
Mentari mulai bertengger di langit sebelah timur. Sinarnya menerangi dan memberi kehangatan setiap makhluk yang mulai terbangun dari tidur lelap untuk melakukan rutinitas pagi mereka.
Dewa terbangun karena merasakan pergerakan dari tubuh Hana yang menggeliat.
" Hoamm..... pagi sayang...." sapa Dewa lembut mengawali pagi harinya.
" Pagi..." keduanya meregangkan tangannya ke atas karena bagaimanapun juga tidur dengan posisi seperti itu pastilah akan membuat tubuh pegal. Terlebih Dewa yang telah merelakan lengannya selama semalam untuk menjadi sandaran kepala istrinya. Ia menggerakkan lengannya ke depan dan belakang untuk meregangkan otot ototnya yang terasa kaku dan kebas.
" Selamat pagi pengantin baru....." sapa seorang lelaki yang tengah berdiri di depan jeruji besi.
Hana dan Dewa mengucek kedua matanya takut kalau sosok yang berdiri di depan mereka hanyalah sebuah halusinasi.
" YUSUUFFFF..." keduanya serempak.
" Bagaimana tidur kalian nyenyak?" tanya Yusuf dengan nada mengejek.
" Bagaimana kamu bisa tahu kalau kami ada di sini?" tanya Hana.
" Tentu saja aku tahu. Ayo cepat keluar, atau kalian memang sudah betah tidur di sini?" Yusuf membuka pintu jeruji yang memang sudah tidak terkunci sedari tadi.
Hana dan Dewa segera beranjak keluar.
"Ayo kita pulang, ayah dan ibumu sudah menunggu kedatangan kalian."
" Apa kita sudah boleh pulang?" tanya Hana tampak ragu melangkahkan kakinya.
" Tentu saja." jawab Yusuf datar.
"Tunggu dulu, jangan bilang ini semua adalah ulahmu...?!" tanya Dewa dengan sorot mata menyelidik.
__ADS_1
" Enak saja, kalian yang pergi di malam pernikahan mengapa malah menuduh aku?" ketus Yusuf.
" Sudahlah ayo cepat pulang. Kalian masih berhutang banyak penjelasan. Gara gara kalian semalam aku dan Laura harus berkeliling kota untuk mencari kalian."
" Lalu kenapa kamu bisa ada di sini? Aku kan belum menghubungimu." mata Dewa menyipit.
" Pentingkah itu? Tapi baiklah jika kalian masih belum mau pulang, kalian boleh kok menginap di sini lagi. Bukankah begitu pak polisi?" Yusuf menghampiri polisi yang berjaga semalam.
" Tentu saja. Kalian boleh tinggal di sini sepuas kalian." ujar polisi itu.
" Kalian sudah bersekongkol untuk menahan kami di sini semalaman ya?!" hardik Hana saat melihat Yusuf dan polisi itu terlihat akrab.
" Memang iya. Tapi ini semua bukan ulahku, tapi ayah." tutur Yusuf.
" Maksudmu ayah mertuaku?" Hana memastikan bahwa Yusuf tidak salah bicara.
" Iya, ayah yang menghubungi polisi polisi ini untuk menangkap kalian semalam."
Dewa menatap istrinya yang masih tertegun mendengar perkataan Yusuf. Hana juga tidak habis pikir kalau ayah mertuanya yang selalu terlihat serius ternyata juga bisa melakukan hal gila.
Ya, dalang dibalik semua ini adalah bapak Anton Dermawan, ayah kandung Yusuf yang kini telah resmi menjadi ayah mertua Hana. Kemarin di saat kepanikan melanda penghuni rumah orang tua Hana karena menghilangnya pasangan pengantin yang baru saja menikah, Yusuf berinisiatif menghubungi orang tuanya untuk ikut membantu mencari keberadaan Hana dan Dewa. Dengan secepat kilat ayah dan ibunya datang ke rumah Hana untuk ikut membantu mencari keberadaan anak dan menantunya.
Berbagai kemungkinan berkecamuk di pikiran mereka. Mungkinkah ada orang jahat yang sengaja menculik anak dan menantunya tepat di hari pernikahan mereka? Atau ini adalah ulah saingan bisnis mereka atau orang yang tidak suka dengan Hana dan Dewa? Saat semua dilanda kepanikan, ada keributan baru yang terjadi. Salah seorang petugas WO geger mencari sepeda motornya yang terparkir di depan rumah Hana telah raib entah kemana. Tentu saja itu menambah kepanikan para penghuni rumah. Untung ayah Hana masih berfikir dingin, dia teringat untuk memeriksa CCTV yang baru seminggu lalu ia pasang di atas gerbang rumah.
