
Suara gelak tawa terdengar riuh di rumah Hana dan Dewa. Ayah kandung Yusuf, Anton Dermawan tertawa lepas sampai terbahak-bahak mendengar cerita istri cantiknya. Rani dengan menggebu-gebu menceritakan kekesalannya dengan wanita jadi jadian yang tak lain adalah Vina, mantan kakak kelas menantu kesayangannya.
Bagi lelaki berusia kepala empat itu, ini adalah hal yang langka dan luar biasa. Dirinya tidak pernah menyangka bahwa wanita yang sudah ia nikahi lebih dari sembilan tahun itu mempunyai sisi liar juga karena selama ini istrinya selalu terlihat kalem dan elegan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa istrinya bisa marah dan galak bahkan sampai berkelahi di tempat umum.
Sepulang dari bertemu klient, Anton bergegas pulang ke rumah Dewa dan Hana. Sebenarnya tadi ia hendak menyusul istri dan menantunya di mall xx, tapi saat ia menghubungi Rani ia malah diminta untuk mengurungkan niatnya karena Rani sudah meninggalkan mall xx dan dalam perjalanan pulang ke rumah Dewa setelah mengantar Laura pulang ke rumahnya.
Mobil Anton sampai di rumah hampir bersamaan dengan sang istri. Dan betapa terkejutnya Anton saat melihat Rani keluar dari mobil dengan penampilan yang berantakkan rambut acak acakan dengan beberapa luka gores di kulitnya.
Awalnya Anton merasa sangat khawatir dengan istrinya. Takut kalau saja wanita yang sudah setia menemani dirinya itu baru saja kena musibah dirampok atau bahkan dibegal.
Namun raut cemas di wajahnya sirna seketika setelah mendengar cerita sang istri tentang sebab musabab penyebab penampilan wanita cantik itu terlihat sangat tidak biasa dari kesehariannya. Sebenarnya Rani sedikit cemas jika sang suami akan marah dengan kelakuannya yang dianggap keterlaluan bahkan sedikit bar bar itu. Tapi alih alih marah atau kecewa, Anton justru tertawa ngakak dengan tingkah sang istri.
" Ih kenapa malah tertawa sih? Apanya yang lucu?!" ucap Rani dengan kesal karena ternyata suaminya menganggap kejadian di mall tadi sebagai hal yang lucu.
Bukannya menghentikan tawanya, Anton justru semakin terbahak-bahak. Apalagi sekarang ditambah ucapan Rani yang merajuk karena ditertawakan.
" Ayah nyebelin dech. Menyesal Ibu sudah cerita sama Ayah." Rani merajuk.
" Hahaha, iya iya Ayah tidak akan tertawa lagi." Anton bersusah payah menghentikan tawa di bibirnya.
" Huft....... Sekarang lanjutkan lagi ceritanya." pinta Anton yang sudah berhasil mengontrol nafasnya.
" Enggak mau, nanti paling juga ditertawakan lagi." dengus Rani.
"Ayah akan berusaha untuk tidak tertawa lagi, lanjutkan ceritanya. Tadi Ibu bilang Ibu dan Laura mengeroyok wanita itu. Ayah jadi penasaran bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Anton.
" Entahlah, tapi Ibu yakin ini akan memberinya efek jera. Siapa suruh dia berani menghina dan mengatai Hana di depan mataku. Ah, seandainya saja tadi tidak ada satpam yang melerai pasti Ibu dan Laura sudah mengacak acak wajah dan meremat mulutnya yang tidak sopan itu." desis Rani.
Anton tersenyum simpul menatap ekspresi wajah istrinya yang ternyata juga bisa terlihat garang. Beberapa detik selanjutnya, Rani sedikit salah tingkah karena sadar tengah ditatap intens oleh sang suami.
" Ayah kenapa? Ayah marah ya, apa Ibu sudah keterlaluan?" tanya Rani dengan sedikit rasa takut. Bagaimana pun juga ini adalah kali pertama bagi dirinya berani meluapkan amarah dalam dadanya. Karena memang selama ini dia selalu menjaga image agar selalu tampak kalem dan elegan. Dia selalu berusaha tampil seperfect mungkin agar tidak mencemari nama baik suaminya sebagai seorang pengusaha besar.
" Ayah sama sekali tidak marah, Ayah justru senang karena Ibu sudah berani bertindak seperti itu. Mungkin Ayah juga akan bereaksi sama seperti Ibu jika Ayah ada di sana. Ah, Ayah jadi menyesal karena tidak bisa melihat kejadian tadi secara langsung. Pasti sangat seru, ha ha ha." tawa Anton kembali pecah tatkala dia membayangkan wajah istrinya saat berkelahi.
__ADS_1
" Terima kasih ya...." ucapan Rani menghentikan tawa suaminya.
" Terima kasih? Untuk apa?" Anton bingung dengan arah pembicaraan sang istri.
" Terima kasih karena Ayah sudah memilih Ibu untuk menjadi pendamping hidup ayah, dan selalu mendukung semua keputusan Ibu." ucap Rani dengan penuh rasa haru.
" Kenapa Ibu berterima kasih, justru Ayah lah yang harusnya berterima kasih karena Ibu sudah mau menemani Ayah di setiap suka dan duka." Anton merengkuh tubuh istrinya dan membawanya ke dalam dekap pelukannya.
" Terima kasih ya istriku Sayang."
Keduanya larut dalam pelukan hangat yang penuh dengan kasih sayang.
" Ehem ehem, maaf enggak sengaja lihat." deheman Yusuf membuat sepasang suami istri itu sedikit merenggangkan pelukan mereka.
" Yusuf....?" Rani sedikit tersipu karena pelukan mereka kepergok oleh sang anak.
