
Siang itu rumah Hana terlihat lebih ramai dari biasanya. Banyak orang berlalu lalang di dalam maupun di luar rumahnya.
Sesuai keinginan Hana, acara lamaran dan pernikahan akan diselenggarakan secara sederhana dan dalam tempo waktu yang sesingkat singkatnya. Bahkan Hana dan Dewa tidak mengadakan acara adat secara lengkap seperti orang orang kebanyakan. Acara mereka hanya meliputi lamaran, ijab kabul, dan panggih.
Para petugas utusan dari WO terlihat sibuk menyelesaikan dekorasi untuk acara yang akan diselenggarakan beberapa jam lagi. Ruang tamu dan taman depan rumah Hana telah disulap sedemikian rupa untuk kelangsungan acara. Bahkan ayah Hana harus merelakan kebun sayur di pinggir rumahnya dibabat habis dan diubah menjadi pelaminan tempat melangsungkan prosesi panggih.
Hana tampak mondar mandir memeriksa persiapan dan hasil kerja dari petugas WO yang telah ia tunjuk untuk mewujudkan konsep acara sesuai dengan keinginannya. Meskipun mengusung tema yang sederhana, namun semua dekorasi itu tampak indah dipandang mata.
Dekorasi untuk lamaran yang berada di ruang tamu.
Tempat untuk melangsungkan ijab qobul.
Kebun sayur yang disulap menjadi pelaminan tempat untuk prosesi panggih.
" Sudah lah Han, berhenti kayak setrika seperti itu. Memangnya kamu enggak capek jalan bolak balik dari tadi. Percayakan saja semua kepada team WO, dijamin beres. Mereka itu sangat handal di bidangnya, dan mereka adalah salah satu WO terbaik di kota ini." tutur Laura yang jengah melihat sahabatnya mondar mandir di depannya.
" Benarkah?"
" Tentu saja benar. Kamu lihat sendiri kan bagaimana hasil dekorasi mereka. Jangan kuatir, Dewa tidak akan sembarang memilih WO untuk pernikahan kalian. Lebih baik kamu duduk manis di sini dan segera pakai masker wajah ini, biar nanti sore wajah kamu terlihat glowing dan bercahaya."
" Perlukah itu? Bukankah akhirnya wajahku juga akan ditutup dengan make up? Jadi apa gunanya pakai masker?!" kilah Hana sembari duduk di sebelah Laura.
" Ckkkk, huuuhhh..... Memang susah ngomong sama kamu. Aku baru nemuin calon pengantin seperti kamu. Pengantin super aneh yang pernah ada. Semua gadis akan melakukan perawatan kulit dan wajah menjelang pernikahan mereka. Tapi kamu? Boro boro perawatan, cuma disuruh pakai masker wajah saja tidak mau. Nanti jangan salahkan MUA nya kalau sampai riasan mereka gagal mempercantik wajahmu." Laura terlihat pasrah dengan sikap cuek Hana.
" Jangan khawatir, nanti aku pasti akan terlihat sangat cantik dengan pakaian dan make up yang ada. Kamu tidak lihat, betapa lembut dan kenyalnya wajahku ini? Jadi tanpa perawatan wajah pun aku akan tetap cantik memukau." ucap Hana jumawa dengan menepuk nepuk kedua pipinya.
" Ya.... ya.... Terserah apa maumu. Sekarang biarkan aku istirahat sejenak, jangan ganggu. Aku mau tidur sekalian pakai masker biar nanti wajahku berseri." Laura melenggang ke kamar untuk segera beristirahat. Dan benar saja tidak butuh waktu lama dirinya telah berada dalam alam mimpi. Laura memang merasa sangat mengantuk karena semalam kurang tidur dan seharian ini dia ikut ibu Hana menjamu tamu yang hadir.
Hana menghampiri ibunya yang tengah duduk duduk di ruang tengah berbincang dengan para tetangga yang datang untuk membantu mempersiapkan acara lamaran pernikahan, yang sebenarnya sudah tidak perlu bantuan karena semua sudah dihandle oleh WO, mulai dari dekorasi, makanan, pembawa acara, petugas kebersihan dan lain sebagainya. Namun para tetangga tetap saja datang dengan membawa banyak bahan makanan seperti gula pasir, gula merah, beras, minyak dan sebagainya. Mau menolak pun tidak mungkin karena itu sudah tradisi di desa jika ada tetangga yang punya hajat maka para tetangga yang lain akan datang ramai ramai dengan membawa banyak sembako sebagai bentuk kerukunan bersama. Bahkan kini ada banyak sembako yang menumpuk di dapur maupun ruang keluarg.
