
Entah kenapa waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa kini Hana dan Dewa telah menghabiskan waktu bersama Russell dan Aleena selama satu minggu. Dan ini adalah hari terakhir mereka menginjakkan kaki di negara penuh kanal itu. Meskipun mereka telah mengundur waktu kepulangan mereka selama satu minggu tapi rasanya belum cukup untuk menguntai kenangan indah bersama mama dan papa mereka.
Selama satu minggu ini mereka menikmati kebersamaan mereka dengan suka cita. Seakan tidak ingin menyia nyiakan waktu bersama yang berharga itu mereka mengisinya dengan banyak kegiatan bersama yang mampu menambah rasa kebersamaan dan kasih sayang mereka sebagai sebuah keluarga. Meskipun tidak jarang terdengar perdebatan konyol dari Hana dan Dewa maupun Russell yang mengundang tawa dan itu semua justru menjadi warna yang kian menambah keindahan hari bersama mereka.
Aleena dan Hana tidak lupa mengabadikan tiap moment bersama mereka. Kelak gambar gambar itu akan menjadi bingkai kenangan indah mereka.
" Honey tidak bisakah kalian menambah beberapa hari lagi liburan kalian di sini? Aku masih belum ingin berpisah dengan kalian. Masih ada banyak hal yang ingin kulakulan bersama dirimu." rengek Aleena untuk kesekian kalinya.
" Maaf Ma, sepertinya tidak bisa. Kami sudah libur terlalu lama. Kasihan pekerjaam Dewa yang terbengkalai. Aku juga harus kembali mengajar ke sekolah. Murid muridku pasti juga sudah merindukan diriku. Aku tidak enak hati jika harus menambah cuti lagi Ma, ini saja aku sudah libur hampir dua puluh hari." Hana menolak permintaan mama mertuanya dengan lembut.
" Kamu benar kalian punya tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan seenaknya." dengus Aleena.
"Kalau begitu mari kita buat hari terakhir ini dengan kenangan yang paling indah." seru Aleena dengan semangat.
" Bagaimana kalau kita berkeliling desa Giethoorn dengan berjalan kaki? Eh maaf, aku lupa kalau Mama tidak boleh melakukan aktivitas yang melelahkan. Aku akan menunggu Dewa dan Papa pulang saja."
" Kalau hanya keliling berjalan kaki untuk apa menunggu mereka? Aku masih bisa menemanimu Honey, aku belum separah itu."
" Maaf Ma, bukan maksudku seperti itu. Aku hanya tidak ingin membuat Mama kecapekan." Hana merasa tidak enak hati.
" Heh kenapa harus minta maaf? Ayo kita jalan jalan keliling desa. Bukankah tadi kamu menginginkannya?"
" Baiklah ayo. Tapi Mama jangan memaksakan diri ya? Aku tidak ingin Mama kenapa napa. Kita hanya akan berkeliling dekat rumah saja. Sebentar aku ambil jaket dulu ya Ma. Mama juga haris pakai jaket tebal, udara di sini sangat dingin." Hana bergegas ke kamarnya.
Saat Hana keluar, Aleena telah siap dengan jaket tebalnya.
" Pakai ini Honey, aku merajutnya sendiri." Aleena memakaikan sebuah topi rajut di kepala menantunya.
" Sepertinya topi ini sangat cocok untukmu, kamu terlihat cantik dan menggemaskan." puji Aleena.
" Terima kasih Ma, bolehkah nanti aku membawa topi ini pulang bersamaku?"
" Tentu saja, aku akan sangat senang jika kamu melakukan itu. Ayo kita jalan." Aleena menggandeng tangan Hana.
Mereka berdua berjalan bersama menyusuri keindahan dan ketenangan desa Giethoorn. Melewati jalan setapak dan jembatan kayu yang ada di sekitar kanal.
" Di sini sungguh damai dan indah, mirip dengan negeri dongeng dalam cerita. Rasanya sangat tentram, sebenarnya aku masih betah di sini Ma tapi sayang masih ada tanggung jawab yang harus aku kerjakan." dengus Hana sembari memandang jejeran bunga berwarna warni di sepanjang jalan yang ia lalui.
" Itu juga yang aku rasakan Honey. Awalnya aku memilih tempat ini untuk menunggu kematianku, tapi setelah kehadiranmu dan Dewa aku menjadi ingin hidup lebih lama lagi. Aku masih ingin menguntai kenangan indah bersama kalian dan kelak anak anak kalian. Aku belum ingin mati sekarang Honey."
" Mama bicara apa? Tentu saja Mama akan berumur panjang. Aku akan selalu menyebut Mama dalam tiap doaku. Bukankah Mama adalah manusia yang percaya Tuhan? Sudah semestinya juga Mama percaya dengan mukjizat dan kebesaranNya." Hana menghentikan langkah kakinya dan menatap dalam netra wanita cantik di sampingnya.
