Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Proses yang Melelahkan


__ADS_3

" Bagaimana Bapak Bapak, sah?" tanya penghulu sesaat setelah Dewa selesai mengucapkan ijab kabul.


" Sah.....!" sahut kepala desa dan kepala sekolah serempak yang secara khusus diminta untuk menjadi saksi pernikahan Hana dan Dewa.


" Alhamdulillah......" ucap syukur penghulu dilanjutkan dengan membaca doa pernikahan.


Hana berjalan dengan anggun didampingi oleh Evi dan Laura di kedua sisinya. Rasa cemas dan tegang di hatinya sudah sedikit berkurang saat mendengar Dewa mengucapkan ijab kabul dengan lancar dalam satu hembusan nafas. Bahkan tadi ia sempat ikut menahan nafas tatkala Dewa melafalkan kalimat sakral yang akan mengubah status mereka. Wajahnya terlihat cantik berseri seri. Kedatangannya di aula ijab kabul sungguh menjadi pusat perhatian semua orang. Tempat yang dikelilingi dengan hiasan bunga bunga itu kini terlihat semakin lebih indah dibanding beberapa menit yang lalu. Penampilannya sungguh sangat memukau membuat setiap mata terpaku ke arahnya.


Setelah mengantar Hana ke aula ijab kabul, Evi duduk di kursi sebelah ibunya. Sedangkan Laura tentu saja duduk di kursi sebelah calon suaminya yang berada di baris kedua.


" Deg..!" jantung Dewa seakan berhenti berdetak.


Cantik sekali. Hana sangat cantik, dia memang seorang bidadari yang turun dari langit.


Manik mata Dewa tak mampu berpaling dari wajah cantik Hana, kekasih yang kini telah sah menjadi istrinya. Bahkan seakan ia lupa untuk menghirup udara di sekitarnya karena terlalu fokus dengan kecantikan istrinya. Penantian panjangnya kini telah terbayarkan.


Bukan hanya Dewa yang dibuat terpaku akan kehadiran Hana, Yusuf dan Rayhan juga merasakan hal yang sama. Keduanya bahkan sampai lupa mengedipkan mata. Bagaimanapun juga Hana adalah seorang gadis yang telah berhasil memenangkan cinta pertama mereka.


" Mereka pasangan yang sempurna." gumam ibu Dewa membuat Yusuf yang duduk di sebelahnya tersadar dari lamunannya.


" Ya, mereka memang pasangan yang sangat serasi dan sempurna." dengus Yusuf.


Dewa memang pasangan yang sangat cocok untuk Hana. Hari ini, adalah hari bersejarah bagi mereka dan juga hari dimana aku harus mengakhiri kisah cinta pertamaku. Selamat tinggal cinta pertama. Kini gadis yang berdiri di depan sana bukan lagi gadis impianku, tapi kakak ipar dan sekaligus sahabatku.


"Huuuhhh...." Yusuf menghela napas panjang mencoba untuk benar benar mengikhlaskan sahabat yang sudah tidak mungkin lagi menjadi miliknya.


Dewa menyambut kedatangan gadis yang baru saja menjadi istrinya itu dengan wajah yang berbinar. Bibirnya tak henti menyunggingkan senyum bahagia. Seakan waktu berhenti berputar dan tiba tiba saja semua orang telah menghilang entah kemana. Yang ada kini hanya Dewa dan Hana yang bersanding berdua dan terus melempar senyum dengan udara yang dipenuhi oleh aroma cinta di sekitarnya.


Kedua manik mereka saling mengunci satu sama lain. Dan yang terjadi selanjutnya, tubuh Hana telah berada dalam pelukan Dewa. Mereka saling melepas rindu yang entah semakin menggebu meskipun semalam baru saja bertemu.


" Cup." tanpa diminta maupun dikomando, Dewa mengecup kening Hana dengan penuh kasih sayang.


" Ehm ehm... Acaranya bisa dilanjut lagi?" deheman penghulu menyadarkan Hana dan Dewa dari dimensi lain yang baru saja mereka kunjungi.


" Hah, oh ya silahkan...." Dewa dan Hana tersipu malu.


" Saya maklum kok, pengantin baru biasa seperti ini. Dunia milik berdua yang lain musnah entah kemana." goda bapak kepala desa yang dibenarkan oleh Hana dan Dewa dalam hati mereka.


" He he he...." kekeh mereka serempak.

__ADS_1


Setelah menanda tangani buku nikah dan sesi foto bersama, Hana dan Dewa kembali ke ruang ganti secara terpisah untuk mengubah tampilan mereka dengan baju yang telah disiapkan untuk acara panggih. Riasan Hana kali ini sedikit lebih tebal karena menggunakan riasan paes ageng khas jogja.


Dewa tampak sangat gagah dan berwibawa dengan baju kesatrean berwarna hitam dilengkapi dengan blangkon yang merupakan salah satu pakaian adat khas pengantin jogja. Sedangkan Hana tampil luwes dan mangklingi dengan riasan paes ageng. Kebaya hitam pilihannya tampak luwes dan anggun di tubuhnya. Warnanya tampak kontras dengan kulitnya namun justru sangat memancarkan aura pengantin.


