Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Penyemangat Hidup


__ADS_3

Rumah Dewa terlihat lebih rame dari biasanya karena ada tambahan beberapa orang di dalamnya. Yusuf dan kedua orang tuanya memutuskan untuk menginap beberapa hari di rumah bernuansa putih itu untuk melepas kerinduan dan sekaligus untuk melihat kemajuan perusahaan Dewa.


Entah sihir apa yang dimiliki oleh Hana dan Dewa sehingga Anton dan Rani jadi betah berlama lama berkumpul bersama di rumah itu. Mereka merasa enggan untuk berpisah dengan anak dan menantunya, padahal biasanya Anton orang yang paling anti jika harus bolos meninggalkan pekerjaan meskipun itu adalah perusahaannya sendiri.


Anton dan Yusuf menemani Dewa di perusahaan yang baru beberapa bulan ia rintis. Mereka ingin melihat sampai sejauh mana perkembangan usaha dari suami Hana itu. Rasa bangga dan kagum tampak terukir jelas di raut wajah Anton saat mendengar dan melihat kemajuan usaha anak sambungnya itu. Perkembangan perusahaan itu sungguh di atas ekspektasi dirinya.


" Dewa kamu sungguh hebat. Ayah tidak mengira perkembangan perusahaanmu akan sepesat ini. Hanya dalam hitungan hari saja kamu mampu mencapai ini semua. Kamu benar benar membuat ayah bangga." puji Anton dengan tak henti menyunggingkan senyum.


" Benar kata Ayah Bro, kamu memang luar biasa. Dari sini terlihat kan bahwa memang dirimu lah yang teramat sangat lebih pantas meneruskan perusahaan Ayah bukan aku. Jadi tolong kamu saja ya yang mengelolanya." pinta Yusuf.


" Terima kasih Ayah, Yusuf. Ini semua juga berkat kalian. Dan untuk kamu saudaraku tercinta, terima kasih atas tawarannya tapi sekali lagi aku tekankan aku tidak tertarik untuk melakukan itu karena memang itu semua adalah ke-wa-ji-banmu. Jadi mau tidak mau kamu lah yang harus melanjutkan perusahaan Ayah. So, selamat belajar dan bekerja lebih giat lagi." Dewa menepuk pundak Yusuf.


" Tapi aku tidak berbakat di bidang itu." keluh Yusuf.


" Hufftt...... Sungguh miris nasibku. Punya dua orang anak laki laki tapi tidak ada yang bersedia melanjutkan perusahaan yang sudah aku rintis dengan sepenuh hati. Kalau seperti ini apakah aku yang harus tetap mengurusnya sampai mati?!" dengus ayah Yusuf dengan menghela napas dalam.


" Bukan begitu Ayah...!" sanggah Dewa dan Yusuf bersamaan.


" Tapi seperti itulah yang aku rasakan. Sudahlah ayo kita pulang. Hana dan ibu kalian pasti sudah menunggu di rumah. Bukankah tadi mereka berpesan agar kita pulang lebih awal karena ayah dan ibu Hana akan datang untuk makan malam bersama."


Mereka bertiga pun beranjak meninggalkan perusahaan Dewa. Mobil Alphard hadiah dari papa Russell melaju dengan tenang membelah jalanan. Yusuf mengemudikan mobil mewah itu dengan kecepatan sedang.


" Kamu tidak berniat untuk mempekerjakan seorang sopir Dewa?" tanya Anton di tengah tengah perjalanan sembari melihat pantulan tubuh Dewa di spion depan. Ayah Yusuf duduk bagian depan sebelah anaknya yang sedang mengemudi.

__ADS_1


" Sepertinya kami belum memerlukan seorang sopir Yah. Aku lebih suka mengendarai mobil sendiri. Apalagi Hana, jarang banget mau naik mobil dia lebih suka naik motor matic bututnya saat mengajar di sekolah."


" Hana memang beda dari wanita lain. Dia lebih suka hidup biasa dan sederhana padahal setahu ayah usaha toko roti miliknya semakin berkembang pesat. Omzetnya lumayan fantastis lho." puji ayah Yusuf.


" Itulah Hana Ayah. Setiap hari aku semakin dibuat kagum dan cinta dengan dirinya. Ahhhhh aku selalu rindu saat menyebut namanya." dengus Dewa.


" Huh dasar lebay. Tiap hari bertemu serumah pula, rindu apanya?" ketus Yusuf yang sedari tadi hanya diam menyimak obrolan ayah dan saudaranya.


" Ngiri bilang bossku?! Makanya cepat cari pasangan."


