
Yusuf memutuskan untuk pulang terlebih dahulu tanpa menunggu Rani dan Laura selesai berbelanja. Toh sekarang sudah ada Dewa di sana bersama Hana. Hatinya terasa begitu lega setelah mengungkapkan semua perasaan yang terpendam selama delapan tahun lebih. Kini ia benar benar bisa mulai melepas dan mengikhlaskan kisah cintanya untuk mencoba memulai kisah cinta yang baru. Kata ikhlas untuk melepaskan cinta Hana yang selama ini ia gembar gemborkan dalam hatinya kini baru bisa terealisasi. Mungkin benar kata orang bahwa kita tidak bisa mengakhiri sesuatu sebelum kita menyelesaikannya. Dan sekarang lah waktunya, Yusuf bisa mengakhiri kisah cintanya setelah ia berhasil mengungkapkan rasa yang selama ini menyiksanya dalam diam.
Ternyata selama ini aku berpikir terlalu jauh.... Andaikan dari dulu aku berani mengungkapkan perasaanku, pasti aku tidak akan terlalu lama terbebani. Selamat tinggal cinta lamaku.......
" Bagaimana rasanya?" tanya Dewa dengan tiba tiba sembari menatap lekat wajah manis istrinya yang melanjutkan lagi aktivitas makan es krimnya yang tadi sempat terhenti karena pengakuan Yusuf.
" Es krim ini sangat lezat."
" Bukan rasa es krim, tapi bagaimana rasanya mendengar pengakuan cinta dari sahabat sendiri?" mata Dewa masih terfokus pada wajah wanita hamil di depannya.
" Biasa saja. Memangnya apa yang seharusnya aku rasa?" Hana balik bertanya dengan menatap tajam netra suaminya.
" He he, syukurlah. Aku kira kamu akan terkejut dan....."
" Dan apa? Kamu meragukan perasaanku ke dirimu?!" tanya Hana penuh penekanan.
" Tentu saja tidak. Aku hanya takut kamu akan merasa terganggu." kilah Dewa.
Sebenarnya tadi saat mendengar pengakuan cinta Yusuf hatinya merasa sedikit sakit. Walaupun Dewa sudah mengetahui perasaan Yusuf terhadap Hana sebelumnya, namun mendengar langsung pernyataan cinta lelaki lain ke istri yang teramat ia cinta tetap saja menorehkan rasa cemburu. Beruntung tadi reaksi Hana biasa saja dan berakhir dengan sangat lancar.
" Kamu cemburu ya.....?" goda Hana.
" Tentu saja aku cemburu. Suami mana yang tidak merasa terganggu saat ada lelaki lain yang mengungkapkan cinta ke istrinya." jawab Dewa dengan cepat.
"Tapi lelaki lain itu adalah saudaramu terlebih dia adalah sahabat baik istrimu. Kamu tidak perlu merasa cemburu karena cintaku sepenuhnya adalah milikmu." Hana kembali memasukkan es krim ke mulutnya.
" Ah so sweet, aku jadi terharu mendengar pernyataan cinta dari istri tercintaku ini. Aku benar benar merasa sangat beruntung karena berhasil memperoleh istri secantik dan sebaik kamu Sayang, terima kasih ya....." Dewa menangkup kedua pipi istrinya.
" Sama sama Sayang....." Hana tersenyum manis ke arah suaminya.
" Aku rasa kini Yusuf sudah benar benar bisa menghapus perasaan cintanya setelah berhasil mengungkapkannya. Ia pasti merasa sangat lega sekarang. Semoga secepatnya ia bisa menemukan gadis yang baik untuk dirinya."
" Ya, kamu benar Sayang. Dan aku rasa Dokter Raisa adalah gadis yang tepat untuk Yusuf. Sebagai sahabat kita harus membantu menyatukan mereka." ucap Hana penuh dengan keseriusan.
" Baiklah kita memang harus membantu mereka. Sebagai seorang yang lebih ahli tidak ada salahnya jika aku berbagi ilmu dengannya."
