
Hana memarkirkan motornya di antara motor motor lain yang berjejer dan tertata rapi. Sore itu mall xx dipadati oleh pengunjung. Hal itu terlihat dari area parkir motor maupun mobil yang terlihat penuh.
Hana dan Laura berjalan beriringan memasuki mall tersebut. Hana tampil kasual dengan memakai celana cropped jeans dipadukan dengan hody warna biru. Sepatu sneaker putih dan sling back senada melengkapi penampilannya. Rambutnya dikucir kuda seperti kesehariannya di rumah. Wajahnya dibiarkan polos tanpa sentuhan make up, hanya sedikit olesan bedak dan lip gloss untuk membuat tampilannya terlihat lebih segar.
Sedangkan Laura tampil elegan memakai dress selutut berwarna coklat susu yang dipadukan dengan flat shoes berwarna hitam. Di tangan kirinya tergantung tas channel pemberian Hana sedangkan tangan kanannya sibuk menyugar rambutnya yang berantakan karena diterpa angin saat naik motor.
Penampilan mereka memang tampak kontras, namun tetap terlihat cantik dalam versi yang berbeda.
" Ih, rambutku jadi berantakkan kan. Kamu sih Han ngotot pengen naik motor. Lain kali ogah aku dibonceng sama kamu lagi. Dari dulu sampai sekarang masih saja suka ugal ugalan di jalan." gerutu Laura sambil mencoba merapikan rambut dengan jemarinya.
" Udah dong, memangnya kamu enggak capek ngedumel dari tadi? Aku saja capek dengerinnya. Udah kayak emak emak saja kamu." balas Hana.
" Lagian seru kali Ra naik motor. Dapat helm dan es kelapa gratis lagi, he he."
" Huh, memang capek ngomong sama kamu. Cari makan dulu saja yuk." ajak Laura menarik tangan Hana.
" Ayo, tahu saja kalau aku sudah lapar."
Mereka berdua memasuki sebuah restoran cepat saji.
" Kayaknya penuh deh Han, enggak ada meja kosong." Laura dan Hana mengedarkan pandangan mencari tempat duduk, namun hasilnya nihil semua meja telah penuh.
" Kita cari restoran lain saja yuk."
" Huff, baiklah." dengus Hana merasa kecewa. Sebenarnya dia enggan jika harus beralih ke restoran lain karena dia sangat menyukai burger di tempat ini.
Baru saja kaki Hana dan Laura ingin beranjak pergi sebuah panggilan menghentikan langkah mereka.
" Bu Hana?!" sapa seorang gadis mendekati mereka.
" Arin?" Hana mengenali sosok gadis yang memanggilnya adalah salah satu muridnya yang kemarin ia selamatkan.
" Kamu di sini juga? Dengan siapa?"
" Kakakku, itu dia." Arin menunjuk seorang lelaki tampan yang tengah berjalan mendekat ke arah mereka.
" Kak.... Perkenalkan ini guruku yang kemarin aku ceritakan."
" Oh, benarkah? Akhirnya bisa bertemu langsung dengan orangnya." bisik Aryo.
"Perkenalkan, saya Aryo kakak lelaki Arin. Saya sudah mendengar tentang Anda dari adik dan orang tua saya. Saya sangat berterima kasih karena Anda telah menyelamatkan adik saya. Dan benar sesuai dengan cerita, Anda sangat cantik. Senang bisa berjumpa dengan Anda secara langsung." Aryo tersenyum lebar mengulurkan tangan ke arah Laura.
" He? Maaf saya Laura. Dia yang Hana, guru adik Anda, bukan saya." jawab Laura canggung sambil menunjuk gadis di sebelahnya.
" Perkenalkan saya Hana, guru adik Anda. Senang bisa bertemu dengan Anda." Hana menyambut uluran tangan Aryo yang tidak mengarah ke dirinya.
" Anda Bu Hana?"
" Iya saya Hana, dan dia sahabat saya Laura." ucap Hana sopan memperkenalkan dirinya sekali lagi.
__ADS_1
Dia guru Arin? Wajahnya imut banget. Aku kira dia masih seumuran dengan Arin. Enggak nyangka ada guru seimut ini.
Aryo menatap wajah Hana dengan lekat. Entah sihir apa yang telah membuatnya terpaku tidak dapat mengalihkan pandangannya. Tanpa sadar tangannya terus menggenggam erat tangan milik Hana.
" Maaf bisa lepaskan tangan saya? Kayaknya salamannya kelamaan."
" Ha, oh, iya maaf maaf." Aryo tersadar dari lamunannya. Aryo meringis canggung sambil melepaskan genggaman tangannya.
" Ra, memang wajahku masih kayak bocil banget ya sehingga enggak ada tampang tampang kayak guru gitu?" bisik Hana.
" Salah kamu sendiri pakai baju seperti itu, kayak anak SMA."
" Berarti aku awet muda dong, he he. Tapi tetap terlihat cantik kan?"
" Narsis." dengus Laura.
" Kalau boleh tahu Bu Hana mau kemana? Kalau enggak sibuk bolehkah saya mentraktir Anda berdua sebagai ungkapan terima kasih karena telah menyelamatkan adik saya?" pinta Aryo dengan sopan.
" Oh, saya cuma iseng jalan jalan saja. Terima kasih tawarannya tapi enggak perlu repot repot." tolak Hana dengan sopan.
