
" Sayang ini rumah siapa?" kaki Dewa terasa berat untuk melangkah ke rumah indah itu. Tiba tiba saja perasaannya penuh dengan rasa keraguan.
Perasaan apa ini? Kenapa jantungku terus berdebar cepat?
" Ayo, jangan ragu. Bukankah ada aku yang akan selalu di sisimu? Kamu percaya padaku kan?" bujuk Hana lembut.
" Kamu tidak berniat untuk menjual atau menumbalkan aku kan?" bisik Dewa sekenanya sengaja untuk menutupi perasaan kalutnya.
" Ckk..." Hana memutar bola matanya.
" Ya tentu saja aku akan menjadikanmu tumbal agar setelah pulang dari sini aku bisa kaya raya."
" Welkom, wie ben jij? (Selamat datang, kalian siapa?)" sapa seorang wanita paruh baya yang sedang memangkas bunga di depan rumahnya dengan lembut. Wanita itu terlihat berumur 50 tahunan. Wajahnya masih terlihat cantik meski sudah dihiasi beberapa kerutan di sana.
" Oh, maaf. Kami seorang turis, kami sangat mengagumi keindahan rumah Anda. Bolehkah kami singgah sebentar untuk melihat lihat?" jawab Hana dalam bahasa Inggris.
" Oh tentu silahkan." wanita itu mempersilahkan Hana dan Dewa dalam bahasa Inggris pula.
" Terima kasih Anda sangat baik." ucap Hana sambil tersenyum lembut.
Penduduk desa Giethoorn memang sudah terbiasa dengan kedatangan wisatawan di rumahnya, karena memang desa itu sudah membuka diri sebagai tempat wisata.
Hana dan Dewa berjalan mengikuti wanita itu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
" Silahkan duduk, aku buatkan minuman dulu untuk menghangatkan tubuh kalian." wanita itu meninggalkan Hana dan Dewa di dalam ruang tamu yang sederhana namun terlihat sangat indah. Ada banyak hiasan bunga di dalamnya, interior rumahnya kental akan nuansa pedesaan dimana semua furniturenya dibuat dari kayu. Bahkan dinding dan lantainya juga terbuat dari kayu yang terlihat sangat nyaman.
" Sebenarnya kita ke sini mau apa sih Yank?" Dewa bertanya lirih ke arah sang istri.
" Sudah jangan banyak bertanya, kamu akan segera tahu. Dan jawaban akan pertanyaanmu selama ini akan segera kamu dapatkan." Hana menggenggam erat tangan Dewa.
Ada apa sebenarnya?
" Aleena....!! Mijn lieverd...!" teriak seorang lelaki yang sudah tidak muda lagi sembari menerobos masuk ke dalam rumah, membuat Hana dan Dewa terkesiap dan menoleh ke arahnya. Lelaki itu membawa banyak buah dan sayur di keranjang yang ia tenteng di tangannya.
Lelaki itu berkata dalam bahasa Inggris.
" Maaf, kalian siapa ya? Sepertinya kalian salah rumah karena kami tidak membuka kamar untuk penginapan."
" Oh, mijn lieverd. Mereka adalah seorang turis, aku mempersilahkan mereka masuk karena mereka mengagumi keindahan rumah kita. Biarkan mereka singgah di sini ya? Aku sudah lama tidak berinteraksi dengan orang asing." wanita bernama Aleena itu segera bergegas menghampiri dan berbisik di telinga lelaki yang merupakan suaminya dalam bahasa Belanda.
" Tapi kamu tidak boleh terganggu dan harus istirahat. Kita sudah sepakat untuk tidak menerima kunjungan wisatawan kan?"
" Ayolah suamiku sayang, aku sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran mereka. Entah mengapa aku langsung merasa nyaman dengan mereka. Ayo cepat bawa masuk buah dan sayur itu. Bantu aku untuk membuat minuman hangat." Aleena menggeret lengan suaminya ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat terjeda sebelumnya.
