
Ternyata namanya Dewa. *P*adahal satu sekolah dan udah ketemu beberapa kali tapi baru sekarang tahu namanya, he,he. Dewa, Dewa, Dewa.....
Hana terus mengulang nama Dewa dalam hati. Ia keluar dari ruang guru dengan seulas senyum di bibirnya.
Laura masih menikmati makanannya di kantin saat Hana datang menghampiri.
"Mana punya gue?" Hana duduk dan menyerobot es milik Laura di meja.
"Gue kira loe enggak jadi ke sini Han, untung belom diembat ma Agung siomay loe." Laura mengangkat dagu menunjuk ke sepiring siomay yang belum tersentuh.
Agung hanya meringis memperlihatkan deret putih giginya.
Seperti biasa mereka menikmati makanan dengan bersenda gurau. Tak lama kemudian, Hana mendadak terdiam karena melihat sosok Dewa duduk di seberang mejanya bersama dengan seorang cewek. Mereka terlihat dekat dan mesra. Bahkan si cewek terlihat melingkarkan tangannya di lengan Dewa.
Yusuf mengikuti arah tatapan mata Hana.
"Wuih kalah set loe Zal, gebetan loe dah diembat sama orang lain." ledek Yusuf yang melihat Selvi yang notabenya adalah cewek pujaan Rizal tengah duduk bersama Dewa.
Rizal hanya tersenyum sinis dan menatap ke arah Selvi sejenak.
"Ceritanya ada yang broken heart ni ya.." Laura ikut menimpali.
Agung dan Yusuf terkekeh. Hana hanya diam dan sesekali mencuri pandang ke arah Dewa.
Udah ganti , padahal kemarin nyosor kak Vina di toilet. Sekarang jalan sama Selvi. Ternyata dia tipe cowok yang suka koleksi cewek.
Raut wajah Hana terlihat agak kecewa, tapi ia tak mampu menepis rasa cinta di hatinya.
Benarkah gue harus jatuh cinta sama dia?
"Tapi loe memang bukan tandingan dia sih Zal. Dari segi fisik maupun pengalaman loe enggak bakal menang lawan dia. Secara kadar ketampanan loe kalah jauh sama dia. Ibarat kata Dewa adalah guci keramik mahal yang cantik sedangkan loe gerabah yang dijual di pinggiran jalan. Hahaha" Agung menatap Rizal dan Dewa secara bergantian.
__ADS_1
" Sialan loe." Rizal memukul bahu Agung.
" Dia saja yang sok kegantengan.
"Tapi dia memang ganteng." celetuk Hana.
Rizal, Laura, Agung , dan Yusuf sontak memandang Hana. Mereka terkejut dengan Hana yang tiba tiba memuji Dewa. Setahu mereka selama ini dia enggak pernah memuji seorang cowok.
" Kesambet apa loe Han?" Laura masih merasa heran.
" Em apaan sih, dia memang ganteng kan? Kalau enggak mana mungkin cewek cewek mau sama dia." Hana berusaha menutupi perasaanya agar tidak terlihat salah tingkah.
"Ya loe bener Han, Dewa memang ganteng. Cuma aneh aja denger loe muji dia. Biasanya loe kan enggak pernah muji cowok." celetuk Yusuf.
"Iya loe bener Suf, sama kak Rayhan yang perfect aja loe enggak pernah muji Han. " tambah Laura.
" Ya sudah sekarang gue puji deh, Kak Rayhan memang ganteng, baik, pinter dan berbakat."
Hana muji gue, jadi menurut dia gue ganteng dan baik. Mungkinkah Hana menaruh hati sama gue? Semoga aja dia mempunyai perasaan yang sama sama gue. Selama satu minggu bersama, gue sangat yakin bahwa gue benar benar jatuh cinta sama dia. Dan kayaknya cinta gue akan bersambut.
"Kak Rayhan, sini gabung Kak...!" sapaan Yusuf membuyarkan lamunan Rayhan.
Hana sempat kaget karena tadi ia tidak menyadari keberadaan Rayhan.
Mampus gue, tadi kak Rayhan dengar enggak ya gue muji dia. Mau taruh dimana muka gue.
" Eh Kak Rayhan, mari gabung Kak." ajak Hana dengan senyum yang dipaksa.
"Kelihatannya seru banget , lagi ngomongin apa sich?" Rayhan mendudukkan bokongmya si dekat Hana.
"Ngomongin orang ganteng..." celetuk Rizal.
__ADS_1
"Berarti gue ikut diomongin dong, gue kan ganteng. Benar kan Han?" Rayhan menatap Hana dengan menyunggingkan senyum penuh maksud.
