
Matahari tengah tergelincir ke arah barat, sinarnya telah meredup tak lagi menyilaukan mata maupun menyengat kulit. Ayah dan ibu Hana terpaksa memarkirkan mobilnya di pekarangan rumahnya karena pintu garasi dan rumahnya terkunci dari dalam. Mereka berulang kali menekan bel dan memanggil nama anak dan menantunya, namun tidak ada respon dari dalam rumah. Ibu Hana juga sudah mencoba menghubungi ponsel keduanya berpuluh puluh kali namun tetap tidak membuahkan hasil.
" Dewa dan Hana kemana sih? Dipanggil panggil dari tadi tidak ada sahutan. Sebenarnya mereka di rumah apa enggak, bel ditekan dari tadi enggak ada yang nongol. Perasaan suara bel bunyinya nyaring banget deh, masak mereka enggak dengar. Apa mereka tertidur? Tapi sore sore gini masak tidur sih?" gerutu ibu Hana masih mencoba menghubungi ponsel Hana dan Dewa secara bergantian.
" Belum bisa dihubungi ya Bu?" tanya ayah Hana sembari duduk di kursi teras rumah.
" Belum bisa Yah, ponsel mereka keduanya aktif dan tersambung tapi tidak ada yang menjawab panggilan Ibu." keluh wanita yang kini dahinya sudah mulai basah karena keringat.
" Apa kita dobrak paksa saja Yah, kita sudah menunggu di sini lebih dari dua jam loh. Tubuh Ibu sudah lengket karena keringat. Ibu sudah ingin buru buru mandi."
" Sabar Bu, kita tunggu sebentar lagi." bujuk ayah Hana lembut sambil menghampiri istrinya yang berdiri di depan pintu.
" Sabar, sabar, Ayah sudah ngomong seperti itu dari tadi. Sudah cepat dobrak saja Yah!" ucap ibu Hana yang memang batas kesabarannya lebih pendek dari suaminya.
" Brak brak brak brak....!!! Hana....?!! Dewa....?!!!" panggil ayah Hana yang ikut ikutan menaikkan suaranya sembari menggedor gedor pintu rumahnya.
" Hoammm....." Hana terbangun dari tidur lelapnya karena lamat lamat mendengar suara ribut ribut di depan rumahnya.
" Seperti suara ayah." dengus Hana sembari menajamkan pendengarannya. Ia ingin segera beranjak dari tempat tidur namun gerakannya terhenti saat merasakan perih dan ngilu di area sensitifnya, terlebih tangan Dewa masih membelenggu pinggul mulusnya. Tubuhnya juga terasa pegal karena tadi Dewa menggempurnya sampai beberapa ronde.
Aouw, ternyata memang benar kata Laura bahwa pengalaman pertama terasa menyakitkan. Tapi setelah itu? He he,,
" Sayang kamu sudah bangun?" sapa Dewa yang ikut terbangun karena mendengar suara ribut dari luar.
" Huum." Hana menyingkirkan lengan Dewa yang masih melingkar di pinggangnya.
" Apa masih sakit?" tanya Dewa yang melihat istrinya sedikit meringis kesakitan saat mencoba beranjak.
Hana hanya menganggukkan kepala dan tersipu malu mengingat pertempuran panas mereka di siang hari yang panas.
" Aku bantu ke kamar mandi ya..?" ucap Dewa sendu melihat istrinya seperti itu.
" Tidak perlu." jawab Hana cepat sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya, berusaha menutupi dua gundukan yang terekspose dari tadi.
__ADS_1
" He he, apalagi yang mau ditutupi? Tadi aku sudah melihat semuanya. Bahkan sudah aku jelajahi semua tanpa ada yang terlewat sedikit pun." Dewa terkekeh geli dengan sikap Hana yang terlihat lucu.
" Aku bantu ya....." Dewa mengulurkan tangan untuk memapah tubuh istrinya.
" Tidak perlu aku bisa sendiri." dengus Hana sambil melilitkan selimut ke tubuhnya.
" AAA....! Kenapa kamu masih telanjang?" teriak Hana saat matanya melihat penampakan bonggol jagung suaminya yang tergantung bebas tanpa penutup.
" Ha ha ha, kenapa ekspresimu seperti itu? Kenapa harus malu? Bukankah tadi kita baru saja melakukannya, tentu saja aku masih telanjang."
" Hana...Dewa.....!" suara ayah Hana terdengar memanggil nama mereka.
" AYAH.....!" pekik keduanya. Dewa segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dengan segera.
Shittt..... Aku hampir lupa kalau pintu rumah aku kunci dari dalam. Ayah dan Ibu pasti tidak bisa masuk ke dalam rumah.
Hana berjalan sedikit tertatih ke kamar mandi sesaat setelah Dewa keluar dari sana dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
" Sayang kamu serius enggak perlu bantuan untuk bersihin diri?" sekali lagi Dewa menawarkan bantuan untuk istri yang baru saja telah melakukan ritual penyempurnaan cinta dan pernikahan dengannya. Bukankah ritual pernikahan belum lengkap sebelum melewati penyatuan kedua badan?
