Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Pingitan


__ADS_3

" Kalian berdua akan dipingit, dan ini adalah pertemuan terakhir kalian sebelum menikah." ucap ibu Hana serius saat Dewa mengantarkan Hana pulang ke rumah.


" APA..?!" pekik Hana dan Dewa bersamaan.


" Tapi mengapa Bu?" tanya Hana yang merasa keberatan dengan ucapan ibunya.


" Mengapa apanya? Ini sudah tradisi. Bahkan seharusnya satu bulan sebelum pernikahan kalian tidak boleh bertemu." jawab ibu Hana enteng.


" Ibu mertuaku tercinta yang paling baik, boleh enggak kalau pingitan ditiadakan saja. Soalnya kami kan masih harus sering bertemu untuk mengurus persiapan pernikahan kami. Lagi pula itu kan tradisi jaman dahulu. Boleh ya Ibuku sayang......" rayu Dewa sembari tersenyum lebar berharap sang calon mertua akan luluh.


" Aduh kamu ganteng banget sih kalau tersenyum seperti itu. Kamu memang menantu tersayangku." ucap ibu Hana ramah sambil menoel pipi pemuda tampan di depannya.


"Tapi en_ggak bo_leh ti_tik. Dan mengenai persiapan pernikahan jangan kuatir semua sudah 90% beres, aman terkendali." ketus ibu Hana.


" Tapi kan aku dan Dewa masih harus fitting baju pernikahan." sanggah Hana.


" Heh panci gosong, kamu kira ibumu ini bodoh. Fitting baju kan bisa datang terpisah. Memangnya kalian mau pakai baju barengan?"


" Iya." jawab Dewa cepat.


" Eh, maksud Dewa fitting bajunya barengan biar bisa saling menilai." Dewa meralat jawabannya.


" Enggak perlu, aku dan ibumu yang akan memastikan bahwa baju kalian akan sesuai dengan pesanan dan cocok dengan ukuran kalian. Kemarin kalian kan sudah ukur badan, jadi besok cuma tinggal mencoba saja kan. Dan jangan khawatir baju kalian dikerjakan oleh desainer yang handal dan profesional."


" Tapi Bu...." rengek Hana.


" Enggak ada kata tapi. Kalian kira ibu tidak tahu apa yang sudah kalian lakukan tadi pagi?!" ibu Hana mulai menaikkan intonasinya.


Hana dan Dewa diam seketika. Keduanya saling pandang dalam diam.


" Kenapa diam? Enggak nyangka kalau ibu akan tahu?"


" Ibu tahu dari mana?" dengus Hana sambil menundukkan kepalanya. Rasanya sudah seperti murid yang ketahuan mencontek oleh gurunya dan dihukum untuk berdiri di depan kelas.


" Dari ibu mertuamu. Dia memergoki kalian tadi pagi. Tapi sengaja tidak menegur dan membahas itu semua agar kalian tidak malu. Bahkan mbok Mira juga ikut memergoki kalian kan?" kata ibu berapi api.


" Sudahlah, tidak ada gunanya juga marah. Yang sudah terjadi tidak dapat diubah lagi. Huh... ibu juga tahu bagaimana perasaan kalian. Karena ibu juga pernah muda." dengus ibu Hana tampak kecewa.


" Dewa minta maaf Bu, ini semua salah Dewa. Jangan menghukum Hana karena memang akulah yang memulainya." ucap Dewa menyesal.


" Sudah sudah, ibu tidak akan memperpanjang masalah ini lagi. Yang jelas kalian dipingit, ti_tik."


" Bu......" rengek Hana.


" Oke, kalian dipingit, dan khusus kamu Hana. Ponsel ibu sita. Biar sekalian enggak bisa telpon maupun video call. Kalau mau telpon Dewa ibu beri kesempatan sehari cuma satu kali dengan durasi tidak lebih dari lima menit. Dan tenang saja jika ada telpon atau chat penting ibu pasti akan sampaikan ke kamu."


" WHATTTTT......?" pekik Hana bahkan sampai matanya membulat.


" Apa? Mau protes lagi? Atau mau sekalian enggak ibu ijinin buat telpon Dewa. Biar tahu rasanya dipingit seperti jaman dulu?" ancam ibu Hana.


Akhirnya Hana dan Dewa diam dan menerima keputusan ibu Hana meski dengan perasaan terpaksa.


Waktu terus berputar. Hari pernikahan Hana dan Dewa semakin dekat. Dan sesuai keputusan, sudah beberapa hari ini mereka tidak diijinkan untuk bertemu. Setiap hari mereka hanya bisa telpon sekadar tanya kabar untuk melepas rindu. Keduanya terus menghitung hari agar hari yang mereka nanti segera tiba.


