Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Keributan


__ADS_3

Setelah mendapat bujukan dari Rani dan Laura akhirnya tangis Hana mereda. Namun dia belum bisa bercerita tentang drama toilet yang menjadi penyebab tangisannya karena ia tidak mau mengumbar perilaku suaminya di masa lalu. Biar bagimana pun tugas suami istri adalah menjadi pakaian untuk satu sama lain yang bertugas untuk menutupi kekurangan pasangan masing masing. Dan akal sehat Hana masih berpegang pada itu semua.


Sebenarnya Hana tidak pernah mempermasalahkan masa lalu Dewa yang kelam. Namun entah mengapa saat ini dirinya merasa sakit hati dan sedih tatkala mengingat bahwa wanita cantik yang mengaku memiliki wajah dan tubuh nyaris sempurna itu pernah menjadi kekasih lelaki yang sangat ia cintai. Bahkan hatinya menjadi sangat tidak rela jika membayangkan adegan suami dan wanita bernama Vina itu tatkala kepergok dirinya di bilik toilet SMA.


Kenapa sekarang aku merasa sakit hati dan tidak rela ya, padahal kejadian itu kan sudah sangat lama. Meskipun mereka melakukannya sebelum Dewa menjadi kekasihku, tapi kenapa aku merasa terhianati? Aku merasa takut jika Vina dan Dewa kembali menjalin hubungan. Oh, come on Hana..... Aku enggak boleh berpikir seperti itu, bukankah Dewa adalah lelaki yang baik dan setia. Kenapa aku jadi semakin cengeng dan punya pikiran seperti ini sich...?


" Sayang kita kembali ke meja makan ya, Dewa pasti sudah khawatir karena lama menunggu." suara Rani menyadarkan Hana dari lamunannya.


" Iya Han, kita kembali ke meja makan sekarang ya. Cacing di perutku sudah demo besar besaran minta diberi makan." imbuh Laura yang memang sudah merasa kelaparan dan tidak nyaman


" Baiklah kita kembali sekarang." Hana memaksakan sebuah senyum di bibirnya karena sebenarnya ia belum bisa seratus persen menghapus rasa cemas dan kecewa di hatinya.


" Kamu baik baik saja kan Han? Kenapa terlihat lesu seperti ini? Senyuman di wajahmu juga terlihat kaku." Laura menelisik Hana dengan seksama. Ia menyadari bahwa ekspresi Hana menandakan bahwa ia masih tidak baik baik saja.


" Iya Sayang, kamu kenapa? Masih kesal? Atau kecapekan?" cecar Rani mengamati raut wajah menantunya.


" Aku baik baik saja kok, mungkin karena kecapekan dan pengaruh hormon saja Bu. Aku sama sekali tidak merasa kesal dan sudah melupakan ucapan Vina barusan." ucap Hana sembari melebarkan senyum di bibirnya.


" Kamu yakin? Kamu tidak sedang merahasiakan sesuatu dariku kan?" bisik Laura sambil menggandeng lengan Hana.


" Iya Mak Laura yang bawel......"


" Deg..." jantung Hana seakan berhenti berdetak sejenak. Matanya membulat dan kembali memerah, namun bukan karena air mata tapi disebabkan oleh emosi yang hampir naik ke ubun ubun.


Baru saja Hana berusaha keras untuk tidak berpikir macam macam tentang suaminya dan Vina kini justru melihat di depan mata si wanita jadi jadian yang baru saja ribut dengan ibu mertuanya itu tengah duduk di dekat lelaki yang teramat ia cintai. Tangannya mengepal erat mencoba menahan amarah yang kian memuncak. Ingin rasanya ia menghajar wanita jal@ng itu sampai babak belur agar tidak mampu lagi menyombongkan wajah palsunya.

__ADS_1


Nafas Hana kian menderu tatkala melihat Vina berusaha menggoda Dewa yang tengah duduk di tempatnya sedari tadi. Tanpa merasa malu wanita berpakaian minim itu sengaja menonjolkan bagian depan tubuhnya yang seakan meronta ingin keluar karena merasa berdesakkan di dalam sana.


Awalnya Vina hanya ingin menikmati es krim untuk meredakan amarahnya setelah tadi sempat melakukan adu mulut yang menguras emosi. Namun siapa sangka bahwa dirinya melihat sosok lelaki yang pernah dan masih singgah di dalam hatinya duduk seorang diri di salah satu sudut ruangan. Bahkan setelah delapan tahun lebih tidak berjumpa, kini penampilan Dewa kian terlihat tampan dan mempesona. Ditambah lagi tubuhnya tampak lebih tegap dan atletis membuat setiap kaum hawa pasti kelepek kelepek.