" Dia......?!" gumam Dewa sembari menatap punggung lelaki yang telah berlalu ke dapur. Tenggorokkannya seakan tercekat, ada banyak pertanyaan dalam hatinya namun bibirnya tak mempunyai daya untuk berucap.
" Iya, dia adalah Russell Van Nero, ayah kandungmu. Lelaki yang selama ini engkau pertanyakan keberadaannya." Hana mengeratkan genggaman tangannya.
__ADS_1
Meskipun Dewa belum pernah melihat sosok ayah kandungnya, namun dalam sekali lihat saja ia berhasil menangkap warna manik lelaki itu yang sama sepertinya. Ia seperti melihat bayangan dirinya sekilas terpantul dalam diri lelaki itu. Dan yang membuat dirinya yakin adalah suara hati yang mengiyakan sosok di depannya itu adalah benar ayah kandungnya. Tiba tiba saja mata Dewa memerah dan terasa panas karena genangan air kian memenuhi pelupuk matanya dan terus mendesak untuk meluncur ke bawah.
" Dia..? Hiks hiks... Dia Ayahku?" isak Dewa lirih masih berusaha keras untuk menahan air matanya. Namun semua usahanya gagal karena kini pipinya sudah basah oleh air mata yang berhasil lolos dari pelupuknya. Lelaki yang ia nantikan kehadirannya seumur hidupnya kini ada di dekatnya. Sungguh tidak ada kata untuk mewakili perasaannya saat ini selain dengan linangan air mata.
" Dia ayahku, dia ayahku. Sayang, dia ayahku." Dewa terus mengulangi ucapan itu di sela tangisnya. Bahkan Hana harus membawanya keluar rumah agar Aleena dan suaminya tidak mendengar tangisan Dewa.
" Tenangkan dirimu sayang. Iya dia adalah ayahmu. Ayah kandungmu." Hana membawa kepala Dewa dalam dekapannya. Tanpa ia sadari kini pipinya juga sudah basah oleh air mata. Ia tidak bisa menahan rasa haru melihat suaminya bisa bertemu ayah kandung yang selama ini ia pertanyakan. Dengan sangat hati hati Hana menuturkan informasi yang berhasil dikumpulkan oleh ayah dan ibu mertuanya.
Perjalanan bulan madu Hana dan Dewa ke Belanda adalah rencana dari Rani dan suaminya. Ternyata Ayah kandung Yusuf itu mengetahui bahwa anak sambungnya diam diam pernah menyelidiki keberadaan ayah kandungnya. Dan pencariannya mencapai jalan buntu. Setelah berunding dengan sang istri dia pun mencari tahu keberadaan lelaki yang pernah menjalani kawin kontrak dengan Rani. Bagaimana pun juga ia menyadari bahwa Dewa berhak untuk mengenal ayah kandungnya karena biar bagaimana pun juga hubungan darah tidak bisa diabaikan.
Rani dan suaminya mengikutsertakan menantu kesayangan mereka untuk ikut andil mempertemukan dua lelaki yang mempunyai manik yang sama itu. Sebelumnya Rani dan suaminya ingin menemui Russell dan memberitahukan tentang keberadaan Dewa, namun itu semua mereka urungkan saat melihat kondisi Aleena yang tampak sangat memprihatinkan. Mereka tidak ingin membuat wanita cantik itu bersedih ataupun mengganggu konsentrasi Russell dalam merawat istrinya itu. Dan mengenai semua ini, mertua Hana sepenuhnya menyerahkan keputusan kepada Dewa. Apakah identitas Dewa sebagai anak kandung Russell akan dibongkar atau tetap membiarkan tersimpan di dalam hati.
