
Sesuai dengan rencana yang sudah disusun oleh orang tua Dewa yang telah disetujui oleh beberapa pihak terkait yakni orang tua Hana dan tentu saja anak dan menantu mereka, pagi itu mereka beramai ramai mengantar kepergian pasangan pengantin baru Hana dan Dewa untuk menikmati bulan madu mereka di Belanda selama satu minggu. Mereka akan terbang menggunakan pesawat pribadi milik ayah Yusuf sebagai hadiah pernikahan. Semua akomodasi dan kelengkapannya sudah disiapkan oleh sang ayah mertua sekaligus ayah sahabat baik Hana itu. Bahkan destinasi dan jadwal mereka pun sudah diatur olehnya. Hana dan Dewa benar benar tinggal terima beres dan hanya perlu menikmatinya saja.
Ini bukanlah kali pertama Dewa melakukan perjalanan jauh menggunakan jalur udara sehingga tidak perlu harus diantar sampai di bandara. Namun apa hendak dikata, ibu Hana kekeh ingin mengantar kepergian anak dan menantunya itu. Bahkan yang Dewa tidak habis pikir, kenapa orang tuanya juga ikut ikutan berada di bandara untuk ikut menyaksikan kepergiannya seakan ini adalah kali pertama Dewa melakukan perjalanan ke luar negeri. Kali ini Yusuf tidak ikut mengantar ke bandara dengan alasan harus mempersiapkan banyak hal karena siang ini juga dia harus kembali ke Jakarta unyuk menyelesaikan pekerjaannya. Dan entah kenapa Evi juga memberi alasan yang hampir sama dengannya, bahwa ia harus mempersiapkan kepulangannya ke Jakarta siang ini.
" Ayah, Ibu, Dewa dan Hana pergi dulu ya. Doakan semua lancar dan selamat." Dewa menyalami kedua orang tua dan mertuanya secara bergantian.
" Iya jaga diri kalian baik baik, nikmati perjalanan ini. Kamu harus menjaga Hana dengan baik, jangan biarkan dia kekurangan satu hal apa pun." ucap ibu Dewa ramah.
Sama halnya dengan Dewa, sang pengantin wanita juga yang berpamitan dengan orang tua dan mertuanya.
" Hana dan Dewa pamit ya Bu." Hana memeluk tubuh wanita yang telah melahirkannya 24 tahun silam.
" Hiks hiks hiks. Iya, jaga diri baik baik. Jangan lupa makan dan tidur tepat waktu. Jika ada apa apa jangan lupa untuk mengabari. Hiks hiks hiks." ucap ibu Hana sambil terisak dalam pelukan putri sulungnya.
" Ibu jangan khawatir. Sudah jangan menangis lagi, Hana pergi kan cuma sebentar lagi pula ada menantu kesayangan Ibu yang akan menjaga Hana kan." bujuk Hana sembari mengurai pelukannya.
" Selimut dan baju hangat sudah bawa kan? Minyak kayu putih dan obat obatan jangan sampai lupa. Kamu kan mau pergi jauh ke negara orang yang sudah menjajah kita lebih dari 300 tahun."
Busyet, mertua ku memang luar biasa pemikirannya. Bawa selimut buat apa? Dikira mau camping?
" Ibu mertua tenang saja, aku akan menjaga Hana baik baik. Di hotel dan pesawat sudah ada banyak selimut Bu. Jadi Ibu enggak perlu khawatir kalau Hana bakalan kedinginan, terlebih ada aku yang kapan pun akan siap memberi kehangatan untuk dia. He he." Dewa tersenyum penuh maksud.
__ADS_1
" Iya Bu, kita percayakan Hana ke Dewa. Dia pasti akan menjaganya dengan baik." bujuk ayah Hana meyakinkan istrinya.
" Jangan khawatir Mbak, keselamatan dan kebahagiaan Hana pasti terjamin bersama Dewa. Kita hanya perlu berdoa agar semua berjalan dengan lancar. Syukur syukur kalau pulang dari bulan madu langsung dapat momongan." ibu Dewa mengelus lembut bahu besan wanitanya.
" Huf, kamu benar Ran. Kita hanya perlu berdoa agar semuanya lancar." ibu Hana bernapas lega.
" Kamu harus berusaha keras ya Dewa. Cepat berikan cucu yang lucu buat kami." ucap ibu Hana dengan semangat.
