
Tak terasa enam bulan telah berlalu. Hubungan Hana dan Dewa berjalan dengan lancar, meskipun mereka tidak pernah mengeksposnya di sekolah. Bahkan sahabat Hana pun tidak mengetahui kedekatan mereka.
Seperti janjinya, Dewa mulai berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Ia tidak ingin mengecewakan kepercayaan Hana dan keluarganya. Bersama Hana hidup Dewa menjadi lebih terarah dan terasa lengkap. Bukan hanya kehadiran Hana tapi kedua orang tua Hana juga sangat berarti bagi Dewa.
Ibarat sebuah puzzle, hidup Dewa yang dulu berantakan kini telah berhasil disusun rapi bahkan potongan yang dulu tak pernah ada kini telah terlengkapi, kasih sayang orang tua dan sosok seorang ayah. Bertemu dengan Hana adalah anugerah terindah, selain cinta Dewa juga dapat merasakan arti sebuah keluarga yang utuh. Sesuatu yang dulu tak pernah hadir dalam kehidupannya. Melalui bimbingan orang tua dan dukungan Hana, Dewa kembali tekun belajar dan menunaikan ibadah. Prestasi di sekolah pun meroket, bahkan saat ujian semester ia bisa memeroleh nilai tertinggi di kelasnya. Para guru di sekolah merasa kagum dan bangga akan perubahan semangat belajar Dewa.
Dewa benar benar seperti terlahir kembali dengan semangat dan harapan baru. Ya harapan, sesuatu yang dulu pernah ia takuti, karena harapan pernah membuatnya jatuh ke jurang kekecewaan yang teramat dalam dan membuatnya hancur berantakan. Dan Hana adalah sosok yang telah berhasil menarik Dewa dari jurang yang terasa kelam itu.
Berkat Hana kini Dewa mempunyai banyak mimpi yang ingin ia capai. Dan Hana adalah pusat dari semua impian Dewa.
Sore itu Dewa melajukan motornya dengan lesu. Bagaimana tidak? Sosok yang menjadi penyemangat hidupnya, seharian tidak memberi kabar. Bahkan panggilan maupun pesan tidak ada yang dibalas. Sudah beberapa minggu Dewa memang selalu pulang sekolah sore hari karena ada tambahan pelajaran. Biasanya Hana selalu menghubungi untuk menyemangati atau sekadar bertukar kabar. Tapi tidak dengan hari itu, seharian Dewa tidak mendengar maupun melihat sosok Hana di sekolah. Meskipun mereka menutupi kedekatan mereka, tapi biasanya mereka menyempatkan diri bertukar pandang di kantin saat jam istirahat.
" Loe kenapa sih Han? " gerutu Dewa sembari mencoba menghubungi no ponsel Hana.
" Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif." suara dari ponsel yang sedari tadi tak lepas dari tangannya.
" Hufff." Dewa membuang nafas kasar.
" WA enggak aktif, pesan enggak ada yang dibalas, ditelfon juga tidak bisa. Loe baik baik saja kan Han? Apa gue samperin ke rumahnya saja ya?"
Dewa mengarahkan laju motornya ke arah rumah Hana.
Semoga enggak terjadi apa apa sama Hana.
Tidak butuh waktu lama Dewa telah sampai di depan sebuah rumah berwarna hijau. Dengan segera ia turun dari motor dan bergegas menuju pintu masuk.
" Tok tok tok!"
" Assalamualaikum." tidak ada respon dari dalam rumah. Bahkan rumah itu terlihat sepi seperti tidak ada penghuni di dalamnya.
Dengan ragu ragu Dewa membuka pintu rumah itu.
" Ceklek." Dewa agak terkejut karena pintu rumah tidak terkunci.
__ADS_1
Pintunya kok enggak dikunci, ada apa ini? Semoga tidak ada hal buruk yang menimpa Hana dan keluarganya.
Dewa memberanikan diri memasuki rumah itu untuk menghilangkan rasa penasarannya. Secara pelan pelan ia melangkahkan kakinya.
"Assalamualaikum, Om, Tante, Hana?" Dewa menerobos melewati ruang tamu menuju ke ruang tengah.
Tiba tiba.
" Waalaikumsalam.... surprise...!" teriak Hana, Evi dan kedua orang tuanya.
Mata Dewa terbelalak, tubuhnya mematung. Seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Hana berdiri bersama orang tuanya sembari membawa sebuah kue tart berukuran besar di depannya berhiaskan lilin dengan angka 19. Tanpa Dewa sadari air mata telah lolos dari pelupuk matanya.
" Selamat ulang tahun." seru Hana.
" Kalian....hiks hiks hiks." Dewa tak mampu melanjutkan kata katanya. Tangisnya pecah, air mata yang tadi sempat lolos kini telah mengalir deras ke pipinya.