Huh, benar kata Dilan bahwa rindu itu berat. Dulu aku harus nahan rindu selama delapan tahun. Kini baru beberapa hari enggak ketemu saja rasanya sudah rindu banget melebihi rasa rindu pas harus LDR selama delapan tahun. Apa karena pengaruh aku dan Dewa akhir akhir ini sering ciuman ya sehingga ikatan emosional kami semakin kuat, rasanya berat banget jika harus berpisah seperti ini. Ternyata pengaruh hormon oksitoksin yang dilepaskan oleh kelenjar di bawah otak saat dua bibir menyatu dahsyat juga.


" Heh, calon pengantin kok bengong?" suara Laura menyadarkan Hana dari lamunannya.


" Mikirin apa? Enggak lagi mikir malam pertama kan?" Laura memukul pelan kepala Hana dengan bantal yang sedari tadi dipeluk Hana.

__ADS_1


" Apaan sih." dengus Hana.


" Tahu dari mana kalau hari ini aku enggak ngajar?"


" Ibu kamu." jawab Laura singkat sambil mendudukan tubuhnya di kasur.


" Oh iya aku lupa kalau ponselku disita oleh ibu. Huh,, hidup tanpa ponsel sungguh terasa hampa." Hana menghela nafas dalam.


" Halah lebay...." cibir Laura.


" Tapi itu memang benar, ha ha ha."


" By the way tumben jam segini kamu enggak di butik?"


" Ckkk, hari ini aku kan mau nemenin kamu, lupa ya kalau hari ini kamu harus fitting baju pengantin? Wait, wait,,,, jangan bilang kamu beneran lupa?!" Laura menyipitkan matanya.


" He he he, iya aku memang lupa." Hana meringis sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal.


" Ya ampuuuuuunnnnn Hanaaaaaaa, bisa bisanya kamu melupakan hal seperti ini." pekik Laura merasa geram dengan tingkah sahabatnya itu.


Tatapan mata Laura menajam seketika saat menyadari penampilan Hana yang masih berantakan.


" Kamu belum mandi ya?!" hardik Laura.


" Sudah...... Tapi kemariiinnnnn..." Hana cepat kabur ke arah kamar mandi.


" Braaakkkkk..." pintu kamar mandi tertutup dengan keras.


" Dasar, sudah mau nikah masih saja tidak berubah." gerutu Laura.


Tak sampai setengah jam, Laura dan Hana keluar dari dalam kamar. Hana sudah tampil cantik dengan balutan dress selutut berwarna merah terang keluaran Louis Vuitton hadiah dari ibu Dewa yang kisaran harganya lebih dari 30 juta dipadukan dengan flat shoes warna hitam. Rambutnya dibiarkan tergerai. Dan tentu saja itu semua adalah pilihan Laura yang berperan sebagai fashion stylist untuk sahabatnya, karena kalau dibiarkan memilih sendiri paling yang dipakai adalah kaos oblong dan celana jeans.



" Dari dulu juga sudah cantik." sewot Hana yang masih sedikit kesal dengan keputusan ibunya yang melarang Hana dan Dea bertemu.


" Owh, ceritanya masih ngambek sama ibu. Padahal kurang seminggu lagi mau nikah terus meninggalkan rumah ini. Tapi malah ngambek sama ibu, Ya Alloh betapa sedih hati ini karena harus mendapat perlakuan seperti ini." ibu Hana mulai mendramalisir.


" Stop, enggak usah ngomong seperti itu lagi. Hana enggak akan pernah ninggalin ibu kok, lagian jarak rumah Dewa kan dekat enggak ada setengah jam juga sudah sampai orang masih satu kecamatan."


" He he, ibu lupa. Sudah yuk berangkat sekarang, entar keburu siang." ibu Hana beranjak keluar rumah.


" Pakai mobilku saja ya Ra. Itung itung buat manasin mesin." Hana berjalan menuju ke garasi untuk mengambil mobil Fortuner yang memang sangat jarang dikendarai karena dia memang lebih senang mengendarai motor bututnya


" Ok..... Tapi aku saja yang nyetir. Calon pengantin diam saja duduk manis." ujar Laura sambil menyerobot kunci mobil di tangan Hana.


" Halah alasan, bilang saja kamu takut kalau aku ngebut." gerutu Hana.


" Memang......." ketus Laura.


Mereka bertiga pun berangkat menuju tempat desainer untuk melakukan fitting baju pengantin dan lamaran. Mobil berwarna putih itu melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan. Suara candaan dan gurauan bergema dari dalam mobil sepanjang perjalanan.


Setelah berkendara selama satu jam lebih akhirnya mereka sampai di tempat yang mereka tuju. Tanpa menunggu lama Hana segera masuk ke dalam ruangan untuk segera mencoba baju yang akan ia kenakan di hari bahagianya.


" Deg......" jantung Hana berhenti berdetak sejenak saat dirinya berpas pasan dengan calon suami yang sudah beberapa hari ini teramat ia rindukan. Wajahnya berbinar seketika dengan senyum yang teramat manis.