" Percayalah Mama tidak akan pergi secepat itu. Asal Mama tahu dalam ajaran agamaku kami melakukan ibadah wajib lima kali dalam sehari. Jadi bisa Mama hitung sendiri seberapa banyak aku meminta kesembuhan dan umur panjang untuk Mama."
" He he, memang doa dinilai dari jumlahnya bukan dari kekhusyukannya?"
" Iya dua duanya. Mama bisa mengibaratkan seorang anak yang meminta uang jajan kepada ibunya. Jika hanya sekali kadang tidak akan diberi, tapi jika diminta berulang ulang pasti diberi." tutur Hana.
__ADS_1
" Logika macam apa itu? Tuhan Maha Pengasih Honey terkadang tanpa kita harus meminta pun, Ia akan memberi sesuatu yang terbaik dan terindah untuk makhlukNya." sanggah Aleena.
" Lah itu Mama paham. Lalu kenapa masih meragukan kebesaran Tuhan."
" Kamu benar tidak seharusnya Mama pesimis. Baiklah mulai detik ini, aku akan menanamkan dalam hati dan pikiranku bahwa aku akan segera sembuh dan berumur panjang. Masih banyak hari hari yang akan aku lalui bersama anak dan cucuku kelak."
" Nah begitu dong, ini baru Mama mertua kesayanganku."
Ya Allah aku mohon berilah keajaiban untuk Mama Aleena. Berilah ia kesembuhan dan umur yang panjang. Engkau Yang Maha Kuasa, aku yakin atas kuasaMu semua bisa terjadi.
" Kita duduk dulu Ma." pinta Hana berhenti di sebuah bangku kayu.
" Baiklah. Ayo ceritakan lagi tentang dirimu Honey. Aku tidak pernah bosan dengan ceritamu."
" Cerita apa? Aku dipermalukan oleh Dewa?"
" Ha ha, apanya yang dipermalukan? Bukankah justru kamu yang berhasil mempermalukan dia dengan gambar sensasionalnya. Ha ha." Aleena teringat kembali kekonyolan anak dan menantunya itu.
" Ha ha ha, iya Mama benar. Sebelumnya aku tidak pernah menduga bahwa Mama sangat baik dan pengertian. Aku sangat nyaman berada di dekat Mama. Mungkin karena alasan itulah Papa Russell jadi cinta mati dengan Mama."
" Kisah kami tidak seindah bayanganmu Honey. Ada banyak kesedihan yang dulu harus kami lalui. Asal kamu tahu dulu aku pernah memaksa dirinya untuk meninggalkan aku yang tidak sempurna karena aku divonis mandul. Kedua orang tuanya terus mendesak agar aku melepas Russell demi kebahagiaannya. Aku menurutinya karena aku tidak ingin dia selalu bersitegang dengan kedua orang tuanya, aku juga ingin agar ia mendapat pendamping terbaik. Di depan matanya aku terpaksa melakukan adegan perselingkuhan agar ia mau meninggalkanku. Dan iya, dia memang pergi tapi itu semua justru sangat menyakitkan untuk kami berdua. Lalu takdir menyatukan kami kembali. Dari sana lah aku sadar bahwa kami saling mencintai sudah selayaknya kami harus bersama untuk bahagia. Kami menjalani hari hari kami dengan penuh cinta, ya meskipun aku akui bahwa akan ada masa dimana kita dan pasangan akan berselisih tentang beberapa hal. Tapi itu sangat wajar. Dan perlu kamu ingat Honey, jika kelak ada masalah di antara kamu dan Dewa jangan pernah memutuskan untuk berpisah, ingatlah tiap kenangan indah yang pernah kalian jalani berdua. Janji ya Honey, apa pun yang terjadi kamu tidak boleh menghancurkan mahligai pernikahan kalian."
" Baiklah Mama aku berjanji aku akan selali mempertahankan pernikahan kami dalam keadaan apa pun." ucap Hana dengan penuh kesungguhan.
" Apa kamu tahu Honey, entah kenapa meskipun kita baru berjumpa beberapa hari tapi aku menganggapmu seperti anak kandungku sendiri. Pertama bertemu dirimu aku langsung merasa cocok, padahal aku termasuk orang yang sulit bergaul dengan orang asing."
" Ha ha ha. Kamu benar mungkin memang itu alasannya."
" Kalian di sini rupanya. Aku dan Dewa mencari kalian di rumah tapi tidak ada." Russell tiba tiba muncul di dekat mereka.
" Aku dan Hana hanya ingin menikmati pemandangan desa ini dengan berjalan kaki. Sepertinya aku sudah lama tidak melakukannya." tutur Aleena.
