
" Ibu..?!" Hana sedikit terkejut dengan kehadiran wanita cantik yang terlihat jauh lebih muda dari usia sebenarnya.
Rani sengaja berpenampilan casual seperti gaya Hana sehari hari yaitu tshirt dan celana jeans, jauh dari model berpakaiannya selama ini yang selalu tampil anggun dan elegan.
" Anak nakal, kenapa tidak memberi kabar ke Ibu tentang calon cucuku yang kembar." Rani berhambur memeluk menantu kesayangannya.
" He he, niatnya ingin memberi kejutan malah sudah ketahuan duluan. Ibu bagaimana bisa ada di sini? Dan mengapa berpenampilan seperti ini?" mata Hana menelisik penampilan ibu mertuanya.
" Kenapa? Apa tidak bagus? Atau Ibu terlihat aneh?"
" Bagus kok Tan, terlihat imut dan cantik. Tante kelihatan muda, seperti masih ABG." puji Laura yang terlihat takjub dengan wajah ibu kandung Dewa yang memang terlihat sangat menggemaskan dengan out fitnya saat ini.
" He he, terima kasih Laura. Bagaimana kabarmu Sayang? Tante dengar kamu akan menikah di waktu dekat ini." Rani hendak memeluk Laura namun terhalang oleh tumpukan baju di tangan Laura.
" Eh maaf Tante tanganku penuh dengan baju, he he. Kabarku sangat baik Tan. Iya benar aku akan segera menikah di bulan ini. Tadinya sich mau nunggu Kak Rayhan menyelesaikan studinya, tapi setelah banyak pertimbangan akhirnya pernikahan kami akan dilangsungkan bulan ini. Lagi pula ini juga sudah mundur dari rencana awal yang seharusnya berlangsung bulan lalu."
" Kamu akan menikah di bulan ini? Kok aku enggak tahu?!" Hana menatap ke arah Laura.
" Sebenarnya tujuan utamaku datang ke rumahmu adalah untuk memberi tahu mengenai pernikahanku. Tapi apalah daya tadi perhatianku justru teralihkan oleh Yusuf." kilah Laura.
" Oh Mbak maaf tolong bungkus semua pakaian ini. Dan ini juga." Rani mengambil alih baju di tangan Laura dan menyerahkan ke pegawai toko beserta memberi sebuah kartu untuk membayarnya.
" Baiklah Nyonya, tolong tunggu sebentar." ucap pegawai itu sembari berlalu bersama kedua temannya untuk segera membungkus pakaian uang jumlahnya tidaklah sedikit.
" Oh aku sampai lupa, dimana Yusuf? Mengapa tiba tiba dia menghilang? Bukankah tadi dia masih di sini?" Hana celingukan mencari sosok sahabatnya yang tiba tiba saja raib dari penglihatannya.
" Yusuf? Kalian bersama Yusuf? Dimana dia sekarang? Ibu dengar dia sakit makanya tidak bisa menemani Dewa bertemu dengan klien penting bersama ayahnya saat ini." Rani ikut mengedarkan pandangan mencari keberadaan anak sambungnya.
" Jadi klien penting yang Dewa maksud tadi_"
" Iya, kolega Ayah tiba tiba saja mengajak melakukan pertemuan mendadak dengan Dewa dan ayah karena besok dia harus kembali ke negaranya untuk urusan yang mendesak. Mendengar itu tentu saja ibu bersemangat untuk ikut ke sini agar bisa bertemu denganmu sekaligus menjenguk Yusuf yang sedang sakit. Tadi ibu langsung mampir ke rumah tapi kalian tidak ada, dan kata mbok Mira kamu dan Laura pergi jalan jalan ke mall untuk membeli baju."
" Oh." Hana masih mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Yusuf.
" Brugh...." mata Hana dan Rani spontan melihat ke arah sumber suara yang ternyata ada seorang wanita tidak sengaja menabrak seseorang memakai outter panjang dan topi yang lebar.
__ADS_1
" Ah, maaf Nyonya saya tidak sengaja." ucap wanita yang menabrak sembari membantu wanita yang terjatuh karenanya.
" Ya ampun Anda sedang hamil?! Oh sungguh saya benar benar minta maaf. Mari saya antar ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan Anda. Saya takut jika terjadi sesuatu dengan kandungan Anda." imbuh wanita itu menatap iba ke arah wanita yang perutnya terlihat besar. Namun ia tidak dapat melihat ekspresi wanita itu karena wajahnya tertutup masker.
Wanita yang diduga hamil besar itu hanya diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Bahkan ia justru semakin menundukkan kepalanya sehingga wajahnya kian tidak terlihat.
" Nyonya Anda baik baik saja kan?" tanya wanita itu dengan khawatir mencoba memastikan keadaan wanita hamil di depannya namun hanya mendapat anggukkan kepala saja.
" Ada apa Nyonya?" Hana dan ibu mertuanya kian mendekat ke arah tempat terjadinya peristiwa.