Cucu? Secepat ini? Baru saja menikah dua hari sudah bahas cucu. Memangnya gampang buat anak? Segampang buat adonan roti?
Hana menghela napas panjang.
Setelah acara pelepasan dengan banyak nasihat dari para orang tua. Pesawat pribadi itu pun lepas landas dengan lancar terkendali.
Selama perjalanan Hana dan Dewa menghabiskan waktu mereka di dalam kabin yang di dalamnya ada kamar tidur lengkap dengan kamar mandi yang nyaman dan mewah.
Sesuai dengan permintaan ibu mertuanya bahwa Dewa harus berusaha keras untuk memberinya cucu dengan segera, ia tidak menyia nyiakan perjalanan panjang itu. Dewa mengajak Hana melayang ke awan awan di tengah awan sungguhan. Keduanya bergumul panas memadu kasih seakan tak akan ada hari esok.
Dengan keahliannya Dewa mampu membuat istrinya mencapai pelepasan berkali kali. Rasa sakit seperti saat pertama sudah tidak lagi Hana rasakan. Suara lenguhan dan er*angan kenikmatan terus keluar dari bibir mereka, beruntungnya kabin itu kedap suara sehingga kehebohan percintaan mereka tidak terdengar oleh awak pesawat maupun pramugari yang bertugas melayani mereka.
__ADS_1
Keduanya terlelap setelah melakukan ritual panas yang menguras keringat dan energi. Dan seakan menjadi candu, mereka terus mengulanginya selama pesawat itu melayang di udara. Mereka bahkan mengabaikan waktu makan, karena enggan untuk keluar dari kamar mereka. Alih alih mengisi perutnya, Dewa dan Hana lebih memilih memenuhi hasrat mereka untuk memuaskan satu sama lain sebagai sepasang suami istri.
" Kruyuuuuk.....!" ciuman panas Hana dan Dewa terhenti saat jeritan cacing di perut mereka sudah tidak bisa ditahan lagi. Mereka meronta ronta untuk segera diberi makan seakan sudah tidak mampu diajak berkompromi untuk malanjutkan ke ronde berikutnya yang entah ke berapa.
" Ha ha ha...." keduanya tertawa bersama.
" Ayo kita mandi lalu makan, sepertinya kita sudah lupa waktu sampai mengabaikan cacing di perut kita. Ibu mertua pasti akan memarahiku karena membuatmu tidak makan dengan baik." Dewa membopong tubuh polos istrinya ke dalam kamar mandi.
" Kamu mandi dulu ya sayang, aku akan meminta pramugari untuk menyiapkan makanan. Atau kamu ingin mandi berdua?" goda Dewa penuh maksud. Bahkan kedua tangannya sudah siap beraksi di gundukkan daging bagian belakang istrinya yang terasa sintal itu.
" Hentikan sayang, kalau seperti ini terus kapan kita akan makan? Kamu mau aku mati kelaparan karena tidak diberi kesempatan untuk mengisi perut?" dengus Hana kesal karena memang saat ini dia merasa sangat lapar.
" Baiklah kamu benar. Kalau begitu cepatlah bersihkan diri. Aku akan segera kembali. Dan jangan lupa nanti untuk memakai baju tebal karena Amsterdam saat ini sedang musim dingin."
Beberapa saat kemudian, pasangan pengantin yang tengah dimabuk cinta itu pun keluar dengan wajah segar dan sumringah. Keduanya disambut ramah oleh seorang pramugari yang tengah menyiapkan makanan di atas meja makan dengan profesional. Dia terlihat sangat handal dalam mengerjakannya.
" Silahkan dinikmati makanannya, Tuan dan Nyonya. Masih ada yang bisa saya bantu?" tanya pramugari itu dengan sopan.
" Tidak perlu, terima kasih." Dewa duduk di kursi yang tersedia.
__ADS_1
" Kalau begitu saya permisi dulu. Jika butuh sesuatu silahkan panggil saya." wanita berseragam merah itu pun undur diri.
Dewa dan Hana menyantap makanan itu dengan lahap. Di tengah hamparan langit biru yang dihiasi dengan gulungan awan putih di sekitarnya pesawat itu terus melaju ke tempat yang akan menjadi persinggahan mereka untuk berbulan madu.