
Hari pernikahan Hana dan Dewa semakin dekat. Meskipun hanya pernikahan sederhana namun tetap saja harus dipersiapkan dengan matang. Mereka mulai sibuk membuat persiapan di tengah kesibukan pekerjaan mereka.
Hana menjalankan rutinitas seperti biasa, mengajar di sekolah dan mengelola toko roti. Sedangkan Dewa mulai disibukkan dengan seabrek pekerjaan di perusahaan baru yang ia kelola. Yusuf sehari setelah pertemuan keluarga pergi ke Jakarta untuk bekerja di perusahaan ayahnya dan sekaligus menenangkan hatinya.
Sahabat dan kerabat dekat Hana mulai diberitahu tentang kabar membahagiakan itu. Daftar tamu yang mereka buat juga sangat terbatas, hanya orang orang yang dekat saja, beberapa kerabat dari ayah dan ibu Hana, serta sahabat dekat Hana. Sedangkan dari pihak Dewa, hanya ada kerabat dari ayah Yusuf saja, karena memang ibu Dewa sudah tidak mempunyai sanak keluarga.
Siang itu sepulang mengajar Hana memacu motornya ke butik Laura. Sebelumnya ia pulang ke rumah untuk ganti baju dan mengambil sebuah tas yang telah dibungkus rapi sebagai hadiah untuk meredam kemarahan sahabatnya itu. Laura meradang setelah diberitahu Yusuf perihal rencana pernikahan Hana dan Dewa yang akan dilangsungkan sebentar lagi. Laura merasa kecewa karena Hana merahasiakan hubungannya dengan Dewa selama ini.
Di tengah perjalanan Hana menyempatkan diri membeli es dawet favoritnya. Dia juga membawa beberapa paper bag berisi bermacam kue dari tokonya dan beberapa makanan kesukaan Laura sebagai tambahan sogokan agar kemarahan sahabatnya segera mereda.
Hana memarkirkan motornya di depan butik Laura. Dia langsung berjalan ke arah ruangan Laura dengan kedua tangan penuh dengan barang bawaan yang lumayan banyak.
" Mbak Hana, perlu bantuan Mbak?" sapa Lala menawarkan bantuan saat melihat Hana kerepotan dengan barang bawaannya.
" Terima kasih Lala, tolong bantu bawakan ke ruangan Laura ya." Hana menyerahkan sebagian barang bawaannya.
"Iya Mbak." Lala mengikuti Hana dari belakang.
" Ceklek.." tanpa permisi Hana nyelonong masuk ke ruangan sahabatnya.
" Selamat siang Laura sayang...." Hana menunjukkan senyum termanisnya.
" Siang..." jawab Laura singkat dengan sorot mata tajam ke arah Hana.
" Mbak ini bawaannya saya taruh sini ya, saya permisi mau melanjutkan kerja." Lala segera keluar karena melihat raut muka bosnya yang tidak bersahabat.
" He he, lagi sibuk ya Ra?" Hana berbasa basi.
" Menurutmu?" ketus Laura tanpa mengalihkan pandangannya.
Busyet, Laura kalau marah tatapannya lumayan sadis juga. Bertahun tahun sahabatan baru kali ini aku lihat dia seperti ini. Apa mungkin memang aku yang kelewatan ya? Lagian Yusuf ngapain sih ember ke Laura kalau aku akan segera menikah. Kenapa dia enggak tunggu biar aku yang kasih tahu sendiri saja sih? Menyebalkan, sudah gitu dia main kabur ke Jakarta. Dasar enggak tanggung jawab.
" Desain yang ini lucu Ra, bagus banget." Hana menunjuk salah satu desain baju di meja Laura untuk mencairkan suasana.
" Enggak usah basa basi dan bertele tele. Kamu mau apa ke sini?"
__ADS_1
" Aku mau ngasih ini." Hana menyodorkan salah satu paper bag berukuran besar ke arah Laura.
" Untuk apa? Hari ini aku enggak ulang tahun." Laura tidak menyambut hadiah yang diulurkan oleh Hana.
" Oh ya aku bawa brownies dan cheese cake kesukaan kamu. Kita makan bareng yuk. Aku juga beli es dawet favorit kita." Hana masih mencoba untuk meredakan kemarahan sahabatnya.
" Aku tidak lapar." wajah Laura masih terlihat kesal.
" Iya iya, aku salah, aku minta maaf. Jangan ngambek lagi dong. Maafin aku ya.... maafin.... please....." Hana menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Ekspresi wajahnya terlihat penuh penyesalan.
" Kamu salah apa kenapa harus minta maaf?" cibir Laura.
