
Senyum kebahagiaan Hana hilang seketika saat kakinya beranjak keluar pintu rumah. Wajahnya berubah muram seketika. Bagaimana tidak? Russell memang terpaksa mengiyakan permintaan Hana untuk kembali mengajar di sekolah, namun siapa sangka lelaki berdarah Belanda itu menugaskan beberapa bodyguard dan seorang tenaga medis untuk mengawal Hana ke sekolah.
Tiga buah mobil berjejer di halaman rumah Dewa berisikan orang orang suruhan Russell yang ditugaskan untuk mengawal dan mendampingi menantu tunggalnya kemana pun akan pergi.
" Selamat pagi Nyonya Hana, kami akan mengawal dan menemani untuk memastikan keselamatan Anda." ucap seorang wanita berpakaian rapi dengan rambut dikuncir kuda. Ada enam wanita dengan setelan pakaian dan penampilan yang sama. Dilihat dari wajah mereka usia mereka masih di bawah 30 tahunan.
" What?? Apa maksudmu? Kamu dan mereka akan membuntutiku ke sekolah?" Hana menunjuk para wanita yang berjejer di dekat mobil.
" Benar, Tuan Russell menugaskan kami untuk selalu mengawal kemana pun Anda pergi." jawab wanita itu tanpa tersenyum.
" Sayang bagaimana ini? Tidak mungkin kan aku mengajar ke sekolah dengan adanya mereka? Apa kata murid muridku? Mereka akan mengira kalau aku memang beneran seorang pemimpin mafia." rengek Hana.
" Mau bagaimana lagi? Kamu tahu sendiri seperti apa watak Papa. Ditambah dengan adanya insiden kamu pingsan saat mengajar. Aku sudah mencoba memberi penjelasan ke Papa kalau kamu tisak akan suka dengan ini semua. Tapi lelaki kolot itu tetap kokoh dengan keputusannya. I'm sorry." dengus Dewa.
" Yusuf...... Bantu aku......." rengek Hana memelas ke arah sahabatnya.
" Sorry Hana. Kalau sudah menyangkut keselamatan kamu dan calon baby aku tidak berani untuk membantah. Papanya Dewa pasti sangat mengkhawatirkan dirimu sampai sampai melakukan ini semua." Yusuf mengangkat kedua tangannya.
" Tapi kamu lihat sendiri di rumah sudah ada banyak pelayan suruhan Papa dan Ayah, masak sekarang aku mau ngajar ke sekolah juga harus diikuti seperti ini? It's not fair.....!"
" Sudahlah Sayang kita ikuti dulu apa keinginan mereka. Toh mereka melakukan ini semua demi keselamatan kamu dan baby." bujuk Dewa dengan lembut.
" Silahkan Nyonya." ucap wanita yang tadi berbicara.
" Aku ingin semobil bersama suami dan sahabatku, memakai mobil kami." ketus Hana.
" Baiklah, kami akan mengawal di depan dan belakang mobil Anda."
" Cukup kamu seorang yang mengawal, aku tidak ingin terlalu banyak orang. Atau kamu tidak cukup mampu untuk menjalankan tugas ini seorang diri?" Hana mencoba untuk memprovokasi wanita itu.
__ADS_1
" Maaf Nyonya ini semua adalah perintah Tuan Russell, Saya hanya berusaha menjalankan tugas sebaik mungkin." ucap wanita itu dengan tenang.
" Baiklah, menyebalkan....." dengus Hana.
Mobil alphard yang mengangkut Hana, Dewa dan Yusuf melaju di jalanan dengan tenang. Di depan dan belakangnya ada mobil serupa yang mengawal mereka.
" Suf, tidak bisakah kamu mempercepat laju mobil ini? Bahkan nenek nenek saja berjalan lebih cepat." cerocos Hana yang kian emosi dengan kenyataan hidupnya.
" Huffff, bagaimana mau cepat? Mobil di depan kita tidak membiarkan kita menambah kecepatan." dengus Yusuf yang merasa sedikit frustasi karena sedari tadi sahabatnya tidak berhenti mengomelinya.
Sabar, sabar....... Resiko dekat dengan bumil. Aku angkat topi dengan Dewa yang mampu menghadapi tekanan dari Papanya dan juga omelan Hana. Ternyata hidupmu tidak semudah bayanganku Bro.....