" Sayang...." sapa Dewa dengan bibir tersenyum lebar. Suasana hatinya dalam sekejap dipenuhi dengan kabahagiaan. Kerinduan selama ini seakan langsung terobati hanya dengan melihat wajah manis Hana yang terlihat kian memukau dengan penampilannya yang tak seperti biasa.


Secara otomatis tubuh Hana dan Dewa kian mendekat.

__ADS_1


" Ehm, ehm, katanya tadi buru buru segera mau ke kantor karena banyak pekerjaan." sindir ibu Dewa yang berdiri di samping anaknya, sontak membuat Hana beralih arah menuju ke calon mertuanya.


"Assalamuaikum Bu." Hana mencium tangan dan memeluk wanita cantik itu.


" Waalaikumsalam, kamu cantik banget sayang pakai baju ini." ibu Dewa membalas pelukan Hana.


" Kamu bersama siapa sayang, kenapa sendirian?"


" Ibu dan Laura masih di belakang, tadi markirin mobil dulu."


" Owh, kalu begitu nanti tolong sampaikan salam ibu ya. Ibu dan dan Dewa sudah selesai fitting dan harus buru buru pulang karena dari tadi Dewa merengek kalau harus secepatnya kembali ke kantor karena ada banyak pekerjaan." tutur ibu Dewa lembut.


" He he, setelah Dewa pikir pikir sepertinya pekerjaannya enggak terlalu banyak owk. Kayaknya Dewa mesti fitting ulang bajunya deh Bu. Tadi ada yang sedikit kurang pas." kilah Dewa.


" Beneran ada yang kurang pas, atau cuma cari alasan biar bisa bersama Hana?" ucap ibu Hana yang baru saja tiba bersama Laura.


" Itu memang benar." dengus Dewa


" Assalamualaikum Bu." Dewa mencium tangan calon mertuanya.


" Waalaikumsalam."


" Mbak Dina." sapa ibu Dewa ke ibu Hana sambil melakukan cipika cipiki. Hubungan kedua calon besan itu memang sangat dekat, bahkan ibu Dewa sudah menganggap ibu Hana seperti kakaknya sendiri.


" Bagaimana tadi fittingnya Ran? Semua lancar kan?" tanya ibu Hana.


" Lancar, semua sudah sesuai kok. Eh ini pasti Laura, sahabat Hana kan? Hana sering menyebut nama kamu." ibu Dewa beralih memeluk sahabat Hana itu.


" Benar Tan, saya Laura. Tante cantik banget sesuai dengan cerita Hana." Laura memuji ibu Dewa yang memang tampak anggun dan cantik serta selalu terlihat fashionable dengan outfit yang ia kenakan.


" Ah benarkah? Terima kasih. Kamu juga cantik."


" Ayo Dewa kita harus segera pulang bukankah kita sudah selesai fitting."


" Tapi Bu, Dewa mau nemenin Hana fitting." Dewa merasa keberatan jika harus segera meninggalkan kekasih hatinya.


" Jangan khawatir, sudah ada ibu dan Laura yang nemenin. Ingat, kalian masih proses pingitan lho ya, jadi dilarang ketemuan dulu. Ini saja itungannya sudah bonus banget bisa ketemu di sini. Sudah sana pulang dulu, kangennya disimpan buat hari pernikahan saja. Jadi nanti pas ketemu di hari H, bisa greng gitu. He he he." ucap ibu Hana.


" Ayo Han, kita masih harus fitting baju kan." tangan Hana digeret oleh masuk oleh ibunya.


" Ran kita fitting dulu ya, kamu dan Dewa hati hati di jalan."


" Bye Dewa." sapa Laura agak canggung, mengikuti langkah Hana dan ibunya ke dalam.


Dengan berat hati Dewa meninggalkan tempat itu. Langkahnya terlihat gontai.


Mestinya tadi aku fitting bajunya enggak perlu buru buru biar bisa barengan sama Hana.


Hana mulai mencoba baju yang akan ia kenakan saat prosesi lamaran dan pernikahan. Hanya ada dua baju saja karena memang seperti keinginannya bahwa pernikahannya akan digelar sederhana tanpa ada resepsi maupun pesta. Hana akan memakai kebaya di acara lamaran maupun pernikahannya.


Untuk lamaran, Hana akan mengenakan kebaya berwarna putih yang berbahan brokat dihiasi batu berlian dan mutiara. Dipadukan dengan kain batik berwarna cokelat tua.



Sedangkan untuk hari pernikahan, kebaya berwarna hitam dengan gaya tradisional yang kental menjadi pilihannya.



Kedua baju itu terlihat sangat cocok di tubuh Hana. Aura pengantin memancar kuat dari wajahnya saat kebaya kebaya itu dikenakan di kulit putihnya.

__ADS_1


" Cantik." puji Dewa pelan yang diam diam mengintip kegiatan fitting baju pujaan hatinya, setelah tadi sempat membohongi ibunya dengan dalih ingin ke toilet karena kebelet pipis.


__ADS_2