" Ah, saya tidak sengaja menabrak wanita hamil ini sampai terjatuh. Saya ingin mengajaknya ke dokter untuk memastikan keadaan kandungannya baik baik saja. Tapi dia hanya diam, saya takut juka dia mengalami syok." ujar wanita itu.
" Biar saya bantu." Hana memegang pundak wanita hamil yang belum bergerak dari posisinya.
Deg.
Mata Hana melotot saat mengenali sosok wanita hamil itu.
" Maaf Nyonya dia saudara saya. Biar saya saja yang membantunya, Anda bisa melanjutkan belanja Anda. Dan saya rasa Anda tidak perlu khawatir karena dia baik baik saja. Benarkan Yuyun?" Hana memberi tekanan di pundak wanita hamil itu.
" Kalau begitu saya pergi dulu. Sekali lagi saya minta maaf, saya benar benar tidak sengaja." wanita itu berlalu dengan sedikit ragu.
Hana meraih tubuh wanita hamil itu agar segera berdiri. Dengan sigap dan lincah wanita hamil itu pun berdiri.
" Kamu baik baik saja kan Yuyun? He he....." goda Hana sambil terkekeh.
Rani menatap Hana dan wanita hamil itu dengan heran. Bagaimana mungkin seorang wanita hamil tua bisa melakukan gerakan segesit itu. Ia mengamati wanita itu dengan seksama.
" Kenalkan Bu, dia YU_YUN." ejek Hana.
" Sialan, ini semua gara gara ulahmu dan Laura." gerutu wanita hamil itu dengan suara laki laki yang terdengar familiar di telinga Rani.
" Yu_ Yusuf...??! Ya ampun. Apa apaan kamu, mengapa berpakaian seperti ini? Ibu sampai tidak mengenalimu." Rani menatap lekat ke arah anak sambungnya.
" Ibu ini se_"
__ADS_1
" Kamu terlihat cantik dengan penampilan seperti ini. Riasan matamu juga terlihat indah."
" Benar kan Suf, apa aku bilang? Ups sorry, Yuyun maksudku. Kamu terlihat cocok dengan riasan itu. Dan wow, lets see. Ternyata kamu berimprovisasi dengan penampilan kamu. Selera kamu bagus juga. Outter yang kamu pilih terlihat cocok di tubuh kamu. Ternyata kamu punya bakat di bidang ini ya. Tadi dari rumah saja lagaknya terpaksa banget berpenampilan seperti ini, tapi sekarang terlihat nyaman banget." Laura mencolek pinggang Yusuf.
Mulut Yusuf menganga lebar namun tak terlihat karena tertutup oleh masker.
" Kamu_"
" Cantik, pengertian, baik hati dan penyayang. Terima kasih atas pujiannya, he he." ucap Laura dengan cepat memotong perkataan Yusuf. Hana mengacungkan kedua jempolnya.
"What??! Siapa yang mau memujimu. Kalian bedua memang sahabat sahabat tak berakhlak." geram Yusuf sembari melepas topi dan membuangnya dengan kasar.
" Eh, kenapa topinya dibuang Miss Yuyun? Padahal cocok banget loh." ledek Hana.
Yusuf tadi sengaja memakai outter dan topi besar untuk mengecoh Hana dan Laura agar tidak mengenalinya. Terlebih lagi ia tidak mau kepergok oleh ibu sambungnya dengan penampilan seperti itu, tapi apalah daya kenyataan berbicara lain tidak sejalan dengan rencananya.
" Miss Yuyun?! Terus saja kalian membullyku. Ah menyebalkan." Yusuf melepas ikatan bola di perutnya.
" Bola sialan...!" bola basket itu melayang menjadi sasaran emosi Yusuf.
" Eh, sudah sudah. Cepat ganti pakaianmu. Ayo Ibu bantu hapus make up di wajahmu." tutur Rani dengan lembut.
" Tidak perlu Bu, aku bisa melalukannya sendiri."
" Kamu yakin? Itu waterproof lho Sayang, tidak bisa hilang hanya dengan air. Lagi pula tadi Dewa bilang bibir kamu sedang sakit kan? Ibu bantu bersihkan ya." imbuh Rani.
" Huft, baiklah." Yusuf menghela napas kasar dan berlalu mengikuti langkah ibunya.
" Ha ha ha.... Bye bye miss Yuyun...." Hana dan Laura kompak melambaikan tangan mereka.
" Aduh perut aku sampai sakit melihat Yusuf kayak gitu. Kita keterlaluan jahil banget enggak sih Han?"
" Kita? Kamu saja kali. Yang make upin Yusuf kan kamu. Aku cuma minta dia berpakaian seperti ibu hamil doang." ujar Hana enteng sambil berlalu.
" Aku?! Apa maksudmu? Bukankah ini semua idemu?" Laura geram dengan penuturan Hana yang seakan ingin lepas tangan begitu saja.
__ADS_1