
Yusuf, ibu dan ayahnya bergegas ke bandara untuk segera meluncur ke Jogja setelah sebelumnya Yusuf mendapat telpon dari Om dan Tantenya mengenai keberatan mereka tentang Dewa yang disinyalir hidup mewah dengan harta milik Anton Dermawan. Tentu saja itu membuat Yusuf dan ayahnya tercengang karena tidak menyangka mereka akan berpikir seperti itu.
Mereka melakukan perjalanan secara terpisah. Yusuf menghampiri Rani di rumahnya terlebih dahulu agar bisa ikut bersamanya ke Jogya dengan penerbangan komersil. Sedangkan ayah Yusuf langsung meluncur ke bandara begitu mendengar kabar dari anaknya. Ia menggunakan jet pribadinya agar bisa lebih cepat sampai tanpa menunggu anak dan istrinya.
Sepanjang perjalanan pikiran lelaki bernama Anton itu digelayuti dengan rasa tidak tenang. Mereka takut Om dan Tante Yusuf akan berkata yang tidak tidak mengenai Dewa. Meskipun tadi di telpon Yusuf sudah menjelaskan tentang keadaannya dan melarang mereka untuk mendatangi rumah Dewa, tapi mereka tetap bersi kukuh ingin menghampiri Dewa karena merasa dia telah merampas hak keponakannya.
Sesampainya di rumah Dewa, ayah Yusuf sudah mendapati Rahmat dan Zuli tengah beradu mulut dengan Hana. Mereka mendengar Rahmat dan Zuli mengatakan banyak hal yang menyakitkan bahkan mereka mempertanyakan hak Hana di rumah itu.
" Kamu mengusir kami?!! Punya hak apa kamu melakukan itu?!!!" mata Zuli kian merah karena merasa marah. Ia merasa tidak terima dengan ucapan Hana yang dirasa kian berani menantangnya.
" TENTU SAJA DIA PUNYA HAK...!!!" seru ayah kandung Yusuf dengan nada penuh penekanan.
" Ayah?!" ucap Hana dan Dewa menoleh ke arah ayah Yusuf bersamaan.
" Mas Anton akhirnya kamu datang juga. Kamu bisa melihat sendiri bagaimana kelakuan anak tiri dan istrinya yang tidak tahu sopan santun ini." seru Zuli dengan sumringah.
" Iya Mas, bahkan wanita bar bar ini berani menyiram minuman ke wajahku." imbuh Rahmat berharap Anton akan membelanya.
" Kamu tidak apa apa Sayang?" Anton menghampiri menantu dan menelisik keadaannya.
" Ehm, aku tidak apa apa Ayah. Maaf jika tadi aku sudah keterlaluan." tutur Hana sembari tersenyum. Sebenarnya terbesit sedikit rasa takut di hatinya karena telah berkata dan berlaku tidak sopan terhadap Om dan Tante Yusuf. Ia takut jika sikapnya yang barusan akan membawa pengaruh buruk dalam hubungan ayah Yusuf dan suaminya. Karena biar bagaimanapun pasangan suami istri itu adalah kerabat dari ayah mertuanya.
" Heh kamu tidak perlu berbicara manis seperti itu kepada Mas Anton. Bukankah tadi kamu dengan berani mengusir kami? Di mana sekarang keberanianmu? Lihatlah, sekarang siapa yang akan diusir dari rumah ini?!" bibir Zuli menyeringai penuh kemenangan.
" Ayah tadi Hana hanya_" ucapan Dewa terputus karena ayah Yusuf mengangkat satu tangannya ke atas pertanda agar ia tidak melanjutkan ucapannya.
" Aku sudah mendengar semua. Mengapa kamu membiarkan istrimu melakukan itu Dewa?" tanya Anton dengan nada dingin.
" Maaf Ayah, tapi mereka sudah keterlaluan."
" Kalau kamu sudah tahu mereka keterlaluan kenapa kamu tidak segera mengusir mereka dan menunggu istrimu yang melakukannya...!"
" A_ Ayah?" Dewa tercengang dengan perkataan ayah sambungnya.
" Kamu adalah seorang suami. Sudah kewajibanmu melindungi istri dan menjaga kedamaian rumah tangga kalian. Kenapa kamu membiarkan orang lain mengusik ketenangan dan kedamaian rumah ini?"
__ADS_1
" Baiklah aku mengerti. Maaf atas kelalaianku tadi Ayah." dengus Dewa.
" MASSS.... Kenapa kamu justru berkata seperti itu kepada anak tiri tidak tahu malu ini!" seru Zuli.
" CUKUP ZULI!!!" bentak Anton dengan suara baritonnya. Membuat nyali adik ipar dan suaminya menciut seketika.
" Mas kami tidak bermaksud apa apa. Kami hanya memperjuangkan hak anak kandung Mas sendiri." ucap Rahmat dengan hati hati.
" Memperjuangkan hak anak kandungku?! Apa maksudmu?! Apakah selama ini aku menyia nyiakan Yusuf? Apa aku tidak memberinya kehidupan yang layak?!" sorot mata Anton tajam seakan siap menghunus mangsa di depannya.
Zuli dan Rahmat saling pandang.
