Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Jalan Mudah Ke Surga


__ADS_3

Laura, Rayhan, Yusuf dan Evi beranjak dari tempat duduk mereka dan menyapa para guru yang sebagian besar pernah menjadi pendidik mereka sewaktu di bangku SMA dulu. Mereka saling bertegur sapa sekadar bertanya kabar dan diselingi dengan obrolan ringan bernostalgia tentang kenakalan mereka di masa sekolah dulu. Laura, Yusuf dan Rayhan tampak berbinar san terkekeh tatkala mantan guru BK mereka, pak Danang mengingat tentang hukuman yang pernah mereka terima dulu. Di antara mereka hanya Evi yang tampak diam memasang ekspresi datar dan sesekali menunjukan senyum yang hambar.


Sampai sore hari, kediaman Hana masih dipenuhi oleh tamu yang datang untuk memberi ucapan selamat. Meskipun tanpa undangan, hampir semua teman Hana menghadiri acara yang bersejarah itu. Dan salah satu yang mencuri perhatian adalah kehadiran Rizal bersama ketiga istrinya.


" Selamat ya Han, akhirnya kamu telah memenuhi salah satu sunnah Rosul." ucap Rizal sembari menyatukan kedua telapak tangan di depan dadanya sebagai ganti jabat tangan.


" Terima kasih Zal. Mereka ini....?" Hana melihat tiga wanita cantik berjilbab panjang yang tersenyum manis di belakang Rizal.


" Oh, perkenalkan mereka semua adalah istri tercintaku. Aminah, Zana dan Zeni. Cantikkan?" Rizal memperkenalkan ketiga istrinya dengan bangga.


" Hah, iya, mereka semua cantik. Perkenalkan saya teman SMA Rizal, Hana." Hana tersenyum ramah ke arah tiga wanita itu dan dibalas dengan hal yang sama oleh ketiganya.


" Sekali lagi aku ucapkan selamat ya Hana, Dewa, dengan menikah maka pahala seseorang ketika beribadah akan dilipat gandakan. Bahkan ada sebuah hadist yang menyebutkan bahwa sholat dua rokaat orang yang telah menikah lebih baik dari sholat 70 rokaat orang yang belum nikah. Jadi beruntunglah orang orang yang telah menikah." jelas Rizal panjang lebar.


" Terima kasih." jawab Dewa singkat sembari menjabat tangan Rizal.


" Sebenarnya aku masih sangat tidak menyangka kalau kamu bakalan jadi kyai seperti ini lho Zal."


Sebenarnya lebih tidak menyangka lagi kalau kamu bakalan punya tiga istri seperti ini. Hufffff...... Apalagi semuanya dibawa ke nikahan bareng bareng. Kayaknya sengaja banget kalau kamu mau menyombongkan diri dengan tiga istri.


" He he he.. Semua ini adalah kehendak Allah. Jalan hidup manusia telah ditetapkan oleh Nya. Dan kamu sekarang sebagai seorang istri harus sangat bangga dan berbahagia karena ladang pahala telah dibuka lebar untukmu. Apalagi jika kamu mengizinkan dan mengikhlaskan suamimu untuk melakukan poligamy, surga menantimu Han. Itu adalah cara paling mudah bagi wanita untuk mencapai surga." tutur Rizal panjang lebar yang membuat bola mata Hana membulat seketika.


" Heh, apa kamu bilang?" Hana menggertakan giginya menahan emosi. Kilatan matanya tajam seakan siap untuk melenyapkan makhluk yang dulu pernah menjadi sahabat dekat ketika di bangku SMA.


Sialan...... Apa maksud ucapan Rizal. Di hari pernikahanku dia berani ngomong kayak gini? Dari dulu memang enggak ngotak ni anak. Memang benar agama enggak nglarang poligamy, tapi haruskah dia ngomong saat memberi ucapan selamat di pelaminan. Sumpah tangan aku sudah sangat gatal untuk menggamparnya.


" Oh ya Zal silahkan menikmati makanan yang ada." Dewa mempersilahkan Rizal untuk segera menikmati hidangan, itung itung untuk mengalihkan pokok pembicaraan yang sudah membuat wajah istrinya berubah menjadi mode sadis.


Cari masalah ni Rizal, enggak sadar apa kalau omongannya bikin Hana meradang? Hari pernikahan ngomong kayak gitu, nyuruh Hana buat merelakan aku melakukan poligamy lagi. Haduh.....Semoga aku enggak kena imbasnya.


" Sayang katanya tadi capek, mau dipijitin?"


" Enggak perlu." ketus Hana sambil melirik tajam ke arah suaminya itu.


" Mau makan atau minum? Aku ambilin ya?" Dewa berusaha untuk membujuk isrinya agar amarahnya mereda.

__ADS_1


" Enggak lapar." kilatan amarah di mata Hana masih belum mereda.


" Kenapa? Atau kamu memang sependapat dengan Rizal bahwa jalan termudah ke surga untuk seorang wanita adalah dengan mengijinkan suami menikah lagi? Kamu mau seperti Rizal, punya istri lebih dari satu?" pertanyaan Hana penuh dengan penekanan.