Meskipun dari awal orang tua Hana sudah memberitahukan bahwa pernikahan anaknya akan diselenggarakan secara sederhana tanpa ada resepsi, namun nyatanya tetangga yang datang tidak lah sedikit.
" Bu, kenapa banyak sekali tetangga yang datang membawa sembako?" bisik Hana di telinga ibu tercintanya.
" Sudahlah, kita harus menghargai niat tulus mereka. Ini semua sudah adat di desa ini. Jadi mau enggak mau harus kita terima." balas Ibu Hana dengan ikut berbisik.
" Wah.... Ini calon mantennya ya? Pasti sudah deg degan?" goda salah satu dari ibu ibu yang asyik duduk lesehan di lantai beralaskan karpet.
__ADS_1
" Ya jelas lah mbak Yu. Siapa sih calon manten yang enggak deg degan." timpal salah satunya.
Mereka kian asyik mengobrol, lebih tepatnya menggoda calon pengantin yang tak lain adalah Hana. Bahkan tak jarang obrolan mereka kian ngelantur ke hal hal yang berbau plus plus. Hana seperti mati kutu dibuatnya. Sedari tadi ia hanya bisa tersenyum penuh dengan paksaan.
Memang benar the power of emak emak enggak ada lawan. Mau jawab ataupun marah takut kalau kena kutuk..... Sabarrrr, sabarrrrr.
Wajah Hana tiba tiba terlihat sumringah saat seorang gadis cantik melangkah masuk ke dalam rumah.
" Evi....!" seru Hana sembari berlari ke arah adik yang sudah ia nanti kedatangannya. Dan semua mata kini ikut beralih ke sosok gadis yang baru saja memasuki rumah sambil menggeret koper.
" Aku sudah kangen banget, kamu baik baik saja kan selama ini?" Hana memeluk erat adik semata wayangnya itu.
" Aku baik baik saja Kak, seperti yang Kakak lihat." ucap Evi sambil tersenyum simpul.
" Sayang bagaimana kabarmu? Ibu kangen banget sama kamu Nak." Ibu Hana membawa anak keduanya itu ke dalam dekapannya.
" Aku sehat Bu. Oh ya aku mau langsung istirahat dulu ya, capek banget." jawab Evi lesu.
" Kamu enggak temui Ayah dulu? Ayah ada di samping rumah." tanya Hana ramah.
" Baiklah, tapi setelah itu aku langsung mau tidur soalnya aku beneran ngantuk dan capek."
" Iya, sudah sana temui Ayah dulu. Biar aku yang bawa koper kamu ke kamar." Hana mengambil alih koper Evi dan membawanya ke kamar.
" Iya, anak anak Jeng Dina semua cantik kayak ibunya. Mungkin sudah faktor keturunan kali ya." puji yang lain lagi.
" Ah, ibu ibu ini ada ada saja." balas ibu Hana dengan tersipu malu.
" Oh silahkan makanan dan minumannya dicicipi lagi sambil ngobrol."
Mereka kembali larut dalam obrolan dan candaan dengan ditemani oleh banyak cemilan dan minuman. Dan acara perghibahan ibu ibu pun tak bisa dielakkan. Mereka mulai membubarkan diri saat ibu Hana mulai memberi kode halus bahwa waktu bergosip ria telah usai.
Jarum jam terus berputar, hingga tibalah waktu yang dinantikan.
Ayah Hana tampak gagah memakai batik yang dipadukan dengan celana kain hitam dan tentu saja sebuah peci hitam tak ketinggalan di kepalanya, sebagai ciri khas orang Jawa muslim dalam menyambut acara penting. Dan ibu Hana tampak cantik dan elegan dalam balutan kebaya yang dipadukan dengan kain batik senada dengan milik suaminya.
" Yah, Ibu kelihatan cantik kan dengan pakaian ini?" bisik ibu Hana meminta pujian dari suaminya.