" Bukan seperti itu Mas. Kami hanya merasa Mas terlalu menganak emaskan anak tiri ini. Mas memberinya banyak fasilitas mewah. Bahkan rumah mewah ini Mas berikan kepada dia, bukan Yusuf." tutur Rahmat menyampaikan unek uneknya.
" Benar Mas, bahkan tadi aku sempat melihat ada banyak mobil mewah berjejer di garasinya. Sedangkan Yusuf? Dia hanya punya satu mobil yang harganya sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan mobil mobil di garasi itu." imbuh Zuli bersungut sungut.
" Huffffttttt....." Anton menghela napas panjang berharap emosinya bisa sedikit berkurang.
" Apa Yusuf mengeluhkan hal itu kepada kalian?" dengus Anton.
" Hentikan Zuli...!! Kamu tidak mengenal Dewa jadi kamu tidak bisa mengatainya seperti itu. Dewa adalah anakku. Aku tidak pernah menambahkan kata tiri. Aku menyayangi dan memperlakukan Dewa dan Yusuf dengan sama. Tidak pernah membeda bedakan. Jadi aku harap kamu bisa memahaminya."
" Tapi Mas, anak ini mendapatkan semua, sedangkan Yusuf???!" sanggah Zuli.
" Bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu?! Jika yang kamu maksud adalah rumah ini, maka kamu salah besar. Karena rumah ini bukanlah milikku. Ini semua milik Dewa karena memang dia yang membangunnya. Dan tanah rumah ini adalah milik Rani jauh sebelum menikah denganku...! Jadi hentikan pikiran burukmu itu."
" Hah, bisa saja Mas bicara seperti ini karena sekarang Ibunya telah berhasil merayu Mas. Cepat atau lambat mereka pasti akan menyingkirkan Yusuf dari kehidupan Mas."
" ZULI...!!! JAGA MULUTMU...! INGAT BATASANMU...!!!" Anton sudah mengangkat tangannya hendak menampar adik dari mendiang istrinya itu.
Hana dan Dewa menahan lengan lelaki yang berada di tengah mereka.
" Ayah, kendalikan amarah Ayah. Jangan terbawa emosi." Hana berusaha menenangkan ayah mertuanya.
" Ayah tenangkan diri Ayah." ucap Dewa.
__ADS_1
" Mas Anton mau menampar saya? Silahkan Mas, tampar saja...." Zuli kian memprovokasi.
" Om, Tante, lebih baik kalian cepat pergi dari sini. Jangan membuat suasana kian memanas." bujuk Dewa.
" Diam kamu! Ini semua gara gara kamu...!" bentak Rahmat.
"CUKUP....!! CUKUP....!!! Hentikan semua ini. Kalian berdua pergilah dahulu dari pada membuat aku tambah emosi." sahut Anton.
" Oh, jadi Mas lebih membela anak sialan ini. Mas tidak ingat siapa yang menjaga dan merawat anak kandung Mas selama 10 tahun saat Mas sibuk dengan perusahaan Mas. Inikah balasan Mas?!" cerocos Zuli.
" Menjaga Yusuf selama 10 tahun? Bukankah itu semua adalah keinginan kalian sendiri. Dan selama itu aku juga rutin mengirimi kalian uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Aku juga sudah memberikan mobil dan rumah seperti permintaan kalian. Dan jangan kira aku tidak tahu bahwa selama ini kalian diam diam sering meminta kiriman uang dari Yusuf? Aku sengaja membiarkan itu semua karena aku masih memandangmu sebagai adik iparku. Namun kali ini kamu sudah keterlaluan Zuli, aku tidak akan membiarkan dirimu mengusik ketenangan keluargaku. Lebih baik kamu cepat angkat kaki dari rumah ini sebelum aku melewati batas kesabaranku." sorot mata ayah Yusuf kian menajam penuh dengan amarah.
" Mas_"
" Sudahlah Dhek, sebaiknya kita pulang saja dulu dari pada Mas Anton tambah marah nanti bisa bisa dia malah membenci kita." bisik Rahmat ke telinga istrinya.
Zuli memejamkan matanya dan menghela napas dalam. Ia menatap dalam manik kakak iparnya masih penuh dengan kilatan amarah.
" Baiklah, ayo kita pulang." dengus Zuli.
" Kami permisi pulang Mas, sebaiknya Mas renungkan kata kata kami." Zuli dan Rahmat bergegas keluar dari rumah mewah itu. Mereka menatap Hana dan Dewa dengan penuh kebencian.
" Huffffttt....." Anton bernapas lega saat melihat pasangan pembuat keributan itu telah pergi.
" Minum dulu Yah biar lebih tenang." Hana menuangkan teh hangat ke dalam cangkir untuk mertuanya.
" Jangan diminum Ayah...!" cegah Dewa saat Anton sudah mengarahkan cangkir itu ke mulutnya.
Hana dan ayah mertuanya kompak melihat ke arah Dewa.
" Kenapa?" tanya Hana dan mertuanya heran.
" Itu cangkir bekas teh yang disiramkan Hana ke wajah Om Rahmat."
"Whatt...?!!" pekik Anton.
__ADS_1
" Owh, maaf aku lupa he he." dengus Hana sembari menampakkan deret putih giginya.