
Sesuai janji yang telah dibuat, Yusuf bergegas pergi untuk menemui dokter Raisa di cafe x. Sedangkan Rani segera masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri, karena tentu saja ia tidak mau berlama lama berpenampilan kucel dan berantakan di depan suaminya.
Untuk sesaat kondisi rumah Dewa dan Hana terlihat sepi seperti kebanyakan rumah mewah lainnya. Namun itu semua tidak bertahan lama tatkala ada sebuah helikopter yang tanpa diundang dan disangka terbang rendah di sekitar pekarangan rumah sehingga menimbulkan suara bising yang memaksa penghuni rumah kembali berhambur keluar.
" Aduh Pak, itu montor mabur kok seliwar seliwer di sekitar rumah ini. Kita enggak akan tiba tiba dibom kan Pak." raut muka Mbok Mira terlihat sangat cemas.
" Kamu itu kalau ngomong mbok jangan sembarangan, ingat ucapan adalah doa. Lagipula mana mungkin rumah ini tiba tiba dibom, Mbak Hana dan Mas Dewa kan orang baik, Pak Anton dan Bu Rani juga tidak kalah baik jadi mana mungkin ada orang yang tiba tiba mau ngebom." sanggah Pak Soleh.
" Ada apa ini Sayang, mengapa tiba tiba ada helikopter terbang di sekitar rumah kita? Tidak mungkin kan kalau kita mendapat kunjungan spesial dari Presiden?" gurau Hana.
" Itu mungkin saja terjadi. Tapi untuk saat ini sepertinya kita belum menjadi orang sepenting itu sehingga presiden harus repot repot datang secara pribadi ke rumah kita."
" He he he kamu benar juga. Tapi itu helikopter siapa ya, apa mungkin ada pelatihan terbang dari militer?" Hana menajamkan penglihatannya.
" Bukan, itu bukan helikopter militer. Jika dilihat itu termasuk jenis helikopter milik pribadi. Tapi siapa orang kurang ajar yang menerbangkan helikopter serendah itu di pekarangan rumah orang? Ayah harus menegurnya karena telah mengganggu ketenangan kita." Anton berjalan mendekat ke arah helikopter yang memang tengah bersiap untuk mendarat di pekarangan rumah Dewa.
Hana, Dewa, dan Rani berjalan mengekor di belakang Anton.
Mata mereka terbelalak tatkala helikopter itu berhasil mendarat dengan sempurna. Penampilan helikopter itu terlihat mewah dan mahal.
Mata mereka kian membola saat melihat sosok yang keluar dari dalam kendaraan besi itu sesaat setelah baling baling berhenti berputar. Dan ternyata ia adalah penumpang tunggal sekaligus pilot dari helikopter itu.
Seorang lelaki rupawan dengan wajah dan postur tubuh yang bisa dibilang sempurna, mungkin bisa dianggap sebagai jelmaan malaikat dari surga. Raut wajahnya tidak bisa ditebak dari ras atau negara mana. Kulitnya tampak bersih mulus dan nyaris seperti tidak berpori pori. Ia berjalan mendekat ke arah pemilik rumah dengan penuh percaya diri. Kemeja putih yang sepertinya memang sengaja tidak dikaitkan kancingnya nyatanya terlihat sangat sesuai memperlihatkan bagian dadanya yang mulus tak berambut menambah kadar ketampanannya kiat meningkat.
" Tampan banget....." lirih Hana tanpa sadar. Bahkan kedua kelopak matanya sampai lupa untuk berkedip.
__ADS_1
"Ehem......tampan banget ya?" ucap Dewa dengan sedikit penekanan.
" He he, maaf keceplosan. Tapi yang jelas meskipun dia tampan, tidak sebanding dengan suamiku. Sayang kan suami yang terbaik, terdebest best best pokoknya." puji Hana untuk mereda kecemburuan Dewa karena sang istri memuji lelaki lain di depannya.
" Dewa, kamu yang bernama Dewa kan?" lelaki itu berdiri tepat di depan Dewa seakan mengabaikan penghuni rumah yang lain.
" Anda siapa? Mengapa tiba tiba mendaratkan helikopter di pekarangan rumah kami?" Anton terlihat kesal karena lelaki itu berjalan begitu saja melewatinya.
