Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Berselisih


__ADS_3

Selang beberapa saat Yusuf dan ibu Dewa tiba di rumah bercat putih itu. Mereka keluar dari taksi dengan tergesa.


" Hana, Dewa, kalian tidak apa apa kan?" seru Yusuf saat memasuki rumah mewah itu.


" Sayang kalian baik baik saja kan?" imbuh Rani yang mengekor di belakang Yusuf.


" Yusuf? Ibu? Kalian juga pulang?" Hana menyambut kedatangan ibu mertua dan sahabatnya dengan wajah sumringah.


Tanpa berpikir panjang Hana berhambur memeluk wanita cantik itu. Ibu Dewa menyambut pelukan menantunya dengan senyum bahagia.


" Bagaimana kabarmu Sayang?"


" Aku baik baik saja Bu, bagaimana dengan Ibu?"


" Ibu sangat baik."


" Kamu yakin baik baik saja? Om dan Tanteku tidak jadi ke sini?" tanya Yusuf memandang lekat sahabatnya itu.


" Aku beneran baik baik saja, dan maaf tadi aku agak kasar dengan Om dan Tantemu."


" Mereka ke sini? Tapi mereka tidak ngapa ngapain kamu dan Dewa kan?"


" Kamu kira mereka bisa ngapa ngapain aku dan Dewa? Kamu lupa siapa aku? Aku pemegang sabuk hitam taekwondo. Jadi aku tidak akan pernah membiarkan seseorang dengan mudah menindasku dan orang orang sekitarku, entah itu berupa verbal maupun tindakan. Lagi pula tadi ayah mertua datang tepat waktu. Dia membela dan melindungi kami." ucap Hana dengan menyunggingkan semyum manisnya.


" Owh syukurlah." Yusuf bernapas lega.


" Tadinya aku sangat kuatir mereka akan membuat dirimu dan Dewa terluka dengan kata kata mereka."


" Yusuf benar Sayang, ibu juga sangat mengkhawatirkan kalian. Tapi syukurlah kalian baik baik saja. Owh dimana Dewa?" Rani celingukan mencari keberadaan anak lelakinya.


" Dia di ruang tengah bersama ayah mertua. Sepertinya mereka sangat cocok saat membicarakan mengenai bisnis dan perusahaan." dengus Hana merasa terabaikan saat kedua lelaki tak sedarah itu mulai larut dalam obrolan mengenai bisnis.


" He he, itulah ayah dan Dewa. Kamu bisa membayangkan bagaimana tertekannya aku saat berada di antara mereka sang penggila bisnis." keluh Yusuf.


" Hei jangan seperti itu Sayang mereka adalah saudara dan ayahmu. Baiklah ibu akan menemui mereka terlebih dahulu." ibu Dewa beranjak meninggalkan Hana dan Yusuf di teras rumah.


" Kamu mau meminum sesuatu? Panas atau dingin?"


" Tidak perlu repot repot, seperti dengan siapa saja." ucap Yusuf menanggalkan jaketnya.


" Aku sama sekali tidak merasa repot. Karena justru aku ingin meminta tolong padamu jika ingin ambil minum tolong buatkan es jeruk sekalian untukku. He he." ujar Hana tanpa rasa bersalah.


" Whatt...?! Heh mana bisa seperti itu. Kamu itu pemilik rumah. Jadi seharusnya kamu yang mengambilkan minuman." protes Yusuf.


" Ayolah Suf..... Kayak sama siapa saja. Kita kan sahabatan dari dulu ditambah sekarang kamu adalah adik iparku. Sudah sewajarnya jika aku meminta bantuan seperti itu. Lagi pula tadi kamu yang bilang sendiri kan agar aku jangan repot repot. Nah sebagai gantinya tidak salah kan jika aku merepotkanmu." Hana tersenyum penuh kemenangan.


" Ish, kamu tuh ya. Enggak berubah dari dulu. Masih saja kayak gitu." Yusuf menonyor jidad kakak iparnya.


" Aouw, sakit tahu. Punya tangan dikondisikan, aku ini kakak iparmu. Secara kesenioritasan kamu berada di bawah ku. Ha ha ha."


" Nih senior." Yusuf menonyor jidad Hana sekali lagi.

__ADS_1


" Senior apaan? Alasan saja kamu mager."


" Itu sangat betul. Ha ha ha."


" Ya sudah aku ambilkan minum dulu Kakak iparku yang gesrek." Yusuf mengalah dengan sahabatnya itu.


