
Seminggu sudah Hana menjalani hari harinya tanpa ada Dewa maupun Yusuf. Waktu terasa lambat dan membosankan. Tak dapat dipungkiri kehilangan pujaan hati dan sahabat sekaligus membuat hari harinya terasa suram.
Hana membolak balikan ponselnya menanti panggilan ataupun sekadar balasan chat dari Dewa. Sejak pulang sekolah Hana mengurung diri di kamar enggan beranjak dari kasurnya. Bahkan sampai sore hari ia belum menanggalkan seragam sekolahnya.
" Huff, Dewa mana sih kok belum telpon atau pun balas chat, nyebelin banget." gerutu Hana.
Sejak kepergiannya Dewa selalu menghubungi Hana tiap hari entah itu via telpon, video call atau chat. Namun hari ini belum ada kabar dari Dewa, sehingga membuat Hana uring uringan.
" Yusuf juga keterlaluan banget, masak sudah seminggu enggak pernah kasih kabar. Sahabat apaan?" dengusnya.
" Gustiiiii, sudah jam segini belum mandi? Jorok banget, itu seragam sekolah bau asem belum diganti?" seru ibu yang nyelonong masuk ke kamar Hana.
" Ibu sudah pulang dari toko roti, kok Hana enggak dengar Ibu masuk rumah?"
"Gimana mau dengar kalau kamu sibuk sama ponsel kamu. Pantas saja ibu ucap salam enggak ada yang nyahut."
" Lah Evi kemana, memangnya dia belum pulang?" tanya Hana yang sedari tadi tidak menyadari bahwa tidak ada penghuni lain di rumahnya.
" Evi buat tugas kelompok di rumah temannya. Kalau ayah ikut pindahan rumah temannya."
" Owh, pantesan dari tadi sepi. He he."
" Sudah cepat mandi, sudah sore. Lagian mau dibolak balik kayak apa pun ponselnya juga enggak akan berubah. Kecuali kalau dibanting atau ditiban palu baru deh berubah."
" Iya berubah penyok." ketus Hana.
" Nah itu tahu. Sudah cepat mandi, enggak baik mandi terlalu sore. Buruan." Ibu meninggalkan kamar Hana.
Hana bangkit dari kasurnya dan duduk di depan meja hias, ia menatap bayangan wajahnya di cermin. Terlihat berantakan dan lesu tak ada pancaran keceriaan. Beda dengan Hana dulu yang selalu terlihat bersemangat dan penuh dengan kebahagiaan.
" Enggak, ini bukan gue. Gue enggak boleh seperti ini. Wake up Hana, wake up." Hana menepuk nepuk pipinya dan menarik bibirnya sehingga membentuk sebuah senyuman.
" Nah ini baru Hana, selalu penuh semangat dan energi. Gue harus mulai terbiasa menjalani rutinitas gue tanpa Dewa. Toh sebelum ketemu Dewa gue juga bisa jalani hidup dengan penuh kebahagiaan. Ya..! Gue pasti bisa." ucap Hana dengan penuh keyakinan berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri.
Dewa berusaha keras untuk sukses dan berhasil demi masa depan. Gue juga harus berusaha untuk meraih semua cita cita dan mimpi gue. Kalau Dewa bisa membuat cinta menjadi semangat, gue juga harus bisa. Ya, cinta harus menguatkan, bukan melemahkan.
Hana bergegas masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Guyuran air dingin mampu menyegarkan tubuh dan pikirannya.
Hana kembali memandang pantulan wajahnya di cermin. Ia menyisir rambut panjangnya dan mengikatnya di atas. Sebuah senyum menghiasi wajah manisnya.
" I am come back." wajahnya tampak berbinar merasa puas dengan tampilannya. Seperti biasa Hana hanya memakai pakaian kasual, celana selutut dan sebuah t-shirt, gaya pakaian favoritnya.
Ponselnya berbunyi tanda ada panggilan masuk. Dengan segera Hana mengambil ponsel yang tergeletak di atas kasurnya.
Nomer baru? Siapa ya?
Hana menggeser tombol hijau di layarnya.
" Hallo... Assalamualaikum?" suara Hana sedikit ragu.
" Waalaikumsalam..... Gimana kabar loe?" suara di ponselnya terdengar bersemangat.
__ADS_1
" Yusuf...?! Ini beneran loe kan? Panjang umur loe." Hana sedikit berteriak karena bahagia.
" Iya ini gue. Loe baik baik saja kan?"
" Gue baik, kirain loe sudah lupa sama gue. Secara loe sudah pindah 1 minggu dan enggak pernah kasih kabar. Gimana?"
" Gimana apanya?" tanya Yusuf bingung arah pertanyaan Hana.
" Ck..!" Hana berdecak kesal.
" Ya kabar loe di sana. Gimana keluarga loe, sekolah loe, teman baru loe dan suasana di sana. By the way, loe pindah ke mana sih?" cerocos Hana
"Hai, calm down.... Kayak senapan mesin saja, sekali mberondong pelurunya banyak banget yang keluar. Gue harus jawab yang mana dulu?"
" Ha ha ha, ya maaf. Habis gue senang banget, loe telpon gue. Tahu saja loe kalau gue lagi kesepian. He he."
" Idih bahasanya, kesepian? Baru sadar ya kalau gue itu penting di hidup loe. Saat gue enggak ada baru deh loe kehilangan." goda Yusuf.
" Ya enggak penting penting amat sih. Nyatanya gue ditinggal loe masih baik baik saja kan? Ha ha ha." Hana tertawa lepas.
" Owh gitu ya, nyesel gue telpon loe."
