Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Sambal Panas


__ADS_3

Pagi yang cerah, matahari bersinar terang memberi kehangatan bumi tercinta ini. Sinar hangatnya seakan mampu menghangatkan hati manusia untuk memulai hari dengan semangat dan energi baru.


Kehadiran Hana di rumah Dewa bak mentari yang mampu memberi energi positif untuk penghuninya. Rumah terasa lebih hidup dan ceria.


Hana dan ibu Dewa berkutat di dapur menyiapkan makanan untuk sarapan dengan dibantu oleh mbok Mira. Sebenarnya ibu Dewa sudah melarang Hana berada di dapur namun Hana kekeh ingin membantu karena sudah kebiasaannya di rumah setiap pagi membantu ibunya memasak di dapur.


Sebenarnya ibu Dewa jarang memasak di pagi hari untuk sarapan karena biasanya mereka hanya makan roti dan minum susu saja. Namun hari ini terasa luar biasa karena kehadiran sosok calon menantu tercintanya. Seakan ingin menuruti omongan Hana yang dengan bangganya berkata, "orang Jawa kalau belum makan nasi mau makan sebanyak apapun ya dianggap belum makan."


" Jadi tiap pagi kamu dan ibumu selalu memasak di dapur sayang?" tanya ibu Dewa sembari meniriskan ayam dari penggorengan.


" Huum, ibu tidak pernah membiarkan aku melewatkan waktu memasak. Dulu memang sedikit terpaksa tapi karena terbiasa sekarang malah jadi suka dan ada yang aneh saja jika harus melewatkan kesempatan memasak di pagi hari. Ya walaupun ibu yang memasak, aku hanya membantu saja. He he." jawab Hana tanpa menghentikan aktifitas tangannya menggulek sambal.


" Mbok tolong ini masakannya dibawa ke meja makan ya, nanti sekalian siapkan minum buat sarapan."


" Sayang ibu bantu mbok Mira nyiapin meja makan dulu ya. Atau kamu mau dibantu buat sambalnya?" tanya ibu Dewa yang melihat cabe dan bawang di cobek masih belum selesai diulek.


" Enggak usah Bu, biar aku selesaikan sambal ini. Kata ibu, kalau buat sambal harus sampai selesai. Kalau ganti tangan nanti sambalnya tidak akan sedap."


" Owh, ya sudah ibu tinggal ke ruang makan dulu ya. Sekalian mau buka gorden gorden yang ada biar sinar mataharinya bisa masuk." ibu Dewa beranjak dari dapur.


Hana di dapur sendirian melanjutkan pekerjaannya yang tidak kelar kelar.


Huh kenapa cabainya susah banget sih halusnya. Perasaan tanganku sampai pegel. Coba saja ada ibu Dina tercinta, pasti langsung kena semprot karena nguleg sambel kelamaan. Ha ha, ngomong ngomong bagaimana kabar ibu yang nyiapain sarapan seoarang diri ya? Enggak ada teman buat diomelin dong. Jadi kangen sama ibu.


Tubuh Hana terhentak saat tiba tiba ada sepasang tangan melingkar di pinggangnya.


" Pagi sayang....." sapa Dewa sambil menyenderkan kepalanya di bahu Hana.

__ADS_1


" Sayang lepasin, malu kalau dilihat ibu." dengus Hana mencoba melepas tangan Dewa dari perutnya. Namun bukannya melepas, Dewa malah semakin mengeratkan pelukannya.


Aroma Dewa segar banget.


" Enggak mau, biar saja ibu lihat. Paling juga dikawinin sekalian. Kamu harus tanggung jawab gara gara kamu semalam aku enggak bisa tidur dengan tenang." bisik Dewa.


Pagi ini Dewa memang terbangun dengan wajah yang sangat lesu karena kurang tidur. Bagaimana tidak, semalaman dia harus mandi air dingin untuk meredamkan hasratnya yang kian memuncak karena melihat tubuh mulus Hana yang hanya dibalut handuk. Dia harus berjuang mati matian untuk tidak menerobos kamar ibunya dan menerkam Hana. Bahkan ketika ia berhasil memejamkan matanya, bayangan Hana pun masih ikut terbawa dalam mimpinya. Alhasil dia hanya bisa menuntaskan hasratnya dalam mimpi. Dan pagi buta tadi saat membuka mata ia terpaksa harus segera bergegas mandi dan memasukkan sprei kasurnya ke dalam mesin cuci untuk menghilangkan jejak mimpi basahnya.


" Sayang....."


" Ssstttt, jangan protes. Biarkan aku peluk dulu seperti ini."


" Kamu wangi." Dewa mengendus leher Hana dan menenggelamkan kepalanya di sana.


Tubuh Hana mematung seketika. Tanpa ia sadari kini wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. Terpaan nafas Dewa di lehernya mampu membuat jantungnya seperti genderang perang yang ditabuh. Darahnya berdesir kuat. Muncul gelenyar gelenyar asing yang seakan menuntut untuk lebih. Hana dengan susah payah mengatur nafasnya agar ia tidak hilang kendali.


" Lanjutin saja buat sambalnya, aku enggak akan ganggu kok." tutur Dewa datar sambil terus menenggelamkan kepalanya di leher sang calon istri.


