


" Sssttt... Biarkan aku di sini. Aku masih ingin minum lagi." Raisa kembali menenggak minuman di gelasnya.


" Tapi Dokter Raisa....."


" Raisa, panggil aku Raisa. Namaku bukan dokter." racau Raisa.


" Ok, Raisa. Kita harus pulang sekarang. No debat." Yusuf menarik tubuh Raisa dengan paksa agar segera berdiri dari tempat duduknya.


" Aku masih ingin di sini. Biarkan aku minum lagi." rengek Raisa.


" No more.....! Sudah cukup, kita pulang sekarang." Yusuf memapah tubuh Raisa meninggalkan klub malam.


Sepanjang perjalanan dokter Raisa tidak berhenti meracau. Ia menumpahkan segala unek unek yang tersimpan di hatinya selama ini. Sungguh siapa yang menyangka bahwa dokter cantik yang mampu menyandang predikat lulusan dokter terbaik itu kini tengah mabuk tidak berdaya karena alkohol.


" Kamu jahat, hiks hiks. Kenapa kamu tidak pernah melihatku?" racau dokter Raisa sembari memukul lengan Yusuf.


" Hei hati hati, aku sedang menyetir."


" Apa aku kurang cantik? Atau kurang pintar? Kamu tidak pernah menganggapku sebagai seorang wanita. Mengapa? Mengapa? Hiks hiks hiks."


Yusuf hanya menghela nafas panjang mencoba untuk tetap mempertahankan keseimbangan tubuhnya agar tidak oleng kena pukulan wanita cantik di sampingnya. Mau menjawab pertanyaan dokter Raisa pun percuma, toh sejatinya pertanyaan itu tidak ditujukan untuk dirinya.


" Mengapa di matamu aku hanya seorang gadis kecil yang hanya pantas dijadikan adik? Mengapa?!"


" Haruskah kau menikahi wanita itu? Tak bisakah kau memberiku sedikit waktu untuk memperjuangkan cintaku?"


" Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." suara dokter Raisa semakin lirih, matanya juga mulai terpejam.


Huh, cinta memang menyakitkan. Apalagi bila bertepuk sebelah tangan. Dokter Raisa pasti sangat menderita karena orang yang dicintainya hanya menganggapnya sebagai seorang adik. Ternyata kisah cintanya tidak beda jauh denganku. Saat ini dokter Raisa pasti sedang berada di fase paling sulit, yaitu mencoba untuk melepas dan mengikhlaskan seseorang yang sangat kita cintai untuk orang lain.


" Kita sudah sampai." Yusuf menghentikan mobilnya di dekat klinik bersalin tempat dokter Raisa bekerja.


" Eh tunggu dulu, kamu tinggal di sini atau tempat lain?" pertanyaan Yusuf tidak mendapat respon dari dokter Raisa karena ia telah terlelap dalam alam mimpinya.


" Ah sudahlah, percuma bertanya dengan orang mabuk seperti ini. Ditambah lagi dia sudah tertidur dengan lelap. Kalau sesuai obrolan Hana dan dokter Raisa tadi sih seharusnya dia memang tinggal di sini. Aku coba turun dulu deh." Yusuf dengan ragu hendak memencet bel klinik bersalin itu. Namun setelah berpikir panjang akhirnya dia kembali ke dalam mobil dan mengurungkan niatnya.

__ADS_1


Enggak. Aku enggak boleh memulangkan dokter Raisa dengan keadaan mabuk seperti ini. Yang ada malah reputasinya bisa hancur jika ada perawat yang melihat. Atau aku bawa pulang ke rumah Dewa saja? Tapi kalau Hana lihat keadaan dokter Raisa seperti ini pasti dia akan marah besar. Shiitttt, kenapa jadi seperti ini, seharusnya tadi aku tidak mengajak dokter Raisa ke klub malam. Ah aku tahu, bawa ke hotel saja. Di sana lebih aman.


Yusuf bergegas menjalankan mobilnya ke arah hotel terdekat.


" Raisa bangunlah.....! Kita sudah sampai ayo cepat kita turun." Yusuf menggoyang goyangkan tubuh dokter Raisa.


" Ha....?" dokter Raisa berhasil membuka mata namun masih belum memperoleh kesadaran karena pengaruh alkohol masih menguasainya. Dengan langkah sedikit terseok seok akhirnya Yusuf berhasil membawa tubuh dokter Raisa ke dalam kamar.


" Huh..... Akhirnya sampai juga." Yusuf ikut merebahkan tubuhnya di samping tubuh dokter Raisa yang tergeletak sembarang di ranjang.


" Aku sebaiknya pulang sekarang." baru saja hendak beranjak dari tempat tidur Yusuf kembali mengurungkan niatnya.


" Tapi kalau aku pulang sekarang bagaimana dengan dokter Raisa? Bagaimana jika tiba tiba ada orang jahat yang masuk ke kamar ini? Ah..... Ini sungguh merepotkan....!!" tangan Yusuf mengacak acak rambut di kepalanya.


Dengan terpaksa meskipun tidak ada seseorang yang memaksa akhirnya Yusuf membenahi posisi tubuh dokter Raisa yang tadi ia jatuhkan sembarang di kasur. Ia dengan telaten melepas sepatu dan tas di tubuh cantiknya.


" Kamu berhutang banyak padaku dokter Raisa. Kamu sungguh sangat merepotkan saat mabuk seperti ini. Seharusnya kamu tidak minum terlalu banyak tadi. Ah sial, apa gunanya aku berbicara padamu." gerutu Yusuf.


Aku memang harus menjauhi minuman keras. Dua kali gara gara minuman laknat itu aku berakhir dengan seorang wanita di hotel. Bedanya kali ini aku dalam keadaan sadar. Tapi dilihat dari segi mana pun dokter Raisa memang terlihat cantik.


