Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Ojek Pagi


__ADS_3

Ruang makan keluarga Hana terlihat lebih rame dari biasanya. Di atas meja makan tersaji berbagai makanan hasil olahan ibu Hana dan bermacam macam buah segar. Mereka menikmati sarapan dengan lahap dan penuh kegembiraan.


" Tambah lagi Dewa?"


" Terima kasih Bu, tapi perut Dewa sudah kenyang banget."


"Ibu? Mengapa kamu memanggil ibu? Sejak kapan ibuku jadi ibumu?" sorot mata Hana penuh selidik ke arah Dewa.


" Sejak hari ini. Kamu lupa ya kalau semalam kamu sudah terima lamaran aku, dan sebentar lagi acara pernikahan kita akan dilangsungkan. Benar kan Bu?" Dewa meminta dukungan calon mertuanya.


" Iya nak Dewa benar. Jadi kamu harus baik baikin dia karena dia sudah jadi mantu kesayangan Ibu. Awas kalau kamu berani macam macam, ibu kutuk kamu beneran jadi panci." mata Hana membulat.


" Ayah....." Hana meminta dukungan dari ayahnya.


" Kata kata Ibu benar kok, sebentar lagi Dewa akan menjadi suami kamu sudah sewajarnya kalau dia memanggil kami ayah dan ibu."


" Oh ya Nak, bagaimana dengan orang tua kamu? Kamu sudah mengabari mereka tentang lamaran kamu?"


" Sudah kok Yah, mereka berpesan agar ayah dan ibu segera mencari hari baik untuk melangsungkan pernikahan saya dan Hana. Mungkin sebentar lagi mereka akan menghubungi ayah dan ibu untuk membahas lebih lanjut. Sebelumnya saya dan orang tua saya memohon maaf karena orang tua saya belum bisa datang ke sini dan hanya bisa bicara via ponsel. Tapi mereka berjanji untuk segera mungkin pulang ke sini agar bisa membahas semua ini lebih lanjut. Yang jelas mereka sangat mendukung hubungan saya dengan Hana dan meminta agar bisa secepatnya menggelar acara pernikahan." jelas Dewa dengan penuh keyakinan.


" Kamu beneran sudah yakin mau menikah sama Hana? Status sosial kita berbeda lho, jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari." tanya ayah Hana penuh dengan keseriusan.


"Saya sudah sangat yakin Yah, jika tidak yakin saya tidak mungkin melamar Hana. Dan masalah status sosial, berbeda apanya Yah? Justru saya sangat berterima kasih kepada ayah sekeluarga karena sudah mau menerima saya dengan segala kekurangan dan keburukan saya. Saya tegaskan sekali lagi saya sangat mencintai Hana dan saya berjanji akan berusaha membahagiakan Hana semaksimal mungkin. Saya mohon agar ayah dan ibu selalu merestui dan mendoakan kebahagiaan kami." jawab Dewa dengan penuh kesungguhan. Hana menatap lekat wajah kekasihnya dengan mata berkaca kaca penuh rasa haru dan bahagia.


" Ah so sweet,,, ibu jadi terharu mendengarnya."


" Lalu bagaimana dengan kamu Hana? Kamu sudah yakin dengan keputusan kamu untuk menerima Dewa menjadi pendamping hidup? Sudah dipikirkan baik baik? Sudah siap mengarungi sisa hidup kamu bersama Dewa dalam suka dan duka?" tanya ayah Hana menatap anak sulungnya. Hana tertohok dengan pertanyaan ayahnya yang tiba tiba.


" Jelas Hana sudah yakin lah Yah, wong nak Dewa saja gantengnya enggak ketulungan. Benar kan Hana?"


"Ibu apaan sih..." dengus Hana berusaha menyembunyikan rasa malunya.


" Bagaimana Hana kamu sudah yakin belum?" ayah mencari kepastian.


" Bagaimana Yank? Kamu sudah yakinkan dengan keputusan kamu untuk menikah denganku?"


" Jawab dong Han, enggak usah malu malu meong." timpal ibu Hana.


Ini apaan sich kok malah nyerang semua. Aku sudah yakin banget sama Dewa, tapi gimana cara jawabnya? Aku kan malu.


Ketiga pasang mata tertuju ke arah Hana menunggu jawaban darinya.


" I- iya, saya sudah yakin." jawab Hana masih dengan menunduk malu.


" Sudah yakin apa?" desak ibu Hana yang makin bersemangat untuk menggoda anaknya.


" Iya-itu-tadi." lirih Hana.


" Ah sudahlah, Ibu pasti sengaja mau menggoda aku kan?" nada suara Hana meninggi.

__ADS_1


Dewa dan orang tua Hana tersenyum geli melihat Hana yang salah tingkah dan wajahnya yang sudah memerah sedari tadi.


Hana bergegas menghabiskan makanan di piringnya.


" Aku sudah selesai sarapan, mau berangkat dulu." Hana menenggak air putih di gelasnya.


" Buru buru banget Han. Tumben, biasanya agak siangan berangkatnya." tanya ayah Hana.


" Hari ini aku ada ulangan di jam pertama Yah." kilah Hana.


" Kalau begitu aku antar ya. Ini aku juga sudah selesai makannya." Dewa beranjak dari duduknya.


" Enggak usah, aku berangkat sendiri saja kamu pasti masih capek. Lagian aku pakai rok susah kan kalau harus bonceng motor sport kamu."