" Anda pasti Tuan Anton Dermawan." tunjuk lelaki itu dengan sorot mata tajam.
" Iya, dia ayah saya Anton Dermawan dan saya benar Dewa. Siapa Anda sebenarnya, mengapa tiba tiba mendaratkan helikopter di pekarangan rumah kami tanpa permisi." Dewa menatap lelaki itu dengan sorot mata tak kalah tajam.
" Mmmm, kamu memang anak Russel. Wajah dan sikapmu mirip dengannya." lelaki itu sama sekali tidak merasa terintimidasi dengan tatapan Dewa.
" Anda mengenal ayah dan papa saya, rupanya Anda bukan orang biasa." tebak Dewa.
" Maaf sebelumnya, tapi siapa Anda sebenarnya. Kenapa tiba tiba mendarat di pekarangan rumah kami?" intonasi Dewa terdengar lebih ramah.
"Mmm rupanya analisa kamu lumayan juga. Cepat juga kamu menyadari bahwa saya bukanlah sebuah ancaman." mata lelaki itu menelisik ke sekitar rumah.
" Not bad, but its too small.... " ucap lelaki itu sambil melangkah ke dalam rumah.
Pemilik rumah dibuat bingung dan melongo dengan tingkah tamu dadakan tanpa undangan itu.
" Hey kalian, ayo cepat masuk tawari aku makanan dan minuman. Aku sudah merasa haus dan kelaparan." teriak lelaki itu.
__ADS_1
" Sebenarnya siapa dia Dewa? Kenapa kelakuannya aneh seperti itu? Seenaknya mendaratkan helikopter dan sekarang masuk ke rumah tanpa permisi." tanya Anton.
" Menurut Ayah.....? Siapa orang yang dibiarkan menerobos masuk ke rumah kita tanpa dicegah oleh penjaga dari papa Russell?" Dewa beranjak menyusul ke dalam rumah.
" Ah benar juga, kenapa tidak terpikirkan olehku. Orang yang bisa menerobos ke sini sudah pasti adalah bagian dari pak tua Russell." dengus Anton.
" Orangnya Papa Russell...?? Pantas saja sangat tampan dan mempesona." tanpa sadar mulut Hana kembali melontarkan sebuah pujian.
" Ehemmmm..." deheman Rani membuat menantu kesayangannya nyengir.
" He he he, lupa lagi Bu. Habis mau gimana lagi dia memang ganteng banget." puji Hana dengan volume suara yang ia atur sedemikian rupa sehingga hanya mampu didengar oleh ibu mertuanya saja.
" Hush jaga mata. Tapi memang kenyataannya dia teramat ganteng sih." imbuh Rani dengan intonasi yang tidak kalah lirih.
"Ha ha ha ha....." tawa Hana dan Rani pecah karena ternyata mereka memang sefrekuensi dan sepakat bahwa makhluk ciptaan Tuhan yang baru saja mendarat di pekarangan rumah mereka memang mewakili definisi dari ganteng maksimal yang siapa saja melihat pasti sepakat dan setuju dengan pernyataan itu
" Ehem,,, Ayah dengar dan mengerti apa yang kalian maksud loh..." tukas Anton penuh dengan maksud.
" He he, bercanda Yah......" bela Rani sambil memperlihatkan senyum manisnya.
" Bercanda tapi benar...ha ha ha." ceplos Hana sembari berlalu menyusul suaminya ke dalam rumah membuat Rani hanya bisa tersenyum kikuk.
" Mbok tolong segera siapkan makanan dan minuman untuk tamu dadakan kita." Rani mengalihkan perhatian ke mbok Mira.
" Baik Nyonya siap laksanakan.....!" jawab Mbok Mira dengan semangat 45.
__ADS_1
" Dia ganteng ya Pak..... Hebat lagi bisa menerbangkan montor mabur seperti itu sendirian." giliran Mbok Mira ikut memuji.
" Halah wong cuma menerbangkan montor mabur seperti itu saja kok hebat. Anak kecil saja juga bisa Mbok mbok..." ketus Pak Soleh yang sebenarnya memang juga ikut memuji dan takjub di dalam hati....