Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Berita Baik


__ADS_3

Dewa menelisik tubuh Hana dari ujung rambut sampai ujung kaki. Matanya memindai tiap inchi tubuh istrinya.


" Sayang kamu baik baik saja kan?" tanya Dewa tanpa melepas tatapan matanya. Tangannya menusuri tubuh istrinya. Memastikan bahwa wanita berparas manis itu tidak kurang suatu apapun.


" Aku baik baik saja." Hana turun dari kursi roda.


" Sayang kenapa kamu turun?" tanya Russell tampak kuatir.


" Papa aku baik baik saja. Jangan perlakukan aku seperti seorang pesakitan seperti ini. " dengus Hana.


" Tapi Sayang....." Hana menatap tajam ke arah papa mertuanya seakan protes dengan perlakuan Russell yang dirasa berlebihan.


"Suster apa tidak apa apa dia berjalan seperti ini?" tanya Russell.


" Tidak apa apa Tuan. Keadaan Nyonya Hana sangat baik."


" Dengar kan Pa?"


" Sebenarnya ada apa ini? Kalian siapa dan kenapa bisa bersama dengan Hana?" tanya Yusuf yang memang belum mengenal Russell dan Aleena.


" Oh maaf. Ini adalah Yusuf, saudaraku. Dan dia adalah ayah Hasan, mertuaku. Sedangkan mereka adalah Russell dan Aleena, Papa dan Mamaku." Dewa memperkenalkan Yusuf dan ayah mertuanya.


" Hallo Tuan Russell dan Nyonya Aleena akhirnya kita bisa bertemu secara langsung. Jika masih ingat saya adalah ayah Hana."


" Tuan Hasan, tentu saja saya masih ingat. Meskipun kita hanya sekilas bertemu lewat video call. Dan kamu Yusuf, senang bertemu denganmu." Russell menjabat tangan Yusuf dan Hasan.


" Anda Papa kandung Dewa?" Yusuf mencoba meyakinkan.


" Ya begitulah. Bagaimana? Aku lebih tampan dari ayah kandungmu kan?" Russell menyeringai.


Aku rasa aku tahu dari mana wajah tampan Dewa berasal. Selain tampan, papa kandung Dewa terlihat sangat berkharisma. Dia pasti bukan orang sembarangan.


" Ehem ehem, aku rasa sekarang bukan saat yang tepat untuk menyombongkan diri." bisik Aleena ke arah suaminya penuh dengan penekanan.


" Sayang kamu belum menjawab pertanyaanku. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa pulang bersama Papa dan Mama? Dan kenapa kamu berada di atas kursi roda?" cecar Dewa.


" Sayang aku baik baik saja. Aku ha-"


" Kamu keterlaluan Dewa...!! Kenapa kamu membiarkan menantuku ke sekolah tanpa pengawasan. Apa kamu tahu tadi dia sempat pingsan di sekolah...???!!!" seru Russell.


" Kamu pingsan Sayang???!! Kamu sakit?" Dewa tampak kembali cemas.

__ADS_1


" Aku baik baik saja."


" Apanya yang baik baik saja. Kamu terlalu ceroboh Dewa. Bagaimana kamu bisa membiarkan menantuku berangkat mengajar ke sekolah sendirian tanpa pengawasan dalam kondisinya sekarang? Saat dia tengah hamil muda?!!"


" Hamil? Hana hamil? Istriku hamil?" tanya Dewa seperti orang bodoh.


" HAMILLLL???!!!" seru ibu Hana yang tiba tiba muncul bersama dengan Rani dan Anton.


" Iya, Hana kini tengah hamil. Sebentar lagi kita akan mempunyai cucu yang lucu." tutur Aleena dengan sumringah.


" Ha- Hana ha- mil??! Kok bisa?" ucap Dewa tanpa sadar. Pikirannya campur aduk tidak karuan saat mendengar kabar kehamilan istrinya.


" Gustiiii..... Maksud kamu apa Dewa? Tentu saja Hana hamil karena ulah kamu. Kenapa malah tanya kok bisa? Maksud kamu apa?" seru Dina.


" Maaf Bu, maksud aku bukan seperti itu. Ini terlalu mendadak, aku terlalu gembira sampai bingung harus bicara apa."


" Kita akan menjadi orang tua Sayang? Ada baby di dalam sini?" Dewa menatap dan menyentuh perut istrinya dengan mata berkaca kaca.


" Iya, kita akan menjadi mama dan papa. Ada junior yang akan segera hadir di tengah tengah kita." ucap Hana yang tanpa sadar menitikkan air mata.


" Terima kasih Sayang. Terima kasih. Kehadiran baby ini akan kian menambah kebahagiaan keluarga kita. Terima kasih." Dewa menghadiahi Hana dengan ciuman bertubi tubi.


" Hey hentikan itu. Gantian dengan kami. Kamu jangan memonopoli Hana sendirian, kami juga ingin mengucapkan selamat dan memeluk dirinya." Dina menggeser posisi anak menantunya. Ia memeluk dan mencium anak sulungnya dengan penuh kasih sayang.


Semua orang di dalam ruangan itu memeluk dan memberi ucapan selamat kepada Hana, tidak terkecuali Yusuf. Ia memberi ucapan selamat tulus dari dalam hati, entah kenapa dia juga merasa bahagia mendengar kabar itu seakan ia lah yang akan menjadi seorang ayah.


" Tuan, Nyonya silahkan duduk dulu. Kebetulan tadi kami membuat banyak jajanan tradisional. Ayo kita nikmati bersama." ucap Rani merasa sedikit segan dengan kehadiran sepasang suami istri yang tampak sangat berwibawa.