" Ya elah sayang, kalau untuk kamu enggak ada kata capek, jarak puluhan ribu kilometer saja aku lewati apalagi cuma ke sekolahan yang hanya berjarak 10 kilometer. Sudah ayo buruan katanya mau ulangan di jam pertama?"


" Kamu mau naik motor sport sambil pake sarung kayak gitu? Memang bisa?" Hana memandangi penampilan Dewa.


" Bisa, naik motor matic kamu. Atau kamu mau naik mobil saja. Aku lihat di garasi ada 2 mobil. Enggak apa apa kan Yah kalau aku pinjam mobilnya buat antar Hana."


" Jelas enggak apa apa, itu kan mobilnya Hana. Pakai saja toh jarang dipakai sama Hana." ayah Hana tampak tidak keberatan.


" Ya sudah pakai motor maticku saja, malas banget kalau ke sekolah harus naik mobil. Ribet, macet, yang ada malah bikin telat."


Setelah berpamitan Hana dan Dewa naik ke atas motor matic Hana.


" Hati hati di jalan, enggak usah ngebut." teriak ibu Hana sambil melambaikan tangan. Selang beberapa waktu disusul ayah Hana berpamitan untuk berangkat kerja.


Motor matic hitam milik Hana melaju dengan pelan di atas jalanan aspal yang rame. Suara klakson dan knalpot mobil dan kendaraan lainnya meciptakan irama khas kesibukan jalanan di pagi hari.


Hana duduk menyamping di jok belakang sembari melingkarkan tangan kanannya di pinggang Dewa. Suasana bising jalanan tidak mengganggu suasana hati pasangan kekasih yang tengah kasmaran.


Dewa menatap wajah calon istrinya melalui spion yang telah ia alih fungsikan. Bibirnya tak henti menyunggingkan senyum. Perpisahan selama 8 tahun justru membuat cintanya kian membesar.


Bisa berboncengan naik motor sambil dipeluk dari belakang oleh orang tercinta menjadi kebahagiaan yang tak ternilai bagi Dewa. Mereka terlihat seperti sepasang suami istri yang sangat harmonis, dimana si suami mengantar sang istri bekerja dengan naik motor.


" Makasih ya sayang." ucap Dewa sembari sedikit menengok ke belakang.


" Untuk?" Hana merasa bingung.


" Untuk semuanya."


Aku juga berterima kasih untuk semua yang telah kau lakukan padaku Dewa. Terima kasih karena kau telah menjaga cinta kita selama 8 tahun ini. Hatiku tidak salah karena telah memilihmu.


Tanpa sadar bibir Hana mengulas sebuah senyum. Tangannya semakin erat melingkar di pinggang Dewa. Sebuah pemandangan yang membuat iri para jomblo.


" Kita ke hotel saja yuk...."


" Enggak usah ngayal di pagi hari." tangan Hana mencubit perut Dewa namun sepertinya cubitannya tidak mempan.

__ADS_1


Sial perutnya keras banget, pasti terlihat sispack. Aduh apa apan sih kok pikiran aku malah ngelantur mesum kayak gini.


Hana menarik tangannya dari pinggang Dewa namun ditahan oleh tangan si pemilik pinggang.


" Enggak usah marah, aku cuma bercanda. Tuh pintu gerbang sekolahnya udah kelihatan." Dewa menepikan motornya agak jauh dari gerbang di tempat yang agak sepi sesuai permintaan Hana.


" Terima kasih." Hana turun dari motor.


" Gitu doang? Ongkosnya mana?" goda Dewa.


" Ongkosnya berapa bang ojek?"


" Bukan berapa tapi apa."


"Kiss me." Dewa memajukan wajahnya ke arah Hana.


" Apaan sih, enggak usah aneh aneh deh."


" He he, nanti pulangnya aku jemput ya?"


" Iya, aku masuk dulu ya. Hati hati di jalan jangan sampai jatuh."


" Sebegitu khawatirnya kamu ke aku jadi enggak tega deh buat ninggalin kamu sayang."


" Pagi pagi enggak usah gombal, aku khawatir kalau motor aku rusak ditabrakin kamu. Sudah sana, aku mau masuk kelas dulu. Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam." Dewa menyodorkan tangannya.


" Apa?"


" Ya salim lah, dibiasakan mulai sekarang. Ayo."


Hana pun menyambut uluran tangan Dewa.


" Enggak dicium tangannya?"


" Enggak usah nglunjak." ketus Hana.


Dalam seperkian detik mulut Hana malah dibuat menganga karena Dewa telah mengecup lembut tangannya.


" Cie cie Bu Hana, tumben ada yang nganter. Tapi kok enggak modal sih Bu cowoknya. Masak nganter pakai motor Ibu. Tahu kayak gitu tiap hari saya jemput saja Bu pakai motor saya, lebih keren." celetuk seorang murid laki laki yang tengah mengendarai sebuah motor sport berwarna merah.


Dewa menatap tajam murid itu, matanya seolah siap untuk menerkam.


Hana mengeratkan genggaman tangannya sambil menggelengkan kepalanya pelan, senyuman manisnya sekejap membuat amarah Dewa menguap entah kemana.


"Sudah sana buruan pulang. Lanjut lagi tidurnya kamu pasti masih capek dan ngantuk kan?" Hana melepas genggaman tangannya.


" Baiklah aku pulang dulu, kamu baik baik kalau ngajar ya."

__ADS_1


Hana melenggang menuju gerbang sekolah, meninggalkan Dewa yang masih terpaku di tempatnya. Setelah sosok Hana masuk ke dalam sekolah, barulah Dewa melajukan motornya.


__ADS_2