Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Perfect Night


__ADS_3

Radit berjalan keluar bioskop sambil memegangi hidungnya yang berdarah. Ia mendatangi teman temannya yang pada saat itu memang sedang nongkrong di area mall Xx itu. RAME itulah nama group mereka, sebuah group yang beranggotakan 4 orang mahasiswa kampus EA, Radit, Ali, Muklis, dan Edi. Entah faktor apa yang menjadi latar belakang terbentuknya group itu. Namun hubungan mereka selama ini bisa dibilang sangat kompak.


" Busyet, kenapa muka loe Bro?" tanya Edi yang terkejut melihat hidung dan mulut Radit mengeluarkan darah.


" Abis nonton Fast and Furious kok muka loe kayak gitu, emang tadi loe ikut digebukin ma Dom ya?" timpal Muklis, seorang lelaki yang berpawakan tinggi tegap dan memang mempunyai tampang paling sangar diantara personil RAME.


"Sialan kalian. Sakit tahu..! Gue belum siap tau tau udah main pukul aja. Huaaaaaaaa sakitnya tuh disini.....! Pokoknya gue enggak terima, gue harus bales tu bocah." Radit merintih sambil memegangi hidung dan bibirnya yang terlihat nyonor.


Ali melihatnya dengan jengah.


" Ayo buruan, mana bocahnya? Kita abisin rame rame."


" Tadi masih di dalam bioskop, gue buruan ke sini buat panggil kalian."


"Ya udah ayo cepetan tunggu apalagi?" ajak Muklis dengan semangat.


Mereka pun bergegas mengawasi pintu keluar bioskop. Dan benar saja, tak butuh waktu lama yang ditunggu keluar.


" Itu dia!" tunjuk Radit ke arah seorang pemuda tampan berpostur tinggi yang sedang berjalan dengan menggandeng seorang gadis cantik. Mereka berdua terlihat sangat serasi.


" Pasangan sempurna." celetuk Edi.


"Apaan sih loe kok malah muji, dia yang mbogem gue." geram Radit.


" Ya udah kita buntuti mereka, entar kita keroyok di tempat yang sepi." tutur Ali.


Mereka pun membuntuti duo sejoli itu dengan mengendarai sepeda motor RX King andalan mereka dengan berboncengan. Radit bonceng Ali, sedangkan Edi bersama Muklis.


Di tengah perjalanan.


" Busyet... mereka pelan banget ya bawa motornya. Kapan nyampenya?" protes Muklis.


" Namanya juga orang pacaran.... kalau bisa waktu enggak mau berputar, seakan dunia hanya milik berdua. Kayak enggak pernah pacaran aja loe." ujar Edi.


Muklis terdiam, perkataan Edi menohok hatinya. Karena ia memang belum pernah merasakan pacaran. Entah memang nasib atau apa ia selalu ditolak gadis yang ia sukai.


"Bro, mereka berhenti..." tunjuk Radit.


" Kok malah berhenti makan si,,, sialan."


" Ya udah ayo kita makan sekalian dari pada cuma nungguin orang makan, laper tau" Ali memparkirkan motornya di dekat tenda nasi goreng yang berjarak 50 meter dari incaran mereka.


Mereka pun menikmati nasi goreng bersama tentu saja Radit yang harus membayar karena ini kan kepentingannya.


"Eh mereka udah jalan Bro, ayo saatnya kita beraksi. Perut udah kenyang semangat...!!" Muklis dengan semangat menggebu.


Mereka pun kembali mengendarai motornya dan melaju di jalanan. Menunggu jalanan yang sepi untuk memulai aksinya.

__ADS_1


Sampai di jalan yang sepi mereka segera menghadang motor sport berwarna hitam yang sedari tadi mereka buntuti.


"Heh turun loe." teriak Muklis.


"Apa apan ni?" tanya Dewa dengan heran.


Ya, motor yang RAME buntuti sedari tadi tak lain adalah milik Dewa.


" Mereka siapa?" bisik Hana. Matanya menelisik ke arah empat orang di depannya.


" Wait, bukannya loe om yang tadi ada di bioskop." saat mata Hana melihat sosok yang ia kenali.


" Ha ha ha."secara refleks mereka bertiga tertawa karena Hana menyebut Radit dengan kata om.


"Heh diam! kok malah tertawa sih. Dan loe adek manis, gue Radit umur gue baru 21 tahun. So jangan panggil gue Om." tunjuk Radit ke arah Hana.


" Oh ya maaf kirain udah om om, abis kumis loe lebat banget sih kayak abang tukang sate.."


Mereka bertiga kembali tertawa.


" Gue kan udah bilang Bro, ilangin tu kumis." bisik Ali.


" Enak aja, ini ciri khas keluarga gue. Kalau gue ilangin entar gue dicoret dari kartu keluarga." jelas Radit dengan suara lirih.


Mereka terdiam, memasang wajah garang dan mulai menatap Dewa dengan sorot mata yang tajam.


" Iya, karena dia memang harus dipukul." jawab Dewa datar.