" Sebagai seorang yang ahli?! Maksud kamu apa..???!! Kamu ingin bilang kalau kamu adalah ahli menaklukan wanita. Dan kamu ingin berbagi ilmu itu?? Atau jangan jangan sekarang kamu merasa sangat bangga karena sebelumnya kamu berhasil menggaet banyak wanita ??!" Hana meletakkan sendok di tangannya dengan kasar. Tatapan matanya penuh dengan amarah.
Aduh gawat, sepertinya aku salah bicara. Kenapa bisa keceplosan seperti ini sih, bodoh.
" Bukan itu maksudku Sayang. Maksudku_"
" Sudahlah aku tidak butuh penjelasanmu. Kamu menyebalkan, aku benci kamu." teriak Hana sambil terisak.
" Sayang jangan seperti ini, bukan maksudku_"
" Diam kamu, aku tidak ingin mendengar suaramu. Dasar playboy." bentak Hana.
Ini adalah kali pertama Hana dan Dewa terlihat bertengkar. Sebelumnya Hana tidak pernah membahas atau pun mempermasalahkan masa lalu Dewa yang memang senang bergonta ganti wanita. Mungkin karena pengaruh hormon kehamilan yang membuat emosi Hana gampang meledak.
" Ada apa Sayang? Kenapa kamu menangis?" Rani dan Laura menghampiri Hana dan Dewa.
" Kamu kenapa Han? Kenapa menangis?" tanya Laura yang merasa khawatir karena melihat sahabatnya terisak.
__ADS_1
" Dia_"
" Diam kamu, aku sudah bilang aku tidak mau mendengar suara kamu." Hana memotong perkataan Dewa.
" Ssttt, sudahlah Sayang." Rani memberi kode ke anak semata wayangnya agar menuruti ucapan Hana untuk diam.
" Kita ke toilet saja ya Sayang untuk membasuh muka. Agar kamu merasa lebih tenang dulu." bujuk Rani membawa anak menantunya ke arah toilet.
" Why? What happen?" lirih Laura meminta penjelasan lelaki yang telah membuat hamil dan menangis sahabat terbaiknya.
Dewa pun terpaksa menceritakan asal muasal penyebab wanita yang sangat ia cintai terisak. Laura sempat dibuat terkejut dan menganga tatkala Dewa bercerita tentang pengakuan Yusuf yang diam diam mencintai Hana selama delapan tahun lebih. Namun di akhir cerita Laura justru terbahak saat mengetahui penyebab tangisan dan kemarahan sahabatnya. Sungguh suatu alasan yang konyol menurutnya.
" Kamu harus sabar Dewa, mungkin karena faktor hormon kehamilan sehingga perasaan dan emosi Hana lebih sensitif. Lain kali kamu harus lebih hati hati dalam berucap, he he. Selamat menikmati menghadapi seorang wanita hamil."
" Ya, aku memang harus sangat sabar dan ekstra hati hati saat berucap di hadapan Hana." dengus Dewa.
" Ha ha ha, itu benar. Baiklah aku akan menyusul Hana. Aku yakin Hana tidak bermaksud marah seperti tadi. Dia pasti akan menyesal setelah amarahnya mereda." Laura beranjak ke arah toilet.
" Terima kasih, semoga ucapanmu benar." ucap Dewa penuh harap.
Laura terkejut saat mendapati Hana dan Rani berdiri di luar toilet. Tangis Hana sudah reda namun wajahnya masih terlihat sembab. Matanya juga masih merah karena menangis.
" Hana, Tante, kenapa berdiri di sini? Kenapa tidak masuk ke dalam?" tanya Laura heran.
" Itu." Hana menunjuk papan peringatan di lantai yang menandakan bahwa toilet sedang dibersihkan.
" Toilet sedang dibersihkan? Masak jam segini baru dibersihkan?" gumam Laura.
" Kita ke toilet lain saja ya Sayang?" bujuk Rani.
" Biar aku periksa ke dalam dulu Tante." Laura bergegas masuk ke dalam.