Hana dan Dewa kembali dipertemukan di acara panggih, dalam bahasa Jawa berarti bertemu. Jauh jauh hari baik Hana maupun Dewa sudah mempelajari prosesi acara ini dari browsing maupun buku panduan yang ada. Prosesi ini mempertemukan mempelai pria dan wanita sebagai sepasang suami istri setelah sah secara agama maupun pencatatan sipil. Untuk upacara panggih ini orang tua Dewa tidak boleh ikut karena memang seperti itulah ketentuannya.


Dewa berjalan dengan gagah menghampiri Hana yang berdiri di belakang kedua orang tuanya dan diapit oleh adik dan sahabatnya, yang tidak lain adalah Evi dan Laura. Dengan arahan dari Bapak Sumitro yang berperan sebagai pranatacara panggih, Dewa menyerahkan sanggan kepada orang tua Hana, yaitu sebuah nampan yang telah dihias dengan cantik berisi pisang raja setangkep, suruh ayu, gambir, kembang telon dan benang lawe. Prosesi ini sebagai simbol penebusan pengantin wanita, orang tua telah menyerahkan anak perempuannya kepada lelaki yang dipercaya.


Upacara panggih diawali dengan balangan gantal. Hana dan Dewa diminta untuk saling melempar sirih yang telah diisi dengan pinang, kapur sirih, gambir, dan tembakau hitam yang kemudian digulung dan diikat dengan benang lawe. Ritual ini melambangkan bertemunya perasaan dan saling melempar hati atau mencintai. Mereka berdua melempar dengan penuh semangat dan memastikan bahwa tidak ada satu galangan pun yang meleset. Senyum bahagia terus menghiasi wajah pengantin yang keduanya tengah saling melempar itu.


Kali ini aku pastikan tidak akan ada satu pun yang meleset. Aku tak akan kalah dari Dewa seperti delapan tahun lalu .


Dewa terkekeh geli seakan paham pikiran Hana yang mengingat kejadian lempar bola di pasar malam delapan tahun lalu.


" Ternyata keduanya memang sangat saling mencintai dan sama sama tidak membiarkan satu pun lemparannya meleset." goda bapak Sumitro.


Kemudian Dewa diminta untuk menginjak sebutir telur ayam mentah sebagi tanda bahwa keduanya berharap memiliki keturunan. Ritual ini bernama ngidak tagan/nincak ndog. Setelah itu Hana membasuh kaki Dewa menyimbolkan wujud bakti dan kasih sayang ke suami, dinamakan ranu pada/ wijikan.


Lalu Hana dan Dewa berpegangan tangan dengan menyatukan jari kelingking. Ibu Hana menutup bahu mereka dengan kain berwarna merah putih dan dipandu oleh ayah Hana di depan mereka menuju pelaminan. Dalam ritual sinduran ini bermakna bahwa seorang ayah mengantar dan menunjukkan pasangan pengantin supaya menjalani hidup yang baik dan benar.


Sampai di pelaminan, bapak Sumitro meminta kedua mempelai untuk duduk di pangkuan ayah Hana. Dewa tampak ragu untuk meletakkan bokongnya di pangkuan sang mertua. Ia tidak enak hati karena bagaimanapun tubuh Dewa tampak lebih gagah dari ayah Hana


" Kenapa? Kamu meragukan stamina ayah mertuamu?" bisik ibu Hana dengan tatapan tajam.


" Ayah, siapa yang lebih berat? Hana atau Dewa?" tanya ibu Hana sesuai dengan arahan pranatacara.


" Sama beratnya Bu." jawab ayah Hana yang jelas jelas berbohong karena sangat tidak mungkin jika berat tubuh Hana sama dengan Dewa. Namun apa hendak dikata memang harus seperti itulah jawabannya, yang di dalam bobot timbang ini dimaknai bahwa Hana dan Dewa akan diperlakukan sama tidak ada perbedaan. Mereka tidak akan membedakan Hana dan Dewa sebagai anak dan menantu.


Dengan disaksikan ibu Hana, ayah Hana mendudukkan Hana dan Dewa ke kursi pengantin sambil memegang dan menepuk nepuk bahu keduanya. Prosesi ini disebut tanem jero yang memiliki makna bahwa kedua mempelai telah ditanam agar menjadi pasangan yang mandiri sehingga kelak berbuah manis yakni membentuk keluarga dengan keturunan yang bahagia.


Dilanjutkan dengan kacar kucur, Dewa menuangkan uang logam, beras, dan biji bijian dengan hati hati dari anyaman tikar pandan ke kain pembungkus yang diletakkan di pangkuan Hana. Kemudian semua itu dibungkus oleh Hana dengan cermat supaya tidak ada yang tercecer. Secara simbolis ini menunjukkan tanggungjawab suami memberikan nafkah kepada istri dan keluarga sedangkan sang istri harus pandai pandai mengatur serta mengelola agar tidak boros dan bisa tercukupi semua.