Dewa mengenakan pakaian dengan tergesa, bahkan rambutnya tidak dikeringkan dengan sempurna. Bibirnya tersenyum lebar saat melihat bercak darah yang bercampur lendir sisa percintaan yang menempel di seprai tempat tidur mereka. Adegan panas bersama istrinya kembali melintas di benaknya.
" HANA....!!!! DEWAAAAA......!!!!!" senyuman dan lamunan Dewa menghilang seketika saat suara teriakan wanita yang melahirkan pasangan hidupnya kembali terdengar dengan suara yang kian menggelegar.
IBUUUUUU...!!!
" Ceklek, klek, klek....." Dewa membuka kunci pintu dengan kecepatan maksimal.
" Ayah, Ibu kalian sudah pulang?" tanya Dewa kikuk. Dia memperlihatkan deret putih giginya dengan canggung.
" Assalamualaikum, dari mana saja kamu?" ucap ibu Hana dengan nada tidak bersahabat.
" Waalaikum salam. Maaf aku dan Hana ketiduran. Ayah dan Ibu belum lama menunggu kan?"
__ADS_1
" Belum kok Dewa, ayah langsung mandi dulu ya." jawab ayah Hana lembut sembari berjalan ke dalam rumah.
" Oh, syukurlah......" Dewa bernapas lega.
" Belum sampai tiga jam maksud ayah." ketus ibu Hana.
Hah???!!!! Tiga jam? Ayah dan Ibu mertua sudah menunggu hampir tiga jam?
" Kenapa? Masih kurang lama?" tanya ibu Hana dengan sewot.
" He he, maaf Bu. Aku dan Hana ketiduran, maklumlah Bu kami capek banget. Ibu kan tahu sendiri bagaimana kegiatan kami kemarin dan semalam? Oh iya, ngomong ngomong Ibu haus enggak biar aku ambilkan air minum ya?" Dewa mencoba meredakan amarah ibu mertuanya.
" Tidak perlu...! Aku bisa ambil sendiri di dapur. Kamu lupa bahwa aku adalah penghuni rumah ini? Atau kamu sudah menganggap aku dan suamiku telah enyah dari muka bumi ini?" dengus ibu Hana kesal.
" Mana mungkin aku berpikir seperti itu? Ibu kan ibu mertua paling cantik dan paling baik di dunia ini." Dewa memperlihatkan senyum termanisnya.
" Benarkah? Kamu memang paling bisa berkata manis. Terlebih kamu ganteng jadi ibu enggak bisa marah marah sama kamu." ibu Hana menghela napas dalam.
" Oh ya, dimana Hana? Jangan bilang kalau dia masih tidur."
" Hana sedang mandi Bu."
" Oh.....Ya sudah." ibu Hana ber oh ria.
" Bagaimana persiapan untuk bulan madu kalian? Jadi berangkat besok? Atau mau istirahat dulu dua atau tiga hari?"
" Kami berangkat besok Bu, pihak sekolah Hana hanya memberi cuti 10 hari. Pekerjaanku juga sudah menanti. Jadi sekalian saja berangkat bulan madu, mumpung masih sama sama libur."
" Kamu jaga Hana baik baik ya, jangan pernah menyakiti dirinya. Tolong jangan biarkan dia bersedih." pinta ibu Hana dengan sendu.
" Jangan khawatir Bu, kebahagiaan Hana akan menjadi prioritas hidupku. Hana adalah nafas dan hidupku. Tanpa Ibu minta pun aku akan menjaga dia dengan sepenuh hati." jawab Dewa penuh kesungguhan.
" Terima kasih. Kamu memang mantu terbaik, meskipun di hari pertama menjadi menantu kamu telah membuat seisi rumah gempar gara gara kelakuan konyolmu." ibu Hana menepuk pundak menantunya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
" Oh tolong kamu lihat bel rumah dulu Dewa, sepertinya rusak. Tadi ibu pencet berulang kali tapi kalian tidak mendengar padahal seharusnya suaranya sangat keras. Ibu mandi dulu ya, sepertinya Tuanku Hasanudin sudah selasai mandi." ihu beranjak meninggalkan lelaki yang digadang gadang sebagai mantu terbaik.
" Hah? Bel? Ya baiklah itu hal mudah bagiku." Dewa menyanggupi permintaan ibu mertuanya itu. Tentu saja itu hal yang mudah bagi Dewa karena memang kenyataannya bel rumah Hana tidak mengalami kerusakan apa pun. Tadi Dewa sengaja mengubah suasana rumah ke mode senyap, ia mengunci pintu dan mematikan bel rumah serta menyilent ponsel Hana agar tidak ada lagi orang yang mengganggu sesi bercintanya. Namun sungguh di luar dugaan jika ia akan tertidur begitu lelap setelah bergulat dengan istrinya beberapa ronde sekaligus. Dan hasil dari perbuatannya itu orang tua Hana harus menunggu di luar rumah hampir tiga jam karena tidak bisa masuk ke dalam rumah mereka sendiri.