" Nantangin loe ya." Ali hendak memukul wajah Dewa.


Tapi, "Bugh...!!" sebuah tendangan super keras mendarat di wajah Ali hingga ia terhuyung jatuh. Seketika wajahnya terlihat memar, darah segar mengalir dari hidungnya.


" Aouw aouw " rintih Ali.


Mereka semua terkejut dengan serangan tiba tiba itu. Dewa pun sampai melongo, menatap Hana yang sudah berdiri dengan mode bertarung dengan kuda kuda yang sempurna.


" Lets begin, tunggu apa lagi. Udah lama gue enggak fight langsung kayak gini." suara Hana menyadarkan mereka dari keterkejutan.


" Come on ..." Hana terlihat sangat bersemangat.


Pertarungan sengit pun tak dapat dihindari. Mereka bertukar pukulan dan tendangan. Dalam waktu singkat, team RAME pun terkapar tak berdaya.


" Ye .. kita menang." Hana mengajak Dewa untuk melakukan tos.


Hana mengatur nafasnya agar kembali normal, jantungnya berdetak cepat bukan karena desiran cinta tapi karena pacuan hormon adrenaline.


Dewa masih menatap takjub ke arah Hana, tak ada peluh di tubuhnya. Karena memang selama pertarungan Hana yang mendominasi, bahkan ia tak memberi kesempatan Dewa untuk sekadar melancarkan pukulan ke team RAME.

__ADS_1


Hana mendatangi team RAME yang tergeletak di tanah.


" Gimana masih mau lagi?"


" Enggak enggak, ampuun " suara mereka bersamaan. Mereka tak menyangka bahwa akan dikalahkan oleh seorang gadis cantik dengan tangan kosong. Harga diri mereka benar benar hancur.


" Damai?"Hana mengulurkan tangan ke arah mereka sembari tersenyum sangat cantik.


Team RAME sama sekali tak menduga Hana akan mengulurkan tangan untuk berdamai. Mereka mengangguk bersamaan.


" Maafin kami, loe hebat dan baik banget." tutur Muklis dengan berlinang air mata, entah itu sakit atau rasa haru.


Hana dan Dewa membantu mereka untuk berdiri.


" Ada yang parah enggak? Perlu gue anter ke rumah sakit?" suara Hana terdengar lembut.


Tentu saja mereka menolak tawaran Hana, mau ditaruh kemana muka mereka. Mereka berusaha tersenyum menutupi rasa sakit dan malu.


" Gue harap kalian enggak akan dendam ma gue, kenalin gue Hana. Mungkin kita bisa lebih baik lagi di perjumpaan berikutnya. Atau kalau masih mau lanjutin juga boleh." Hana menyeringai.


Mereka menggeleng dengan cepat dan menjabat tangan Hana sembari memperkenalkan diri mereka satu per satu. Ini adalah kekalahan yang paling memalukan yang pernah mereka alami, namun juga terindah karena bisa mengenal sosok Hana yang cantik, tangguh dan baik hati seperti sosok seorang Dewi.


Team RAME pun undur diri, dengan wajah penuh lebam. Di hati mereka tak akan pernah melupakan sosok Hana. Diam diam mereka semua terpesona dengan wajah dan perangai Hana.


"Hati hati di jalan" teriak Hana sambil melambaikan tangan melepas kepergian mereka.


Dewa masih menatap takjub ke arah Hana. Dia benar benar terkejut dan kagum akan kemampuan dan watak Hana.


Gue tambah cinta banget ma loe Han. You're so spesial. Mecintai loe adalah hal terindah dalam hidup gue , gila bisa bucin parah ni gue.


"Wow malam ini benar benar seru,, bisa nonton film aksi terfavorit, makan bebek goreng sampai kenyang dan ditutup dengan fight secara langsung kayak di adegan film


Puas banget gue....." teriak Hana dengan semangat.


" Loe manusia biasa kan Han, bukan jadi jadian?"


" He...? Maksud loe?" geram Hana.


" Ya kirain, siapa tahu diam diam loe punya taring. Kan serem, cantik cantik ternyata moster. He he he. " goda Dewa.


" Apaan sih loe, kalau gue punya taring sudah gue gigit loe sedari tadi." ketus Hana.


" Mau gigit sekarang juga boleh." tatapan Dewa penuh arti.


" Dasar playboy mesum, ayo cepat anter gue pulang sudah malam ni."


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan, tentunya dengan posisi yang sama tangan Hana melingkar di pinggang Dewa.

__ADS_1


Malam yang indah, gue benar benar enggak nyangka akan ada hari seperti ini. Nonton film favorit, makan malam sampai puas, memenangkan pertarungan di jalanan dan yang membuat semakin indah bahkan menyempurnakan adalah gue bersama loe. Menggenggam tangan dan memeluk loe seperti ini. It's so perfect. Gue harap esok sinar matahari tidak akan menguapkan semua ini. Loe telah menjadi yang pertama di hati gue, gue harap loe bisa menjadi yang terakhir. Tolong jangan hancurkan harapan dan keyakinan gue.


__ADS_2