" Bercanda kali. Buruan cerita gimana kehidupan loe di sana? Sampai sampai enggak sempat kirim kabar." desak Hana.
" Kabar gue di sini baik. Gue masih berusaha untuk adaptasi dengan lingkungan dan keluarga baru gue. Gue sekarang lagi di Singapura, sekolah dan sekalian mulai belajar bisnis ayah gue."
" Singapura? Kirain cuma pindah ke luar kota, ternyata luar negeri. Hebat dong Suf, jadi anak luar negeri ni ya."
" Gue juga enggak tahu kalau bakalan pindah ke sini. Awalnya cuma mau pindah ke Jakarta. Tapi ternyata ganti tujuan pindah ke sini karena kerjaan ayah gue banyak yang di sini." keluh Yusuf.
" Ya gini lah Han, ayah gue masih sibuk ke kerjaan. Tapi enggak apa apa sih, semakin dewasa gue justru semakin bisa menerima alasan ayah gue yang selalu fokus dengan bisnisnya."
" Wah anak sultan dong, kalau tahu gitu dari dulu udah gue porotin loe."
" Mau porotin apa? Celana gue? Boleh."
" Idih ngarep. Ya sudah gue porotin terus gue sunat sampe habis, mau loe? Ha ha ha."
" Wuih raja tega loe Han, kawin saja belum sudah mau disunat habis. Terus gimana dengan kelangsungan keturunan gue. Ha ha ha."
" Ha ha ha kok kita malah ngebahas itu sich, enggak banget deh bahas kayak gituan."
" Oh ya Han, gue sampe lupa mau cerita penting habis loe tadi bilang mau porotin saja teralihkan deh pikiran gue." Yusuf melanjutkan ceritanya.
" Gue hidup bareng ibu sambung gue. Orangnya baik enggak kayak di cerita cerita ibu tiri kejam."
" Alhamdulillah kalau gitu, pasti orangnya cantik."
" Iya, cantik banget malahan. Dan ada satu hal lagi yang pasti akan membuat loe terkejut. Karena awalnya gue juga kaget dan hampir enggak percaya."
" Apa?" tanya Hana antusias.
__ADS_1
" Dengerin baik baik ya. Gue sekarang punya saudara tiri, tepatnya kakak tiri karena dia lebih tua dari gue."
" Terus?"
" Dewa." ucap Yusuf.
" Hah? Maksud loe?" Hana merasa bingung dengan ucapan Yusuf.
" Dewa menjadi saudara gue. Dia adalah anak dari Ibu baru gue." jelas Yusuf.
" Hah? Dewa menjadi saudara loe!?" Hana mengulang pernyataan Yusuf seakan tak percaya dengan kalimat yang barusan dia dengar.
Dewa jadi saudara tiri Yusuf? Rencana dan takdir Alloh memang enggak bisa ditebak. Jalan hidup manusia memang penuh dengan kejutan.
" Ya. Loe pasti kaget. Gue saja kaget banget seakan enggak percaya. But it is real. Gila bukan?"
" Dunia sempit banget ya. Dari sekian milyar penduduk bumi, Dewa yang jadi kakak tiri loe." ucap Hana mulai meredam keterkejutannya.
" Terus gimana hubungan loe dengan dia?"
" Awalnya sih canggung, tapi sekarang kami sudah mulai bisa saling menerima. Ya meskipun enggak bisa langsung akrab. Tapi untuk awal menurut gue sih sudah lumayan."
" Owh baguslah kalau gitu." dengus Hana.
" Maksudnya?"
" Ya bagus dong kalau kalian bisa saling menerima , kalian bisa hidup dengan rukun dan fokus untuk belajar dan berusaha mengejar semua impian." Hana mencoba menutupi gejolak di hatinya.
" Yup, life must go on. Gue dan Dewa sepakat untuk berusaha saling mendukung sebagai saudara. Kami akan giat belajar demi masa depan. Dan yang gue tahu dulu Dewa itu kan play boy banget ya, tapi sekarang dia kayaknya bucin dech. Karena alasan dia mau belajar dan hidup bareng di sini adalah demi seorang cewek. Gila banget kan? Gue jadi penasaran cewek mana yang bisa taklukin hati Dewa."
Cewek itu gue Suf.
" Oh sudah dulu ya Han, kita sambung besok lagi. Ini gue masih lumayan sibuk, maklum lah baru pindah. Baik baik saja ya, salam buat teman teman. Assalamualaikum. Jangan lupa buat selalu bahagia."
" Waalaikumsalam." Hana mengakhiri panggilan itu dan menyimpan nomor Yusuf yang baru.
Jadi sekarang Dewa lagi di Singapura? Syukurlah kalau dia baik baik saja dan bisa menerima kehidupan dia yang baru. Gue juga harus melanjutkan hidup gue dengan baik. Semangat.....!
"Hemmm, aromanya lezat ni. Masakan Ibu selalu juara." Hana menghampiri ibunya yang tengah sibuk memasak untuk makan malam.
Ibu Hana menengok ke arah Hana.
" Nah kalau gitu kan cantik, wangi lagi. Yang lihat kan senang enggak membuat mata sakit."
" He he he, iya dong Bu harus cantik. Anak siapa dulu?" jawab Hana dengan senyumannya yang khas.
" Sudah enggak galau lagi nih ceritanya?" ledek ibu Hana.
" Galau? Apaan tuh? Gue enggak kenal dech." celetuk Hana dengan gaya yang centil.
" Ha ha ha, terus tadi yang uring uringan di kamar siapa?"
__ADS_1
" Siapa ya, kayaknya bukan Hana dech. Life must go on. Kalau bisa bahagia buat apa sedih?"
" Nah gitu dong, baru anak Ibu."