
Yusuf membelalakkan mata saat seorang wanita muda pelayan kedai es krim membawakan pesanan ibu hamil di depannya. Ia tidak menyangka bahwa sahabatnya itu akan memesan es krim dalam porsi besar dengan beberapa varian.
Sedangkan Hana menyambut kedatangan es krim itu dengan mata berbinar. Ia sudah tidak sabar untuk segera melahap makanan manis bertekstur lembut itu. Potongan kacang dan lelehan coklat di atasnya membuat air liur Hana siap untuk menetes.
" Hmmmmm, yummmy." puji Hana yang tidak menunggu waktu lama langsung memasukkan sendok penuh dengan es krim ke dalam mulutnya.
Hana terlihat begitu lahap menyantapnya seakan sudah sangat lama ia mendambakan makanan dingin itu.
" Enak banget ya Han? Sampai segitunya kalau makan?" Yusuf mengaduk aduk lemon tea pesanannya dengan sedotan di tangannya.
"Huum. Rasanya benar benar mantul, perpaduan kelembutan susu, manis, dingin, gurih dan seger, pokoknya enak banget." ujar Hana dengam mulut penuh es krim di dalamnya.
" Kamu mau? Pesan saja sendiri karena ini semua adalah milikku. Tak kan kubiarkan kamu mengambil jatah anak anakku."
He he wanita hamil memang aneh. Sejak kapan Hana jadi pelit mengenai makanan.
" Jangan khawatir, aku sama sekali tidak tertarik dengan es krim itu. Makanlah perlahan tidak ada yang ingin merebutnya. Tapi kamu yakin mau menghabiskan ini semua sendiri? Ini banyak banget loh Han. Lagian kamu memang pengen atau kelaparan sih? Sampai segitunya kalau makan?" tanya Yusuf merasa kenyang sendiri melihat cara makan Hana yang bar bar seakan sudah beberapa hari tidak menikmati makanan padahal selama tadi menunggu Rani dan Laura belanja mulut Hana tidak pernah berhenti mengunyah makanan.
" Bodho, ini memang enak banget."
" Halah, kalau kamu sih semua makanan pasti dibilang enak banget. Kemarin ada abang abang penjual es doger keliling juga kamu bilang enak banget." gerutu Yusuf.
" He he, tapi memang semua terasa enak. Benar kan baby?" Hana mengelus perutnya dengan lembut.
" Enak sih enak tapi jangan keseringan makan banyak es krim seperti ini. Enggak bagus buat kesehatan. Bisa menyebabkan obesitas, gangguan jantung, kolestrol, diabetes dan penurunan kesehatan usus." tutur Yusuf dengan enteng sambil melepas masker.
Aktifitas makan Hana terhenti sejenak karena ucapan Yusuf.
" Kamu menyumpahiku?" selera makan Hana hilang seketika. Tiba tiba saja matanya mengeluarkan cairan bening dengan sendirinya.
" Hiks hiks, kamu tega banget berkata buruk seperti itu padaku." cairan bening itu kini telah mengalir membasahi kedua pipi putih Hana.
" Hei kenapa menangis? Aku tidak menyumpahimu ataupun berkata buruk tentang dirimu. Aku hanya menuturkan dampak kebanyakan makan es krim yang berlebihan. Dan itu semua juga bukan perkataanku, tapi google. Jadi salahkan saja google. Sudah ya jangan menangis lagi, lanjutkan saja makan es krimnya. Lagi pula tidak semua yang tertulis di google itu benar kan?"
__ADS_1
Semenjak hamil emosi Hana memang tidak menentu. Ia menjadi gampang marah, sedih atau pun menangis. Hal hal kecil dan sepele bisa dengan mudahnya mengalirkan cairan bening di matanya. Terkadang ia juga berubah menjadi sangat manja.
" Ini hapus air matamu. Ibu hamil enggak boleh sering menangis. Ingat kata dokter Raisa bahwa ibu senang maka baby di perut juga akan tenang." Yusuf mengambil beberapa tissue yang tersedia di meja dan menyerahkannya ke Hana agar segera menghapus air mata di wajah cantiknya.
" Baiklah, aku tidak ingin menangis lagi. Apa semua wanita hamil memang berubah jadi cengeng dan emosional seperti diriku ya?" tanya Hana pada dirinya sendiri.
" Tidak semua tapi memang kebanyakan iya. Jangan khawatir itu normal kok, pengaruh perubahan hormon." ucap Yusuf sambil memasukkan sedotan ke dalam mulutnya.
" Kamu sudah move on dari Laura ya Suf?" tanya Hama tiba tiba mengganti topik pembicaraan.
" Uhuk uhuk...." Yusuf menatap heran ke arah Hana.
" Maksudmu apa? Kapan aku pernah bilang kalau aku mencintai Laura?"
" Kalau bukan Laura lalu siapa gadis rahasia yang kamu cintai? Aku? Enggak mungkin kan?" desak Hana.
