Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Dokter Raisa 2


__ADS_3

" Ha ha ha, ternyata kamu orangnya asyik juga ya." ucap dokter Raisa setelah tertawa untuk ke sekian kali karena mendengar lelucon dari Yusuf. Dan sebutan anda dan saya telah berubah menjadi kamu dan aku dengan sendirinya.


" Kamu juga. Aku tidak mengira kalau seorang dokter seperti kamu akan mempunyai selera humor kayak gini."


" Maksudmu? Dokter enggak bisa bercanda? Kamu kira kami ini apa? Robot? Justru kami sebagai dokter butuh dan punya banyak lelucon untuk mengurangi tekanan dan stress kala bekerja. Terlebih aku sebagai dokter kandungan harus pandai pandai memberi lelucon untuk para ibu hamil yang akan melahirkan agar tidak terlalu tertekan sehingga mengakibatkan tekanan darah kian meningkat. Kami harus bisa merangkap sebagai psikolog agar mampu menenangkan perasaan pasien kami." ujar dokter Raisa.


" Oh sepertinya sangat seru. Kamu pasti mempunyai banyak pengalaman menarik."


" Ya, ada banyak pengalaman lucu dan mengharukan. Tapi tak jarang juga kami mengalami pengalaman yang menyedihkan."


" Pasti saat kalian gagal menyelamatkan bayi atau ibunya ya?"


" Iya, saat kami gagal menyelamatkan keduanya itu adalah moment yang paling menyedihkan. Kami selalu berjuang sekuat tenaga agar baik bayi maupun ibunya bisa melewati persalinan dengan selamat. Pernah ada kejadian yang paling menyedihkan. Saat itu ada korban kecelakaan seorang wanita yang tengah hamil 8 bulan. Wanita itu dan juga bayinya dalam keadaan kritis. Kami harus melakukan tindakan operasi secepatnya. Dia terus memohon agar kami menyelamatkan bayi dalam kandungannya. Kami berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan keduanya namun bayi dalam perutnya tidak bisa selamat bahkan kami juga terpaksa harus mengangkat rahim wanita itu karena rusak berat tanpa meminta persetujuan darinya. Setelah melewati operasi yang menegangkan wanita itu berhasil selamat namun ironisnya dia tidak bisa menerima kenyataan karena telah kehilangan bayi dan juga rahimnya. Tepat saat tubuhnya mulai membaik dan diperbolehkan pulang wanita itu justru bunuh diri dengan melompat dari atap gedung rumah sakit. Dan dia meninggalkan sebuah surat untuk kami bahwa dia menyalahkan kami atas kematian anak dan dirinya. Bahkan pihak keluarganya juga ikut menyalahkan kami karena menganggap tindakan kami membuat wanita dan bayinya tiada. Saat itu perasaanku sangat sedih karena gagal menyelamatkan dua nyawa dan yang paling menyedihkan adalah saat kita sudah berusaha semaksimal mungkin melakukan yang terbaik tapi justru disalahkan karena hasilnya tidak sesuai dengan harapan." ucap dokter Raisa dengan sorot mata menerawang.


" Yah begitulah kehidupan, tidak selamanya harus sesuai dengan keinginan kita kan?"


" Yup, kamu benar. Seperti ucapan Saru, jika semua terjadi sesuai dengan keinginan itu baik, namun jika tidak sesuai dengan keinginan itu juga baik." tutur dokter Raisa dengan riang.


" Wait... Who is Saru???! Mengapa tiba tiba ada dia di antara kita?" Yusuf mengernyitkan dahi.


" Kamu tidak mengenalnya?"


Yusuf menggelengkan kepalanya.


" Memangnya siapa dia? Temanmu di sekolah atau rumah sakit?" selidik Yusuf.


" Bukan." jawab dokter Raisa dengan cepat.


" Lalu....?"


" Kamu serius tidak mengenalnya?" sekali lagi Yusuf menggelengkan kepala..

__ADS_1


" Seriously?" dokter Raisa seakan tidak percaya.


" Hei come on, apa aneh jika aku tidak mengenalnya?"


" Dia adalah tokoh utama di film Sanam Teri Kasam. Jangan bilang kamu belum pernah menonton film itu?" Yusuf hanya nyengir.


" Oh, pantas saja kamu masih jomblo. Itu adalah salah satu film paling banyak mengandung bawang yang berhasil menggetarkan hati jutaan penontonnya. Film itu sempat booming banget lho, masak kamu belum pernah menontonnya." dokter Raisa berdecak kecewa.


" Apa hubungannya film itu dengan statusku yang jomblo? Lagi pula aku jomblo karena memang aku belum tertarik untuk menjalin hubungan dengan seseorang." ucap Yusuf bersungut sungut.


" Oh benarkah? Lalu mengapa kamu terlihat kesal seperti itu, toh aku tidak mengatakan apa apa tentang kejombloanmu. Wait.....!! Kamu bukan tipe lelaki penyuka sesama jenis kan?" dokter Raisa memindai wajah Yusuf dengan seksama.


