Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
New Normal


__ADS_3

Sama halnya yang terjadi dalam tatanan kehidupan kala pandemi melanda. Saat semuanya tidak bisa diantisipasi lagi mau tidak mau masyarakat harus bisa kembali melakukan aktifitas dengan penyesuaian yang baru. Begitulah kehidupan Hana, semenjak memenangkan voting melawan Papa mertuanya ia berharap bisa hidup kembali seperti di atas awan, menikmati perannya sebagai ibu hamil dengan penuh suka cita. Dan bisa menjalani kehidupan normal dengan sang suami sebagaimana orang pada umumnya seperti sediakala sebelum kehadiran Russell di kehidupan mereka. Namun semua itu hanya menjadi isapan jempol belaka. Dirinya wajib lapor alias video call dua kali per hari untuk memberitahukan kondisinya meskipun sebenarnya itu tidak perlu karena tanpa video call dari menantunya pun Russell tetap mengetahui kondisi anak, menantu dan calon cucunya dari para anteknya.


Meskipun papa dari suaminya itu telah menarik orang orang suruhan di kediamannya tapi nyatanya Russell masih tetap menempatkan beberapa orang di sekitar anak dan menantunya untuk mengawasi dan menjaga keselamatan mereka secara intens.


Orang orang suruhan Russell seperti bunglon yang berkamuflase dengan lingkungan sekitar Hana dan Dewa. Mereka membaur dan memantau anak dan menantu bos besar mereka tanpa menimbulkan kecurigaan orang orang sekitar. Sebut saja Rina dan Andi tetangga baru Hana dan Dewa yang baru pindah ke rumah dekat mereka beberapa hari ini, tukang cilok yang berkeliling mondar mandir di sekitar rumah Hana, klinik bersalin dadakan dengan fasilitas terbilang "wah" yang tiba tiba saja ada di dekat kediaman Hana, dan bahkan murid serta guru pindahan baru yang muncul di sekolah Hana. Mereka semua adalah orang orang Russell yang bertugas memastikan keselamatan Hana dan Dewa sekaligus menjadi mata dan telinga Russell.


Dokter Raisa selaku dokter obgyn di klinik bersalin dadakan itu berkunjung ke rumah Hana untuk mengecek kondisi kesehatan Hana dan janinnya. Ia berdalih hal itu dilakukan sebagai salah satu bentuk promosi agar klinik bersalinnya dikenal oleh orang sekitar. Tapi nyatanya hanya Hana lah yang mendapat kunjungan spesial itu. Usia kandungan Hana yang menginjak 5 minggu itu dalam keadaan yang sangat baik. Tidak ada keluhan dari kehamilan Hana yang mengganggu keseharian dan pola makannya. Hanya saja dirinya menjadi sangat sensitif terhadap bau bauan, terutama aroma wangi dari pewangi berbentuk apa pun entah itu parfume, cologne, pewangi ruangan, sabun, lotion, bedak dan lain lain. Gejala mual maupun pusing di pagi hari juga tidak Hana rasakan. Justru malah Dewa yang merasakan itu semua, ia sering teler di pagi hari dan gemar mengkonsumsi rujak, sebuah makanan yang dulu tidak pernah masuk list makanan favoritnya.


" Ngomong ngomong Bu Dokter Raisa asli mana?" tanya Hana disela sela pemeriksaan.


" Saya asli Yogyakarta Bu Hana." Raisa tersenyum ramah.


" Sudah menikah?"


" Belum. Saya baru saja menyelesaikan program pasca sarjana, masih belum kepikiran ke arah pernikahan." jawab Raisa dengan suara lembutnya.


" Owh... Kalau pacar? Sudah punya?" selidik Hana mulai mengorek informasi dokter cantik di depannya.


Semoga belum punya. Dokter Raisa sepertinya cocok dengan Yusuf, cantik, berpendidikan dan cukup baik. Katakan belum, katakan belum......


Dokter Raisa hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan Hana.


" Belum punya ya Bu Dokter? Kalau begitu bagaimana kalau Bu Dokter saya jodohkan dengan sahabat saya? Dia ganteng dan baik lho......" ucap Hana dengan semangat.


" Uhuk, uhuk...." Raisa terbatuk batuk mendengar penawaran wanita hamil di depannya.


" Kenapa Bu Dokter? Jangan khawatir, sahabat saya dari keluarga baik baik dan golongan orang kaya. Mau ya...?" Hana masih berusaha menjodohkan dokter cantik itu dengan Yusuf.

__ADS_1


" Maaf sudah selesai. Semua normal dan baik baik saja. Besok saya minta Ibu Hana bisa berkunjung ke klinik untuk melakukan USG, saya menduga bahwa janin Ibu kembar. Namun untuk lebih memastikan kita akan melihatnya besok." Dokter Raisa menjelaskan kondisi kehamilan Hana dengan profesional tanpa menghiraukan penawaran Hana.


