
Langit mulai menyiapkan tempat untuk kehadiran sang malam. Warna gelap seakan tidak sabar untuk segera menggeser keindahan warna biru. Mentari pun sudah merelakan tahtanya diganti dengan sang bulan. Semburat warna jingga menjadi pengantar tenggelamnya benda langit yang menjadi sumber kehidupan bumi berikut semua makhluk di dalamnya.
Sepasang anak manusia yang kini telah berstatus suami istri tengah menikmati keindahan pemandangan langit di tepi pantai. Keempat sahabat yang menjadi korban untuk kelangsungan acara romantis itu sudah undur diri dan meninggalkan keduanya untuk merayakan ulang tahun sekaligus pernikahan yang sengaja dipilih pada hari yang sama.
" Terima kasih sayang, ini sangat indah." mata Hana berbinar saat Dewa menuntunnya untuk duduk di salah satu kursi yang telah Dewa siapkan untuk menikmati makan malam romantis.
Dewa dan Hana menikmati makan malam mereka di tengah untaian bunga dan lilin yang tertata rapi.
" Kamu suka?" tanya Dewa dengan senyum merekah.
" Huum." jawab Hana singkat. Tanpa ia sadari pipinya telah merona karena malu dan tersanjung atas perlakuan suaminya yang sangat spesial.
Malam ini Hana merasa menjadi wanita yang sangat berbahagia karena Dewa memperlakukannya dengan sangat istimewa.
" Kamu bahagia?" tanya Dewa memecah kesunyian malam.
" Sangat, terima kasih untuk semuanya. Ini adalah hari ulang tahun terindah yang pernah kulalui." Hana menggenggam erat kedua tangan Dewa.
" Dan kamu adalah makhluk terindah yang Tuhan kirimkan ke aku. Terima kasih karena telah bersedia menjadikan aku sebagai teman hidup. Terima kasih atas semua cinta yang telah kau berikan. Terima kasih karena telah menjadi bagian di jiwaku. Dan masih banyak terima kasih yang tidak bisa kuucapkan semuanya." ucap Dewa dengan penuh ketulusan yang membuat wanita di sampingnya menitikkan air mata karena terharu.
" Hei apa ini? Jangan menangis di hari yang sangat membahagiakan ini. Mulai sekarang kamu tidak boleh menangis lagi, kamu hanya boleh tersenyum bahagia saja."
" Maaf." dengus Hana.
" Kalau aku tahu kamu mau ngajak makan malam romantis, aku akan berpakaian sedikit lebih bagus, tidak seperti ini." keluh Hana saat menyadari gaya berpakaiannya yang tidak sesuai dengan suaminya yang memakai setelan formal layaknya lelaki yang makan malam di restoran mewah.
" Sudahlah, tidak perlu minta maaf. Aku suka kamu apa adanya kok, tidak perlu memakai gaun mewah pun kamu tetap terlihat cantik." puji Dewa.
" Aku tahu itu. Kalau aku tidak cantik mana mungkin aku bisa mendapatkan suami tampan sepertimu."
" Setelah sekian lama, akhirnya istriku ini berkata bahwa aku tampan. Terima kasih ya sayang atas pujiannya. Tadi saja saat di pelaminan kamu tidak mau memuji penampilanku. Sekarang jujur, bagaimana tadi penampilanku saat memakai baju adat, apakah terlihat tampan?" desak Dewa.
" Ya ,sangat tampan. Tapi tadi aku enggan mengatakannya karena sudah sangat banyak wanita memujimu. Bahkan terang terangan memintamu untuk berfoto bersama. Dan sepertinya kamu sangat menikmati dikerubuti oleh banyak wanita." cibir Hana.
" Ternyata istriku tercinta ini sangat pencemburu. Baiklah lain kali aku tidak akan pernah membiarkan wanita lain untuk mendekatiku. Karena jiwa dan ragaku sepenuhnya adalah milik istriku seorang."
" Benarkah? Dasar gombal." Hana tersipu dengan perkataan manis suaminya.
