Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Hadiah dan Hukuman


__ADS_3

Matahari sudah mulai condong ke arah barat meskipun waktu masih menunjukkan pukul 16.00 waktu setempat. Pada bulan November memang siang hari di negara itu lebih singkat dibandingkan malam harinya. Itu semua disebabkan oleh posisi orbit bumi yang miring sehingga antara belahan bumi utara dan selatan menerima sinar matahari yang berbeda.


Dewa dan Russell masih terlihat duduk berdua sembari berbincang panjang lebar, bercerita tentang banyak pengalaman yang tidak sempat mereka nikmati bersama.


" Andaikan waktu bisa diputar kembali ingin rasanya aku kembali ke 28 tahun yang lalu, sehingga kamu tidak perlu merasakan bagaimana tumbuh tanpa kasih sayang orang tua yang lengkap." dengus Russell.


" Jika itu benar terjadi, apa yang akan Papa lakukan? Mempertahankan ibuku dan mengorbankan cinta Papa ke Aleena?" tanya Dewa dengan sorot mata tajam ke arah papanya.


" Deg..!" pertanyaan Dewa seperti pukulan berat untuk dirinya.


Benar, seandainya aku bisa kembali ke waktu itu apa yang harus aku lakukan? Akankah aku berani untuk mengorbankan cintaku dan hidup bersama Rani dan Dewa. Atau aku tetap mempertahankan Aleena di sisiku.


Tubuh Russell terpaku merasa tertohok dengan ucapan anaknya yang memang benar adanya.


" Sudahlah itu semua sudah berlalu biar bagaimana pun waktu tidak bisa diputar kembali. Dan aku memahami kesulitan Papa jika benar harus dihadapkan pada pilihan itu. Karena kini aku adalah seorang lelaki dewasa yang juga sudah merasakan kuatnya rasa cinta. " Dewa tersenyum simpul.


" Ayo kita pulang, Nyonya ah maksudku Mama dan istri tercintaku pasti sudah menunggu kepulangan kita. Ini sudah sangat sore. Meskipun jam tanganku masih menunjukkan pukul empat sore. He he."


" Baiklah ayo kita pulang. Sekali lagi terima kasih untuk semuanya. Kedatanganmu ke tempat ini sungguh sangat berarti untukku dan Aleena." Russell beranjak dari duduknya. Namun ia sempat terkejut saat Dewa berdiri dengan cepat dan segera mengambil ikan ikan hasil pancingan ayah kandungnya.


" Pertandingan belum berakhir Papa. Ingat pertandingan kita untuk membawa ikan yang lebih besar saat pulang ke rumah. Dan lihatlah sekarang aku telah membawa ikan ikan ini. Ha ha ha." Dewa bersorak sorai merasa telah memenangkan pertandingan.


" Seriously???? Itu kan ikan hasil pancinganku??!!!" Russell terperangah dengan kelakuan anak lelakinya.


" Lalu kenapa? Tadi tidak ada aturan yang menyebutkan harus membawa pulang ikan hasil pancingan sendiri kan? Apakah kamu lupa dengan ucapanku tadi yang mengajak Papa bertanding untuk membawa pulang ikan yang lebih besar ke rumah. Atau jangan jangan Papa memang benar telah menjadi Pak Tua yang pikun dan kehilangan kehebatan? Ha ha ha..."


" Aku menang Pak Tua....! Silahkan kamu memancing ikan lainnya. Aku akan setia menunggumu di rumah." teriak Dewa sambil berjalan dengan cepat meninggalkan Russell karena takut ikannya akan direbut kembali.


" Hei....!! Tung_" Russell tidak melanjutkan ucapannya. Ia hanya tersenyum dan menggeleng gelengkan kepala karena menjadi korban akal bulus anaknya sendiri.


Dia memang anakku, tidak suka dengan kekalahan. Tapi dia melupakan satu hal bahwa aku adalah ayahnya dan aku juga sangat tidak menyukai kekalahan. Kalau dia bisa berpikir licik seperti itu aku juga bisa.


Bibir Russell menyeringai ke atas. Tanpa sepengetahuan Dewa, ia mengambil jalan pulang yang berbeda. Dan tentu saja jalan ini akan lebih cepat sampai di rumahnya.


" Nyonya Aleena.....!! Sayang.....!! Lihatlah, aku membawa banyak ikan.... !!" teriak Dewa dari depan rumah.


" Masuklah Sayang, bawa langsung ke dapur biar langsung bisa dibersihkan..!" jawab Hana dari dalam rumah.


Dengan sumringah dan penuh kemenangan Dewa membawa ikan yang diakui sebagai hasil pancingannya ke dalam dapur. Bibirnya tidak berhenti menyunggingkan senyum kebahagiaan.


" Sayang lihatlah ikan hasil tangkapanku. Ini cukup be_" seketika senyum di bibir Dewa menghilang saat melihat sosok lelaki yang sangat ia kenal tengah duduk di kursi bersebelahan dengan Aleena di ruang tengah. Semangat dan rasa bangganya tiba tiba saja menguap entah kemana. Matanya sempat menangkap sebuah seringai di bibir lelaki yang dipanggilnya papa itu.


