
" Makasih ya sayang udah nganterin aku beli buku, kamu memang paling baik." ucap Selvi dengan manja sambil bergelanyut di lengan Dewa.
"Hem." jawab Dewa dengan malas.
Ya, sore itu Dewa terpaksa menemani Selvi untuk membeli buku di mall Xx. Seharian Selvi merengek agar Dewa mau menemaninya, akhirnya dengan terpaksa Dewa mengiyakan permintaan Selvi.
Sialan nyesel gue udah jalan ma Selvi, dasar anak manja maunya diturutin memangnya gue babysiternya. Shit..
Saat Dewa dan Selvi selesai keluar dari toko buku, mata Dewa terkesiap karena melihat Hana memasuki toko buku yang sama. Seperti biasa jantungnya berdetak tak karuan saat berjumpa dengan Hana.
Hana... Oh jantung gue selalu mau copot tiap kali melihat loe. Sebenarnya gue kenapa sich? Apa bener kalau gue memang jatuh cinta ma loe? Shitt bisa gila gue kalau lama lama kayak gini. Sebenarnya loe punya ilmu apa sih Han sampai bisa membuat gue kelabakan enggak karuan. Gue udah coba untuk meredam rasa di hati gue, karena gue takut akan menyakiti loe. Dan ini kali pertama gue punya rasa takut untuk menyakiti seorang cewek. Tapi semakin gue mencoba meredam malah rasa itu semakin terasa. Kayaknya gue udah enggak bisa nahan lagi...
" Sayang habis ini kita nonton bioskop ya, ada film bagus lho, romantis banget." rengekan Selvi membuyarkan lamunan Dewa .
" Kayaknya loe harus pulang sekarang deh, gue ada urusan mendesak ni." ucap Dewa dengan datar sambil melepaskan lengannya dari lengan Selvi yang tentunya membuat Selvi bingung.
" Memangnya kenapa? Apa harus kita pulang sekarang? Ini masih sore loh yank?" Selvi berusaha meraih kembali lengan Dewa, namun Dewa menghempaskan tangannya.
" Sorry, tapi loe emang harus pulang dan gue rasa ini terakhir kali kita jalan." ketus Dewa.
"What?? Why?" pekik Selvi terkejut dengan pernyataan Dewa.
" Ya gitu, ini terakhir kita jalan karena gue enggak nyaman ma loe dan loe bisa pulang sendiri kan? Jangan khawatir ini gue kasih ongkos buat pulang. Cukup kan? Toh gue enggak ngapa ngapain loe dan dari awal loe sudah tahu kan kalau gue suka gonta ganti cewek. Gue juga enggak pernah ngomong kalau kita pacaran. So you can leave me now, please!?" ucap Dewa dengan menyodorkan lima lembar uang ratusan.
Selvi tercengang dengan ucapan Dewa, dia tidak menduga bahwa Dewa akan mencampakkannya kurang dari 1 minggu saja. Dari awal dia tahu kalau Dewa memang seorang playboy, tapi dia yakin kalau dia akan mampu menakklukannya, dan itu tentu akan menjadi sesuatu yang bisa ia banggakan di depan teman temannya. Tapi kenyataan yang ia dapati benar benar menghancurkan harga dirinya, ia yang sedari awal sudah pongah dengan teman temannya bahwa ia mampu menaklukan hati seorang Dewa nyatanya hanya dicampakkan dalam sekejap mata. Hatinya benar benar bergemuruh, matanya terasa panas menahan cairan agar tidak lolos keluar.
" Loe bener bener keterlaluan, you suck!" Selvi mengambil uang dari Dewa dengan kasar. Matanya menatap dengan bengis. Ia melangkah pergi dengan tergesa.
__ADS_1
Dewa hanya menghardikan bahu dan tersenyum sinis.
"Bye Beb, be carefull." teriak Dewa sambil melambaikan tangan.
Setelah kepergian Selvi, Dewa kembali ke toko buku untuk mencari Hana namun tak menemukannya. Dia mengedarkan pandangan mencoba mencari sosok yang membuatnya seperti orang gila. Pandangannya terhenti saat melihat seorang gadis manis dengan rambut dikucir kuda memakai jaket jeans dengan celana jeans navy sebatas lutut sedang berdiri di dekat bioskop bersama dengan seorang temannya.