" Mau duduk di tepi pantai?" ajak Dewa.
" Tentu." Hana dan Dewa beranjak ke bibir pantai dan mendaratkan tubuhnya di sana. Tanpa ragu Dewa menjadikan jas mahalnya sebagai alas duduk untuk istri dan dirinya. Tangan Dewa mendekap erat tubuh Hana dalam pelukannya.
" Lihat....! Bukankah itu bintang Antares?" tunjuk Hana saat menyadari keberadaan bintang favoritnya ikut menghiasai keindahan langit malam.
__ADS_1
" Ah benar, itu bintang Antares. Seakan dia tahu bahwa hari ini adalah hari kebahagiaan kita, dan dia hadir untuk menjadi saksi cinta kita."
" Kamu benar, dia hadir untuk melengkapi kebahagiaan kita." bibir Hana tak henti terus menyunggingkan senyum bahagia.
" Kau tahu? Dulu sebelum mengetahui namamu aku memanggilmu dengan nama Antares. Aku menganggapmu sebagai bintang paling bersinar di gugus scorpio yang kehadirannya selalu berhasil mencuri perhatianku." tutur Hana jujur.
" Benarkah? Sejak kapan? Mengapa kamu tidak pernah bilang ini sebelumnya?" Dewa tampak berbinar.
" Sejak pertemuan pertama kita, saat aku terjatuh dari motor gara gara kamu, dan aku langsung tersihir olehmu. Aku tidak mampu berpaling dari tatapan mata hijau itu. Warna matamu sangat indah, siapapun yang melihat pasti akan tenggelam di dalamnya. Tapi entah kenapa saat itu aku bisa melihat ada banyak rasa kekecewaan, kesedihan dan kesepian di dalamnya. Dan aku ingin lebih menyelami manik itu."
" Dan kamu berhasil, kamu berhasil menyelam ke dalamnya dan menarik aku keluar dari semua kesedihanku. Terima kasih sayang. Terima kasih untuk semua." Dewa mengecup lembut bibir mungil istrinya itu. Kecupan itu berubah menjadi ciuman yang semakin dalam. Keduanya saling melu*at dan sesekali membelitkan lidah mereka. Kali ini Hana mampu mengimbangi permainan suaminya. Keduanya terengah mengambil napas saat pagut*an mereka terlepas.
" Kamu semakin mahir sayang." puji Dewa penuh maksud yang membuat bola mata Hana membulat dan pipinya memerah.
" Kenapa kamu masih malu seperti ini? Kita kan sudah menikah. Tapi wajahmu yang seperti ini sangat menggemaskan. Ingin rasanya aku segera memakan habis dirimu." kedua tangan Dewa mencubit pipi merah Hana.
" Hentikan, kau keterlaluan. Ayo kita pulang hari sudah kian malam." ajak Hana.
" Ah, shittt....! Aku lupa memberi tahu orang rumah..!" Dewa menepuk jidadnya.
" Whaaat??! Mereka semua pasti bingung mencari keberadaan kita. Kamu keterlaluan mengapa melupakan hal sepenting itu?" Hana tampak panik membayangkan kecemasan keluarganya.
" Ah sial, ponselku tertinggal di kamar. Cepat hubungi mereka...!"
" Iya, aku akan hubungi mereka agar tidak khawatir." ucap Dewa sembari mengambil ponsel dari sakunya.
" Ada apa sayang?"
" He he, ponselku mati. Sepertinya bateraiku habis sayang."
" Whaaaattt...???! Di saat seperti ini? Kalau begitu ayo cepat kita harus segera pulang. Mereka semua pasti sangat panik dan cemas mencari kita."
" Tapi a_" Dewa belum sempat menyelesaikan ucapannya namun Hana menarik tangannya agar bergegas pergi.
" Ayo cepatlah, ayah dan ibu pasti sudah panik setengah mati mencari kita." tutur Hana sambil terus menarik tangan suaminya. Dewa hanya bisa pasrah mengikuti langkah istrinya.
