Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Makan Malam


__ADS_3

Akhirnya gue bisa jalan sama Hana. Aneh, benar benar aneh gue rasanya selalu pengin ketemu sama Hana, seakan Hana sudah menjadi pusat dari hati dan kehidupan gue. Padahal baru kemarin malam jalan bareng, ketemu di mimpi, terus baru saja gue samperin dia tapi rasanya tak pernah cukup. Hana memang sangat istimewa di hati gue.


Tanpa sadar bibir Dewa terus menyunggingkan senyum.


Nenek Ira heran melihat kaos dan celana yang Dewa pakai. Sungguh bukan gaya pakaian Dewa selama ini, kaos berwarna pink dan celana boxer pendek seperti pakaian wanita. Ditambah Dewa yang tersenyum tidak jelas sembari duduk di teras rumah.


Namun rasa heran Nenek Ira berubah menjadi haru saat melihat wajah Dewa yang terlihat sumringah dengan senyum yang tak henti menghiasi wajah tampannya.


Sudah lebih dari 2 tahun ini nenek Ira tidak melihat senyum semanis itu di wajah Dewa. Mata sayu nenek Ira terus menatap lekat ke si pemilik senyum. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya yang mampu menggerakkan kedua bibirnya untuk ikut membentuk sebuah lengkungan.


Ya Tuhan tolong jaga senyum di wajah cucuku ini, jangan pernah Kau biarkan senyum ini hilang.


Akhirnya kau bisa tersenyum lagi Dewa. Sudah terlalu lama aku kehilangan pemandangan indah ini. Semoga seiring kembalinya senyumanmu, kembali pula sosok Dewa yang seperti dulu.


Setetes air mata lolos dari pelupuk nenek Ira. Senyum Dewa menghilang saat menyadari bahwa nenek Ira tengah berdiri di dekatnya sembari tersenyum dan menitikkan air mata.


" Ne- Nenek sudah pulang?" sapa Dewa merasa agak canggung karena kepergok nenek Ira sedang tersenyum sendiri di teras rumah.


Nenek Ira merasa geli dengan gelagat Dewa.


" Iya tadi dari pasar, belanja ikan gurame kesukaan kamu." jawab nenek Ira dengan senyum yang terus terkembang.


" Nenek masuk dulu ya, oh ya kamu sudah sarapan? Di kulkas masih ada sisa kue bolu semalam, kata kamu semalam tidak boleh dihabiskan. Di meja juga masih ada lauk. Mau Nenek siapkan buat sarapan?"


" Tidak usah Nek, nanti aku makan kue bolunya saja. Tadi aku sudah sempat sarapan."


"Sudah sarapan?" tanya nenek Ira heran.


"Huum." jawab Dewa singkat sambil berlalu ke dalam kamarnya sengaja menghindar dari nenek Ira.


Semoga engkau selalu dilimpahi kebahagiaan Dewa. Nenek tak akan pernah berhenti berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaan kamu. Semoga hubungan kamu dengan Rani bisa secepatnya membaik selayaknya hubungan ibu dan anak.


Nenek Ira menata barang belanjaannya di dapur. Tak berselang lama Dewa masuk ke area dapur dengan memakai kaos dan celana yang telah diganti.


" Kok diganti? Padahal tadi terlihat imut loh." goda nenek Ira.


Dewa tidak menjawab, dengan segera mengambil kue bolu di kulkas dan berlalu meninggalkan nenek Ira.


*


*


*


Di dapur, Hana dan ibunya sedang berkutat dengan bahan makanan. Mereka sibuk menyiapkan masakan untuk makan malam.


" Ibu pasti masih capek, kenapa harus masak sih Bu? Kan bisa beli masakan matang saja?" tanya Hana sembari membantu ibunya membersihkan ayam.


" Enak masak sendiri Han, lagian ada kepuasan tersendiri saat orang orang yang kita sayangi memakan masakan kita. Masaknya kan pakai cinta jadi lebih nikmat." jelas ibu Hana.