Ayah Hana mendekat, dipeluknya tubuh Dewa dengan penuh kasih sayang.
Dewa memejamkan matanya.
Semoga ini semua bukan sekadar mimpi yang akan menghilang saat mata terbuka. Lindungilah selalu keluarga ini Ya Allah. Limpahkanlah kebahagiaan atas mereka. Dan semoga kelak aku bisa menjadi bagian sesungguhnya dari keluarga ini. Jadikanlah Hana sebagai jodohku yang kelak akan selalu berada di sisiku.
Dewa membuka matanya dengan perlahan, terbesit rasa takut jika apa yang ada di depannya akan menghilang seiring dengan matanya yang terbuka.
" Ayo cepat tiup lilinnya, berat tahu bawa roti ini dari tadi." ucapan Hana menyadarkan Dewa dari lamunannya.
Dengan senyum terkembang akhirnya Dewa meniup lilin yang sudah tidak berbentuk angka 19 lagi karena sudah terlalu lama terbakar.
"Fuhhh." lilin di atas kue tart itu pun padam, disambut dengan tepuk tangan dari Evi dan kedua orang tua Hana.
" Ayo potong kuenya, ini buatan gue dan ibu loh. Dijamin pasti enak." Hana menyodorkan kue tart di tangannya.
__ADS_1
Dewa memotong kue itu dan membagikan ke Hana dan keluarganya.
" Selamat ulang tahun ya, bahagia selalu." ucap ibu Hana sembari memeluk Dewa.
" Terima kasih banyak Tante. Ini adalah ulang tahun terindah seumur hidup saya. Terima kasih semuanya. Terima kasih." ucap Dewa dengan penuh haru. Bulir bulir air kembali lolos dari pelupuk matanya.
"Hai sudah jangan menangis, moment ulang tahun harus dirayakan dengan senyum kebahagiaan bukan air mata." ucap ibu Hana sembari melepas pelukannya yang nyatanya juga ikut meneteskan air mata. Ia membayangkan bagaimana hidup Dewa selama ini. Hidup tanpa ada kasih sayang orang tua yang mendampingi.
Hana pernah menceritakan semua kisah Dewa kepada kedua orang tuanya. Ia tidak mau menutupi apa pun dari orang yang telah merawat dan membesarkannya. Ia takut jika orang tuanya akan kecewa apabila mengetahui kisah Dewa dari orang lain. Namun di luar dugaan Hana, bukannya marah atau kecewa, orang tuanya justru sangat bersimpati dengan hidup Dewa. Dan mereka yakin bahwa Dewa adalah sosok yang baik. Dan tugas Hana adalah membimbing Dewa agar tidak lagi menempuh jalan yang salah.
" Sudah sudah jangan ada tangisan lagi." ayah Hana memecah keharuan.
" Saya dengar dari Hana kamu berhasil menjadi juara kelas di ujian semester ya? Selamat ya, saya harap kamu tetap rajin belajar agar ujian berikutnya mendapat nilai yang memuaskan. Dan kelak bisa melanjutkan di perguruan tinggi yang kamu inginkan."
" Terima kasih Om. Ini semua berkat doa dan dukungan kalian semua." sebuah senyum menghiasi wajah tampan Dewa.
" Selamat ulang tahun ya Kak Dewa." Evi menjabat tangan Dewa. Dewa membalas dengan anggukan dan senyuman.
" Selamat ulang tahun ya, semoga dapat tercapai semua angan dan cita cita loe." Hana menyodorkan tangannya di depan Dewa. Bukannya menyambut uluran tangan Hana, Dewa justru memeluk tubuh Hana.
" Terima kasih, ini adalah ulang tahun terindah yang pernah gue lalui." ucap Dewa dengan penuh kebahagiaan.
" Eh eh eh, ingat bukan muhrim. Enggak usah peluk peluk. Belum halal." ucap ayah Hana sembari memisahkan Hana dan Dewa.
Dewa meringis memperlihatkan deret giginya yang putih sembari menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
" Maaf Om, khilaf. He he."
" Khilaf khilaf, makanya belajar dan usaha yang rajin biar cepat menggapai semua mimpi. Baru nanti nikah terus boleh peluk sepuasnya."
" He he, saya janji Om saya akan berusaha keras agar kelak bisa sukses dan pantas untuk bersanding dengan Hana."
Dalam diam Hana mengaminkan ucapan Dewa. Setitik air mata lolos di sudut matanya yang sedari tadi ia tahan.
__ADS_1
Dewa menatap lekat wajah Hana yang tampak bersemu merah.
Gue janji akan berusaha keras agar kelak bisa membahagiakan Hana. Gue enggak mau mengecewakan keluarga yang telah melimpahi gue dengan penuh kasih sayang ini. Demi Hana GUE AKAN MENJADI LEBIH BAIK.