" Kembar???! Maksud Dokter ada dua baby di perut saya?"seru Hana sembari mengelus perutnya yang masih terlihat rata.


Di dalam perutku ada dua bayi? Di perut serata ini?


" Benar Bu Hana, dari pemeriksaan yang saya lakukan sepertinya ada dua janin di perut Ibu. Untuk itu besok kita akan melakukam pemeriksaan lebih lanjut melalui USG. Atau Ibu Hana mau melakukan pemeriksaan sekarang? Semua peralatan sudah siap di klinik kami."


" Tidak, besok saja. Saya ingin melihatnya bersama dengan suami saya."


" Atau nanti malam saat suami Anda sudah pulang juga boleh Bu, kami siap 24 jam untuk melayani Anda."


" 24 jam? Kalian melayani USG dalam 24 jam? Wow, baru kali ini saya menjumpai klinik bersalin yang menawarkan pelayanan USG 24 jam penuh." Hana merasa heran dan kagum.


" Oh itu? Emm... Program baru kami untuk memaksimalkan pemantauan terhadap ibu hamil. Agar ibu hamil bisa leluasa melakukan USG kapan pun ia mau dan punya waktu." Dokter Raisa mencari alasan yang masuk akal untuk menutupi kenyataan bahwasanya klinik bersalin itu dibuka khusus untuk melakukan pengawasan kehamilan Hana selama 24 jam.


" Mungkin karena kami masih baru. Oleh karena itu kami melakukan kunjungan door to door untuk mempromosikan klinik kami." imbuh Dokter Raisa.


" Oh begitu ya...?" Hana manggut manggut.


" Kalau begitu saya undur diri dulu ya Bu Hana. Terima kasih atas waktunya. Jangan lupa saya sangat mengharap kunjungan Anda di klinik kami. Atau saya juga bisa mengunjungi Anda di rumah Anda seperti yang saya lakukan saat ini. Dan Anda telah kami masukkan ke daftar list pasien VVIP kami karena Anda menjadi pasien pertama sekaligus tetangga dekat kami. Ini kartu nama saya, kapan pun Anda perlukan saya akan selalu ada untuk Anda. Anytime." Dokter Raisa mengulurkan kartu namanya.


" Terima kasih. Besok saya akan berkunjung bersama suami saya."


" Eh ngomong ngomong Bu Dokter belum menjawab pertanyaan saya tadi."


" Pertanyaan????" Dokter Raisa mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


" Itu lho apakah Bu Dokter mau saya jodohkan dengan sahabat saya? Pertemuan untuk perkenalan dulu mungkin? A dinner? Dan tolong jangan panggil saya Ibu, Hana saja. Saya lebih nyaman dengan panggilan itu."


" Baiklah sa_"


" A.... Bu Dokter setuju???? Terima kasih Bu Dokter bersedia untuk berkenalan dengan sahabat saya. Akhirnya status jomblo Yusuf akan segera berakhir." seru Hana kegirangan.


" Maaf, bukan itu maksud saya. Baiklah saya akan memanggil Anda tanpa embel embel Ibu. Bukan baiklah saya menerima tawaran perjodohan dengan sahabat Anda." tutur Dokter Raisa dengan tetap mempertahankan senyum di wajahnya.


" Jadi Bu Dokter menolak?!!" Hana terlihat kecewa.


" Maaf ya, tapi saya sudah punya pacar. Dan karena Anda meminta saya untuk memanggil Anda Hana, maka Anda juga boleh memanggil saya Raisa biar kita bisa lebih akrab. Bagaimana?"


" Huuff, baiklah Raisa. Mulai sekarang kita berteman?" Hana tersenyum lebar.


" Iya, kita berteman. Saya harap kita bisa menjadi teman dekat."


" Okey, kalau begitu kita mulai dengan mengganti kata saya dan Anda menjadi aku dan kamu. Bagaimana?" tutur Hana.


" Baiklah, saya eh maksud saya, ah sudahlah..... Yang jelas aku setuju." jawab Dokter Raisa sembari tertawa setelah bebarapa kali mengoreksi kata katanya.


" Ha ha ha ..... Kalau begitu aku menanti kedatanganmu nanti malam untuk makan bersama." ajak Hana.


" Tapi_"


" Eittt, dilarang menolak. Ini permintaan pertamaku sebagai teman." ucap Hana sambil menyeringai.


He he he, akhirnya nanti malam Dokter Raisa bisa berkenalan dengan Yusuf. Otak aku memang encer. Siap siap ucapkan selamat tinggal pada kejombloan Yusuf.

__ADS_1


" Huffftt, ternyata menantu dan mertuanya tidak berbeda jauh. Sama sama suka memaksa." dengus Dokter Raisa sembari meninggalkan rumah Hana.


__ADS_2