Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
MC Novel CEO


__ADS_3

" Hoaaaamm...." Hana merasa bosan dan ngantuk menunggu Laura mencoba baju di ruang ganti. Sedangkan Arin dan Aryo langsung pamit pulang setelah selesai makan bersama.


" Gimana Han, cocok nggak bajunya? Bagus kan?" tanya Laura keluar dari ruang ganti dengan baju yang berbeda, dan ini sudah yang kesekian kali.


" Iya bagus, bungkus." jawab Hana tidak bersemangat.


" Beneran bagus? Cocok enggak buat aku?"


" Hemmmm."


" Ih kamu enggak asyik, masak lemes gitu. Padahal tadi sudah makan steak dua porsi." keluh Laura.


" Habis aku bosan, dari tadi kamu sibuk coba baju gonta ganti terus. Ini sudah yang ketujuh lho. Dan kamu bilang semua bagus, lucu, cocok banget. Aku bilang enggak cocok pun juga percuma kan?" Hana terlihat manyun.


" Lagian aku heran deh. Kamu kan punya butik sendiri tapi masih getol banget belanja baju di tempat lain. Kenapa enggak ambil di tempat butik kamu sendiri?"


" Rasanya beda tahu Ra. Kalau belanja seperti ini ada sensasi lain yang menyenangkan dan lebih seru aja. Lagian kan bisa buat referensi butik aku juga." kilah Laura sembari memilih baju lagi.


" Halah itu mah alasan saja. Kalau cuma buat referensi, enggak perlu dibeli cukup dilihat lihat saja kan?" cibir Hana.


" He he he, habis mau gimana lagi bajunya terlihat bagus banget. Rasanya sayang aja kalau sampai enggak dibeli."


" Ya udah kalau begitu beli aja semua isi toko ini, kalau perlu seisi mall sekalian." Hana mulai meradang.


" Ha ha ha boleh juga tu, tapi kamu yang bayarin?"


" Ogah banget, duitnya siapa? Memangnya aku MC utama di novel novel CEO yang dengan mudahnya membeli mall seisinya, mobil sepabriknya? Seakan enggak perlu kerja buat ngumpulin duit? Tuh duit dateng dari om jin gitu?" ketus Hana.


" Ha ha ha kali aja gitu.....?"

__ADS_1


" Udah yuk cabut, buruan selesaiin belanja kamu." ajak Hana.


" Kamu enggak beli baju?" tanya Laura heran karena Hana tidak memilih satu baju pun.


" Enggak ah, aku sudah punya banyak baju." Hana tampak tidak berminat, selama ini dia memang bukan tipe cewek yang suka belanja baju, sepatu maupun aksesori cewek lainnya.


" Baju apaan? Semua bajumu hanya kaos dan celana jeans. Trus seragam buat ngajar di sekolah, dan baby doll buat tidur. Kamu enggak pengin rubah penampilan biar tampak lebih cantik dan anggun kayak aku contohnya?" Laura merentangkan tangan tampak bangga dengan penampilannya.


" Memangnya apa yang salah dengan penampilanku? Aku sudah cantik dari sononya kok, so... mau pakai baju model apa pun juga tetap aja cantik." pongah Hana.


" Iya deh kamu memang sahabat aku yang imut dan cantik dari sononya. Puas?"


" Tapi masak kamu enggak beli satu pun baju. Ambillah satu atau dua baju, aku yang bayarin deh..." bujuk Laura.


" Enggak perlu, aku sudah punya banyak baju. Banyak banget malahan seperti seisi toko. Dewa yang nyiapin semua." jelas Hana.


" Wah..... Jangan jangan Dewa adalah salah satu MC di novel CEO Han? Jadi demi kekasih tercinta dia rela borong seisi toko buat kamu."


"Tapi kalau di novel novel kan seharusnya enggak perlu kerja keras duitnya datang sendiri. Lah dia masih harus kerja mengumpulkan cuan sedikit demi sedikit. Apalagi akhir akhir ini...... Ia terlihat sibuk banget mengelola cabang perusahaan yang ia rintis dari nol. Huh kasihan juga dia, pasti capek banget." dengus Hana yang justru teringat akan Dewa yang harus kerja keras untuk meraih impiannya.