Yusuf dan ayahnya ikut membantu ayah Hana untuk mengamati monitor hasil rekaman CCTV itu. Semua mata fokus melihat tayangan yang telah diatur ke waktu yang ditentukan. Bola mata mereka membulat saat layar kotak itu memperlihatkan bahwa pelaku raibnya sepeda motor itu tidak lain dan tidak bukan adalah si pengantin pria yang kini keberadaannya tengah membuat panik semua orang. Monitor itu juga memperlihatkan adegan sebelum Dewa mengambil sepeda motor, dia sempat menghadang empat orang lelaki yang hendak masuk ke dalam rumah. Tampak mereka membicarakan sesuatu dengan sangat serius namun entah apa karena layar itu hanya menampilkan gambar tanpa suara.
Laura berhasil mengenali identitas keempat lelaki itu karena sebelumnya ia pernah beberapa kali diajak oleh Hana untuk bertemu dengan mereka. Ya, mereka adalah group RAME, sahabat dekat Hana selain Laura dan Yusuf. Setelah menghubungi salah satu group RAME terungkaplah skenario penculikan Hana. Muklis dengan gamblang menjelaskan rencana Dewa untuk memberikan kejutan ulang tahun untuk istrinya.
Semua orang merasa geram dengan ulah Dewa yang telah berhasil membuat panik dan kalang kabut seisi rumah, terlebih ibu Hana. Dari situlah digelar rapat paripurna untuk membahas rencana pembalasan. Setelah menerima beberapa saran dan masukan dari semua pihak, terciptalah sebuah skenario untuk menangkap Hana dan Dewa dengan dalih pencurian. Bahkan tidak tanggung tanggung, ayah Yusuf ikut turun tangan dengan menghubungi salah satu teman dekatnya yang saat ini menjabat sebagai kapolres untuk memerintahkan anak buahnya di kantor polisi terdekat agar terlibat dengan skenario penangkapan itu.
__ADS_1
" Kita pulang sekarang? Atau kalian hanya ingin berdiam diri di sini?" suara Yusuf memecah lamunan Hana dan Dewa.
" Baiklah." Dewa mengekor langkah Yusuf dengan menggenggam mesra tangan istrinya.
" Terima kasih ya pak polisi sudah diijinin menginap di sini semalam." sapa Hana sambil tersenyum sumringah.
" Iya, tapi lain kali jangan sampai beneran ketangkap. Ingat kalau mau naik motor harus membawa surat kelengkapan dan helm untuk keselamatan. Dan yang paling utama pastikan bahwa itu bukanlah motor hasil curian." jawab polisi itu dengan penuh penekanan.
" Kami permisi dulu ya Pak, terima kasih atas kerja sama Anda. Dan maaf karena harus merepotkan Anda semua." ucap Yusuf undur diri diikuti oleh Hana dan Dewa.
" Iya, hati hati di jalan." jawab polisi itu ramah.
Mobil pajero milik Dewa melaju dengan tenang di bawah kemudi Yusuf. Ketiganya tampak diam tidak saling berbicara. Larut dalam pikiran masing masing.
" Turun !" ucap Yusuf singkat dengan ekspresi datar.
" Kita sudah sampai?" tanya Hana dengan ragu.
" Lihat saja sendiri." ketus Yusuf.
" Kamu kenapa sih Suf dari tadi ketus melulu. Kamu marah ya?"tanya Hana.
" Menurutmu? Kalian tahu enggak bagaimana paniknya kami semalam mencari keberadaan kalian. Apa lagi ibumu Han, dia tampak sangat khawatir dan histeris." raut muka Yusuf masih belum berubah.
" Maaf... Tapi itu semua kan bukan salahku...." dengus Hana memasang wajah memelas.
" Ah sudahlah..... Sebaiknya kalian cepat turun, ibumu pasti sudah tidak sabar untuk memberi sambutan yang meriah. Aku langsung pulang ya, mau tidur. Mataku masih mengantuk gara gara ulah kalian semalam."
" Terima kasih, hati hati di jalan ya....." Hana dan Dewa melambaikan tangan ke arah mobil yang mulai melaju ke jalanan.
__ADS_1
" Bagaimana ini sayang? Ibu pasti akan marah besar." bisik Hana sembari melangkahkan kakinya ke dalam rumah dengan ragu.