Yusuf menatap bayangan wajah Dewa di spion depan sambil menghela nafas panjang. Kakinya menginjak pedal gas agar tetap berada di bawah batas kecepatan yang ditentukan oleh ayahnya dan Russell saat berkendara bersama Hana yakni tidak boleh melebihi angka 50km/jam.
" Kenapa Suf?" tanya Dewa yang sadar tengah diperhatikan oleh saudara tirinya.
" Sepertinya aku tahu apa maksudmu." jawab Dewa sambil memicingkan matanya.
" Kemana arah pembicaraan kalian?" sewot Hana.
" Tidak ada. Sudahlah biarkan aku fokus menyetir. Hari ini aku adalah sopir untuk kalian berdua." Yusuf mengalihkan pembicaraan.
" Ah.... Aku baru ingat." seru Hana sambil menepuk jidadnya.
" Ada apa Sayang? Apa ada yang terlupakan?"
" Papa Russell adalah seorang kompeni, dia kan orang Belanda. Pantas saja dia senang menjajah. Aku tidak akan tinggal diam. Sayang kamu harus mendukungku. Aku akan menyatakan perang untuk merebut kebebasanku kembali. Kamu boleh berdarah campuran Indonesia Belanda, tapi kami harus ingat bahwa kamu lahir dan besar di negara ini. Sebagai sesama rakyat Indonesia kamu harus mendukungku sepenuhnya untuk menciptakan kemerdekaan karena kemerdekaan adalah hak setiap bangsa. Dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan." ucap Hana dengan semangat membara mengutip kalimat di pembukaan UUD 1945.
" Hah??!!!!" mulut Dewa ternganga seketika.
__ADS_1
Apalagi sekarang??? Hana punya rencana aneh dan ide gila apa???
" Kamu mau apa?" tanya Yusuf yang juga dibuat bertanya tanya dengan ide dan rencana ibu hamil di belakangnya.
" Kita lihat saja nanti. Yang jelas kalian berdua harus memdukungku sepenuhnya. Ingat kita Bangsa Indonesia bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia." ucap Hana berapi api.
" Baiklah, apa pun itu aku akan mendukungmu sepenuhnya." Yusuf mengiyakan permintaan kakak ipar yang juga adalah sahabat dekatnya.
" Bagaimana denganmu Sayang?!"
" Iya, aku akan selalu mendukungmu. Apa pun akan aku lakukan untuk kebahagiaanmu." Dewa mengelus puncak kepala Hana.
Semoga ide dan rencana Hana tidak terlalu aneh.
" Baiklah..... Lets begin..... Putar arah mobilnya. Kita kembali ke rumah."
" What??!!" Yusuf menginjak remnya mendadak karena kaget dengan keputusan Hana yang tiba tiba ingin kembali ke rumah untung sedari tadi ia mengemudi di kecepatan rendah sehingga aksi mengerem dadakannya tidak terlalu menyebabkan goncangan. Dia tidak habis pikir mengapa Hana berubah pikiran bukankah sejak kemarin kemarin di terus merengek agar diizinkan kembali mengajar ke sekolah? Lalu mengapa sekarang giliran hari itu tiba justru ia ingin kembali ke rumah.
" Oh maaf aku lupa kalau kalian ada meeting dengan klien penting. Aku akan turun di sini dan kembali ke rumah bersama pengawal orang suruhan Papa mertua saja. Kalian bergegaslah ke kantor. Jangan khawatir tentang diriku. Aku pastikan bahwa aku akan memenangkan peperangan ini. Hidup Indonesia." seru Hana.
" Sayang ka_"
" Sudahlah, aku akan baik baik saja. Kamu dan Yusuf fokus ke kerjaan saja. Hati hati ya, aku pulang ke rumah dulu." Hana mencium tangan dan pipi Dewa dengan tergesa seakan sudah tidak sabar untuk mulai menjalankan rencananya.
"Baiklah, tapi kamu yakin baik baik saja kan?"
" Sure, aku sangat teramat yakin. Papa Russell tidak menerima penolakan. Dan aku Mikayla Hanania tidak menerima kekalahan." Hana tersenyum penuh percaya diri.
" Oke jaga diri kalian baik baik. Hati hati di jalan. Tunggu kabar baik dariku."
__ADS_1