" Mobilnya diparkir dimana?" Hana celingukan mencari kendaraan yang dimaksud.
" Aku tidak bawa mobil sayang, aku bawa motor yang tadi terparkir di depan rumahmu. Dan motornya tidak di sini, tapi ada di sana." Dewa menunjuk sebuah motor matic yang terparkir di arah yang berbeda.
" Oh..... Kalau begitu ayo cepat, tunggu apa lagi." Hana bergegas ke arah motor itu.
" Ini motor siapa?"
" Entahlah. Tadi terparkir di depan rumahmu lengkap dengan kuncinya, jadi aku ambil saja." ucap Dewa tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
" Hah...? Kamu maling motor sayang?"
" Sembarangan, aku kan cuma pinjam. Buat apa aku maling motor seperti ini?"
" Mengambil tanpa ijin itu namanya maling...." ketus Hana.
" Mana ada maling motor yang ganteng seperti aku. Lagi pula tega banget kamu ngatain suami sendiri maling." dengus Dewa.
" Ah sudahlah. Ayo cepat kita pulang. Pemilik motor ini pasti merasa kehilangan." ajak Hana.
Motor matic yang entah milik siapa itu melaju membelah jalanan malam. Tanpa memakai helm maupun jaket Hana dan Dewa nekat menerobos dinginnya malam. Tanpa rasa canggung tangan Hana melingkar erat di pinggang suaminya. Kepalanya bersandar di punggung bidang lelaki yang tadi pagi baru saja menikahinya untuk menghindari terpaan angin malam.
" Sepertinya motor memang kendaraan yang paling tepat untuk kita." ujar Dewa sambil terus menyunggingkan senyum.
" Hah, kenapa?" tanya Hana masih tetap dengan posisi yang sama.
" Karena hanya dengan naik motor posisi kita bisa lekat seperti ini." tutur Dewa.
" Ha ha ha. Itu benar. Dan naik motor jauh lebih keren dibanding naik mobil." imbuh Hana yang entah membandingkan motor dan mobil dari segi mana sehingga ia bisa membuat kesimpulan aneh seperti itu.
" Tiinnn tiiinnn......!" suara klakson membuyarkan moment romantis keduanya. Dewa terpaksa menghentikan laju motornya dan menepi sesuai dengan arahan polisi yang telah berada di sampingnya.
" Maaf mengganggu perjalanan Anda. Silahkan turun dari motor Anda." pinta seorang polisi yang baru saja keluar dari dalam mobil polisi.
" Baiklah Pak." Dewa dan Hana turun dari motor.
" Anda berdua telah melanggar peraturan lalu lintas. Anda tidak memakai helm dan kecepatan Anda di atas kecepatan maksimal. Bisa perlihatkan SIM dan surat kelengkapan motor Anda?" ucap polisi itu sopan dan tegas.
" Ah..... maaf Pak. Ini SIM dan KTP saya." Dewa menyerahkan kedua kartu itu dengan ragu.
" SIM Anda sudah tidak berlaku sejak tiga tahun lalu. Coba perlihatkan STNK motor ini!" hardik polisi itu setelah meneliti kedua kartu yang ia terima.
" Saya enggak bawa Pak, ini bukan motor saya."
" Lapor Pak, ini adalah motor yang tadi dilaporkan hilang." ucap satu polisi lagi yang telah mengamati dan menyocokkan nomor kendaraan dengan data yang ia punya.
" Sebaiknya kalian bersikap kooperatif, silahkan masuk mobil dan ikut kami ke kantor polisi."
" Apa....?! Kantor polisi...?!" pekik Hana dan Dewa bersamaan.
Apa apaan ini? Malam pernikahanku harus berakhir di kantor polisi?
" Sayang, apa ini masih termasuk kejutan darimu?" bisik Hana yang tengah duduk berdampingan dengan Dewa di sebuah mobil yang siap membawa mereka ke kantor polisi.
" Aku juga berharap seperti itu. Tapi sayangnya bukan."
__ADS_1
" WHAAATTTT???!"