" Kalau aku bilang ya, gadis yang pernah aku cintai adalah kamu..?" Yusuf menatap tajam ke netra Hana. Ini adalah kali pertama manik mata Hana dan Yusuf bertemu dan saling mengunci satu sama lain.
" Aku? Ha ha ha......" tawa Hana meledak.
Huh percuma juga bicara jujur dengan Hana.
" Uhuk, a_ apa?" tawa Hana sirna seketika.
" Iya, gadis yang pernah sangat aku cintai adalah dirimu, Mikayla Hanania. Gadis yang membuat aku menjadi jomblo sampai saat ini. Gadis yang selalu aku rindukan senyum dan suaranya. Gadis yang menjadi alasan kebahagiaanku. Gadis yang hanya bisa aku cintai dalam diam. Gadis itu adalah kamu, bukan Laura." ucap Yusuf dengan penuh kesungguhan.
" Yusuf....." lirih Hana.
" Tapi jangan khawatir, seperti ucapanmu tadi saat ini aku sudah berhasil move on. Aku benar benar sudah bisa mengubur rasa cintaku kepada dirimu. Aku sudah mengikhlaskan dirimu untuk Dewa. Karena aku yakin cintanya lebih besar dari cintaku. Dan aku bahagia melihat dirimu hidup bahagia bersama Dewa. Dulu, kini, dan nanti aku akan selamanya menjadi sahabat kamu. Bahkan sekarang status aku bertambah menjadi saudara iparmu. Seperti ini bagus juga kan?" Yusuf mengeluarkan semua unek uneknya.
" Terima kasih ya Yusuf, kamu memang sahabat dan saudara ipar aku yang super duper baik." Hana tersenyum manis.
" Sudahlah jangan melihatku sambil tersenyum seperti itu. Kamu tidak perlu merasa terharu."
" Aku sama sekali tidak terharu. Aku hanya merasa lucu melihatmu bicara serius dengan bibir bengkak seperti itu. Ha ha ha." ekspresi wajah Hana berubah dalam sekejap mata.
__ADS_1
" Ah, seharusnya aku sudah bisa memprediksi reaksimu akan seperti ini. Menyebalkan..! Dasar sahabat tidak punya akhlak. Seharusnya kamu merasa terharu dengan pengakuanku, lalu aku akan menghiburmu bahwa semua baik baik saja. Bukan malah mengejekku seperti ini." dengus Hana.
" Ha ha ha, iya iya aku terharu."
" Terharu apanya? Mana ada terharu malah tertawa seperti itu?" ketus Yusuf.
" Baiklah, oke....." Hana menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan untuk menghentikan tawanya.
" Terima kasih ya Suf, untuk semua. Terima kasih karena pernah menjadikanku sebagai penghuni hatimu. Dan kini sebagai sahabat dan saudara iparmu aku menyarankan agar kamu segera mencari pacar. Kamu sudah lihat kan kalau aku hidup bahagia bersama Dewa, jadi aku sangat berharap kamu juga bisa hidup bahagia bersama wanita yang kamu cintai. Tapi mengapa dulu kamu tidak memberitahuku tentang perasaanmu? Mengapa harus kamu pendam sendiri?"
" Dulu aku terlalu pengecut untuk memgatakannya. Aku takut perasaanku hanya akan merusak persahabatan kita saja." Yusuf berkata jujur.
" Dasar bodoh... Mana mungkin persahabatan kita akan rusak hanya karena pernyataan cinta." dengus Hana.
" Ha? Maksudmu? Jika dulu aku punya keberanian mengungkapkan cinta padamu akan kamu terima?"
" Tentu saja tidak." jawab Hana dengan cepat.
" Mengapa?"
" Karena kamu tidak setampan diriku." sahut Dewa yang tiba tiba berdiri di dekat Hana.
" Dasar narsis." gerutu Yusuf.
" Bukan narsis, tapi kenyataan." ucap Dewa dengan penuh percaya diri.
" Iya itu benar. Suamiku ini memang sangat tampan." tutur Hana yang mendapat hadiah sebuah kecupan dari sang suami.
" Ya ya ya..... Kalian memang sangat serasi." Yusuf menyeruput lemon tea di gelasnya dengan kasar seakan lupa dengan luka di bibirnya.
" Tapi ngomong ngomong aku salut banget sama kamu Suf. Pasti butuh banyak keberanian untuk bisa mengungkapkan perasaanmu. Dan sepertinya saat ini kamu sudah bisa benar benar move on." puji Dewa.
" Iya kamu benar. Rasanya sekarang sangat lega. Huft.... Akhirnya aku bisa benar benar move on." seru Yusuf.
" Tentu saja karena sekarang kan sudah ada dokter Raisa." imbuh Hana dengan sorot mata penuh arti.
__ADS_1
Yusuf terdiam dan entah kenapa hatinya mengiyakan ucapan Hana. Bibirnya tersenyum tatkala membayangkan kembali penyebab luka di bibirnya.
Raisa? Mungkinkah aku sudah jatuh cinta dengan dirinya? Tapi di memang cantik sih.