" Ah benar Tuan Russell dan Nyonya Aleena ayo kita duduk bersama. Dan kamu Sayang ayo cepat duduk, wanita hamil muda tidak boleh berdiri terlalu lama." ibu Hana meraih tubuh anaknya agar segera duduk di sisinya.


Mereka duduk di sofa yang berada di ruang keluarga. Sedangkan untuk pengawal dan perawat berada di ruang yang berbeda. Jajanan tradisional yang sebagian besar berasa manis itu seakan telah melengkapi rasa kebahagiaan mereka.


Meskipun merasa canggung namun Rani berusaha untuk tetap bersikap wajar terhadap Russell dan Aleena.


" Oh ya, kalau boleh tahu bagaimana Hana bisa pulang bersama Kalian? Bukankah informasi terakhir Kalian berada di Belanda?" tanya Anton dengan hati hati. Entah kenapa berada di dekat Russell nyalinya terasa menciut. Aura seorang Russell Van Nero memang terasa mendominasi sekitarnya.


"Sebenarnya kami sudah beberapa hari ini berada di Singapura. Aleena sudah setuju untuk menjalani pengobatan di salah satu rumah sakit terbaik di sana. Dan entah kenapa tadi dia tiba tiba merindukan Hana. Dia bersikeras untuk berkunjung ke tempat ini. Dan betapa terkejutnya kami saat mendapat laporan dari orang suruhanku saat mengatakan bahwa Hana telah pingsan saat mengajar di kelas. Kami secepatnya membawa Hana ke rumah sakit terdekat. Dan syukurlah kabar baik yang kami terima. Hana tengah hamil muda sehingga kondisi tubuhnya mudah merasa lelah." tutur Russell menceritakan kronologis kejadian.


" Iya tadi aku sangat bahagia. Aku merasa seakan semua penyakitku hilang tiba tiba saat mendengar kabar yang teramat menggembirakan ini. Sayang kamu harus menjaga istri dan calon baby kalian dengan baik. Jangan sampai kejadian seperti tadi terulang kembali." ucap Aleena sembari menatap lekat ke arah Dewa.


" Aku berjanji, aku akan lebih berhati hati lagi. Tidak akan aku biarkan kejadian tadi terulang." ucap Dewa bersungguh sungguh.

__ADS_1


" Baguslah, Papa harap kamu membuktikan ucapanmu, atau kami yang akan menjaga menantu dan calon cucu kami."


" Honey lebih baik kamu berhenti mengajar dulu. Kasihan baby di perut ikut kecapekan." bujuk Aleena.


" Iya Sayang, ucapan Nyonya Aleena benar. Kamu harus banyak istirahat saat hamil muda seperti ini." imbuh Rani setuju dengan pendapat Aleena.


" Itu benar Sayang. Nanti aku akan meminta ijin ke kepala sekolah agar memberikanmu libur selama hamil."


" Tapi Sayang, aku baik baik saja. Untuk apa kalian melalukan ini?" protes Hana.


" No debat. Tidak ada penolakan. Kamu tahu kan kalau aku paling tidak sula jika ada yang membantah perkataanku. Terlebih perkataan Aleena." ucap Russell menekankan.


" Tapi Papa, aku baik baik saja. Aku hanya hamil bukannya sakit. Jadi tolong jangan perlakukan alu seperti ini. Aku masih tetap ingin mengajar." dengus Hana.


" Hey panci gosong, lebih baik kamu dengarkan para mertuamu. Mereka sangat menyayangimu dan hanya berharap yang terbaik untuk dirimu dan calon buah hatimu." ucap ibu Hana.


" Tapi Bu...."


" No tapi tapi....!" tegas ibu Hana.


" Ya Hana sebaiknya kamu berhenti mengajar dulu. Itu semua demi kebaikan dirimu dan calon babymu." Yusuf ikut menimpali.


" Ayah, bicaralah kepada mereka bahwa aku masih ingin mengajar. Aku baik baik saja." keluh Hana mencari pembelaan dari ayah kandungnya.


" Sayang kali ini ayah setuju dengan mereka. Lebih baik kamu berhenti dulu mengajar." jawab Hasan dengan lembut.


" Hua.....!!! Hua......!!!! Hiksss hikssss....... Semua orang tidak ada yang mau mendengar keinginan ku..... Hua...... Kenapa kalian memaksaku seperti ini??? Aku hanya ingin pergi mengajar apa salahnya??? Hua ....hua....." tangis Hana pecah. Dan entah kenapa dia merasa sedih karena tidak ada yang mendukung keinginannya.


" Sayang jangan menangis, kami hanya ingin yang terbaik untuk dirimu dan baby kita." bujuk Dewa sambari mengelus pundak istrinya.


Hana kenapa tiba tiba menangis. Biasanya dia juga tidak cengeng seperti ini.


" Diam kamu...! Ini semua gara gara kamu. Jangan dekat dekat denganku." Hana menampik tangan suaminya.


" Dan lebih baik kamu cepat mandi. Aroma tubuhmu sangat tidak enak. Kamu sangat bau." ketus Hana.


Aku bau? Yang benar saja aku kan baru mandi. Aku juga memakai parfume yang biasa aku pakai. Kenapa Hana tiba tiba bilang aku bau?


" Sabar ya Nak Dewa. Dulu ibu Hana juga seperti itu. Selama hamil Hana dia menolak untuk ayah dekati." bisik ayah Hana yang membuat mata Dewa membulat.


" Maksud ayah, selama hamil ibu menolak disentuh Ayah?" ayah Hana mengangguk pelan.

__ADS_1


What...??! Bagaimana jika kehamilan Hana seperti ibu mertua. Itu berarti tidak akan ada ritual wajib untuk kami?


__ADS_2