" Tentu saja tidak. Mana mungkin aku mau menikah lagi. Hatiku kan cuma satu dan itu sudah menjadi milikmu." ucap Dewa dengan penuh ketulusan.


" Aku mau ganti baju, capek pakai kebaya kayak gini terus." Hana beranjak dari pelaminan.


" Baiklah, ayo sayang. Aku juga gerah pakai ini terus." Dewa mengekor di belakang istrinya.


" Enggak usah ngikutin. Aku enggak mau ganti baju barengan sama kamu." ujar Hana dengan jutek.


" Iya, iya, aku enggak barengan sama kamu. Aku ganti baju di kamar terpisah." Dewa mencoba untuk tetap sabar dan mengalah.


Setelah hampir satu jam, Hana keluar dari ruang rias menghampiri Laura dengan pakaian kasual dan wajah yang sudah bersih dari make up.


" Hi, what are you wearing?" pekik Laura saat pengantin yang baru saja bersanding di pelaminan mendatanginya dengan memakai pakaian andalannya saat di rumah.


" Masih banyak tamu Han kenapa kamu pakai kaos kayak gitu sich?"


" Aku sudah capek dan gerah banget pakai kebaya seperti itu. Lagian seharusnya acaraku juga sudah selesai." dengus Hana.


" Ckk, aku sudah capek banget Ra. Paling nyaman memang kaos seperti ini. Lagian itu tamu Ibu, biasa para tetangga." kilah Hana.


" Ngomong ngomong Yusuf dan yang lain kemana kok ilang?"


" Kak Rayhan pulang tadi ada urusan mendesak, sedangkan Yusuf tadi mengantar Rizal sampai depan, tapi kok belum balik ke sini lagi ya?"


" By the way aku enggak nyangka banget kalau Rizal bisa jadi seorang kyai, ditambah sekarang dia punya tiga istri. Nerima jabat tangan aku saja enggak mau, katanya bukan muhrim. Spechless banget aku."


" Aku juga enggak nyangka, terlebih tadi dia ceramahin aku biar aku merelakan suami untuk menikah lagi agar aku memperoleh surga dengan mudah." ucap Hana bersungut sungut.


" WHAATTT?" pekik Laura.


" Gila dan enggak ngotak banget kan? Ngomong kayak gitu di pelaminan."

__ADS_1


" Really...? Ha haa ha, otaknya minta dijedodin dech kayaknya." Laura enggak habis pikir dengan ulah Rizal.


" Ah, sudahlah enggak usah bahas Rizal lagi, bikin emosi."


" Kamu enggak mau ganti kebaya kamu dengan baju yang lebih santai?" Hana melihat Laura yang betah dengan penampilannya.


" Nanti saja, aku masih betah pakai baju ini, aku terlihat lebih cantik dan elegan." Laura terlihat bangga dengan penampilannya.


" Hufff, terserah lah. Aku mau cari Dewa dulu."


" Cieee, pengantin baru. Penginnya deketan melulu. Ngebet ya bu guru?" goda Laura.


" Kamu tuh yang ngebet." dengus Hana beranjak mencari keberadaan suaminya.


Dewa dimana ya? Dia enggak marah karena sikap aku yang tadi kan? Mungkinkah dia di luar rumah untuk mencari angin segar?


Hana melangkahkan kakinya ke luar pekarangan melalui pintu kecil di belakang rumahnya. Keadaan di sana memang agak sepi dan sedikit remang remang.


" Yusuf? Evi?! Kenapa kalian ada di sini?" tanya Hana heran melihat adik dan sahabatnya berduaan terlihat tengah membicarakan sesuatu.


" Kakak?"


" Hana?" jawab Yusuf dan Laura hampir bersamaan.


" Kalian..?"


" Aku dan kak Yusuf sedang cari angin saja, kebetulan tadi bertemu si sini sekalian ngobrol." jawab Evi dengan nada datar.


" Oh, benarkah?"


" Aku masuk dulu Kak, mau bantu Ibu." Evi beranjak masuk rumah dengan tergesa.


" Aku juga mau nemenin Laura." Yusuf juga bergegas pergi.


Mereka berdua terlihat aneh, seperti ada yang disembunyikan. Mungkinkah....?

__ADS_1


"Emph.....!" ada seseorang yang membekap mulut Hana dari belakang. Serangan yang tiba tiba itu membuat Hana tidak siap untuk melakukan perlawanan. Ditambah lagi orang itu tidak sendirian, melainkan berlima. Hana tidak mengenali mereka karena semuanya memakai topeng.


Usaha Hana untuk memberontak dan melarikan diri sia sia karena mereka dengan sigap memegangi tubuh Hana, menutup kepalanya dengan kain dan mengikat kedua kaki dan tangannya. Tubuh Hana dibawa paksa masuk ke sebuah mobil yang kemudian melaju dengan kencang.


__ADS_2