
Waktu masih melaju tanpa pernah mau berhenti dan kompromi, meskipun hanya untuk sejenak. Roda hidup juga terus berputar tanpa pernah bisa diterka kapan kita akan di puncak atau pun kapan kita berada di titik terendah. Kadang kita tertawa dan tersenyum bahagia, namun akan ada masa di mana kita berurai air mata. Setiap manusia pasti akan mengalami suka maupun duka.
Jika kita bisa memilih pasti kita akan selalu memilih bahagia dan menghindari nestapa. Namun sayang kita hanya bisa menjalani apa yang telah menjadi ketetapan Sang Pencipta. Karena sesungguhnya nasib dan kehidupan kita berjalan sesuai dengan rencana Nya.
Tidak bisa dipungkiri dan dihindari bahwa Tuhan menciptakan manusia bukan sebagai makhluk yang abadi. Keberadaan kita terbatas oleh waktu. Dan kapan waktu kita harus berakhir hanya Tuhan lah yang tahu.
Baru beberapa bulan Dewa hidup dalam kebahagiaan. Namun kini duka kembali menghampirinya. Nenek yang selama ini menemani dan merawatnya kini harus berpulang kepada Sang Pencipta. Di atas pusaran yang masih basah, Dewa terduduk lemas terisak tanpa suara. Matanya terlihat merah namun tak mengeluarkan air mata.
Terngiang jelas di benak Dewa bagaimana nenek Ira mengurusnya dengan penuh kasih sayang. Meskipun beberapa tahun terakhir sikap Dewa berubah namun sejatinya rasa sayang di hatinya untuk nenek Ira tak pernah berubah. Karena bagaimana pun nenek Ira adalah sosok yang sangat berarti di hidupnya. Sosok yang selalu setia menemani Dewa. Ia yang telah merawat Dewa semenjak masih bayi, mengajari berjalan, makan, dasar agama dan etika. Masih terbayang kenangan indah bersamanya.
Masih terekam di otak Dewa kebersamaan terakhir bersama nenek Ira.
Tidak seperti biasanya, malam itu tiba tiba nenek Ira mendatangi Dewa di kamarnya.
" Belum tidur Nak?" sapa nenek Ira sembari mendekati Dewa yang tengah memainkan ponselnya di tempat tidur.
" Tumben Nek, ada apa? Biasanya jam segini sudah tidur."
Nenek hanya tersenyum. Bibirnya melengkung ke atas di antara pipi keriputnya.
" Nenek boleh minta dipijit enggak, badan nenek kok rasanya pegal pegal."
Kok tumben nenek minta dipijit?
" Nenek sakit?" Dewa mencemaskan keadaan nenek Ira karena selama ini nenek Ira tidak pernah mengeluh seperti ini.
" Enggak, cuma pegal saja. Sekali kali pengin dipijit sama kamu."
" Ya sudah sini Dewa pijitin." Dewa mulai memijit pelan bahu nenek. Ada perasaan aneh yang tak mampu ditafsirkan saat Dewa menyentuh tubuh renta nenek Ira. Tiba tiba muncul rasa takut kehilangan yang teramat. Dewa berpindah memijit kaki nenek Ira yang tinggal tulang diselimuti kulit keriput. Tak terasa pipinya telah basah oleh cairan bening yang sedari tadi ia coba tahan di pelupuknya agar tak keluar.
" Nenek masih ingat dulu pertama kali kita bertemu kamu masih bayi, ganteeeeng banget. Ibumu masih sangat muda kala itu. Nenek sangat bahagia karena Allah mengirim kamu dan ibumu. Sebelumnya nenek hidup sebatang kara tidak punya sanak saudara maupun kerabat. Kalian sudah nenek anggap seperti cucu sendiri. Kalian adalah jawaban dari doa doa nenek. Sebenarnya nenek juga keberatan saat ibumu memutuskan untuk pergi mencari nafkah dengan jalan seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi karena keadaan yang memaksa. Nenek tahu kamu marah dan kecewa. Tapi itu semua ibumu lakukan demi dirimu." Nenek Ira mengusap cairan bening di matanya.
" Dewa, nenek mohon bukalah pintu hatimu untuk ibumu. Jangan biarkan rasa marah dan kecewa di hatimu terus membara. Ibumu sangat menyayangimu Nak. Dan nenek yakin jauh di dalam lubuk hatimu juga ada perasaan itu. Berdamailah dengan ibumu. Sebenarnya selama ini meskipun kamu menolak untuk menemui dan berbicara dengannya. Diam diam nenek sering mengirim foto dan video kamu untuk mengurangi rasa rindunya."