Russell Van Nero adalah seorang pengusaha kaya raya berkebangsaan Belanda. Ia meninggalkan dunia bisnis dan menyerahkan semuanya kepada adiknya Sanders Van Nero. Sudah lima tahun ini ia menetap di desa Giethoorn menemani sang istri tercinta Aleena yang divonis menderita kanker darah dan diperkirakan tidak akan berumur panjang. Aleena menolak untuk menjalani perawatan di rumah sakit. Ia bersikeras untuk menjalani kehidupan yang damai di desa Gierhoorn untuk menghabiskan sisa umurnya yang tidak akan lama lagi. Dan Russell hanya bisa mengiyakan permintaan terakhir wanita yang telah mendampinginya lebih dari tiga puluh tahun.
Selama di desa Giethoorn, Russell merawat istrinya dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Meskipun ia dan istrinya sudah sama sama tahu bahwa penyakit yang diderita Aleena tidak akan bisa disembuhkan. Selama ini Aleena mengkonsumsi obat obatan secara rutin untuk mengurangi rasa sakit agar ia bisa hidup layaknya orang biasa. Dan Russell selalu memastikan bahwa Aleena selalu dalam keadaan bahagia dan tidak pernah membiarkannya melakukan aktivitas yang membuatnya capek. Setiap satu minggu sekali akan ada dokter spesialis yang didatangkan dari kota untuk memeriksa kesehatan Aleena.
Russell selalu memenuhi semua permintaan sang istri. Mendampingi di sisa hidupnya dengan penuh rasa cinta. Mereka berdua tidak dikaruniai anak karena memang kondisi Aleena yang tidak memungkinkan.
Dua puluh delapan tahun yang lalu sebuah badai sempat menerpa kehidupan rumah tangga mereka. Saat itu Aleena mendapati dirinya mandul tidak akan pernah bisa memberi keturunan untuk suaminya. Ia meminta agar sang suami untuk menikah lagi atau bahkan meninggalkan dirinya. Namun Russell tetap kekeh untuk mempertahankan rumah tangga mereka. Sehingga Aleena nekat untuk melakukan sebuah ide gila agar suaminya mau melepaskan dirinya yang tidak sempurna. Ia tidak ingin suaminya itu menderita dengan hidup tanpa keturunan. Suatu hari Aleena membuat sebuah drama perselingkuhan di depan mata sang suami. Russell yang merasa dikhianati pun pergi ke luar negeri untuk mengobati rasa sakit hatinya. Saat itu ia pergi ke Indonesia untuk berbisnis sekaligus berusaha melupakan pengkhianatan sang istri.
Di tengah rasa sakit hatinya Russell menjalani pernikahan kontrak bersama seorang wanita muda di sebuah desa kecil di Bandung yang tak lain adalah Sabila Zahrani, ibu dari Dewa. Selama pernikahan berlangsung Russell berusaha keras untuk menghapus rasa cinta dan kenangan akan Aleena, namun hasilnya nihil. Selama kontrak pernikahan enam bulan, Russell hanya meniduri istri kontraknya itu beberapa kali saja karena ia tidak mampu menepis perasaannya ke Aleena. Bahkan ia harus dalam pengaruh alkohol di saat menjamah tubuh mulus Rani karena pada saat itu sosok Rani akan berubah menjadi Aleena di matanya.
Selama menjalin hubungan dengan Rani, Russell memperlakukannya dengan sangat baik. Ia tidak pernah melakukan kekerasan maupun pemaksaan terhadapnya. Singkat cerita setelah pernikahan kontraknya berakhir, Russell kembali ke negaranya untuk melanjutkan kehidupannya tanpa pernah tahu bahwa ternyata ada darah dagingnya yang bersemayam di rahim Rani.
__ADS_1
Di saat itulah kebenaran terungkap, bahwa ternyata istri tercintanya tidak pernah benar benar melakukan perselingkuhan. Ia terpaksa melakukan itu semua hanya agar Russell mau berpisah dan mencari pendamping yang lebih pantas dari dirinya. Singkat cerita Russell kembali lagi ke sisi Aleena tanpa pernah merasa keberatan dengan kekurangan istrinya itu. Mereka hidup bahagia dalam penuh cinta mengarungi bahtera rumah tangga mereka dengan segala terpaan cobaan yang ada.