Beranjak ke acara dhahar klimah. Hana dan Dewa saling menyuapi pasangan dengan nasi kuning dan lauk pauk sebagai tanda bahwa mereka akan rukun dan selalu tolong menolonh serta saling menyayangi satu sama lain hingga tua.


Berlanjut ke acara ngunjuk rujak degan dimana Dewa bersama istri dan kedua mertuanya mencicipi rujak kelapa muda yang dicampur dengan gula merah sehingga rasanya manis dan segar. Mengajarkan bahwa segala sesuatu yang manis harus dibagikan bersama seluruh keluarga.


Kemudian ayah dan ibu Hana melakukan mapag besan, menjemput kedua besannya untuk naik ke pelaminan untuk melakukan prosesi terakhir yaitu sungkeman.


Hana dan Dewa berlutut di depan kedua orang tua masing masing dan dilanjut dengan orang tua pasangannya. Sebagai penghormatan karena telah membesarkan mereka dan permohonan maaf atas semua khilaf dan salah mereka sedari mereka kecil hingga kini. Dan yang tidak kalah penting adalah permohonan doa restu agar menjadi keluarga yang bahagia.

__ADS_1


Seperti biasa acara sungkeman selalu diiringi dengan isakan tangis dan air mata. Dewa dan Hana tak mampu membendung air mata mereka saat menyentuh kaki wanita yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan. Bahkan Dewa dan ibunya semakin terisak tatkala mengenang mendiang nenek Ira. Ayah Yusuf yang tidak mempunyai hubungan darah dengan Dewa saja tak mampu untuk tidak ikut menangis. Sedangkan ibu Hana, jangan ditanya lagi. Wanita penggemar berat Shakh Rukh Khan itu menangis sampai meraung raung saat mendengar ucapan terima kasih dan permohonan maaf Hana.


" Hua hua....hu....hu....hua....." suara raungan ibu Hana kian santer terdengar membuat orang orang menjadi kuatir.


" Bu, sudah jangan menangis lagi. Istighfar, enggak baik nangis sampai seperti ini. Diam ya, cup cup cup." bujuk ayah Hana lembut sambil menepuk nepuk bahu istrinya.


Acara terpaksa dijeda sebentar untuk menunggu tangis ibu Hana mereda. Evi dan Laura naik ke pelaminan untuk ikut menenangkan wanita yang semalam sudah berjanji untuk tidak menangis di hari pernikahan anaknya. Sedangkan Dewa memeluk istrinya yang juga terlihat syok dengan tangisan ibunya.


" Minum dulu Tante, ambil nafas dulu ya. Tarik nafas_" Laura menyodorkan gelas berisi air putih.


" Huh, huh... hiks hiks......" ibu Hana mengikuti arahan Laura untuk mengatur nafasnya.


" Sudah tenang kan Tan?" tanya Laura lembut saat tangis ibu Hana mereda.


Ibu Hana menganggukkan kepala.


" Riasanku masih bagus kan Ra? Tadi Hana bilang kalau bedaknya waterproof jadi bisa tahan hujan angin dan badai."


" Hah?" mulut Laura ternganga mendengar pertanyaan tak terduga dari ibu sahabatnya itu.


Aku rasa kini aku tahu mengapa terkadang Hana sering menanyakan hal hal yang tidak masuk akal.


" Ya, riasan Tante masih bagus, Tante masih terlihat cantik kok." jawab Laura memaksakan bibirnya tersenyum.


Setelah melewati adegan yang penuh drama dan air mata, akhirnya Dewa dan Hana bisa berdiri dengan tenang di pelaminan untuk menerima ucapan selamat dari para tamu yang hadir.


" Selamat ya Han, semoga samawa. Selalu bersama sampai anak cucu." ucap Laura dengan penuh ketulusan sambil memeluk sahabat terbaiknya itu.


" Terima kasih Ra, aku juga doakan hal yang sama buat kamu."


" Selamat ya Ra atas pernikahannya." Rayhan menjabat tangan Hana dengan agak kikuk.


" Ehm ehm." suara deheman Dewa membuat Rayhan segera melepas jabatan tangannya.


" Terima kasih Kak Rayhan, semoga kakak dan Laura cepat menyusul. Jangan lama lama ngalalinnya." jawab Hana dengan penuh penekanan.


" Ah, iya."


" Selamat ya Dewa semoga bahagia selalu." Rayhan beralih menjabat tangan Dewa.

__ADS_1


" Tentu saja aku akan selalu bahagia karena mendapat istri sesempurna Hana." jawab Dewa yang membuat Rayhan tersenyum kecut.


Semua tamu yang hadir satu per satu telah memberi ucapan selamat dan doa untuk kedua mempelai yang berbahagia itu. Termasuk Yusuf yang memberikan doa terbaiknya untuk kakak dan kakak iparnya.


__ADS_2