" Boleh kali pelukannya dilanjutkan di dalam." celetuk Yusuf.
" Yusuf......" suara berat Anton terdengar penuh dengan penekanan.
" Eh, Ibu kenapa? Kok terlihat berantakan? Rambut Ibu acak acakan lagi." Yusuf mengamati Rani dengan seksama.
" Ibu baik baik saja kan? Hana dan Dewa dimana? Kenapa enggak pulang bareng Ibu?"
" Kalau tanya satu satu dong Suf, jangan kayak peluru gitu, bingung kan jawabnya. Ibu kamu baik baik saja. Eh ya Bu, benar kata Yusuf, Hana dan Dewa dimana kok belum terlihat. Bukannya tadi Ibu sempat bicara di telpon kalau mereka juga sudah dalam perjalanan pulang. Bahkan keluar dari mall xx barengan sama Ibu kan?"
" Entahlah, tadi kami memang keluar dari mall xx bareng. Seharusnya mereka sudah sampai sebelum kita ya Yah, soalnya tadi aku kan mengantar Laura ke rumahnya dulu, sedangkan mereka langsung pulang, kok malah belum terlihat ya...?" mata Rani celingukkan mencari keberadaan mobil sport Dewa yang tadi dibawa ke mall xx.
Mata Anton terkunci pada penampakkan bibir anak laki lakinya yang masih terlihat nyonor.
" Itu...! Bibir kamu kenapa Suf?! Jangan bilang kamu juga habis berantem. Bukankah tadi pagi kata Dewa kamu sakit sehingga tidak bisa ikut meeting dengan Dewa. Kok sekarang malah bibir kamu bisa terluka seperti itu?! Berantem dengan siapa kamu?" cecar Anton yang heran melihat luka di bibir anaknya seperti habis kena pukul.
"Iya Suf, tadi Ibu belum sempat bertanya penyebab luka di bibirmu itu, sebenarnya kenapa sih kok sampai bisa terluka seperti itu?"
__ADS_1
" Ayah dan Ibu tenang saja, aku enggak berantem kok. Ini gara gara terjatuh, terpeleset terus tertim_" Yusuf tidak melanjutkan ucapannya. Bayangan adegan penyatuan bibir Raisa dan dirinya kembali melintas di pelupuk matanya. Seakan kejadian itu direka ulang dengan efek slow motion, dan di pause tepat ketika bibir mereka tengah bersatu. Tanpa Yusuf sadari sebuah senyuman terbentuk dari bibir nyonornya.
" Terus tertim_ apa Suf? Kok malah bengong senyum senyum enggak jelas?" pertanyaan Anton menyadarkan Yusuf dari lamunannya.
" Eh, itu, mak maksudku tertim_ eh bukan, menimpa lantai maksudku. Ya jatuh terpeleset menimpa lantai." Yusuf terlihat gugup menyusun kata yang sesuai.
" Owh....." Anton dan Rani beroh ria.
" Lain kali hati hati, itu pasti sangat sakit. Lukanya terlihat lumayan parah. Tadi pas membersihkan make up kamu, Ibu agak ngeri loh lihatnya. Apa perlu kita ke dokter?" tanya Rani yang terlihat iba dengan kondisi anaknya.
" Enggak perlu, Ibu tenang saja tadi pagi Hana dan Dewa sudah membawaku ke dokter untuk berobat." tolak Yusuf.
" Make up? Tadi Ibu bilang membersihkan make up Yusuf? Maksudnya apa? Ayah tidak salah dengar kan? Kamu pakai make up Suf?"
" Itu_" Rani tampak berpikir.
" Ayah jangan berpikir aneh aneh, aku masih sangat normal. Ini semua gara gara permintaan menantu kesayangan Ayah. Dia bilang babies di perutnya pengen jalan jalan bareng aku, tapi aku harus berpenampilan seperti wanita hamil. Ayah bayangkan saja, aku harus keliling mall dengan memakai daster dan bola di perutku. Sudah gitu Laura malah ikut ikutan merias wajahku dengan make up. Huh, mereka berdua memang sahabat tak berakhlak. Mereka pasti sengaja mengerjaiku." gerutu Yusuf dengan kesal.
Tanpa Yusuf sangka, lelaki di dekatnya itu justru tertawa terbahak bahak.
" Ha haa ha..... Pasti kamu terlihat lucu.... Ha ha ha."
" Hah??? Come on, itu tidak lucu. Itu sangat memalukan." desis Yusuf memutar bola matanya.
" Owh, Ibu belum jawab pertanyaanku tadi. Kenapa penampilan Ibu terlihat berantakkan, Ibu baik baik saja kan?"
" Ibu baik baik saja. Dia tadi habis berantem. Eh bukan berantem, lebih tepatnya mengeroyok." jelas Ayah sembari mencoba mengatur ritme napasnya karena tertawa lepas.
" Hah, Ibu berantem? Seriously?" Yusuf terkejut.
Anton pun mengcopy paste cerita Rani, membuat Yusuf mengerjapkan matanya berulang kali karena hampir tidak percaya bahwa ibu sambungnya yang selama ini selalu terlihat lemah lembut baik hati dan penyayang ternyata bisa juga mempunyai sisi lain yang sadis.
Wah Ibu ternyata bisa berubah ke mode galak juga ya.
__ADS_1
" Halo semua, Assalamualaikum....." sapa Hana keluar dari dalam mobil yang entah sejak kapan kendaraan roda empat itu sudah memasuki pekarangan rumah. Kedatangan mobil sport itu tidak disadari oleh Rani, Anton dan Yusuf.
" HANA....?! KAMU KENAPA....???!" mata mereka melotot melihat penampilan ibu hamil berjanin dua itu.