" Ih enak saja aku dibilang gesrek. Mana ada orang gesrek seimut dan semanis aku." sanggah Hana.


" Mbak, Mas, ini es jeruk dan cemilannya." mbok Mira menghampiri Hana dan Yusuf dengan membawa sebuah nampan di tangannya.


" Alhamdulillah, kebetulan tepat banget Mbok. Nih majikan Mbok yang sok imut lagi pengin es jeruk. Dan tiba tiba saja Mbok datang membawa es jeruk." Yusuf mengambil sebuah gelas dan meneguk isinya.


" He he. Iya Mas tadi disuruh Mas Dewa buatin es jeruk buat Mbak Hana dan Mas Yusuf. Ngomong ngomong masakannya sudah matang Mbak. Mau makan malam sekarang apa nanti?"


" Nanti saja Mbok. Tadi Mas Dewa dan ayah juga baru saja minum teh hangat dan makan kue. Nanti biar aku yang siapin sendiri enggak apa apa Mbok."


" Kalau begitu Mbok tinggal dulu ya Mbak." mbok Mira berlalu dari hadapan Hana dan yusuf.


Hana dan Yusuf duduk berdua di teras rumah sambil menikmati kesegaran es jeruk buatan mbok Mira.


" Bagaimana bulan madu kalian?" tanya Yusuf sembari meletakkan gelasnya di meja kecil.


" Menyenangkan. Amsterdam kota yang sangat indah. Lain kali kita harus berlibur rame rame bareng Laura ke sana pasti sangat seru." ucap Hana dengan penuh semangat.


" Boleh, tapi dilarang ajak pasangan. Aku tidak mau menjadi obat nyamuk buat kamu dan Laura. Kalian asyil bermesraan dengan pasangan, sedangkan aku hanya bisa menatap kalian." ketus Yusuf.


" Makanya buruan cari pasangan. Move on dong, jangan terus menanti Laura karena dia telah memilih Kak Rayhan sebagai teman hidupnya."


" Siapa yang menanti Laura, sok tahu kamu."


" Halah jujur saja sama aku. Selama ini kamu mencintai Laura tapi kamu enggak sempat mengutarakannya karena Laura lebih memilih Kak Rayhan dari pada kamu."


" Ck, kamu memang sok tahu. Bagaimana jika aku bilang bahwa gadis yang aku cintai selama ini bukanlah Laura, tapi orang lain." Yusuf menatap lekat manik Hana.


" Siapa lagi? Bukankah hanya aku dan Laura saja gadis yang dekat denganmu selama delapan tahun terakhir? Dan kamu pernah bilang bahwa aku sangat mengenal gadis itu. Jadi pasti Laura kan?! Ha ha ha"


" Bagaimana jika gadis itu adalah kamu." dengus Yusuf membuat tawa Hana mereda seketika.


" Aku?! Gadis itu aku?!" mata Hana mengunci pandangan Yusuf.


" Iya." lirih Yusuf.


" Ha ha ha, itu sangat tidak mungkin." tawa Hana kembali meledak.


" Ah sudahlah. Tidak usah membahas mengenai kisah cintaku lagi. Yang jelas aku sudah mengakhirinya. Semua sudah aku kubur dengan rapat."


" Baguslah kalau begitu. Jadi kamu tidak perlu canggung lagi jika berhadapan dengan Laura."


" Ngomong ngomong ayah dan Dewa sudah lama duduk berdua membahas mengenai perusahaan dan bisnis?" Yusuf mencari pembicaraan lain karena tidak ingin Hana terus menerus mengorek kisah cintanya.


" Yup, sejak Om dan Tantemu pergi. Ngomong ngomong aku minta maaf ya karena tadi sempat menyiram wajah Om Rahmat. Aku terbawa emosi karena mereka terus saja menjelek jelekan suami dan ibu mertuaku. Bahkan mereka menyebut bahwa Dewa tidak tahu diri dan tamak karena berusaha menguasai semua kekayaan ayahmu." ucapan Hana terdengar sendu.