" Ayo kita masuk, tidak ada kegiatan pembersihan kok. Sepertinya di dalam juga ada seorang pengguna. Mungkin tadi petugas kebersihannya lupa membereskan papan peringatan itu." ucap Laura setelah memeriksa keadaan dalam toilet dan melihat salah satu pintu bilik toilet tertutup pertanda ada seseorang di dalamnya.
" Sayang, kita basuh wajah kamu dulu ya biar lebih segar." Rani mulai menyalakan kran air di wastafell.
" Han, aku tinggal masuk dulu ya, panggilan alam, he he." Laura bergegas masuk ke pintu bilik toilet yang terbuka.
Rani dengan telaten membantu menantunya membasuh muka dan mengeringkannya dengan tissue.
" Bagaimana, sekarang sudah lebih segar dan tenang kan?" ucap Rani dengan lembut. Hana menganggukkan kepala perlahan.
" Terima kasih ya Bu. Apa semua orang hamil seperti Hana ya Bu, gampang marah dan emosi. Padahal setelah Hana pikir pikir, Dewa tidak bersalah, kenapa tadi Hana membentaknya? Tidak seharusnya Hana marah dan menangis seperti tadi. Ibu dan Dewa pasti kecewa dengan sikap Hana." Hana melihat pantulan wajahnya di cermin.
" Hey, kamu ngomong apa sih? Mana mungkin Ibu dan Dewa kecewa, kamu adalah menantu dan istri terbaik untuk kami, jadi jangan berpikir aneh aneh. Wajar kok kalau orang hamil gampang marah dan emosian seperti tadi. Dewa pasti sangat memakluminya." Rani membelai kepala menantunya dengan lembut.
" Kalau Dewa kecewa bagaimana?"
" Tidak akan. Dewa kan sangat mencintai kamu dan juga mereka. Iya kan cucu cucu oma?" tangan halus Rani berpindah mengelus perut Hana yang masih terlihat rata.
" Benarkah Dewa tidak akan marah dan kecewa?" lirih Hana.
" Tentu saja. Mana mungkin Dewa bisa marah dengan istri secantik dan seimut kamu." Rani meyakinkan menantunya.
__ADS_1
" Brak......!" pintu bilik toilet yang sedari tadi tertutup telah terbuka.
Dari dalamnya muncul sepasang anak manusia dengan pakaian dan penampilan yang berantakan. Hana dan Rani dibuat terkejut dan secara refleks menatap pasangan yang tiba tiba saja muncul dari dalam bilik toilet yang sama. Hana sempat melihat paras lelaki itu, lumayan ganteng meskipun kadar kegantengannya masih berada jauh di bawah suami tercintanya dan usianya sepertinya masih berada di awal 20 tahunan.
Si lelaki langsung bergegas keluar sembari merapikan pakaian sekenanya. Mungkin merasa malu karena kepergok keluar dari bilik toilet bersama wanita dengan penampilan yang berantakan. Siapa saja yang melihat pasti langsung bisa menebak apa yang tengah mereka lakukan berdua di dalam bilik yang sama.
Sedangkan si wanita dengan santai dan penuh percaya diri merapikan pakaiannya di sebelah Hana. Tanpa merasa risi malu ia memperbaiki riasan wajahnya. Bibirnya yang sensual dalam sekejap telah tertutup kembali dengan polesan lipstik yang merah menyala.
Hana menatap lekat pantulan wajah wanita itu yang terpampang di cermin di depannya.
" Kenapa kamu melihatku seperti itu? Belum pernah melihat wanita secantik diriku ya." ucap wanita itu yang sadar tengah ditatap oleh Hana. Paras wanita itu memang cantik dan pakaian yang ia kenakan juga bukanlah barang barang yang murah. Sepatu, pakaian, tas, dan juga make upnya adalah barang branded ternama.
" Kamu Vina kan?" tanya Hana memastikan dan mengabaikan ucapan wanita itu.
" Benar, kamu_"
" Oh, aku ingat. Kamu Hana kan?" ucap Vina dengan tersenyum meremehkan.