" Iya nikmat, tapi kalau cuma pakai cinta enggak bakalan matang harus pakai tenaga dan kompor juga." kerus Hana.

__ADS_1


" Itu juga betul, udah cepat selesaikan bersihin ayamnya sebentar lagi petang."


" Toko roti nya rame ya Bu?"


" Alhamdulillah lumayan, pendapatan kita juga meningkat. Pesanan juga semakin banyak."


" Kenapa Ibu enggak tambah karyawan lagi sih, biar tokonya bisa tambah berkembang."


" Ibu memang sudah punya rencana buat tambah karyawan Han, besok Senin ada 3 karyawan baru. Jadi entar berempat sama Lia, liburnya bisa gantian."


" Nah begitu dong, jadi Ibu enggak terlalu kecapekan."


" Halah bilang saja kamu seneng kalau Minggu kamu sama Evi biar bisa jalan jalan enggak harus jaga toko roti, iya kan?"


" He he he, Ibu memang paling tahu." jawab Hana sambil mengacungkan jempolnya.


Beberapa saat kemudian Hana dan ibunya telah menyelesaikan aktivitas memasak. Setelah sholat maghrib Hana dan Evi menghidangkan masakan di atas meja untuk di nikmati bersama sama. Hanya menu yang sederhana, ayam goreng dan sayur asam asam dilengkapi dengan sambal tomat racikan Ibu Hana.


Mereka berempat terlihat sangat menikmati makan malam itu. Sesekali diselingi dengan candaan dan obrolan. Keluarga Hana memang sangat harmonis, saling menyayangi dan mengasihi. Ibu Hana mampu menjadi ibu sekaligus sahabat untuk anak anaknya.


" Tok tok tok." terdengar seseorang tengah mengetuk pintu.


Ibu Hana hendak beranjak dari duduknya, namun dicegah oleh Hana. " Biar Hana saja Bu."


" Ceklek." Hana membuka pintu rumahnya.


" Loe ? Ngapain loe ke sini?" tanya Hana tanpa rasa bersalah.


" He he iya gue lupa, maafin ya." Hana tersenyum polos.


Kekesalan Dewa tidak mampu bertahan lama, rasa dongkol di hatinya sirna begitu saja begitu melihat senyum manis di wajah Hana.


"Siapa Han?" teriak ibu Hana.


" Kak Dewa Bu."


" Suruh masuk, jangan dibiarkan di luar. Banyak nyamuk." tambah ayah Hana. Keluarga Hana memang sangat memulyakan tamu dan selalu ramah kepada siapa saja.


" Ayo masuk." ajak Hana dengan ramah. Dewa tersenyum mengiyakan, ia berjalan mengekor di belakang Hana.


" Ayo ajak makan bareng sekalian." ucap ibu Hana dengan lembut sembari menyiapkan piring untuk Dewa.


" Selamat malam Om, Tante." sapa Dewa dengan sopan.


" Ayo silakan duduk Nak, kita makan bareng bareng. Menu seadanya enggak apa apa ya, jangan sungkan sungkan." ajak ayah Hana.


" Terima kasih Om, maaf ngrepotin dan mengganggu acara makan malam Om dan Tante."


" Sudah enggak usah sungkan, ayo makan. ini masaknya pakai cinta loh, dijamin enak." ucap ibu Hana sembari menyerahkan piring berisi nasi dan lauk kepada Dewa.


" Pakai cinta? Memang bisa matang tanpa tenaga dan kompor? Terus yang bikin enak tuh bukan cinta tapi racikan bumbunya." celetuk Hana.

__ADS_1


" Sudah enggak usah didengarkan kata kata Hana, ayo cepat dimakan keburu dingin." timpal ibu Hana.


Dewa mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Dan benar saja, makanan itu terasa sangat nikmat di mulutnya. Dia memakan dengan lahap.


