Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Kita Adalah Keluarga


__ADS_3

Hana dan Dewa terlelap sejenak setelah melakukan ritual panas yang sudah menjadi candu untuk keduanya. Kamar tidur dari kayu itu menjadi saksi penyatuan cinta mereka untuk yang kesekian kali.


" Emhhh." Dewa mencoba membuka matanya saat merasakan tubuh polos istrinya menggeliat dalam dekapan tangannya.


" Kamu sudah bangun sayang?" tanya Dewa dengan suara serak khas orang bangun tidur.


" Maaf apa aku mengganggu tidurmu?"ucap Hana.


" Jam berapa sekarang? Jangan sampai kita terlalu lama tidur." Dewa menggapai ponsel yang ada di dekatnya.


" Untunglah masih jam setengah dua."


" Kamar ini sangat hangat dan nyaman, bukankah begitu sayang?"


" Iya kamu benar."


" Ayo kita mandi dan segera bergabung dengan pemilik rumah ini. Jangan sampai mereka berfikir bahwa kita menganggap rumah ini sebagai hotel tempat untuk e*na e*na dan tidur saja. Ayo cepat bergegas istriku yang mesum."


" Apa kamu bilang? Aku istri mesum?!!" Hana melototkan matanya.


" Kamu yang mesum..! Tadi siapa yang memulai terlebih dahulu?" protes Hana.


" Tapi kamu suka kan?" bibir Dewa menyeringai penuh kemenangan.


" Kamu..... Awas saja ya..." Hana hendak memukul tubuh suaminya, tapi Dewa menghindar dengan gesit dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


Kamar mandi itu didominasi oleh material kayu dan batu alam. Sungguh menggambarkan nuansa alam yang kental. Meskipun berkesan sederhana namun terlihat jelas bahwa semua itu dibuat dari bahan berkualitas tinggi. Di dalamnya terdapat peralatan mandi yang cukup komplit dan modern. Russell dan Aleena memang mempunyai selera yang cukup bagus. Mengusung rumah dengan tema yang minimalis namun dengan peralatan modern yang lengkap.



Selera ayah bagus juga. Dia memang pantas menjadi ayah kandungku.


" Sayang mau mandi bersama?" Dewa melongokkan kepalanya dari pintu kamar mandi.


" Terima kasih, tapi maaf istri mesummu ini tidak berminat." ketus Hana.


" Ayolah, aku bisa membantu menggosok punggung dan bagian tubuhmu yang lain." bibir Dewa menyeringai.


" Oh benarkah?" Hana berjalan ke arah kamar mandi dengan melilitkan selimut di tubuh polosnya.


Dewa terlihat kegirangan karena merasa ajakan mandi bersamanya telah disambut oleh istrinya.


" Ayo sayang cepatlah, aku akan menggosok punggungmu dengan penuh perasaan." Dewa tersenyum penuh maksud.


" Terima kasih, tapi itu semua tidak perlu...! Cepat selesaikan mandimu karena kita harus membantu Nyonya Aleena dan Tuan Russel menyiapkan makan malam." Hana mendorong kepala suaminya dan menutup pintu kamar mandi dengan kasar.

__ADS_1


" BRAKKKK...!"


" Sayang....." panggil Dewa.


" Cepat mandi..!" teriak Hana.


" Iya, iya aku mandi...." dengus Dewa.


Istriku memang sangat galak.......


-


-


Hana dan Dewa keluar dari kamar dengan wajah yang berseri. Penampilan mereka terlihat menyegarkan mata. Baju ganti yang telah Russell siapkan terlihat cocok dan pas di tubuh Hana dan Dewa, seakan baju itu memang dibeli untuk mereka. Aroma parfum powdery yang lembut tercium dari tubuh keduanya. Entah sengaja atau tidak ternyata mereka memakai parfume yang sama di tubuh mereka. Selain menyiapkan baju ganti tadi Russel juga meninggalkan beberapa botol parfume dengan aroma yang berbeda.


" Siang Nyonya Aleena." sapa Hana dan Dewa lembut menghampiri nyonya rumah yang berada di dapur.


" Selamat siang, bagaimana istirahat kalian? Semoga kalian merasa nyaman dengan kamar sederhana kami." jawab Aleena sembari memasang afron di tubuhnya.


" Terima kasih Nyonya kami sangat nyaman dengan kamar yang telah Anda siapkan. Kamar itu terasa hangat, seakan penuh dengan kehangatan keluarga." puji Hana.


" Oh, dimana Tuan Russell? Kami tidak melihatnya?" Dewa celingukan mencari sosok ayah kandungnya.


"Dia sedang memancing ikan untuk menu sarapan besok. Kalau mau kamu bisa menyusulnya di belakang rumah. Kamu cukup menyusuri jalan kecil di sekitar rumah pasti bertemu dengannya."


" Aku pergi dulu ya sayang, doakan suamimu ini bisa menangkap banyak ikan." Dewa mengecup kening istrinya.


" Aku pergi dulu Nyonya Aleena."


" Hati hati jangan sampai nyebur di empang." teriak Hana sambil terkekeh.


Ini waktu yang tepat bagi Dewa dan ayahnya unyuk menghabiskan waktu bersama sebagai ayah dan anak. Meskipun Dewa tetap ingin merahasiakan identitasnya, namun paling tidak mereka akan mempunyai kenangan indah bersama.