" Aku bayar belanjaanku dulu ya." Laura beranjak ke arah kasir untuk melakukan pembayaran.


Sambil nunggu Laura aku pilih b**eberapa baju aja deh buat Dewa dan ibunya. Aku kan belum pernah memberi sesuatu ke mereka. Padahal Dewa dan ibunya kemarin sudah memberi aku banyak barang.


Hana berjalan menuju deretan pakaian laki laki. Mata dan tangannya tampak sibuk memilih baju yang sekira cocok dan sesuai dengan selera kekasihnya.


Entah karena kalap atau karena memang hampir semua baju terlihat cocok untuk Dewa, tanpa sadar Hana telah memilih begitu banyak baju. Bahkan sampai petugas kasir dan Laura melongo dibuatnya.


" Han kamu serius mau beli baju sebanyak ini? Banyak banget lho Han, jangan jangan kamu memang sudah menjadi MC novel CEO kaya ya?"

__ADS_1


" Mulai lagi halunya." Hana memutar bola matanya karena jengah dengan pemikiran Laura.


" Ckckck.... tadi bilangnya enggak mau belanja, sekarang malah borong baju segini banyak? Ini lebih dari 10 potong lho Han." Laura mengamati dan menghitung baju pilihan Hana.


"Tadi enggak belanja salah, sekarang belanja banyak juga masih disalahin, terus aku harus bagaimana? Lagian aku kan baru sekali ini beliin Dewa baju." dengus Hana yang serba salah di mata sahabatnya.


" Oh ngomong ngomong nanti tolong bantu aku memilih beberapa hadiah untuk ibunya Dewa. Kemarin dia sudah memberi banyak barang dan oleh oleh untukku dan orang tuaku tapi aku belum sempat memberi balasan." ucap Hana meminta bantuan sahabatnya.


"Baiklah miss sultan, kalau masalah hadiah untuk wanita elegan, aku ahlinya." Laura membanggakan diri.


" Siiiiiip mohon bantuannya ya miss Laura...." Hana membungkukkan badannya seolah olah memberi hormat ala Jepang.


Setelah beberapa waktu, akhirnya Hana dan Laura menyelesaikan aktifitas belanjanya. Mereka keluar mall dengan menenteng banyak paper bag di kedua tangan mereka. Laura yang tadi hanya ingin membantu Hana memilih hadiah untuk calon mertua malah tidak bisa menahan diri untuk tidak menambah daftar barang belanjaannya. Beberapa sepatu dan tas yang telah membuatnya kalap kini ikut menjadi beban di kedua tangannya


" Benar benar melelahkan, adrenalin berbelanja memang tiada duanya. Huft.....!" Laura menghela nafas dalam, ia tampak kualahan dan kelelahan dengan barang bawaannya, bahkan kini peluh telah membasahi wajah cantiknya.


" Ya kamu benar ternyata belanja tak kalah capeknya dengan olah raga. Terus sekarang bagaimana cara kita membawa pulang barang belanjaan kita ini?" Hana menatap lesu paper bag di tangannya yang jumlahnya sekitar dua puluh buah.


" Kita pesen taksi online saja." Laura meletakkan semua barang bawaannya di lantai. Ia mengibaskan tangan dan kakinya berulang kali.


" Aku tetap naik motor saja, tolong bantu aku menyusun belanjaan ini di motor."


" Kamu yakin mau naik motor dengan barang bawaan sebanyak ini? Apa enggak lebih baik kamu naik taksi bareng aku saja?" tanya Laura yang ragu dengan keputusan Hana.


" Yuuppp..... Jangan khawatir, aku bisa kok." Hana yakin dengan keputusannya.


Akhirnya Laura membantu menyusun barang belanjaan Hana di motor.


" Ah, sepertinya taksi pesananku sudah datang. Kamu jangan lupa kabari aku jika sudah sampai rumah ya.......?"

__ADS_1


" Ok, aku pasti kabari. Aku duluan ya, bye...." Hana mulai melajukan motornya. Kedua tangannya tampak sibuk memegangi barang bawaan sekaligus tetap fokus mengatur tarikan gas dan keseimbangan motornya.


__ADS_2