Hana hampir tersedak minuman karena ulah Rayhan.
Sialan jadi tadi dia dengar omongan gue. Bodo ah Kak Rayhan memang ganteng dan baik, lagian dia sudah gue anggap kayak kakak lelaki gue. Kenapa gue harus malu dan salah tingkah?
"Iya tadi gue bilang Kak Rayhan ganteng dan baik hati ramah tamah berhati lembut penyayang semua makhluk suka menolong dan tabah,,,,, puass?"
Ucapan Hana disambut dengan gelak tawa teman temannya karena Hana kepergok saat membicarakan Rayhan. Mereka pun menghabiskan waktu istirahat dengan bersenda gurau. Tak jarang tawa mereka pecah saat ada hal lucu yang terlontarkan dari salah satu mulut mereka. Bibir Hana tak henti menyunggingkan senyum.
Di sela sela gurauan Laura menatap Hana dan Rayhan yang duduk bersebelahan.
Kalian memang terlihat serasi, tampan dan cantik. Sama sama baik dan berbakat. Gue akan selalu mendukung kalian agar bisa bersama. Mungkin untuk saat ini gue memang belum bisa menepis rasa cinta gue, tapi gue yakin cepat atau lambat rasa itu akan memudar. Dan gue selalu berdoa agar secepatnya loe bisa ngebuka hati loe buat Kak Rayhan, Han. Semoga kalian selalu bahagia, satu sahabat terbaik gue, dan satunya lagi cinta pertama gue.
Tanpa sepengetahuan mereka, secara diam diam Dewa mengamati tiap gerak gerik Hana. Ada rasa hangat di hatinya tiap kali melihat senyum yang menghiasi wajah Hana. Dia menemukan ketulusan dan keteduhan di wajah manis itu. Timbul keinginan untuk selalu menjaga si pemilik senyum agar tak pernah kehilangan senyum itu.
Sebuah senyum ya hanya sebuah senyuman sudah mampu mendamaikan hatinya yang selama ini dipenuhi kekecewaan dam kekelaman. Sebuah senyum yang terlihat sangat mudah dilakukan namun tidak baginya, bahkan ia sudah hampir lupa bagaimana cara tersenyum setulus itu.
Kehadiran Hana selalu ia nantikan, entah sihir apa yang telah Hana gunakan sehingga mampu menjadi pusat dari Dewa. Mata Dewa selalu ingin tertuju padanya. Aneh, benar benar aneh. Akal sehat Dewa tak mampu untuk mencernanya.
Kalau hanya sekedar cantik, Dewa tak akan setertarik ini. Toh selama ini ia selalu dikerubuti gadis gadis cantik. Ia tak pernah kekurangan stok untuk dijadikan teman jalan untuk sekedar having fun. Setiap gadis yang menjadi incarannya tak pernah ada yang lolos, karena memang Dewa adalah seorang dewa cinta, ia mampu melelehkan hati gadis hanya dengan satu kedipan mata.
Selain wajahnya yang rupawan ia juga sangat royal terhadap teman kencannya, karena ibunya selalu menggelontor kiriman uang untuk dirinya dengan jumlah yang fantastis. Sudah hampir 1 tahun ini konon ibunya menikah dengan seorang duda pengusaha yang kaya raya. Dan kali ini bukan sekedar pernikahan kontrak, tapi pernikahan atas dasar cinta.
Dewa memang seorang playboy semenjak terkuaknya masa lalu dirinya dan ibunya. Ia sering gonta ganti cewek seperti mengganti pakaian. Mungkin sudah puluhan gadis yang pernah ia kencani tapi belum ada seorang pun yang mampu menyentuh hatinya.
Semenjak bertemu dengan Hana hatinya mulai merasakan suatu getaran. Timbul sebuah rasa hangat yang menentramkan. Ada keinginan untuk dapat selalu bertemu. Kehadiran Hana seperti sebuah oase di tengah padang pasir. Senyumannya memancarkan sinar kebahagian. Wajahnya selalu membawa aura yang terang yang seakan mampu menerangi sekitarnya.
Hati Dewa bersorak sorai setiap berjumpa dengan Hana. Ingin rasanya selalu dekat dengan Hana agar kekelaman hatinya dapat berkurang, tapi secara bersamaan muncul ketakutan jika justru sinar Hana akan meredup karena tenggelam dalam kekelaman hidupnya. Ibarat warna, Hana adalah sebuah warna putih yang bersih, sedangkan hidup Dewa sebuah noda hitam yang teramat kotor dan kelam. Sehingga teramat takut baginya jika kehadirannya hanya akan menjadi noda di hidup Hana.
____
__ADS_1