Tanpa menunggu lama dan penuh rasa percaya diri, ia menghampiri Dewa untuk menyapa, berharap lelaki tampan yang kian terlihat tampan itu akan terpesona dengan dirinya. Namun sayang seribu sayang, Dewa sama sekali tidak tertarik dengan dirinya. Jangankan terpesona, menatapnya saja Dewa enggan. Bahkan ia sudah terang terangan meminta Vina untuk segera pergi karena ia sedang bersama istri tercintanya. Tapi apa hendak dikata memang dasar Vina yang tidak tahu malu. Alih alih pergi ia justru mencoba berbagai cara berharap agar Dewa bisa tertarik dengan dirinya. Walaupun usahanya untuk menarik perhatian Dewa gagal, tapi ia tetap kekeh duduk di dekat Dewa.


Dasar jal@ng, berani beraninya dia mendekati calon ayah strawberry peanutku. Sepertinya dia memang harus dihajar.


" Dasar jal@ng....! Apa yang kau lakukan....?!" sebuah teriakan keras bukan berasal dari Hana, tapi Rani.


" Plakkkk....!" sebuah tamparan keras mendarat di pipi Vina.


Laura, Hana dan Dewa sempat tertegun karena tidak menyangka bahwa wanita yang biasa tampil elegan dan teramat sangat jarang marah itu bisa menampar seseorang di tempat umum.


" Aouw.... ****....!! Apa yang Anda lakukan? Dasar wanita aneh....!" teriak Vina sembari memegangi pipinya yang tampak memerah.


What? Anak?! Maksudnya Dewa adalah anak wanita ini?


Vina menatap intens manik Rani seakan tidak percaya dengan ucapan yang baru ia dengar.


" Kenapa diam?! Dasar wanita tidak tahu malu....! Kamu..." Rani berusaha untuk menyerang Vina namun segera dihadang oleh Dewa karena kini mereka telah menjadi pusat perhatian. Dan Dewa tidak ingin Ibunya melakukan sesuatu yang kian menambah keributan.


" Ibu cukup jangan dilanjutkan lagi. Malu dilihat orang." cegah Dewa lembut.


" Kamu membelanya? Kamu membela Vina?" tanya Hana lirih dengan nada datar sembari mendekat ke arah Dewa. Entah sadar atau tidak kini wajah manisnya penuh dengan linangan air mata.

__ADS_1


" Sayang aku tidak membelanya, kamu jangan salah paham." tangan Dewa hendak meraih tubuh istrinya, namun Hana justru buru buru melenggang pergi.


" Dewa pipiku sangat sakit, Ibumu menamparku dengan sangat keras." ucap Vina manja mencoba menghalangi langkah Dewa yang hendak mengejar istrinya. Rani dan Laura sampai memelototkan mata mereka mendengar ucapan Vina yang tidak tahu malu itu.


" Minggir.....!" Dewa memandang jijik ke arah Vina. Ia bergegas berlari mengejar istri tercintanya.


" Dasar jal@ng menjijikkan...." dengus Laura penuh dengan amarah.


" Apa katamu...?!" bentak Vina.


" Kamu menjijikkan......!!! Men-ji-jik-kan...!!!" Laura menaikkan intonasi suaranya. Ia tidak peduli dengan tatapan orang orang di sekitarnya.


" Ka_"


" Apa..?! Kamu tidak terima...??!" Laura kian dibakar emosi.


" Argh...." tangan Vina tiba tiba menjambak rambut Laura dengan kuat.


" Arghhhhhh..... !" Laura balas menjambak rambut Vina dengan segenap tenaga.


" Dasar jal@ng..... Rasakan ini...!!!!" Rani ikut ikutan menjambak rambut Vina sehingga terjadilah aksi jambak menjambak di antara ketiga wanita itu.


Aksi mereka kian panas penuh dengan kucuran keringat dan jeritan. Namun setelah beberapa menit duel dua lawan satu itu terpaksa berakhir tatkala beberapa satpam melerai ketiganya.


" Tante aku sama sekali tidak menyangka bahwa Tante juga bisa seperti ini." ucap Laura dengan nada datar.

__ADS_1


"Hah...? Ha ha ha, aku juga tidak menyangka kalau aku bisa berbuat seperti ini. Namun ternyata berkelahi rasanya sangat lega dan menyenangkan, pantas saja Hana senang melakukannya. Ah, tapi sayang kenapa satpam satpam itu harus datang untuk melerai kita padahal aku belum puas memberi pelajaran jal@ng itu." dengus Rani. Ini adalah kali pertama dirinya berkelahi di depan umum. Selama ini ia selalu menjaga sikap dan selalu mengendalikan emosinya agar selalu terlihat elegan, namun saat ada seseorang yang menghina menantu kesayangannya emosinya benar benar tersulut.


__ADS_2