__ADS_1


" Aku yang seharusnya minta maaf karena tidak bisa menghentikan mereka untuk tidak datang ke rumah ini. Dewa pasti sangat sakit hati mendengar itu semua. Padahal aku tahu dengan pasti bahwa dia tidak pernah mempunyai niat seperti itu. Bahkan dia selalu menolak permintaan Ayah untuk meneruskan perusahaannya. Aku tahu bahwa alasan itu semua adalah aku. Jauh di lubuk hatinya pasti berkata bahwa dirikulah yang lebih pantas untuk itu semua karena aku adalah anak kandung ayah sehingga dia lebih memilih untuk merintis perusahaannya sendiri di sini. Padahal aku sama sekali tidak pernah merasa keberatan karena memang kemampuan bisnis Dewa berada jauh di atasku. Ayah dan diriku merasa bahwa perusahaan ayah akan lebih berkembang di tangannya dari pada di tanganku. Banyak proyek besar di luar negeri yang sukses berkat dirinya. Dan semua fasilitas yang ayah berikan aku rasa belum sebanding dengan jasa yang ia berikan. Sedangkan aku? Aku merasa belum mempunyai andil yang berarti dalam perusahaan ayah." Yusuf mengusap wajahnya.


" Kamu tidak boleh berpikir seperti itu. Kamu harus lebih semangat untuk terus belajar dan belajar biar bagaimana pun kamu adalah penerus perusahaan ayah. Ingat itu Yusuf." tutur Hana.


" Entahlah Hana, terkadang aku merasa tidak berbakat di bidang itu. Aku rasa Dewa lebih pantas mengurus itu semua." ucap Yusuf dengan lesu.


" Mana boleh seperti itu?! Kamu adalah anak kandung sekaligus penerus perusahaan ayah Anton Dermawan. Jangan lembek seperti ini...!!"


" Dewa juga anak dari ayah. Dia juga bisa menjadi penerusnya kan?! "


" Tidak bisa...!!!" sanggah Hana cepat.


" Kenapa tidak bisa? Kamu jangan terpancing dengan omongan Om dan Tanteku. Dewa adalah anak ayah dan juga saudaraku. Jadi dia punya hak yang sama denganku."


" Iya aku tahu. Tapi bukan itu masalahnya. Ayah kandung Dewa juga meminta Dewa untuk meneruskan perusahaannya di Belanda. Kalau ayah Anton juga meminta hal yang sama bagaimana dengan Dewa? Bukankah itu akan sangat menguras pikiran dan tenaganya."


" Heh dodol, seharusnya kamu senang karena itu berarti Dewa akan menjadi orang yamg sangat kaya raya. Di usianya yang masih muda ia akan mempunyai banyak perusahaan. Bukankah itu hal yang sangat membahagiakan?"


" Enak saja..... Kamu mau lepas tangan dari tanggung jawab sebagai penerus perusahaan ayah kandungmu sendiri??!" ketus Hana.


" Bukannya seperti itu. Tapi kalau Dewa lebih mampu dan bisa kenapa tidak?!" Yusuf masih kekeh dengan pemikirannya.


"Karena Om dan Tantemu akan lebih mengecap Dewa sebagai orang yang serakah karena menguasai kekayaan keluargamu."


" Aku kan sudah bilang omongan Om dan Tanteku jangan dimasukkan hati." protes Yusuf.


" Pokoknya tidak boleh Dewa. Kamu harus belajar lebih giat lagi. Dari dulu kamu memang malas malasan kalau disuruh belajar."


" Apa hubungannya? Kenapa bawa bawa dulu." Yusuf menaikkan intonasi suaranya.


" Karena memang itulah kenyataannya. Pokoknya mulai saat ini kamu harus lebih giat dan serius lagi belajar mengelola perusahaan. Titik" seru Hana.


" Heh ada apa ini? Kenapa nada bicara kalian seperti orang bertengkar?" tanya ibu Dewa. Ayah Yusuf dan Dewa berjalan di belakang Rani menghampiri Yusuf dan Hana di teras.


" Kami tidak bertengkar Bu. Biasa memang seperti inilah aku dan Hana dari dulu." Yusuf menurunkan intonasi suaranya.


" Yusuf benar, meskipun memang ada sedikit beda pendapat di antara kami." Hana tersenyum.


" Pendapat apa Sayang?" tanya Dewa.


" E, bukan apa apa. Benar kan Yusuf?"


" Iya benar."


" Kalau begitu ayo masuk ke dalam. Kita makan malam bersama." ajak Rani.


" Baiklah. Aku juga sudah lapar. Energiku terkuras cukup banyak." ucap Yusuf sembari beranjak ke dalam rumah.


" Ayah boleh bicara sebentar?" bisik Hana di dekat mertuanya.


" Tentu saja. Ada apa Sayang?"

__ADS_1


" Sepertinya Ayah harus mencarikan istri untuk Yusuf. Dan jangan lupa carikan seoarng wanita yang sangat cantik dan sedikit matre. Agar Yusuf lebih giat bekerja dan semangat."


" Matre?????"


__ADS_2