Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Menghilang


__ADS_3

Raibnya Hana dari kediaman keluarga baru disadari oleh orang tua dan penghuni lainnya di saat acara pernikahan telah usai. Sejenak setelah tamu terakhir, ibu dan ayah Hana baru tersadar bahwa tokoh utama dalam acara itu tidak terlihat batang hidungnya.


" Laura kamu lihat Hana?" tanya ibu Hana mencari keberadaan anak sulungnya.


" Hana? Tadi terakhir aku lihat dia mau nyari Dewa Tante. Tapi sampai sekarang aku belum lihat dia lagi." jawab Laura yang baru tersadar bahwa sedari tadi sosok sahabatnya itu tidak ada.


" Biar aku telpon dulu Tan, tadi dia keluar pakai kaos warna biru dengan celana katun selutut andalannya." Laura mencoba menghubungi no ponsel Hana.


" Tuuuuutttttt... tuuuuuttttttt....." panggilan Laura tersambung tapi tidak dijawab oleh pemiliknya.


" Tidak dijawab Tan." setelah beberapa kali percobaan akhirnya Laura menyerah juga.


" Gustiiiiiii kemana sih anak ini? Oh, Dewa, coba hubungi Dewa." Ibu Hana mulai tampak khawatir.


Laura menuruti perkataan ibu sahabatnya itu, dia meminta Yusuf untuk menghubungi Dewa karena memang dia tidak memiliki kontak Dewa. Namun hasilnya sama saja, tersambung tapi tidak dijawab.


" Gustiiiiii..... kemana mereka berdua?" ibu Hana tambah panik.


" Tenang Bu, jangan panik seperti ini. Ayo kita cari lagi bareng bareng." ayah Hana berusaha tetap berfikir dingin.


" Sebenarnya ada apa sih Om, Tante?" tanya Yusuf yang tidak tahu menahu akar kepanikan orang sekitarnya.


" Hana dan Dewa hilang Suf." jelas Laura.


" Hah, hilang? Tadi aku bertemu Hana keluar lewat pintu kebun belakang rumah. Katanya sih mau cari angin."


"Kapan itu?" mata ibu Hana tampak sedikit berbinar.


" Satu jam yang lalu."


" Ayo kita cari ke sana Yah, siapa tahu Hana dan Dewa memang berada di sana." ibu dan ayah Hana beranjak ke sana diikuti oleh Laura dan Yusuf, sedangkan Evi ditugaskan untuk mencari di dalam rumah sekali lagi.


" Hana....?! Dewa....?!" panggil mereka bersahutan namun tidak ada jawaban dari pemilik kedua nama itu.


Hampir setengah jam mereka mencari, namun tidak membuahkan hasil juga.

__ADS_1


" Bagaimana ini? Sebenarnya di mana Hana dan Dewa berada? Apa jangan jangan_?" Laura terlihat frustasi.


" Mereka digondol wewe gombel? Gustiiiii.... mengapa jadi seperti ini? Benar omongan orang tua zaman dulu, bahwa pasangan pengantin dilarang keluar rumah sebelum diberi selamatan. Bagaimana ini Yah... Apa yang harus kita lakukan?" ibu Hana terlihat makin panik.


" Tenang Bu, jangan ngomong macam macam. Zaman sekarang Ibu masih saja percaya dengan wewe gombel. Bagaimana kalau kita lapor polisi saja atas hilangnya Dewa dan Hana?" usul ayah Hana yang terdengar lebih masuk akal.


" Itu enggak bisa Om, hilangnya Hana dan Dewa baru beberapa jam saja. Sedangkan untuk membuat laporan berita orang hilang minimal adalah 24 jam." ucap Yusuf memberi penjelasan.


" Lalu apa yang harus kita lakukan? Membiarkan Hana dan Dewa hilang sampai besok tanpa berbuat apa apa? Dalam 24 jam bisa terjadi banyak hal kan?" tanya Laura yang terlihat semakin cemas.


" Gustiii..... dimana sebenarnya Hana dan Dewa berada?" tangis ibu Hana mulai pecah.


" Tenanglah Bu, aku yakin kakak baik baik saja. Ibu jangan menangis seperti ini. Ibu harus tenang agar suasana tidak semakin runyam." bujuk Evi.


" Benar kata Evi Tante. Tante harus tenang, aku yakin Hana baik baik saja. Hana memegang sabuk hitam taekwondo sejak kecil, kemampuan bela dirinya tidak bisa dianggap remeh. Jadi dia tidak akan mudah untuk disakiti oleh orang lain. Dia pasti bisa menjaga diri." Yusuf mencoba menenangkan ibu sahabatnya itu.


" Lalu dimana Hana dan Dewa sekarang? Di malam pernikahan mereka justru menghilang. Apa kita harus diam saja tanpa melakukan apa pun?" suara ibu Hana sedikit meninggi.