" Iya Ibu cantik." jawab ayah Hana datar.
" Cuma cantik saja? Berarti selama ini Ibu tidak cantik?" ketus ibu Hana bersungut sungut.
Dasar enggak peka, bela belain dandan dari tadi pakai jasa MUA, ditunggu tunggu suami enggak punya inisiatif buat muji. Masak sampai harus dipancing, giliran jawab cuma " iya ibu cantik". Huff....dasar suami enggak romantis. Untungnya ganteng, jadi masih tetap cinta.
__ADS_1
" Ya cantik,,,, siapa yang bilang enggak. Ibu selalu cantik dalam kondisi apapun kok." kata ayah Hana mencoba meralat ucapannya.
Haduh..... serba salah.... Hampir lupa kalau Ibu harus sering dipuji biar enggak manyun.
" Tapi setelah ayah lihat lihat, hari ini Ibu memang terlihat luar biasa. Aura kecantikan Ibu terlihat sepuluh kali lipat dari biasanya. Baju dan make up Ibu sangat cocok." puji ayah Hana lagi.
" Benarkah?!" ibu Hana tampak sumringah.
" Ayah juga terlihat ganteng."
Selamat.... Akhirnya enggak jadi manyun.
Akhirnya beberapa menit kemudian iring iringan lamaran dari pihak mempelai pria pun tiba.
Dewa berjalan di barisan paling depan diapit oleh Yusuf dan kedua orang tuanya. Bibirnya tanpa henti terus menyunggingkan senyum bahagia. Wajahnya terlihat sangat tampan dan berseri. Kemeja batik yang membalut tubuhnya mampu meningkatkan kadar tetampanannya berlipat lipat. Namun di balik itu terselip rasa grogi dan ketegangan.
Si*al, mengapa jantungku berdetak sangat cepat. Padahal tadi dari rumah biasa saja. Bukankah yang hadir di ruangan ini adalah hanya keluarga Hana dan keluargaku saja ditambah dengan kerabat dekat? Tapi mengapa malah deg degan seperti ini.
" Huuuuuh..." Dewa menghela napas dalam, mencoba membuang semua ketegangannya.
Rileks....rileks..... aku tidak boleh terlihat grogi. Sebentar lagi bakal bertemu dengan Hana.
" Kamu grogi ya....." bisik Yusuf yang sedari tadi memperhatikan Dewa terus menghela napas.
" Lumayan...." jawab Dewa dengan jujur.
" Bukankah kamu sudah terbiasa bicara di depan orang penting? Kenapa malah sekarang grogi?"
" Aku juga tidak tahu, tapi rasanya sangat berbeda." dengus Dewa.
Setelah beberapa sambutan dan ramah tamah dari kedua belah pihak, tibalah saatnya mempertemukan kedua calon pengantin untuk melakukan prosesi lamaran dan menyerahkan barang seserahan.
Jantung Dewa kembali berdetak dengan cepat saat sosok kekasihnya memasuki ruangan diapit oleh Laura dan Evi di sebelahnya. Mata Dewa berbinar dan membelalak lebar saat menatap wajah ayu Hana yang sudah beberapa hari ini sangat ia rindukan. Seakan ia enggan untuk mengalihkan pandangannya bahkan untuk sekedar berkedip saja rasanya tidak rela.
Kebaya putih itu sungguh terlihat sangat sempurna di tubuh Hana. Penampilan Hana benar benar terlihat elegan, dengan rambut yang ditata dengan model sanggul modern, simple namun terlihat sangat pas dengan wajah manisnya.
Tidak hanya Dewa yang tersihir oleh penampilan Hana. Semua mata yang hadir tampak takjub dibuatnya. Apalagi Yusuf yang notabennya masih sangat mencintainya.
" Hana memang luar biasa, malam ini dia seperti bidadari." puji ibu Dewa yang diiyakan Yusuf dan ayahnya.
" Eh, siapa gadis cantik di sebelah Hana? Mungkinkah adiknya?" tanya ibu Dewa yang memang belum pernah bertemu dengan Evi
" Dia...???!" mata Yusuf melebar saat mengenali sosok yang berdiri di dekat Hana.
__ADS_1