Tanpa Dewa sadari sebuah senyum merekah di bibirnya. Senyum yang sudah lama tidak ia lakukan. Diam diam Dewa mengikuti Hana dari dekat. Dewa memperhatikan tiap gerak gerik Hana.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, teman Hana meninggalkan Hana sendirian. Hana berjalan ke pintu masuk bioskop dengan lesu.
Dewa berjalan mendekati Hana.
"Yach sendirian, sayang tiketnya masih sisa satu dong. Apa gue ajakin Yusuf saja ya." Dewa mendengar dengusan Hana.
"Gue temenin." ucap Dewa dengan cepat sambil menyambar tiket di tangan Hana.
Hana terkejut dengan kehadiran Dewa yang tiba tiba sudah berdiri di sampingnya dan mengambil tiket dari tangannya.
" Sayang kan kalau tiketnya kebuang? Kebetulan gue juga mau nonton film ini. By the way karena loe udah beliin gue tiket, popcorn dan minuman biar gue yang beli. Tunggu bentar ya." ucap Dewa sembari berlalu meninggalkan Hana untuk membeli minuman dan cemilan.
Hana hanya berdiri mematung dan terbengong, tanpa ia sadari ia menganggukan kepala mengiyakan ucapan Dewa.
Dewa,,,? Trus kenapa gue manut aja disuruh nunggu di sini. Shit, kenapa gue harus selalu terpaku sih setiap jumpa dengannya. Tadi pagi ia kan masih jalan ma Selvi? Waduh kalau ada yang lihat ntar gue dikira pelakor donk...
Hana tersadar dari keterkejutannya.
Dewa menghembuskan nafasnya berulang kali, untuk membuang kegugupan hatinya.
__ADS_1
Padahal gue sudah sering jalan ma cewek tapi enggak pernah segrogi ini. Hana, Hana, Hana, loe memang beda. Gue harus bisa ngilangin kegugupan gue.
Dewa datang dengan membawa dua pop corn dan minuman.
"Ayo." ajak Dewa.
Hana berjalan mengikuti Dewa memasuki bioskop, ingin rasanya ia protes, tapi entah kenapa bibirnya tak mampu mengeluarkan kata kata penolakan.
Hana dan Dewa duduk di barisan tengah.
" Lemon tea?" Dewa menyodorkan minuman dan popcorn ke Hana.
" Makasih."
" You are welcome, by the way loe ternyata pendiam ya, padahal selama ini loe humble banget kalau ma teman teman loe. Loe kan selalu heboh kalau di kantin." Dewa mencoba memecah kecanggungan di antara mereka berdua.
"Oh.... jadi gue itu cerewet? Ok, its fine. Terus ngapain loe bisa berakhir di sini nonton film sama gue? Perasaan gue enggak janjian sama loe dech." Hana mencoba menepis kegugupannya dan bersikap biasa.
" He he he bukan cerewet kok, woles aja kali enggak usah ngegas, Gue tadi sudah mau beli tiket terus gue denger loe ndengus kelebihan 1 tiket, dari pada mubadzir gue tolongin loe biar enggak jadi temannya setan, secara mubadzir kan temannya setan, he he. Terus kalau loe keberatan ngapain tadi loe enggak nolak?" kilah Dewa.
" Gimana mau nolak tadi kan loe langsung nyerobot tiket di tangan gue." bela Hana.
" Ya juga ya? He he he udah ah enggak usah bertengkar mending kita nonton filmnya, ini film favorit gue lho. Anggap saja kita berjodoh buat nonton bersama di sini." goda Dewa.
" Ini juga film favorit gue." Hana mendengus kesal.
Film pun dimulai, mereka berdua asyik menyaksikan aksi seru Dominic Toretto bersama kawan kawannya mengendarai mobil sport andalan mereka. Selama menonton film tanpa sadar mereka larut dalam percakapan yang menghanyutkan. Mereka berdua tampak sangat exited dan menikmati film aksi itu.
__ADS_1
________________________
Dukungan kalian sangat penulis harapkan...🙏🙏🙏