" Owh begitukah? Tapi kita harus segera kembali ke rumah. Tidak baik terlalu lama berada di luar rumah dengan udara dingin seperti ini. Ayo kita pulang, aku dan Dewa tadi sudah membeli banyak bahan makanan.
" Ayolah Sayang, aku dan Hana baru saja keluar sebentar. Lagi pula ini hari terakhir Hana berada di sini." Aleena enggan untuk segera kembali ke dalam rumah.
" Papa benar Ma, kita harus segera kembali ke rumah. Hidungku sudah mulai agak tersumbat karena dingin. Lagi pula sebentar lagi adalah waktu minum obat Mama kan? Jadi ayo kita kembali." Hana beranjak dari duduknya.
" Sayang kamu di sini rupanya. Huh huh." Dewa datang dengan nafas ngos ngosan.
" Kamu kenapa?" tanya Hana.
" Aku berlari keliling desa demi mencari dirimu." Dewa mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia mengulanginya beberapa kali.
" Hah, hanya seperti itukah kemampuanmu anak muda? Berlari sebentar saja langsung ngos ngosan? Kamu benar benar mempermalukanku keluarga Van Nero." ejek Russell.
" Aku merasa iba dengan dirimu menantuku karena mempunyai suami yang loyo seperti ini. Jangan jangan stamina di ranjang juga."
__ADS_1
" Heh apa maksudmu Pak Tua? Apa perlu aku perlihatkan seberapa perkasanya diriku?" mata Dewa membulat karena ucapan lelaki bermanik hijau seperti dirinya itu.
" Beritahu dia sayang, seberapa dahsyat aksiku di ranjang." Dewa menyorot tajam ke arah istrinya.
" Apanya yang harus kuberitahu? Bahwa dirimu hanya mendiamkan aku saat malam pengantin kita? Atau dirimu yang hanya mampu melakukan push up sebanyak 36 kali lalu ambruk menyerah tak berdaya?" ucap Hana dengan bibir menyeringai.
" What....?!! Seriously??! Ternyata kamu selemah itu my son?" ucapan Russell penuh dengan ejekan.
" Tentu saja tidak. Mana mungkin aku selemah itu..!!" ucap Dewa dengan bersungut sungut.
Rupanya Hana sengaja mengatakan itu semua agar Papa mengolokku. Awas kamu sayang..... Akan kubuat kamu menyesal dengan ucapanmu barusan.
"Akan aku buktikan seberapa kuat diriku sebenarnya."
" Sayang sepertinya kamu sengaja berbicara itu untuk memancing suamimu ini ya? Akan aku buat dirimu menyesali ucapanmu barusan. Bersiaplah untuk menerima gempuranku. Kali ini aku akan membuatmu mengerang meminta ampun." bisik Dewa di dekat telinga Hana membuat Hana bergedik ngeri.
Tanpa permisi Dewa memanggul tubuh Hana di bahunya seperti karung beras.
" AAAA...!!! Apa yang kamu lakukan Sayang?! Turunkan aku...!" teriak Hana.
" Menurunkanmu? Itu tidak mungkin karena kamu yang memintanya, aku akan membuat dirimu berteriak minta ampun." bibir Dewa menyeringai.
" Sayang lepaskan aku. Tadi aku hanya bercanda...!!!!" namun Dewa tidak menggubris rengekkan istrinya dan terus memanggulnya ke arah rumah sambil setengah berlari.
" Mama.... Papa.... Tolong aku...!!" teriak Hana sambil menatap ke arah Russell dan Aleena berharap mereka akan membantunya.
" Dia memang keturunan Russell Van Nero." dengus Aleena.
" Kamu benar. Tapi dulu aku tidak segila itu." pandangam Russell masih terkunci pada sosok anak dan menantunya yang kian menjauh.
" Ayo kita juga pulang." Russell membawa tubuh istrinya ke dalam gendongannya.
" Hai apa yang kau lakukan? Turunkan aku, ini sangat memalukan." Aleena terkejut dengan perlakuan suaminya.
" Kenapa harus malu? Kamu kan istriku dan satu satunya wanita yang aku cintai dengan sepenuh hati." Russell mengecup mesra kening Aleena tanpa melepaskan gendongannya.
" Baiklah, kita akan pulang dengan posisi seperti ini. Aku ingin lihat apa kamu masih kuat menggendongku sampai rumah?" Aleena mengautkan kefua tangannya di leher Russell.
" Kamu meremehkanku sayang. Jangankan hanya menggendongmu sampai rumah, keliling dunia sambil menggendongmu saja_"
" Kamu sanggup?" Aleena memotong ucapan suaminya.
" Tentu saja tidak. Kalau keliling dunia harus naik jet baru bisa."
" Ha ha ha ha...." mereka tertawa bersama.
Akankah keceriaan ini akan tetap ada setelah Hana dan Dewa pergi dari sini?
__ADS_1