Papa sudah sampai di rumah. Cepat sekali? Bagaimana mungkin? Dari raut wajahnya sepertinya dua telah melakukan sesuatu di belakangku. Apa jangan jangan ia memberitahu Hana dan Aleena tentang kecuranganku yang mengakui ikan hasil tangkapannya sebagai milikku?


" Oh Dewa, mengapa kamu lama sekali sampai rumah? Lihatlah, sembari menunggu kedatanganmu aku hampir menghabiskan satu potong kue bolu buatan istrimu yang lezat ini. Apa kamu terlalu berusaha keras untuk mengalahkan hasil tangkapanku? Sehingga kamu enggan pulang sebelum mendapatkan ikan yang besar? Ayo cepat kita bawa ke dapur agar Hana dan Aleena dapat menilai siapa pemenang dari pertandingan kita." ucap Russell dengan senyuman yang penuh maksud.



Ada apa ini? Papa tidak memberi tahu tentang ikannya yang aku akui? Mengapa dia masih bisa tersenyum seperti itu, bukankah tadi semua ikan tangkapannya sudah kuambil? Sebenarnya apa yang telah ia lakukan? Mengapa aku merasa kalau dia sedang melakukan sebuah trik?

__ADS_1


" Dewa bawalah ikan itu ke dapur. Ayo kita lihat siapa pemenang di antara kalian." suara Aleena membuyarkan lamunan Dewa untuk sejenak.


Ketiganya melangkah ke dapur. Namun kini langkah Dewa terlihat ragu wajahnya tampak sedang memikirkan sesuatu.


" Ada apa my son, kamu terlihat cemas? Apakah kamu takut aku membongkar rahasiamu? Jangan khawatir aku tidak melakukan itu. Karena biar bagaimanapun bukankah aku papamu, jadi sudah seharusnya aku melindungimu kan? Dan untuk ikan ikan itu aku sudah mengiklhaskannya, kamu boleh mengakuinya sebagai milikmu Namun perlu kamu ketahui bahwa pertandingan masih berlanjut. Kamu tidak suka kalah, begitu juga denganku yang sangat membenci kekalahan. Kamu melakukan dengan caramu, dan aku juga melakukan dengan caraku." bisik Russell di telinga Dewa sembari tersenyum miring.


Sial....Apa yang sebenarnya telah papa lakukan? Kenapa sepertinya dia yakin akan menang?


" Sayang bawa kemari ikanmu." pinta Hana.


" Ini, lihatlah. Bukankah ikan ikan ini cukup be_" Dewa tidak mampu melanjutkan ucapannya saat melihat tampilan seekor ikan yang tergeletak di meja dapur dengan ukuran empat kali lipat ikan di tangannya.


" I_ ini ikan Tuan Russell?"


" Iya, dia hebat sekali bukan? Ternyata dia sangat pandai memancing." puji Hana tampak kagum dengan sosok lelaki yang berada di samping tubuh Aleena.


Pantas saja dia terlihat tenang dan yakin akan menang, ternyata ia telah membawa pulang ikan yang sangat besar. Tapi aku masih penasaran bagaimana ia bisa melakukan ini semua?


" Jadi siapakah yang menjadi pemenang di antara kami, aku atau Dewa?" tanya Russell dengan tersenyum penuh kemenangan.


" Tentu saja Anda Tuan Russell. Dalam sekali lihat saja sudah bisa dipastikan bahwa Anda telah menang mutlak." seru Hana.


" Dan kamu Sayang. Aku tetap bangga kepadamu karena aku tidak mengira kamu akan berhasil menangkap ikan sebesar ini. Tapi sayangnya ukuran ikan milikmu sangat berbeda jauh dengan milik Tuan Russell. Jadi kamu harus berlapang dada menerima kekalahan ini."


" Iya, aku mengaku kalah." dengus Dewa terpaksa mengakui kekalahannya.


" Lalu apa hadiahku?" tanya Russell dengan semangat.


" Setiap pertandingan harus ada hadiahnya. Bukankah begitu Sayang?" Russell menatap Aleena dan Hana secara bergantian seakan meminta pembenaran untuk ucapannya.


" Iya, kamu sangat benar sayang. Setiap pemenang harus mendapat hadiah. Dan yang kalah harus menerima hukuman. Itulah hukum dalam pertandingan. Benar kan Honey?" ucap Aleena dengan lembut.


" Iya, Anda memang benar. Tuan Russell memang harus mendapat hadiah. Jadi Tuan, apa yang Anda inginkan sebagai hadiah Anda?" tanya Hana dengan sopan.


" Aku menginginkan seorang cucu yang lucu dari menantu dan anak lelakiku yang nakal ini." jawab Russell dengan berbinar.


" Cu_cucu? Anak lelaki Anda? Mak_ maksud Anda?" Hana menatap wajah orang orang dalam ruangan itu secara bergantian.


" Iya cucu dari anak lelakiku." Russell mengangguk membenarkan ucapannya.