" Begini saja, aku, Evi dan Yusuf akan mencoba mencari Hana dan Dewa. Kami akan mendatangi tempat tempat yang mungkin akan dikunjungi mereka. Tante dan Om tinggal di rumah saja, menunggu kabar dari kami dan jaga jaga kalau Hana dan Dewa kembali. Aku juga akan meminta Kak Rayhan dan teman teman yang lain untuk ikut membantu mencari." usul Laura disetujui oleh mereka semua.


Di tempat lain.


Aku harus tenang, tidak boleh gegabah. Sekuat apapun aku melawan akan sia sia saja karena tangan dan kakiku terikat. Aku akan menunggu saat yang tepat untuk melarikan diri. Sebenarnya siapa orang orang ini? Dan apa tujuan mereka? Mengapa mereka menculikku di hari pernikahan? Ya Alloh, bantulah aku untuk terlepas dari orang orang jahat ini.


Lamunan Hana buyar saat mobil tiba tiba berhenti.


Mobil ini berhenti? Apakah sudah sampai di tempat tujuan mereka? Ya Alloh, dimana ini?


" Ceklek..!" pintu mobil terbuka dan sebuah tangan menarik tubuhnya untuk keluar dari mobil. Tali di kakinya dilepas dengan paksa.


" Jalan...!" bentak salah seorang di antara mereka, bahkan tangannya mendorong tubuh Hana sehingga gadis itu sedikit terhuyung ke depan. Hana melangkahkan kakinya ke depan sembari mencoba membaca situasi. Dan berhenti setelah mendapat arahan untuk berhenti.


Satu orang di depan, belakang, dan kedua sisiku. Berarti ada empat orang yang mengelilingiku. Aku harus segera beraksi saat ada kesempatan yang tepat.


" Heh dimana ini? Siapa kalian? Cepat lepaskan aku!" pinta Hana tanpa ada rasa takut.

__ADS_1


" Baiklah." ucap seseorang sembari memotong tali yang mengikat tangan Hana.


Dan seketika.


" Dugh, bruak, bugh, bruuk...!" Hana mengayunkan kedua kaki dan tangannya secara bergantian ke depan,samping dan belakang tubuhnya. Dan ajaibnya semua pukulannya tepat sasaran ke tubuh para lelaki yang menculiknya.


" Aouw..aouw...." rintih mereka bersamaan. Hana segera melepas kain hitam yang menutup kepalanya. Tangan dan kakinya bersiap untuk melakukan serangan berikutnya.


" STOP.... STOP....!" teriak salah satu lelaki yang hampir saja wajahnya mendapat bogeman dari Hana.


" Ini aku, ini aku. Stop....!" teriaknya lagi sambil melepas topeng di wajahnya dengan tergesa. Aksinya diikuti oleh teman temannya.


" RAME....?!" pekik Hana saat melihat empat wajah orang yang sangat dikenalnya.


" Kalian? Apa maksud kalian melakukan ini semua?" tanya Hana sambil mengarahkan pandangan ke wajah para sahabatnya yang meringis kesakitan, bahkan hidung Radit masih mengeluarkan darah segar karena terkena tendangan kaki Hana yang kekuatannya tidak diragukan lagi.


" Ini semua ide dia....!" Ali menunjuk ke sebuah arah di mana ada sesosok lelaki yang tengah membawa seikat bunga mawar merah dan boneka di tangannya.


" Sayang...?!" mata Hana terperanjat karena ternyata dalang dibalik penculikan adalah suaminya sendiri.


" Happy Birthday." ucap Dewa sembari menyerahkan bunga dan boneka di tangannya.


" Ini_"


"Cup...!" Dewa mengecup mesra kening gadis yang beberapa jam lalu telah menjadi istrinya.


" Ehm..... ehm..... " Muklis berdehem dengan keras.


" Halo.... masih ada kami di sini. Kami bukan nyamuk ya...." imbuhnya dengan suara yang sengaja ia lantangkan.


" He he he, sampai lupa. Terima kasih ya bro sudah membantu aku memberi surprise untuk istri tercinta." Dewa tersenyum ke arah geng RAME.


" Surprise sih surprise, tapi kenapa ujung ujungnya kami harus kena pukul dari Hana. By the way pukulan kamu semakin keras ya Han. Nih lihat hidungku sampai berdarah." ketus Radit.


" Maaf bang Radit, aku kan enggak tahu kalau itu kalian. Lagian kenapa kalian mau mengikuti rencana aneh Dewa." Hana meringis menunjukkan deret putih giginya.

__ADS_1


" Terima kasih dan maaf ya semua." Hana berhambur hendak memeluk keempat sahabatnya itu.


" Heh, dilarang peluk peluk lelaki lain." ucap Dewa mencegah langkah istrinya.


__ADS_2