" Emh...... Aku mencintaimu." lirih dokter Raisa sembari menggeliatkan tubuhnya, membuat Yusuf terpaku melihatnya.


Tubuhnya juga sangat seksi dan mengg@irahkan. Oh shitttt.....!!! Mengapa tiba tiba saja aku berpikir mesum seperti ini. Ah ini sungguh berbahaya, aku harus segera mandi air dingin untuk meredam gejolak ini. Jangan sampai aku jatuh dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Ternyata memang benar kata orang orang, jika ada wanita dan lelaki berduaan maka akan datang setan sebagai pihak ketiga.


Yusuf bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan segera. Ia berlama lama berdiri di bawah shower dan membiarkan air dingin mengucur membasahi kepala dan seluruh tubuhnya untuk meredam hasrat yang datang tanpa undangan.


Keduanya terlelap dalam alam mimpi mereka masing masing.


" Yusuf, Ayah sudah berapa kali ngomong sama kamu untuk belajar mengelola perusahaan dengan baik....!?" bentak ayah Yusuf dengan mata melotot penuh dengan kemarahan.


" Tapi Yusuf sudah berusaha sebaik mungkin Yah."


" Berusaha???!!! Ini yang kamu sebut berusaha?????! Dengan seenaknya tidur dengan wanita di hotel..???!!!" Ayah Yusuf menaikkan intonasi suaranya.


" Dasar anak tidak berguna.....!!!" tanpa aba aba tiba tiba saja ayah Yusuf menendang anak semata wayangnya dengan keras sampai jatuh tersungkur. Bahkan ia menginjak dada Yusuf tanpa ampun sampai lelaki berusia 24 tahun itu kesulitan bernapas.


" Arghhhhh...... Ampun Ayah...... Ampuuuunnnn...!!" teriak Yusuf dibarengi dengan matanya terbelalak.


Ah, cuma mimpi... Tapi mengapa dadaku masih terasa berat ya?


" Oh Shiiittttt......!!!" secara refleks Yusuf mendorong dengan kasar sebuah kaki yang bertengger di atas dadanya.


Mata dokter Raisa terbuka seketika.


" A........ Apa yang kamu lakukan?!!" teriak dokter Raisa saat menyadari ada lelaki yang tengah berbaring di sisinya.

__ADS_1


" Bugh...!!" dokter Raisa menendang tubuh Yusuf sampai jatuh tersungkur.


" Aouw....! Apa yang kamu lakukan? Ini sakit tahu. Oh ****...!!" erang Yusuf sembari bangkit. Bibirnya mengeluarkan darah segar karena beradu keras dengan lantai.


" Kamu....! Apa yang sudah kamu lakukan...?!" dokter Raisa menunjuk wajah Yusuf dengan geram.


" Apa yang sudah aku lakukan? Tentu saja banyak. Kamu tidak ingat kejadian semalam?"


" Kurang ajar...!!! Kamu memanfaatkan seorang gadis yang tengah mabuk ya.....?! Dasar bajingan....!!!"


" Hei.....!! Jaga bicaramu dokter Raisa. Yang ada justru kamu yang memanfaatkan aku semalam." ketus Yusuf.


Aku memanfaatkannya? Maksudnya aku yang memulai_


" Jangan berpikir macam macam, tidak terjadi sesuatu di antara kita." ucap Yusuf dengan cepat seakan mengerti arah pikiran gadis di depannya.


" Benarkah tidak terjadi sesuatu? Lalu mengapa kamu hanya mengenakan bathrobe?" lirih dokter Raisa.


" Oh shiiittttt....." Yusuf bergegas berlari ke kamar mandi untuk mengenakan pakaian.


Daerah kemal*anku tidak terasa sakit pakaianku juga masih lengkap ditambah tidak ada bercak darah di sprei ini.


Dokter Raisa mengecek keadaan tubuh dan pakaiannya.


Sepertinya juga tidak ada bekas pergulatan.


" Syukurlah, memang tidak terjadi sesuatu di antara kami. " dokter Raisa bernafas lega.


" Memang tidak terjadi sesuatu, bukankah tadi aku sudah mengatakannya." ketus Yusuf yang keluar kamar mandi dengan pakaian lengkap seperti semalam.


" Lalu apa yang terjadi semalam?"


" Kamu berhutang banyak denganku. Sudahlah cepat bersihkan dirimu. Aroma alkohol masih melekat di tubuh dan pakaianmu. Dan sepertinya kita harus pulang terpisah agar Hana dan Dewa tidak berpikir macam macam. Tidak apa apa kan kamu pulang sendiri?"


" Oh, iya. Sebaiknya kita memang harus pulang terpisah untuk menghindari pemikiran negatif tentang kita. Aku nanti akan pulang naik taksi saja."


" Baiklah kalau begitu aku pulang dulu. Nanti sore kita ketemuan di cafe x. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan." ucap Yusuf.


" Baiklah sampai ketemu nanti sore. Dan maaf jika tindakanku telah menyakitimu."


Maaf telah menyakitiku? Oh really??? Ini terdengar aku seperti anak gadis yang baru saja dilecehkan dan akan ditinggal pergi.


" Hei jangan berkata seperti itu. Siapa yang merasa tersakiti?" ketus Yusuf.


" Itu, bukankah terasa sakit?" dokter Raisa menunjuk bibir Yusuf yang terlihat bengkak dan memar karena tadi terantuk dengan lantai saat dia jatuh dari ranjang karena ditendang.

__ADS_1


" Ini tidak sakit." seru Yusuf sambil pergi berlalu keluar dari kamar hotel.


__ADS_2