" Nyonya Aleena....." lirih Hana sambil menatap wanita cantik itu dengan sendu.


" Aku sudah mengetahui identitas Dewa sebenarnya Honey, jadi berhentilah memanggilku nyonya. Aku sudah sangat bosan dengan panggilan itu. Panggil aku mama dan lelaki kaku itu papa." ujar Aleena dengan senyum merekah.


" Benarkah itu Sayang?" Dewa hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan istrinya sambil tersenyum.


" Oh syukurlah. Alhamdulillah Ya Allah....." Hana berhambur memeluk tubuh Aleena dan Russel bersamaan.


" Akhirnya aku bisa memanggil kalian Papa dan Mama mertua." Hana tak mampu membendung air mata bahagianya.

__ADS_1


" Dewa kamu tidak ingin ikut memeluk kami?" tanya Aleena lembut.


" Tentu saja." jawab Dewa sembari bergabung dalam pelukan itu.


Terima kasih Ya Allah atas izinMu kini Dewa dapat bersama dengan ayah kandungnya. Aku tidak mengira akan menjadi semudah ini. Engkau telah melimpahkan begitu banyak kebahagiaan hari ini.


" Sudah, sudah. Jangan ada lagi air mata di hari bahagia ini." ucap Russell di tengah tengah pelukan yang hangat dan haru itu.


" Papa benar kita tidak boleh menangis lagi. Dan cepat lepaskan pelukan ini karena aku merasa seperti sedang meniru adegan teletubbies yang sedang berpelukan berempat." Dewa melepas dekapan tangannya.


" Kamu kenapa merusak momen ini dengan mengatakan kita mirip teletubbies sih Yank? Memangnya aku segendut itu?" ketus Hana sembari menghapus air mata di mata dan pipinya.


" Bukan itu maksudku..."


" Lalu apa?! Ah sudahlah. Papa mertua cepat berikan hukuman untuk kekalahannya." rengek Hana.


" Hukuman? Baiklah aku serahkan hukuman ini padamu menantuku. Kamu ingin menjatuhi hukuman apa untuk anak nakal ini?"


" Semua ikan ini biar dia yang membersihkannya sendiri."


" Cuci dan bersihkan kotoran semua ikan ikan ini sampai bersih...!" Hana menyerahkan sebuah pisau kepada suaminya.


" Semua ikan ini? Sendirian?" keluh Dewa.


" Kenapa? Kamu keberatan?!" Hana menatapnya dengan sorot mata tajam.


" Tidak, tentu saja tidak. Mana mungkin aku keberatan, he he ." Dewa memaksakan senyum di bibirnya.


Sorot mata Hana seperti ini sangat menakutkan. Aku harus mengalah agar tidak berlarut larut. Jangan sampai dia marah dan menolak untuk melakukan ritual wajib kami. Semangat....aku pasti bisa.


" Ayo kita lanjutkan menikmati susu jahe dan bolu Ma, Pa." ajak Hana melangkah pergi bersama Aleena.


" Semangat ya Nak. Kamu pasti bisa. Bersihkan ikan ikan itu sampai bersih. He he." ucap Russell dengan nada mengejek.


" Tunggu dulu. Sebenarnya apa yang telah Papa lakukan sehingga bisa membawa pulang ikan sebesar ini? Tidak mungkin hasil memancing Papa bukan?" tanya Dewa masih belum bisa memecah rasa penasarannya.


Russell berbisik di dekat telinga Dewa.


" Tentu saja bukan. Aku adalah seorang Russell Van Nero, ini hal yang sangat mudah untukku. Cukup menggerakkan satu jariku maka masalah sepele sepeti ini pasti teratasi. Kamu sendiri kan yang tadi bilang bahwa tidak ada aturan yang mengharuskan ikan yang dibawa pulang adalah hasil pancingan sendiri. Apa jangan jangan kamu sudah pikun?"


" Sudahlah jangan berbasa basi, Papa dapat dari mana ikan ini?" Dewa tampak kesal karena Russell hanya memutar mutar jawaban saja.


" Entahlah, anak buahku yang membawakannya untukku." ucap Russell tanpa merasa bersalah sedikit pun.


" Apa...!??!!" mata dan mulut Dewa membulat bersamaan.


" Kenapa? Bukankah kamu sendiri yang mulai menggunakan segala cara untuk memenangkan pertandingan ini anak muda? Aku hanya mengikuti cara mainmu. Ingat aku adalah Papa mu tentu saja kemampuan dan pengalamanku masih jauh di atasmu. Ha ha ha." Russell berlalu dengan tawa kemengangan.


Hah? Sungguh tidak kusangka papa akan melakukan itu. Tapi dia memang benar bahwa akulah yang telah memulai permainan ini, dan aku pula yang akhirnya harus terjebak sendiri.

__ADS_1


" Ck..... Mengapa ikannya sebesar ini sih? Ini juga, kenapa aku membawa pulang semua hasil pancingan Papa?" Dewa melampiaskan kekesalannya kepada ikan ikan yang sudah teronggok tidak bernyawa itu.


__ADS_2