" Memangnya semudah itu cari pasangan?" dengus Yusuf.


" Dewa benar Suf, kamu memang sudah waktunya untuk mencari pasangan biar hidup kamu lebih terarah dan bertanggung jawab. Siapa tahu dengan punya pasangan kamu akan lebih semangat untuk bekerja."


" Bukan seperti Suf, ayah hanya ingin agar ada seseorang yang memotivasi kamu untuk lebih giat bekerja dan mengurus perusahaan. Karena selama ini ayah melihat kalau hidup kamu datar datar saja seperti tidak ada semangat untuk melakukan sesuatu, terlebih semenjak kepulanganmu ke Indonesia. Bahkan ayah sampai sempat berpikir apa sebabnya. Apa mungkin karena semenjak Dewa menikah kamu merasa kehilangan Dewa sebagai saingan kamu? Dulu kamu cukup bersemangat bersaing dengan Dewa secara sehat memajukan perusahaan ayah. Tapi kini kamu terlihat kehilangan semangat itu. Pekerjaan kamu tidak seperti dulu."


Bagaimana aku bisa semangat seperti dulu? Hana sudah menikah dengan Dewa. Hana lah sumber semangatku. Dulu aku belajar dan bekerja dengan giat agar bisa mencapai kesuksesan agar kelak aku bisa memberikan kehidupan yang layak untuk Hana. Tapi semua sirna saat aku pulang kesini dan mendapati bahwa ternyata Hana adalah kekasih hati dari Dewa. Tapi tidak mungkin juga kan aku bilang alasan seperti itu.


"Memang ada jaminan kalau aku punya pendamping maka hidupku akan jauh lebih baik?"


" Tentu saja. Lihatlah Dewa semenjak kenal Hana hidupnya lebih terarah dan bersemangat untuk memperoleh kehidupan yang layak untuk anak dan istrinya." tutur ayah Yusuf.


Jika Hana menjadi istriku aku juga pasti akan lebih bersemangat.

__ADS_1


" Tolong bisa tidak jangan mendesakku terus seperti ini? Aku merasa tidak nyaman." keluh Yusuf.


" Oke.... Tapi kamu harus memikirkan semua omongan kami tentang itu semua. Atau kamu ingin agar kami membantumu untuk mencarikan seorang gadis yang cantik?"


" Ayah?! Aku tidak seputus asa seperti itu." seru Yusuf.


" Oh benarkah? Aku harap kamu membuktikannya. Ayah dan Ibu sempat kuatir karena kami tidak pernah melihatmu dekat ataupun pacaran dengan seorang gadis. Semua baik baik saja kan? Tidak ada masalah dendan orientasi s*xual kamu kan?"


" AYAAHHH...! Stop it....! Aku baik baik saja dan masih sangat normal. Bahkan aku juga sudah pernah melakukannya dengan seoarang gadis." Yusuf segera menutup mulutnya saat sadar dirinya baru saja keceplosan mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya.


" What???!! Ho ho ho, ternyata saudaraku ini tidak sepolos dan sealim tampangnya." sindir Dewa dengan terkekeh.


" Benarkah kamu pernah melakukannya Yusuf? Siapa gadis itu? Kamu tidak melakukannya dengan seorang penghibur kan?" mata ayah Yusuf memicing ke arah anaknya.


Shittt, kenapa malah keceplosan sih? Aku harap Dewa dan ayah tidak mengungkit ini terlalu jauh.


"Te-tentu saja bukan. Dan bukankah itu juga bukan hal besar?"


" Memang, tapi ayah agak terkejut saja karena kamu bicara seperti itu. Ayah kira kamu penganut no *** before married karena kamu terlihat kalem dan taat terhadap agama."


" Ayah lupa kalau aku hidup di luar negeri selama delapan tahun? Bukankah di luar negeri itu adalah hal yang biasa? Bahkan Dewa juga melakukannya."


" Hei kenapa bawa bawa aku? Dulu akau memang pernah melakukannya tapi itu sebelum bertemu dengan Hana. Dan semenjak bertemu dengannya aku telah meninggalkan itu semua. Bahkan saat aku hidup di luar negeri dan jauh darinya aku tetap berpegang teguh pada pendirianku untuk menjauhi se* bebas. Jadi tolong jangan bawa bawa aku ya Bro."

__ADS_1


" Sudahlah kalian membuat aku menjadi serba salah saja. Dan aku harap kalian tidak membahas perihal masalah ini lagi. Menyebalkan." dengus Yusuf.


__ADS_2