Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
No Doubt in Us


__ADS_3

Hana terpaksa menghentikan langkah kakinya tatkala ada sepasang tangan yang memeluknya dari belakang. Ya, itu adalah tangan suaminya, Dewa. Tidak butuh waktu lama bagi Dewa untuk bisa menyusul langkah sang istri.


" Jangan pernah mencoba pergi dari sisiku." bisik Dewa dengan nafas yang memburu.


" Aku minta maaf jika ada sikap dan ucapanku yang melukai hatimu Sayang. Tapi percayalah aku tidak pernah berniat sedikit pun untuk melakukan itu. Hanya ada kamu seorang di hatiku, hanya kamu." Dewa berkata dengan penuh ketulusan tanpa ada sedikit pun kebohongan.


" Bohong....." Hana mencoba melepas dekapan suaminya.


" I love you Hana, i love You....." suara Dewa terdengar bergetar. Ia mengeratkan kedua tangannya agar tubuh sang istri tidak terlepas dari dekapannya.


Hana terdiam seketika saat menyadari ada tetesan air mata yang membasahi pundaknya. Bibir mungil yang biasa mengeluarkan banyak kata itu terkatup rapat seakan ada sebuah kekuatan yang membuatnya terasa sangat sulit untuk digerakkan. Ingin rasanya ia menyanggah ucapan suaminya namun apalah daya saat ini bibir dan hatinya tidak bisa diajak kompromi.


Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, Hana hanya diam menurut mengikuti langkah sang suami tatkala lelaki berdarah Indonesia Belanda itu mengajaknya duduk di taman sebelah bangunan mall.


" Sorry, sorry..... Aku benar benar minta maaf. Aku tidak pernah punya sedikit pun niat untuk membuatmu bersedih, terlebih menyakiti hatimu Sayang....." lirih Dewa sembari memeluk erat tubuh istrinya.


" Sayang bicaralah, jangan diam seperti ini. Jika kamu marah kamu boleh memaki atau bahkan memukulku sesukamu."


Dewa menatap lekat manik sang istri. Berusaha agar Hana bisa melihat ketulusan hatinya lewat tatapan matanya. Bukankah banyak orang bilang bahwa mata adalah jendela hati? Sehingga kita bisa melihat isi hati seseorang dari pencaran matanya.


" Apa kamu benar benar mencintaiku?" sebuah pertanyaan keluar dari bibir mungil Hana.


" Pertanyaan macam apa ini?! Tentu saja aku mencintaimu, bahkan teramat sangat." Dewa agak terkejut dengan pertanyaan istrinya. Bagaimana bisa ia mengucapkan pertanyaan bodoh seperti itu.


" Sungguh??"


" Tentu saja. Bagian mana yang membuat kamu meragukan cintaku? Apakah selama ini aku tidak cukup menunjukkan perasaanku? Bukankah aku sudah menyerahkan hatiku sepenuhnya kepada dirimu? Jadi bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu." Dewa tanpa malu mengecup singkat bibir manis istrinya sejenak setelah menghapus air mata di wajahnya.


Hana mendekap erat tubuh suaminya seakan takut kehilangan.


" Salahkah aku jika aku takut kehilanganmu?" ucap Hana lirih.


" Tentu saja tidak salah. Karena aku adalah suami yang ganteng maksimal sehingga sangat wajar jika kamu takut kehilanganku karena banyak wanita yang pasti tergila gila padaku." goda Dewa.


" Maksudmu apa??!" Hana mendorong tubuh suaminya.

__ADS_1


" Hei, aku hanya bercanda." tangan Dewa menarik tubuh Hana kembali dalam pelukannya.


" Apa kamu sudah lupa bahwa aku pernah bersumpah bahwa aku akan mencintaimu seorang sampai jantung ini berhenti berdetak? Dan hanya ada kamu di dalam hatiku takkan pernah ada wanita lain. Jadi jangan pernah berpikir macam macam." imbuh Dewa tanpa ada sedikit pun kebohongan.


" Lalu mengapa tadi kamu membela Vina?" dengus Hana.


" Ha? Membela Vina? Ha ha ha. Kamu salah paham Sayang. Aku hanya tidak ingin kita menjadi pusat perhatian banyak orang."


" Tapi tadi aku melihat kamu sangat menikmati duduk berdua bersama Vina." ketus Hana.


" Ck... Hari ini kamu kenapa sih? Kenapa tiba tiba cemburu seperti ini?" Dewa menelisik wajah sang istri.


" Tidak apa apa. Aku hanya kesal karena melihat kamu sangat nyaman bersamanya. Siapa tahu ada percikan percikan cinta lagi di antara kalian. Dia kan mantan kamu saat SMA. Bahkan aku pernah memergoki kalian berciuman di toilet sekolah. Mungkin kalian ingin mengulanginya lagi, siapa tahu?" ucap Hana penuh dengan maksud.