Dalam diam Hana terus memandangi Dewa yang tengah menikmati makanan di piringnya. Ada rasa bahagia bisa menikmati makan malam bersama keluarga dan orang yang dicinta.


Hana selalu senang untuk berlama lama menatap dalam manik Dewa. Ada begitu banyak cinta di tatapan itu, namun sayang Hana bukan orang yang mudah berkata manis dan mengumbar rasa cinta. Ia ingin semua berjalan sewajarnya, tanpa harus ada sesuatu yang berlebihan.


Tanpa terasa mereka telah menyelesaikan makan malam. Hana dan Evi membereskan meja makan. Ayah Hana mengajak Dewa duduk di ruang tamu sembari mengobrol.


" Oh saya sampai lupa menanyakan apa maksud kedatangan Nak Dewa ke sini."


" Maaf Om, kalau boleh saya mau mengajak Hana buat jalan bareng." ucap Dewa to the point.


Ini kali pertama bagi Dewa meminta izin seorang ayah untuk jalan bareng anak gadisnya. Selama ini belum pernah mengantar ataupun menjemput seorang gadis di rumahnya, terlebih meminta izin dari orang tuanya.


" Nak Dewa pacar Hana?" telisik ayah Hana.


" Maunya begitu Om, tapi Hana enggak mau katanya biar mengalir saja."


" Kamu mencintai Hana?"


"Deg...."


" Iya Om, tapi saya tidak akan pernah memaksa Hana.


Saya akan mengikuti keinginan Hana untuk menjalani semua ini dengan wajar tanpa perlu ada ikatan pacaran." ucap Dewa dengan gamblang tanpa ada keraguan.


Ayah Hana tersenyum mendengar pernyataan Dewa yang lugas.


" Saya tidak keberatan, saya juga pernah muda. Tapi ingat kamu harus menjaga Hana baik baik. Jangan pernah berbuat sesuatu yang melanggar agama maupun norma yang berlaku. Kalau sampai kamu melanggar saya tidak akan pernah memaafkan kamu. Dan jangan sampai mengganggu belajar kalian. Mengerti? Saya bisa halus tapi saya juga bisa berubah sangat galak. Paham kamu?"


"Iya Om, saya paham. Saya akan menjaga kepercayaan Om. Saya tidak akan pernah menyakiti maupun berbuat yang tidak senonoh terhadap Hana." ucap Dewa dengan penuh kepastian.


Ini adalah janji pertama gue terhadap seorang ayah. Sungguh aneh mengapa gue merasa punya kewajiban untuk menjaga Hana. Tak seperti cewek cewek yang lain yang cuma gue deketi untuk senang senang dan ***** belaka.


"Jangan galak galak Yah, nanti Nak Dewa malah takut." Ibu Hana tersenyum menyimak obrolan kedua lelaki itu sedari tadi.


" Enggak apa apa Tante, saya malah senang bisa ngobrol dengan Om. Lagian saya juga enggak bakalan bisa berbuat macam macam sama Hana, orang dia jago banget berantemnya. Kemarin saja dia menghajar 4 orang sekaligus dengan mudahnya." ucap Dewa dengan polos.


" Ya Allah Gustiiiiii... HANA.....!" teriak ibu Hana mengguncang suasana damai malam . Dewa kaget dan hanya melongo mendengar teriakkan ibu Hana.


Dan tak berselang lama muncul Hana yang berlari tergopoh gopoh dari dalam rumah menghampiri ibunya.


" Ada apa Bu?" tanya Hana penuh dengan kecemasan.


" Katakan yang sejujurnya, kemarin kamu habis berantem ya? Kamu benar benar mau saya kutuk jadi panci gosong?" hardik ibu Hana.


Sialan, kok Ibu bisa tahu? Siapa yang ngadu sama ibu?


Hana menatap tajam ke arah Dewa. Paham dengan maksud Hana, Dewa hanya bisa meringis memperlihatkan deret giginya.

__ADS_1


__ADS_2