" Dia teman kamu Sayang?" Rani menatap lekat ke arah Vina. Ia benar benar merasa jijik dengan perilaku Vina yang memalukan itu. Meskipun dulu dia sering melakukan pernikahan kontrak untuk mendapatkan uang, tapi ia tidak pernah melakukan hal memalukan di tempat umum, seperti yang telah Vina lakukan.
" Tentu saja bukan. Kami hanya pernah belajar di SMA yang sama, mana mungkin aku berteman dengan orang miskin seperti dia." ucap Vina penuh dengan nada mengejek.
" Owh syukurlah, karena Ibu sangat tidak rela jika kamu berteman dengan wanita jadi jadian seperti dia." Rani bernapas lega namun terlihat sekali bahwa dia merasa jijik dengan wanita bernama Vina itu.
" Hei, jaga bicara Anda ya. Apa maksud Anda menyebut saya sebagai wanita jadi jadian. Anda tidak lihat tubuh dan wajah saya nyaris sempurna?!" Vina meninggikan nada bicaranya.
" Nyaris sempurna? Ha ha ha...... Anda jangan membuat saya tertawa. Sekali lihat saja saya sudah tahu bahwa apa yang ada di wajah Anda adalah hasil operasi plastik. Mata, hidung, bibir alis, janggut semua hasil rombakan. Dan itu, yang bergelantung di dada Anda, owh sungguh membuat mata saya sakit. Berapa banyak silikon yang Anda tanam di dalamnya? Owh sungguh tidak bisa dibandingkan dengan kecantikan alami menantu saya ini." ucapan Rani sungguh menohok hati Vina karena apa yang diucapkan Rani adalah benar adanya.
" Hei jaga bicara Anda...!! Wanita miskin seperti dia bukanlah tandinganku...!" bentak Vina.
" Anda yang jaga bicara, berani sekali mengatakan menantu saya wanita miskin. Jangan mengira hanya dengan memakai sepatu dan pakaian yang harganya tidak seberapa itu Anda bisa merendahkan orang lain." tatapan Rani penuh dengan emosi. Bagaimana mungkin ada seseorang yang berani menghina menantu kesayangannya di depan matanya, terlebih apa yang menjadi outfit orang itu harganya masih berada di bawah levelnya.
" Bu, sudahlah. Ibu jangan emosi seperti ini." lirih Hana sambil mengusap punggung mertuanya.
" Tapi Sayang...... Huff kamu benar tidak ada gunanya bicara dengan wanita jadi jadian seperti dia." Rani menghela napas dalam.
" Dasar orang miskin yang aneh..." gerutu Vina sambil berlalu meninggalkan toilet.
" Maafkan Ibu, seharusnya tadi Ibu bisa mengontrol emosi agar tidak terbawa suasana. Tapi wanita bernama Vina itu memang sangat menjijikkan dan menjengkelkan." ucap Rani bersungut sungut. Wajah Hana tampak murung seperti memikirkan sesuatu.
" Tante, Hana ada apa? Aku tadi mendengar Tante sempat marah marah?" tanya Laura menghampiri Hana dan Rani setelah menyelesaikan panggilan alam. Sebenarnya saat mendengar Rani bertengkar, ia sudah tidak sabar ingin segera keluar dari bilik toilet, tapi apalah daya panggilan alam memaksanya untuk berlama lama duduk di dalam bilik toilet.
" Tidak ada apa apa. Hanya saja tadi ada makhluk jadi jadian. Vina namanya, kamu kenal dia Laura? Katanya dia bersekolah di SMA yang sama dengan kalian."
" Vina....?" Laura mencoba mengingat.
" Hua..... Huuaaaaa....." tangis Hana tiba tiba pecah.
" Sayang kamu kenapa? Kamu tersinggung dengan ucapan Vina tadi? Jangan dipikirkan ya, cup cup. Nanti Ibu akan memberinya pelajaran." emosi Rabi tersulut lagi.
" Han jangan nangis lagi dong, ucapan Vina jangan diambil hati." bujuk Laura.
" Dia pemeran adegan drakor di toilet sekolah dulu." ucap Hana di sela tangis.
__ADS_1
" Pemeran Drakor di toilet....??" tanya Laura dan Rani hampir bersamaan.