" Ha ha ha. Kamu cemburu dengan Vina? Asal kamu tahu Yank tadi aku sudah berulang kali memintanya untuk pergi tapi dianya saja yang ngotot tidak mau pergi. Masak iya aku harus ribut dengan wanita?"


" Yakin kamu menyuruhnya pergi? Atau jangan jangan kamu sangat menikmati pemandangan dada besarnya yang bergelantungan tepat di depan matamu?" sindir Hana.


" Benarkah? Memangnya seberapa besar dadanya? Ah sayang sekali tadi aku tidak sempat memperhatikannya." keluh Dewa berpura pura menyesal.


" Aku hanya bercanda." Dewa mengelus punggung Hana sembari memperlihatkan deret putih giginya.


" Aku senang kamu cemburu padaku Sayang, itu berarti kamu sangat mencintaiku dan takut kehilangan. Tapi lain kali aku tidak akan membiarkan kamu melakukannya lagi karena aku tidak mau kamu mengeluarkan air matamu yang berharga hanya karena wanita seperti itu. Kamu harus ingat bahwa hati dan diriku sepenuhnya milikmu seorang. Jangan pernah meragukan cintaku lagi ya...."


" Janji....?" pinta Hana lembut sambil mengacungkan jari kelingking.


" Tentu." Dewa menautkan jari kelingkingnya dengan milik sang istri.


"Lagi pula mana mungkin aku akan menyia nyiakan wanita paling manis di dunia seperti dirimu." puji Dewa sembari menoel ujung hidung Hana.


" Gombal." dengus Hana.


" Tapi aku masih tidak rela dan kesal jika teringat kamu pernah berciuman dengan Vina si wanita jadi jadian yang suka menjadi bintang drama di toilet itu." raut wajah Hana seketika berubah.


" Wanita jadi jadian?" Dewa merasa bingung.

__ADS_1


" Iya...!" jawab Hana cepat.


" Kata Ibu mertua Vina adalah wanita jadi jadian. Dari ujung rambut sampai ujung kakinya adalah hasil permakan. Make up tebal hampir satu senti, bibir disulam, alis disulam, bulu mata palsu, tarik benang, suntik botoks, rambut palsu entah itu wig atau extension, suntik putih, bahkan dadanya yang bergelantungan dan berdesak desakan itu pasti isinya semua silikon." ucap Hana menggebu gebu melampiaskan emosinya.


" Ha ha ha ha. Kalau kamu sudah tahu dia wanita jadi jadian kenapa masih merasa cemburu? Mana mungkin aku tertarik dengan barang palsu seperti itu sedangkan istriku adalah berlian asli yang teramat indah?"


" Huft, kamu benar Sayang tidak seharusnya aku cemburu dengan wanita jadi jadian seperti itu." Hana mendapatkan kepercayaan dirinya lagi.


" Ingat cemburu adalah tanda tidak percaya diri, kamu tidak boleh kehilangan percaya diri hanya karena wanita itu."


"Aku sudah tidak cemburu, tapi aku tetap masih kesal karena kamu pernah menciumnya."


Aduh mengapa Hana masih mengingatnya sih. Padahal dulu kami pernah membahasnya, Hana tidak marah malah menganggap itu semua adalah lelucon. Tapi kenapa sekarang Hana marah saat membahas masalah aku dan Vina saat berciuman di toilet.


" Maksud kamu ciuman di toilet yang bau boker itu?" tanya Dewa berhati hati. Ia mencoba mencari pengalihan rasa kesal istrinya.


" Iya bau boker aku. Memangnya kenapa? Aku pasti sangat mengganggu kemesraan kalian kan?!"


" Bu_ bukan seperti itu Sayang."


Kenapa tambah marah? Apa aku salah ngomong?


" Vina, sungguh nama yang sangat menyebalkan. Lain kali aku tidak akan menahan diri saat bertemu dengannya lagi." nafas Hana memburu, bahkan dadanya sampai terlihat naik turun.


" Lihat sa_"


" Mmmph...." bibir Dewa membungkam bibir Hana.


Dewa melepas ciumannya saat melihat istrinya kesulitan bernapas karena mendapat serangan yang tiba tiba.


" Sayang apa yang kamu la_"


" Mmmphhh." Dewa kembali ******* bibir manis Hana, namun kali ini penuh dengan kelembutan. Keduanya larut dalam ciuman yang kian memanas. Bahkan mereka mengabaikan keberadaan orang orang di sekitarnya. Entah sadar atau tidak mereka telah menjadi pusat perhatian orang orang yang ada di dekat mereka.


" Maaf Mbak, Mas tolong jangan melakukan adegan seperti ini di tempat umum." tegur seorang wanita paruh baya yang mendorong stroller di depannya. Sontak Hana dan Dewa melepas tautan bibir mereka.

__ADS_1


" Ah maaf." ucap Hana dan Dewa sembari berlalu dengan wajah yang memerah karena menahan malu.


__ADS_2