" Amit amit jabang bayi......" Yusuf mengetuk ngetuk meja di dekatnya.


" Aku masih normal. Sembarangan banget kalau ngomong. Wah baru berteman sebentar dengan Hana kini cara berpikir otak kamu sudah mulai mirip dengannya."


" Ha ha ha maaf aku hanya bercanda. Tapi siapa tahu memang benar. Kamu kan hidup di Singapura selama delapan tahun. Semua bisa terjadi kan?" dokter Raisa tersenyum penuh maksud.


" Ha ha ha itu tidak mungkin karena aku wanita tulen yang teramat sangat normal dan masih sangat menikmati jika ada pemandangan lelaki tampan yang lewat di depan mata, terlebih jika ia mempunyai tubuh yang atletis. Uh, so perfect." pikiran dokter Raisa melanglang buana.


" Sadar oey, pikirannya dikontrol." Yusuf menjentikkan jari di depan wajah dokter Raisa membuat pemilik wajah terkesiap seketika.


Dalam sekejap mereka berdua sudah merasa akrab. Mereka terlihat cocok dan nyaman satu sama lain, bahkan obrolan dan candaan yang mereka lontarkan seperti dua orang yang telah bersahabat lama.


" Aku suka kamu." ceplos dokter Raisa di sela obrolannya.


" Deg...." jantung Yusuf seakan berhenti berdetak.


" Mak_maksudmu....?" Yusuf menatap dokter Raisa dengan lekat.


" Iya, aku suka kamu. Obrolan dan candaan kamu, aku suka itu. Aku rasa kita bisa menjadi teman baik." ucap dokter Raisa tanpa ada maksud apa apa.

__ADS_1


" Aku juga suka kamu. Oke kita berteman." Yusuf mengulurkan tangannya untuk mengajak jabat tangan. Namun alih alih menyambut uluran tangan Yusuf, dokter Raisa justru berhambur memeluk tubuh lelaki tampan itu.


" Jabat tangan dilakukan oleh dua orang asing yang baru bertemu. Untuk teman sambutlah mereka dengan sebuah pelukan." bisik dokter Raisa yang membuat Yusuf membalas pelukan itu.


" Mau jalan jalan keluar bareng?" ajak Yusuf.


" Boleh, tapi pulangnya jangan lewat tengah malam ya?"


" Oke, takut ya kalau lewat tengah malam akan jadi upik abu, he he." goda Yusuf.


" Hooh, ditambah lagi upik abunya punya taring. Kamu mau nanti kena sasaran gigit?"


" Ha ha ha, kalau yang gigit teman sendiri enggak apa apa dech. Kamu tunggu di depan, aku ambil mobil dulu ya." Yusuf beranjak menuju garasi. Dan entah mengapa dari sekian banyak koleksi mobil yang berjejer di garasi, Yusuf tertarik untuk memakai mobil pertama Dewa yang merupakan hadiah ulang tahunnya saat berusia 17 tahun, yakni Honda CRV berwarna merah menyala yang sudah lebih dari 8 tahun tidak pernah Dewa sentuh.



Mobil merah itu masih terlihat mengkilat dan terawat, karena meski sudah lama Dewa tidak lagi memakainya nyatanya Pak Sholih masih tetap merawat dan menjaganya dengan baik. Selama ini Dewa memang mengabaikan mobil itu. Dan paling anti jika harus menyentuh apalagi mengendarainya karena mobil itu hanya mengingatkan akan kelakuan bejatnya sewaktu dulu bersama dengan para gadis yang sukarela melakukan hal tidak senonoh di dalamnya. Bahkan Hana juga dilarang keras mendekati atau memasukinya. Berulang kali ia mengatakan bahwa mobil itu adalah mobil maksiat yang harus dijauhi, dan Hana mengiyakannya saja karena selama ini Hana memang lebih suka mengendarai motor.


" Ayo silahkan naik Nona, saya antar sampai tujuan. Perkenalkan saya Yusuf, malam ini bertugas untuk menjadi sopir pribadi Anda." kelakar Yusuf sembari membuka kaca mobilnya.


" Ah, terima kasih. Tolong antarkan saya ke tempat yang menyenangkan ya Pak Sopir...." ucap dokter Raisa sesaat setelah duduk di samping teman barunya.


" Siap meluncuurrrr. Kita mau kemana?" tanya Yusuf dengan serius.


" Bagaimana kalau klub...?? Semenjak pulang ke Indonesia aku belum pernah berkunjung ke klub sekitar sini."


" Klub....???" tanya Yusuf dengan ragu.


" Yuppp, kenapa? Apa seorang dokter tidak boleh ke klub malam?"


" Tentu saja boleh asalkan dokter itu sudah berumur lebih dari 17 tahun. He he. Baiklah sesuai permintaanmu nona, kita ke klub."

__ADS_1


Aku hampir lupa bahwa dokter Raisa sudah lama hidup di luar negeri. Dan tentunya kehidupan malam sudah biasa baginya.


__ADS_2