__ADS_1
Dewa diam tak bersuara, masih melanjutkan memijit kaki nenek Ira atau lebih tepatnya mengelus karena Dewa tak tega menekan bagian tubuh yang sudah tak berdaging itu. Dengan sekuat tenaga Dewa mencoba mengontrol cairan di pelupuknya agar tidak meluncur dengan deras.
" Hufff." nenek Ira membuang nafasnya.
" Sudah, sudah, terima kasih ya sudah mau memijit nenek. Sudah malam nenek tidur dulu ya, kamu juga tidur jangan begadang." nenek pergi meninggalkan kamar Dewa.
Sepeninggal nenek Ira, Dewa terisak di kamarnya. Entah mengapa perkataan nenek Ira sangat mengena di hati. Tiba tiba muncul rasa takut kehilangan di hatinya.
Pukul 4 pagi, Dewa sudah membuka matanya. Ia memang bangun lebih awal dari biasanya karena ingin menyiapkan sarapan untuk nenek Ira. Dewa menyempatkan sholat Subuh setelah menyelesaikan masakannya. Lalu dibukanya semua jendela dan pintu agar udara pagi yang sejuk masuj ke dalam rumahnya.
Aneh, biasanya jam segini nenek sudah bangun. Apa nenek beneran sakit ya?
Muncul penasaran di hati Dewa.
Gue bangunin saja dech, biar sholat dulu.
" Tok tok tok." tidak ada sahutan.
" Nek..... Nenek."
" Ceklek." Dewa membuka pintu kamar nenek Ira.
Tampak sosok nenek Ira masih tertidur pulas. Dewa mendekati tubuh renta itu.
" Nek, sholat dulu." sembari menepuk pelan kaki yang semalam ia pijit, namun tetap tidak ada respon dan terasa dingin.
Dipandanginya wajah penuh kerutan itu lekat lekat, tampat pucat.
" Deg deg deg deg." jantung Dewa berdegub tidak karuan. Muncul keringat dingin, bibirnya terasa sulit digerakkan.
" Ne_ ne nek...." suara Dewa tersendat sendat.
Tanpa aba aba air matanya terus mengalir menganak sungai. Dengan gemetar ia menyentuh wajah yang selama ini telah menemaninya. Nafas Dewa tersengal menahan gemuruh di hatinya.
__ADS_1
" Ti_ dak, ti_ dak."
" Nenek...!" Dewa berteriak sekencang kencangnya. Pecah tangis Dewa. Didekapnya erat tubuh yang sudah tidak bernyawa itu.
" Nenek,,, nenek,,, jangan pergi nek,,, jangan pergi..." suara Dewa meraung raung.
Tak berselang lama para tetangga sekitar rumah mendatangi rumah Dewa. Mereka bersama sama menyiapkan segala keperluan untuk pemakaman nenek Ira, mengubah kediaman Dewa menjadi rumah duka.
" Sabar Dewa, sabar. Nenek Ira sudah pergi, kamu harus mengikhlaskan. Jangan menangis seperti ini." bujuk salah seorang warga sambil mendekap dan menepuk nepuk bahu Dewa.
" Yang ikhlas, yang kuat. Ayo segera kita persiapkan pemakaman. Jangan terlalu ditangisi, kasihan nenek Ira."
Dewa mencoba menghentikan tangisnya. Berulang kali ia mengambil nafas dalam hingga tangisnya reda.
" Sekarang hubungi kerabat terdekat. Kamu bisa kan?"
Dewa menganggukkan kepalanya. Ia menguatkan hatinya.
Dewa mencoba menghubungi seseorang di ponselnya.
IBU, nama kontak di ponsel Dewa yang sudah 2 tahun ini tak pernah ia sentuh.
Sebenarnya ada keraguan untuk menghubungi ibunya. Namun tak bisa dipungkiri dan dihindari bahwa kerabat terdekatnya saat ini hanyalah ibunya, wanita yang telah mengandung dan melahirkannya.
Mungkin ini adalah rencana Tuhan untuk mulai menghubungkan ikatan ibu dan anak itu setelah sempat terputus beberapa tahun.
" Tuttt tutttt ...." hati Dewa berdegup menanti panggilannya tersambung.
" Hallo." suara wanita mejawab panggilan di seberang sana yang tak lain adalah ibunya.
" Ha halo." jawab Dewa dengan ragu.
" Dewa kau kah itu Nak?" Ibu Dewa terdengar sangat gembira bisa mendengar suara anak yang selama ini menolak untuk bicara dengannya.
__ADS_1
" Bagaimana kabarmu? Sehat kan? Bagaima_" Ibu Dewa tidak sempat menyelesaikan ucapannya.
" Cepat pulang nenek meninggal." lirih Dewa dan segera mengakhiri panggilannya.