" Bu Hana jangan gitu dong, saya kan belum sempat berterima kasih dengan baik ke Ibu. Tolong jangan tolak tawaran kakak saya....! Please... please.... Mau ya Bu, mau ya....?" desak Arin sedikit memaksa.
" Iya Bu, saya sekeluarga belum sempat berterima kasih dengan baik ke Ibu, jadi tolong jangan tolak tawaran kami." bujuk Aryo.
" Terima sajalah Han, dari pada mereka terus maksa." bisik Laura.
" Baiklah kalau begitu, saya terima traktiran kalian."
" Bu Hana kalau pakai baju seperti ini manis banget. Seperti masih anak SMA atau kuliahan. Beda banget kalau pas ngajar di kelas." puji Arin.
" Terima kasih, jadi maksudnya kalau pas ngajar kelihatan jelek?" goda Hana.
" Ya enggak lah Bu, kalau ngajar tetap cantik kok. Nyatanya Ibu jadi idola semua murid laki laki, bahkan murid perempuan juga banyak yang ngefans." imbuh Arin.
" Ah,,,, co cwiiittt. Terima kasih, aku jadi terhura."
" Halah jangan terlalu dipuji Rin, entar gurumu ini tambah besar kepalanya." ketus Laura yang sedari tadi mendengar Hana terus terusan dipuji.
" Ih benaran Kak, Bu Hana memang manis." bela Arin.
" Kak Laura juga enggak kalah cantik kok. Tapi dalam versi yang berbeda. Kalau Bu Hana tampak lebih manis dan terlihat imut. Kalau Kak Laura terlihat cantik dan anggun."
" Terima kasih pujiannya. Kamu juga manis kok Rin."
" Sudah ah, dari tadi ngomong manis terus, gulali kali. Kasihan kakakmu tuh, jalan sendirian di depan kita. Udah kayak tukang sopir bajai yang ngantar ketiga penumpang saja."
" Ha ha ha...." mereka bertiga tertawa bersama. Ketiganya asyik berbincang dan bergurau tanpa ada rasa canggung.
Bu Hana selain cantik ternyata humble banget. Enak banget jalan bareng dia. Kayak jalan bareng teman aja.
__ADS_1
" Ayo kita masuk, saya jamin kalian pasti akan suka dengan steak di restoran ini." ajak Aryo melangkah ke dalam restoran yang ia maksud.
Mereka berempat pun masuk dan duduk manis di kursi yang telah tersedia. Sembari menunggu pesanan siap mereka berbincang ringan dan sesekali bertukar lelucon.
" Bu Hana sudah punya pacar?" tanya Aryo yang to the point.
" Alhamdulillah sudah, malah sebentar lagi mau menikah. Rencananya dua minggu lagi. Doain semoga semua lancar ya." Hana tersenyum lebar, ia menekankan pada kata menikah.
" Kakak apaan sih tanya kayak gitu. Calon suami Bu Hana ganteng banget lho Kak, tajir lagi. Jadi Kakak enggak usah mikir macam macam." ketus Arin yang bisa melihat tanda ketertarikan kakaknya terhadap guru matematika sekaligus penolongnya.
Apaan sih ni Arin ganggu orang usaha saja, lagian ngapain ngomong kayak gitu, malu maluin saja.
" Oh, kalau begitu selamat ya Bu Hana. Semoga nanti acaranya lancar." ucap Aryo tersenyum kecut menutupi rasa kecewanya.
" Murid kamu saja sudah tahu kalau kamu mau nikah, sudah pernah lihat Dewa lagi. Sedangkan aku yang teman dekat kamu belum pernah dipertemukan dengan Dewa secara resmi." bisik Laura sambil menyenggol lengan Hana.
" Iya, nanti aku temuin kamu sama dia. Lagian kamu kan udah kenal waktu SMA dulu." Hana tersenyum kaku masih sambil berbisik.
" Waktu SMA aku belum pernah kenal sama dia, cuma sekedar tahu." kilah Laura.
" Silahkan dinikmati." ucap seorang pelayan dengan ramah sambil menyajikan pesanan mereka di atas meja.
" Terima kasih." balas Hana singkat.
Penampilan dan aroma daging yang dipanggang itu sungguh menggugah selera. Tanpa menunda waktu lagi keempatnya mulai memotong dan memasukkan daging itu ke dalam mulut.
" Bagaimana, enak kan?" tanya Aryo sumringah saat melihat Hana dan Laura makan dengan lahap.
" Kamu benar, steak di sini memang sangat enak. Dagingnya empuk dan bumbunya sangat terasa, perfect." puji Hana sambil terus mengunyah irisan daging di mulutnya.
" Boleh nambah satu porsi lagi?" pinta Hana tanpa rasa malu.
" Aku juga nambah dong." imbuh Laura.
" Aku juga nambah Kak." Arin juga tak mau kalah.
Busyet, tubuhnya kecil langsing tapi ***** makannya gedhe juga.
" Baiklah, mungkin mau tambah makanan yang lain lagi." tanya Aryo berbasa basi.
" Tambah cemilan dan minuman lagi boleh. Minumanku sudah habis." Hana menunjuk gelas kosong di dekatnya.
" Aku juga." ucap Laura dan Arin kompak.
" Baiklah." dengus Aryo dengan lesu mengingat harga steak yang ia pesan lumayan mahal.
Enggak nyangka kalau ternyata gadis cantik itu banyak makannya. Ini memang doyan atau kelaparan?
__ADS_1
Aryo menghela nafas dalam.
"Mbak..." panggil Aryo ke salah satu pelayan untuk kembali memesan makanan.