" Kamu cocok pakai baju ini." puji Dewa yang kini bibirnya tengah bebas bergerilya di leher jenjang Hana. Niat awal Hana menguncir rambutnya ke atas agar tidak gerah saat memasak, tapi kini justru jadi sasaran pendaratan bibir Dewa.


" Ah...." sebuah ******* lirih lolos dari bibir Hana sontak membuat gairah Dewa semakin membuncah.


" I love you, i love you Hana." bisik Dewa tepat di telinga Hana. Membuat gadis bergaun hitam itu memejamkan matanya erat menahan sebuah rasa yang kian membara. Pelan namun pasti Dewa memutar tubuh Hana, membuat posisi tubuh gadis cantik itu kini berhadapan dengannya.


" Look at me." suara Dewa terdengar parau.


Hana membuka matanya perlahan. Dengan ragu ragu ia mulai menatap sepasang mata bermanik hijau di depannya.

__ADS_1


" Tap!" kedua mata mereka saling bertemu dan mengunci. Ada banyak cinta dan hasrat di keduanya. Mereka berdua terpaku dan tak mampu untuk berpaling. Seperti dua magnet yang berlawanan kutub, seakan ada sebuah gaya di antara mereka yang membuat keduanya saling tarik menarik hingga entah sadar atau tidak kini jarak keduanya semakin terkikis. Mereka bisa merasakan hembusan nafas masing masing. Perlahan bibir mereka kini telah menyatu. Mata mereka terpejam dengan sendirinya, menikmati sensasi dari setiap pagutan dan luma*an.


Seluruh sel sel dalam tubuh Dewa bereaksi, seakan suasana sekeliling telah menghilang karena kini ia hanya fokus menikmati bibir ranum Hana yang terasa manis dan memabukkan. Indra penciuman Dewa kini telah dipenuhi oleh aroma tubuh Hana yang memancarkan daya tarik kimia halus yang semakin meningkatkan hasrat dan gairahnya. Penyatuan bibir mereka berhasil mengirim gelombang listrik yang menimbulkan peningkatan aliran darah ke bagian tertentu yang membuat salah satu organ Dewa kini telah mengeras dan menegang.


Hana juga merasakan ada sensasi menggelitik di perut dan bagian sensitifnya. Jantungnya berdebar lebih kencang dan nafasnya terasa berat, akibat dari hormon adrenalin yang dilepaskan secara otomatis oleh kelenjar adrenal.


Lama kelamaan ciuman itu kian memanas. Kedua tangan Dewa memegang belakang kepala Hana untuk memperdalam ciuman mereka. Lidahnya dengan lihai bergerak di dalam mulut Hana dan sesekali membelit lidah gadis yang sebentar lagi akan resmi menjadi istrinya.


" Emhhhh,,," erang Hana pelan saat salah satu tangan Dewa telah berpindah tempat meremas bagian belakang tubuhnya yang terasa keras dan sintal. Tangan Hana yang sedari tadi melingkar di pinggang Dewa secara refleks meremas kaos bagian belakang kekasihnya itu.


" Non, sambalnya su_ eh maaf saya enggak sengaja. Anggap saja saya enggak lihat apa apa." suara mbok Mira yang tiba tiba masuk dapur membuat Hana dan Dewa terperanjat. Hana dengan segera melepas pelukannya dan mendorong tubuh Dewa.


Sedangkan mbok Mira langsung ngacir meninggalkan dapur dengan jantung dag dig dug.


Haduh pagi pagi lihat siaran langsung orang ciuman. Den Dewa dan non Hana yang ciuman kok aku ikut ikutan deg degan ya. Huh pagi pagi sudah panas.


" Huft... huft...." Hana menghela nafas berulang kali mencoba menetralkan nafas dan perasaannya.


****, ini sangat memalukan. Kenapa tadi aku bisa terbuai dengan ciuman Dewa. Pakai kepergok sama Mbok Mira lagi. Ah.... mau ditaruh dimana mukaku? Kayaknya aku memang tidak boleh berduaan dengan Dewa, karena pasti akan ada syetan sebagai pihak ketiga, terlebih ini bukan pertama kali aku kepergok saat sedang berduaan dengan Dewa. Ternyata artikel itu memang benar adanya, bahwa bibir adalah organ manusia yang paling sensitif karena ada lebih dari satu juta ujung saraf yang tidak memiliki membran definsif untuk pelindungan.


" Yank jangan lupa sambalnya sudah ditunggu ibu." tutur Dewa sambil menyeringai tanpa rasa berdosa yang sontak mendapat tatapan tajam dari gadis di depannya.


" Kamu mau sambal?" ucap Hana penuh dengan penekanan dan tatapan intimidasi.


" E, ibu sudah menunggu." jawab Dewa kikuk sambil secepat kilat beranjak pergi sebelum mendapat " sambal" dari Hana.


" Ah ... ini sungguh memalukan." Hana menutup muka dengan kedua tangan sambil menghentak hentakkan kakinya.

__ADS_1


" Menyebalkan....." gerutu Hana sambil mengulek sambal dengan tenaga penuh seakan menumpahkan semua rasa malu dan kekesalannya.


__ADS_2