" Apakah Anda ingin membuat kue Nyonya Aleena?" Hana melihat ada beberapa bahan bahan yang biasa untuk adonan kue tengah berada di depan Aleena.


" Iya, nanti bisa kita nikmati sembari menunggu makan malam. Pada musim dingin seperti ini perut kita gampang lapar bukan?" kekeh Aleena.


" Anda benar. Bolehkah aku saja yang membuatnya? Kebetulan aku lumayan pandai membuat kue, kami punya toko kue kecil di Indonesia."


" Benarkah, tentu saja boleh. Aku jadi ingin cepat cepat memakan kue buatanmu. Aku yakin pasti akan sangat terasa lezat. Apa saja yang kamu butuhkan?" Aleena tampak bersemangat.


" Tunggu, pakai afron ini terlebih dahulu." Aleena mengambil afron lain dan memasangkannya di tubuh Hana.


" Terima kasih. Aku lihat dulu, apa saja yang sudah Anda siapkan di sini.....telur, tepung, mentega, gula, dan susu." Hana meneliti bahan bahan yang ada.

__ADS_1


" Ini sudah cukup, kita hanya butuh kacang almond dan keju sebagai toping serta bahan bahan lainnya."


" Baiklah aku ambilkan ya?" Aleena siap beranjak dari tempatnya.


" No, no, no. Anda cukup memberitahu dimana Anda menyimpannya biar aku ambil sendiri. Bukankah kita keluarga?" Hana tersenyum lembut. Hana terus menekankan kata itu karena memang sejatinya mereka adalah keluarga sungguhan.


" Sekarang Anda cukup duduk manis di sini biar aku yang mengerjakan semua." Hana membawa Aleena untuk duduk di kursi yang berada tidak jauh darinya.


" Anda menyimpan almond di sini?" Hana menunjuk salah satu kabinet yang ada di di dekatnya.



" Ya. Dan untuk bahan bahan lain ada di kabinet sebelahnya." jelas Aleena.


" Oh ayolah sayang biarkan aku membantumu. Jangan perlakukan aku seperti ini, sikapmu menjadi seperti lelaki kaku itu, dia juga tidak pernah membiarkan aku melakukan sesuatu. Bahkan dia sudah mengambil alih dapur ini. Itu sangat menyebalkan." gerutu Aleena mengingat perlakuan suaminya.


" Bukankah itu sangat manis Nyonya Aleena, itu berarti dia sangat mencintai Anda." ucap Aleena sembari mulai membuat adonan kuenya.


" Lalu apa yang harus aku lakukan di sini? Apakah aku harus berdiam diri tanpa melakukan apa pun?"


" Anda hanya perlu duduk tenang di sana sambil berdoa semoga kuenya tidak bantat atau pun gosong. He he."


" Ya, ya baiklah kamu memang semakin mirip dengan Russell yang menyebalkan itu bahkan kata kata kalian juga sama." gerutu Aleena.


" Apakah lelaki kaku itu telah mengancammu dengan mengatakan bahwa aku telah sekarat dan tidak boleh melakukan apapun sehingga kini kamu bersikap seperti ini?"


" Tentu saja tidak. Siapa yang bilang Anda sekarat. Anda akan sehat dan berumur panjang.Jadi jangan berpikir bahwa aku melakukan ini semua karena rasa kasihan." jawab Hana dengan cepat.


" Aku hanya ingin melakukan sesuatu untuk Anda dan Tuan Russell sebagai ucapan terima kasih karena kalian telah memperlakukan kami dengan sangat baik. Lagi pula bukankah Anda ingin agar kami menganggap rumah ini sebagai milik kami sendiri. Jadi sekarang biarkan aku untuk memakai dapur ini dengan tenang. Tidak ada lagi perdebatan, oke?"


" Baiklah kalau begitu aku akan menuruti semua perkataanmu Honey, aku akan duduk tenang di sini sembari melihatmu mengerjakan itu semua sendirian."


"Oh ya Honey aku pernah mendengar bahwa sebagian orang Indonesia terutama di pulau Jawa selalu memakan nasi sebagai makanan utama mereka. Ceritakan hal itu."


" Anda sangat benar Nyonya. Bagi kami orang Jawa, makan tanpa nasi, belum dianggap makan." tutur Hana.


" Benarkah? Tapi bukankah roti, mie dan kentang bisa dijadikan sebagai sumber karbohidrat selain nasi?" tanya Aleena heran dengan penuturan Hana.


" Ini bukan masalah pemenuhan karbohidrat, tapi lebih cenderung pada kebiasaan pola makan dan selera kami. Bahkan terkadang kami memakan nasi dengan lauk mie."


" Whattt...? Itu sungguh konyol. Benarkah ada hal seperti itu?" Aleena seakan tidak percaya.


" Tentu saja benar. Apa Anda ingin mencobanya? Itu tidaklah seburuk yang Anda bayangkan. Bagaimana kalau untuk makan malam nanti aku yang memasak untuk kalian semua. Akan aku buktikan bahwa nasi dimakan dengan mie akan terasa nikmat. Aku jamin Anda akan menyukainya."


" Baiklah, aku akan menantikan hal itu. Aku rasa itu akan menjadi pengalaman pertama yang tak terlupakan. Ha ha ha."

__ADS_1


Hana dan Aleena terus berbincang dan bercanda di dapur sembari menunggu kue almond keju andalan Hana matang dari panggangan.


__ADS_2