" Ayolah Laura sayang, jangan seperti ini. Aku tahu aku salah. Udah dong marahnya. Maafin ya... maafin...." Hana mengedip ngedipkan matanya.
" Baguslah kalau kamu mengaku salah." jawab Laura datar.
" Tapi apa pentingnya maaf dariku? Enggak ngaruh kan sama kamu? Lagian aku ini siapa kamu? Bukan siapa siapa kan? Jadi untuk apa minta maaf kepadaku."
" Laura jangan gitu dong..... Kamu adalah sahabat terbaikku. Aku tahu aku salah karena merahasiakan hubungan aku dengan Dewa. Tapi suer aku enggak ada maksud apa apa. Lagian kamu juga enggak pernah tanya tentang masalah ini kan?" Hana menurunkan pandangannya karena Laura makin tajam menatapnya.
" Enggak pernah tanya? Aku pernah tanya tentang nama pacar kamu. Dan kamu bohong bahwa pacarmu bernama Arya, bukan Dewa."
" Ok. Lalu mengapa kamu enggak pernah cerita tentang rencana pernikahan kamu dengan Dewa yang akan berlangsung sebentar lagi, bahkan hanya tinggal menghitung hari. Kamu benar benar sudah tidak menganggap aku sebagai sahabat ya?"
" Kalau masalah rencana pernikahan, ini memang mendadak Ra. Pulang pulang dari Jerman Dewa langsung melamar aku. Jadi memang enggak ada rencana dari jauh jauh hari. Rencananya aku mau kasih tahu kabar ini sekarang, tapi sudah kedahuluan Yusuf." tutur Hana terdengar sendu.
" Jangan marah lagi ya Ra...." Hana menarik narik lengan Laura.
" Iya... iya.... Aku maafin kamu, tapi lain kali jangan pernah ada rahasia lagi." akhirnya hati Laura luluh juga. Laura memang paling tidak bisa jika harus lama lama marah apalagi dengan Hana.
" Mana kue dan es dawet yang kamu bawa tadi? Aku lapar."
" Ini, ayo kita makan bersama. Aku bawa banyak lho. Ini semua untuk kamu." Hana dengan sumringah memberikan semua bungkusan makanan dan kue kepada Laura.
" Kue dan makanan sebanyak ini? Ditambah es dawet legendaris. Kamu memang sudah sangat niat untuk membungkam kemarahanku ya?"
__ADS_1
" Ha ha ha..." mereka tertawa bersama.
Akhirnya mereka menikmati kue dan makanan yang telah Hana bawa. Ditambah dengan kesegaran es dawet yang menggugah selera. Para pegawai juga ikut menikmati makanan sogokan pereda kemarahan Laura.
" Cheese cake dari tokomu memang sangat enak Han. Kelak jika aku menikah semua kue dan cake pernikahan akan aku percayakan sama kamu. Buatkan yang spesial ya." puji Laura sambil terus melahap kue yang penuh dengan rasa gurih itu.
" Siaaappp, itu bisa diatur asalkan harga sesuai. He he he." kelakar Hana.
" Ish kamu ini. Masalah harga jangan kuatir."
" Oh ya, ini apa?" Laura mengambil paper bag yang tadi sempat disodorkan oleh Hana.
" Buka saja, itu hadiah dariku. Dalam rangka meredam kemarahan sahabat terbaikku."
Laura membuka paper bag itu dan mengeluarkan isi di dalamnya.
" Ini? Kamu memang sahabat aku yang paling baik. Tahu saja kalau aku suka dengan tas model seperti ini." Laura tampak sumringah mencoba menenteng tas chanel pemberian sahabatnya itu.
" Jadi semua sogokan ini berhasil? Kamu sudah benar benar memaafkan aku kan?" goda Hana.
" Iya, sogokan ini sungguh sangat berhasil. Aku sudah memaafkanmu."
Kamu memang konyol Han, tanpa tas dan makanan ini aku tetap akan memaafkanmu. Karena kita adalah sahabat.
" Terima kasih ya, kamu memang sahabat terbaikku." Hana memeluk tubuh sahabatnya itu dengan erat.
"Lain kali sogokkannya harus lebih mahal dari ini." bisik Laura.
" Enggak usah ngelunjak, tas ini saja harganya lebih mahal dari motor matic yang baru." dengus Hana.
" Ha ha ha ha."
" Eits tunggu dulu, kamu mendadak mau buru buru nikah. Kamu enggak hamil duluan kan?" mata Laura menyipit.
__ADS_1
" LAURAAAA...!!!! Kamu pikir aku cewek apaan?! Sembarangan kalau ngomong..!" Hana bersungut sungut.
" Ha ha ha ha, woles woles.... Enggak usah ngegas kayak gitu, aku kan cuma bercanda."